NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resiko Kebocoran

Agus menghentikan mobilnya dengan rem mendadak. Pesan di ponselnya terasa seperti bilah es yang menembus jantungnya. Siapa yang tahu? Siapa yang berani-beraninya mengancam dia dengan bahasa Titi Kusumo?

Ia menoleh ke belakang, ke tempat Endang masih tertidur pulas. Ia harus kembali ke Kuskandar. Ini adalah kebocoran yang fatal, dan Kuskandar adalah satu-satunya yang tahu seluruh rencana, selain Mbah Jari.

Tanpa membuang waktu, Agus meninggalkan Endang di rumah. Ia mengemudi kembali ke warung kopi 24 jam yang sama. Langit sudah cerah, tetapi bayangan ketakutan masih menempel di sekujur tubuhnya.

Kuskandar masih di sana, di meja yang sama, tetapi kali ini ia tidak menyeruput kopi. Ia sedang menghitung setumpuk uang tunai yang diikat rapi.

“Kau kembali lebih cepat dari yang kuduga,” sapa Kuskandar, tanpa menatap Agus.

Agus membanting ponselnya di atas meja, tepat di samping tumpukan uang itu.

“Kau yang mengirim ini,” tuduh Agus, suaranya rendah dan penuh amarah.

Kuskandar mengambil ponsel itu, membaca pesan singkat yang terpampang di layar. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia meletakkan ponsel itu kembali.

“Nomor tak dikenal. Kau pikir aku sebodoh itu, mengirim pesan dari nomorku sendiri jika aku ingin mengancammu?” tanya Kuskandar, senyum sinisnya muncul. “Itu bukan aku, Agus. Itu dia. Raden Titi Kusumo.”

Agus merasa darahnya surut. “Dia… berkomunikasi langsung? Dia tahu aku sedang mencari uang?”

“Tentu saja dia tahu. Kau pikir entitas sekuat Lanang Sewu itu hanya menunggu di pondoknya sampai Sari sudah siap?” Kuskandar menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya kini serius dan tajam. “Aku sudah memperingatkanmu, Agus. Titi Kusumo bukan sekadar siluman khodam biasa. Dia adalah Pangeran yang dikutuk. Kutukan itu membuatnya haus akan koneksi. Dia tidak hanya mengambil kekayaan, dia mengambil kebahagiaan. Dan ketika dia tahu kau menipunya, dia akan bermain-main dengan pikiranmu.”

Kuskandar menunjuk ke ponsel Agus. “Pesan itu bukan ancaman, itu adalah permainan. Dia tahu kau sedang putus asa mencari uang untuk melindungimu dari dia, jadi dia menawarkanmu uang. Tapi dengan satu syarat: kau harus menghancurkan istrimu sendiri. Dia suka membuat pengkhianat menghancurkan dirinya sendiri secara perlahan.”

Agus duduk dengan kaku. Rasa takutnya kini berubah menjadi ketakutan yang lebih dalam—rasa takut bahwa ia sedang diawasi oleh kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya.

“Aku tidak peduli dengan permainan pikirannya. Aku hanya butuh seratus juta itu. Kau bilang Mbah Jari akan melakukan Topeng Sukma Ganda jika aku membayar. Aku akan mendapatkan uangnya, Kuskandar. Aku akan menjual semua yang tersisa.”

Kuskandar tertawa kering. “Kau masih bicara tentang uang. Itu sebabnya kau akan mati, Agus. Kau tidak mengerti risiko spiritual yang kau ambil.”

“Risiko spiritual? Risiko finansial sudah membunuhku lebih dulu!” balas Agus, nadanya meninggi. “Kau yang mengenalkanku pada Titi Kusumo, kau yang mengenalkanku pada Mbah Jari. Sekarang, kau harus membantuku menyelesaikan ini!”

Kuskandar mengambil secarik kertas dan pena, lalu menuliskan sesuatu dengan cepat.

“Dengar baik-baik, Agus. Aku akan membantumu, tapi ini adalah batas terakhirku,” kata Kuskandar, mendorong kertas itu ke depan Agus. “Ini adalah detail rekening bank milik Mbah Jari. Transfer seratus juta ke sana sebelum tengah malam. Jika uang itu masuk, dia akan mulai menyiapkan ritual Topeng Sukma Ganda. Ritual itu akan menguras energi Sari habis-habisan, tapi itu akan menipu Mata Jati Titi Kusumo, setidaknya untuk sementara.”

Agus membaca nomor rekening itu, tangannya gemetar. “Dan Sari? Aku harus mengikatnya di gudang ayahku?”

“Ya. Isolasi total. Mbah Jari butuh Sari benar-benar tenang dan tidak melawan. Energi penyamaran itu sangat rapuh jika korbannya melawan secara spiritual,” jelas Kuskandar. “Ini adalah risiko tertinggi yang pernah kita ambil, Agus. Jika Titi Kusumo mengetahui penipuan ini, dia tidak hanya akan membunuhmu. Dia akan mengutuk keturunanmu. Dia akan membuat hidupmu menjadi neraka yang abadi.”

Agus tidak mendengarkan peringatan itu. Matanya hanya fokus pada angka seratus juta.

“Aku akan mendapatkan uang itu,” janji Agus, mengambil kertas itu dan memasukkannya ke sakunya. “Aku akan segera kembali. Kau pastikan Mbah Jari mulai bekerja.”

“Aku akan memastikan itu,” kata Kuskandar. Ia menatap Agus dengan tatapan mencela. “Tapi kau harus tahu, Agus. Bahkan jika kau berhasil menipu Titi Kusumo di ritual pertama, dia akan kembali. Dia terikat oleh kutukan untuk mencari koneksi spiritual yang tulus. Dia akan menguji Sari, dan dia akan menguji Endang. Jika Endang yang asli tidak bertindak sesuai perannya sebagai istri yang setia dan mencintaimu, ilusi itu akan—”

“Cukup!” potong Agus, bangkit berdiri. “Aku akan mengurus Endang. Aku akan mengurus Sari. Kau urus dukunmu!”

Agus bergegas keluar dari warung kopi. Ia harus segera menghubungi Bapak Tirta. Tidak ada pilihan lain selain menjual rahasia yang ia miliki tentang korupsi di perusahaan lama mereka—risiko penjara, tetapi imbalannya sebanding dengan hidupnya.

Ia mengambil ponselnya saat masuk ke mobil, mendial nomor Bapak Tirta.

“Halo, Agus. Kau berani meneleponku setelah apa yang kau lakukan?” suara Bapak Tirta terdengar berat dan dingin.

“Pak, saya punya informasi yang jauh lebih berharga daripada semua uang yang pernah Bapak curi. Saya tahu bagaimana cara membuat Bapak menjadi orang terkaya di Jawa. Saya tahu rahasia… Lanang Sewu,” bisik Agus, mencoba terdengar misterius dan mengancam.

Terdengar keheningan di seberang telepon. “Lanang Sewu? Omong kosong apa ini?”

“Bukan omong kosong. Saya butuh seratus juta, Pak. Sekarang. Dan saya akan memberikan peta dan kontak dukun yang bisa membuat Bapak mendapatkan kekayaan abadi,” desak Agus.

“Kau gila, Agus. Aku tidak akan membayar sepeser pun untuk cerita hantu. Aku akan melaporkanmu ke polisi karena mengancamku—”

“Jangan, Pak,” potong Agus, nadanya panik. “Ini nyata. Ini adalah jalan keluar saya, dan ini bisa menjadi jalan keluar Bapak. Saya akan datang ke kantor Bapak sekarang. Saya akan tunjukkan buktinya. Tapi saya butuh janji seratus juta tunai.”

Bapak Tirta terdiam lama. Keheningan itu menggantung, penuh perhitungan.

“Baik,” akhirnya Bapak Tirta berkata, suaranya sedikit bergetar. Rupanya, rasa penasaran dan keserakahan sanggup mengalahkan kehati-hatiannya. “Datanglah ke kantor. Pukul 12 siang. Jika kau berbohong, aku akan menyerahkanmu ke polisi.”

Agus menutup telepon, jantungnya berdebar kencang. Ia berhasil. Ia punya waktu dua jam.

Ia menyalakan mesin mobilnya dan memutar balik, menuju kantor Bapak Tirta di pusat kota.

Saat ia berkendara, rasa euforia singkat melandanya. Ia akan mendapatkan uang itu. Ia akan menyelesaikan ritual ini. Ia akan kaya.

Tiba-tiba, kaca depan mobilnya retak dengan suara keras, seolah-olah dilempari batu besar. Agus menginjak rem, terkejut.

Ia melihat ke cermin spion. Tidak ada mobil lain, tidak ada motor. Ia sendirian di jalan yang sepi.

Retakan itu menyebar, membentuk pola seperti akar pohon, dan di tengah pola itu, terbentuk bayangan wajah.

Wajah yang tampan, mata yang dingin, dan senyum yang kejam—wajah Raden Titi Kusumo.

“Kau tidak akan mendapatkan uang dari pengkhianatan,” suara bisikan dingin menyelimuti interior mobil.

Agus menjerit, mencoba menekan gas, tetapi pedal gas terasa seperti terbuat dari semen. Mobilnya mogok total.

Di kaca yang retak, wajah Titi Kusumo memudar, digantikan oleh bayangan Endang. Bayangan itu menangis darah.

“Dia tahu!” pikir Agus, panik. “Dia tahu aku akan menjual rahasianya!”

Agus mencoba menyalakan mesin lagi, tetapi mesin itu hanya mengeluarkan suara batuk yang menyedihkan. Ia harus segera pergi. Bapak Tirta menunggunya.

Tiba-tiba, ia merasakan sentuhan dingin di bahunya. Sentuhan itu tidak datang dari luar, tetapi dari dalam mobil.

Agus berbalik, dan melihat sesosok hantu wanita yang pucat, mengenakan gaun pengantin Jawa yang usang, duduk di kursi belakang, di tempat Sari seharusnya berada.

Mata wanita itu kosong, tetapi bibirnya bergerak.

“Dia tidak akan membiarkanmu hidup,” bisik entitas itu.

Agus berteriak. Ia membuka pintu mobil dan berlari keluar. Ia berlari ke jalan raya, tidak peduli dengan mobil yang lewat. Ia harus mencapai Bapak Tirta. Ia harus mendapatkan uang itu.

Saat ia berlari, ia melihat bayangan hitam terbang di atas kepalanya. Itu adalah Raden Titi Kusumo, menunggangi angin, mengawasinya.

Agus terus berlari, napasnya tersengal. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Bapak Tirta lagi.

“Pak, ada masalah. Saya dalam perjalanan, tapi… tapi dia sudah tahu!”

“Siapa yang tahu, Agus? Kau sudah terlambat. Aku sedang dalam rapat. Telepon aku nanti—”

Sambungan terputus. Ponsel Agus mati. Baterainya penuh, tetapi layarnya hitam total.

Agus panik. Ia berada di tengah jalan raya yang ramai, tanpa uang, tanpa mobil, dan tanpa ponsel.

Ia melihat ke belakang. Entitas pengantin itu menghilang, tetapi aura dingin Titi Kusumo masih menyelimuti udara.

Ia harus kembali ke rumah. Ia harus memastikan Endang baik-baik saja, sebelum ia kembali ke kota.

Agus berbalik, mulai berlari ke arah rumahnya.

Saat ia melewati sebuah toko elektronik, ia melihat refleksi dirinya di kaca jendela. Pakaiannya kotor, wajahnya pucat, dan di lehernya, ia melihat bayangan seperti tali yang mencekik.

Dan kemudian, ia melihatnya. Di belakang refleksi dirinya, berdiri di dalam toko, menatapnya melalui kaca, adalah Sari.

Sari tidak memakai pakaian Endang. Ia memakai pakaian lamanya yang usang, dan ia sedang memeluk boneka tanah liat yang sama, yang tadi pagi ia lemparkan ke semak-semak.

Sari tersenyum. Senyum itu tidak sedih atau lelah. Senyum itu adalah senyum kemenangan yang menjijikkan, dan matanya memancarkan cahaya merah yang mengerikan.

Bagaimana Sari bisa ada di sini? Ia seharusnya berada di pondok Mbah Jari, menjalani ritual.

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!