Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Kembali Ke Kota Lama
Pintu kedatangan bandara terbuka perlahan, membawa hembusan udara hangat yang jauh berbeda dari negeri tempat Elvara Naysha menghabiskan lima tahun terakhir. Ia berhenti sejenak di ambang pintu sambil menatap langit kota yang tampak kelabu di kejauhan. Kota ini masih sama, sibuk, padat, penuh suara klakson dan langkah kaki yang saling berkejaran tanpa jeda.
Yang berubah hanyalah dirinya.
Di tangan kiri, ia menggenggam koper berukuran sedang. Tangan kanannya memegang jemari kecil Rheon yang melompat ringan sambil menoleh ke segala arah dengan mata penuh rasa ingin tahu. Bocah itu seperti sedang masuk ke dunia baru yang selama ini hanya ia dengar dari cerita ibunya.
"Mom, ini kota tempat Mommy lahir?"
Elvara menunduk dan tersenyum tipis.
"Iya."
"Ramai sekali."
"Memang dari dulu begitu."
Rheon mengangguk seolah memahami, lalu kembali sibuk mengamati orang-orang di sekitarnya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, wajahnya bersih dan tampan dengan garis rahang kecil yang terlalu tegas untuk anak seusianya. Banyak orang kerap memuji wajah Rheon, dan setiap kali itu terjadi, Elvara selalu menahan napas lebih lama dari biasanya.
Karena ia tahu wajah itu terlalu mirip seseorang.
Ia menarik koper menuju area penjemputan. Mobil yang dipesannya sudah menunggu di jalur luar, sopirnya berdiri sambil mengecek plat nomor. Setelah memasukkan barang ke bagasi dan membantu Rheon memakai sabuk pengaman, Elvara duduk di kursi belakang sambil menyandarkan kepala sebentar ke sandaran kursi.
Perjalanan dari bandara dimulai dengan jalanan yang padat dan deretan kendaraan yang bergerak perlahan. Dari balik jendela, kota itu menampilkan wajah lamanya sekaligus wajah baru yang asing baginya. Gedung-gedung tinggi berdiri di beberapa sudut yang dulu kosong, sementara beberapa toko lama masih bertahan seolah menolak waktu.
Di salah satu persimpangan, pandangannya berhenti pada sebuah kafe kecil yang masih berada di tempat yang sama. Jendela depannya kini dicat ulang, papan nama diganti, tetapi bentuk terasnya masih serupa. Ia pernah menghabiskan banyak sore di sana sambil tertawa bersama teman-temannya.
Dan bersama pria itu.
Elvara segera memalingkan wajah ke sisi lain. Ia tidak datang untuk mengingat hal-hal seperti itu. Kepulangan ini hanya tentang pekerjaan, masa depan, dan hidup yang lebih stabil bagi anaknya.
Ia kembali karena menerima tawaran yang terlalu baik untuk ditolak. Posisi sebagai kepala divisi kreatif di perusahaan besar akan memberinya penghasilan tetap, fasilitas yang layak, serta kesempatan menata hidup dari awal. Semua itu lebih penting daripada perasaan yang seharusnya sudah lama selesai.
"Mom."
"Hm?"
"Kita akan tinggal di mana?"
"Di apartemen dulu. Kalau Rheon suka, kita tinggal lama di sana."
"Kalau aku tidak suka?"
Elvara tertawa kecil.
"Kita cari tempat lain."
Bocah itu tampak puas dengan jawaban sederhana tersebut. Ia menempelkan telapak tangan ke jendela, lalu menghitung bus dan mobil berwarna merah yang lewat. Hal-hal kecil selalu cukup membuat Rheon senang, dan Elvara diam-diam bersyukur anaknya tumbuh dengan hati yang ringan.
Meski begitu, pikirannya tetap berkelana ke masa lalu. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Dalam kurun itu, ia belajar menjadi ibu sendirian, bekerja sambil menyelesaikan pendidikan lanjutan, dan menata hidup tanpa bantuan siapa pun.
Ia masih ingat malam terakhir sebelum pergi dari kota ini. Hujan turun deras, teleponnya berdering berkali-kali, lalu ia mematikan layar dan meletakkannya begitu saja. Pagi harinya, ia terbang membawa satu koper, hati kacau, dan rahasia yang baru ia ketahui beberapa hari sebelumnya.
Kehamilan.
Ia tidak pernah memberi tahu pria itu. Bukan karena benci, melainkan karena terlalu mengenal seperti apa hidup pria tersebut saat itu. Ambisi sedang tinggi, nama keluarga besar menjadi perhatian banyak orang, dan masa depan yang terlihat terang berada di depan mata.
Kehadiran seorang bayi dari wanita yang bahkan bukan pasangan resminya akan menghancurkan banyak hal. Setidaknya itu yang ia yakini dulu. Kini, setelah lima tahun berlalu, ia tak lagi tahu apakah keyakinan itu benar atau hanya alasan agar dirinya berani pergi.
Mobil berhenti di lampu merah. Elvara menutup mata sesaat sambil menarik napas perlahan. Tak ada keputusan yang bisa diputar ulang, dan ia sudah terlalu jauh berjalan untuk menyesalinya.
Sesampainya di apartemen, Rheon langsung berlari kecil memasuki ruang tamu kosong dengan koper-koper masih berjajar dekat pintu. Unit itu sudah terisi perabot dasar dari pemilik sebelumnya, cukup rapi dan bersih meski belum terasa hangat.
"Mom, tempat ini tinggi sekali!"
Ia berdiri di depan jendela besar sambil menempelkan kedua tangan ke kaca. Dari lantai atas, kendaraan di bawah tampak seperti mainan kecil yang bergerak perlahan.
"Jangan terlalu dekat kaca."
"Iya."
Meski menjawab, Rheon tetap berdiri di sana beberapa detik lagi sebelum akhirnya berlari ke kamar yang akan menjadi miliknya. Elvara hanya menggeleng kecil sambil meletakkan tas dan mengusap pelipis yang mulai terasa berat.
Ia menatap anak itu beberapa saat dari ambang pintu. Dalam hidup yang sering terasa rumit, Rheon adalah satu-satunya hal yang selalu jelas. Saat mendengar detak jantung kecil itu bertahun lalu, ia tahu apa pun yang terjadi, ia akan memilih anaknya.
Ia menghampiri lalu merapikan rambut Rheon yang acak-acakan.
"Besok Mommy mulai kerja. Rheon ikut daycare dulu beberapa jam, ya."
"Ada mainannya?"
"Pasti ada."
"Ada teman?"
"Semoga banyak."
Rheon berpikir sejenak dengan wajah serius yang lucu.
"Kalau begitu aku setuju."
Elvara tertawa lebih lepas kali ini. Tawa yang sederhana, tetapi cukup membuat apartemen kosong itu terasa sedikit lebih hidup.
Malam datang cepat. Setelah makan sederhana dan membereskan barang penting, ia menemani Rheon tidur. Lampu kamar diredupkan, dan bocah itu memeluk bantal sambil menatap langit-langit.
"Mom."
"Hm?"
"Papa itu tinggal di kota ini?"
Pertanyaan itu datang tenang, tetapi menghantam tepat ke dadanya. Elvara sudah menduga hari seperti ini akan tiba. Semakin besar Rheon, semakin banyak hal yang ingin ia pahami.
"Kenapa tanya begitu?"
"Karena kita pindah ke sini. Mungkin Papa ada di sini."
Elvara mengelus pipinya perlahan.
"Papa punya hidupnya sendiri."
"Papa tahu aku ada?"
Ia terdiam sepersekian detik.
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena Mommy belum bilang."
Rheon menatapnya cukup lama, seolah mencoba memahami jawaban yang belum lengkap itu. Lalu ia berkata dengan polos, tanpa nada menuduh sedikit pun.
"Kalau Papa baik, nanti bilang ya."
Tenggorokannya tercekat. Anak kecil itu selalu mampu menyederhanakan hal yang baginya terasa rumit.
Ia mencium kening Rheon lalu mematikan lampu tidur.
"Tidur dulu."
Setelah napas anaknya mulai teratur, Elvara keluar ke balkon kecil apartemen. Angin malam berembus pelan membawa aroma kota yang dulu sangat akrab baginya. Di kejauhan, lampu gedung menyala seperti titik-titik kecil yang tak pernah benar-benar padam.
Besok adalah hari pertama di kantor baru. Fokusnya hanya bekerja, menata hidup, dan menjaga Rheon. Ia terus mengulang kalimat itu dalam hati seperti pengingat yang wajib dipercaya.
Pria dari masa lalu itu mungkin sudah menikah. Mungkin tinggal di negara lain. Mungkin juga sudah lupa bahwa mereka pernah bertemu. Semua kemungkinan itu seharusnya menenangkan, tetapi entah kenapa dadanya justru makin sesak.
Keesokan pagi, Elvara memilih blouse putih sederhana dan rok pensil berwarna gelap. Rambut panjangnya disanggul rapi, memberi kesan profesional yang tenang. Setelah mengantar Rheon ke daycare di gedung sebelah, ia berangkat menuju kantor pusat Ardent Group.
Gedung pencakar langit itu berdiri megah di pusat bisnis kota. Lobi berlapis marmer memantulkan cahaya dari lampu gantung besar di langit-langit. Semuanya terlihat mahal, dingin, dan teratur.
Sangat berbeda dengan jantungnya yang berdebar tanpa alasan jelas.
Seorang staf HR menyambutnya dengan ramah lalu mengantar berkeliling. Beberapa divisi diperkenalkan, beberapa wajah baru menyalaminya dengan senyum formal. Elvara membalas dengan tenang sambil menyimpan nama-nama yang mungkin akan segera ia lupakan.
"Siang ini ada briefing singkat dengan direksi," kata staf itu saat mereka naik lift. "Kebetulan CEO baru saja kembali dari perjalanan bisnis."
Elvara mengangguk sopan. Nama CEO disebutkan cepat, tetapi pikirannya sedang dipenuhi banyak informasi lain sehingga ia tidak benar-benar menangkapnya.
Mereka memasuki ruang rapat lantai atas. Meja panjang mengilap membentang di tengah ruangan, layar besar menempel di dinding, sementara sisi lainnya berupa kaca tinggi yang menghadap kota. Beberapa orang sudah duduk sambil membuka laptop dan berkas.
Elvara memilih kursi di sisi tengah, membuka notebook, lalu menenangkan napas. Ia hanya perlu melewati hari pertama dengan baik.
Pintu ruang rapat terbuka.
Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat, diikuti sapaan hormat dari beberapa orang. Elvara ikut berdiri bersama yang lain sambil masih menunduk melihat catatan di depannya.
Lalu sebuah suara rendah yang sangat ia kenal terdengar di ruangan itu.
"Silakan duduk."
Tubuhnya membeku.
Ia mengangkat kepala perlahan. Di ujung meja berdiri seorang pria tinggi dengan setelan abu gelap yang jatuh rapi di tubuhnya. Garis wajah tegas, tatapan tajam, dan sikap tenang yang membuat seluruh ruangan otomatis menjaga jarak.
Waktu hanya membuatnya terlihat lebih matang.
Zayden Alvero.
Dunia di sekeliling Elvara seakan menyempit dalam satu detik. Semua suara lain terdengar jauh, seolah ruangan itu tiba-tiba hanya menyisakan mereka berdua.
Pria itu menatap ruangan sekilas, lalu pandangannya berhenti tepat padanya. Ada jeda singkat yang nyaris tak terlihat orang lain. Mata kelam itu menyipit sedikit, seolah mengenali sesuatu yang tak ia duga ada di hadapannya.
Telapak tangan Elvara terasa dingin.
Lima tahun ia membangun jarak sejauh mungkin. Lima tahun ia meyakinkan diri bahwa masa lalu sudah selesai. Namun pada hari pertama ia kembali, pria yang paling ingin ia hindari justru berdiri hanya beberapa meter darinya.
Zayden menarik kursinya tanpa melepaskan pandangan.
"Sepertinya," ucapnya tenang, "kita kedatangan orang lama."
Ruangan hening sesaat. Beberapa orang saling melirik, mencoba memahami maksud kalimat itu.
Elvara memaksa senyum profesional meski dadanya kacau. Dalam kepalanya hanya ada satu kalimat yang terus berulang sejak semalam.
Semoga aku tak pernah bertemu dia lagi.