No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Sang Penjaga Paviliun
"Bian Zhi! Jelaskan padaku secara logis, kenapa roti kering ini lebih mirip batu kali daripada makanan?!" Suara melengking He Xueyi membelah kesunyian Lintasan Cermin Terlarang. Ia melempar sisa roti itu ke dalam api unggun kecil yang apinya berwarna biru pucat. Roti itu jatuh dengan suara thud yang berat, membuktikan bahwa keluhannya bukan sekadar drama.
Bian Zhi yang sedang memeriksa tali pelana kuda hanya bisa menghela napas panjang—napas ke-101 yang ia buang sejak mereka meninggalkan Puncak Langit. "Tuan, kita sedang berada di dimensi antara. Secara hukum alam, kelembapan di sini nol. Roti apa pun akan mengeras dalam hitungan detik. Dan mohon diingat, Anda sendiri yang bersikeras kita lewat jalan pintas ini agar bisa sampai sebelum makan malam."
"Tapi aku tidak minta roti yang bisa dipakai untuk memalu paku, Bian Zhi!" He Xueyi berdiri tegak, berkacak pinggang di depan api unggun. Jubah merah gelapnya—yang ia ganti dari warna hitam karena menurutnya warna hitam 'terlalu suram untuk suasana hatinya yang sedang meledak'—berkibar megah meski tidak ada hembusan angin. "Logikanya sederhana: Penasihat Lu itu sudah tua bangka. Kenapa dia tidak pensiun saja, main catur di pinggir sungai, atau mati dengan tenang sebagai abu? Kenapa harus melakukan kudeta saat aku sedang dalam perjalanan mencari jati diri dan butuh asupan karbohidrat?!"
Xiao Bo meringkuk di balik pot bunga giok yang dibawanya, memeluk payung hitamnya erat-erat sampai gemetar. "Tuan Besar kalau sedang lapar dan marah... auranya lebih menakutkan daripada seribu jenderal hantu yang sedang demo..."
"Aku mendengarmu, Xiao Bo!" seru He Xueyi tajam, matanya yang kini memiliki rona manusia berkilat dengan cahaya emas yang berbahaya. "Ayo! Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah berminyak pria tua itu saat aku meruntuhkan istananya tepat di depan hidungnya yang bengkok itu."
Rombongan itu memacu kuda bayangan mereka menembus dinding cermin terakhir. Begitu mereka keluar, mereka langsung disambut oleh gerbang belakang Istana Sembilan Kegelapan. Gerbang raksasa yang biasanya dijaga oleh prajurit bayangan yang disiplin itu kini dipenuhi oleh kabut abu-abu pekat yang membawa aroma pengkhianatan dan bau busuk sihir terlarang.
"Bian Zhi, buka pintunya," perintah He Xueyi datar. Suaranya mendingin, tanda bahwa mode "Jang Man-wol yang kehilangan kesabaran" sudah mencapai puncaknya.
"Dengan kunci rahasia, Tuan?" tanya Bian Zhi sambil memegang hulu pedangnya.
"Tidak perlu. Pakai pedangmu. Hancurkan saja sekalian sampai berkeping-keping. Aku sedang sangat malas merogoh saku jubahku yang berlapis-lapis ini hanya untuk mencari sepotong besi!"
BOOOOOMM!
Bian Zhi tidak membantah. Ia menarik pedang hitamnya dan melepaskan satu tebasan Yin vertikal yang dahsyat. Pintu gerbang kayu besi setebal satu meter itu terbelah dua seperti kertas, hancur berkeping-keping dan menciptakan debu yang beterbangan. He Xueyi melangkah masuk melewati reruntuhan itu dengan langkah yang angkuh, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya penuh penghinaan terhadap setiap sudut koridor istana yang sudah dicemari oleh energi murahan Penasihat Lu.
"Siapa itu?!" teriak beberapa prajurit pengkhianat yang berjaga di koridor. Mereka menghunus tombak, mencoba menghalangi jalan.
He Xueyi bahkan tidak melirik mereka. Ia hanya mengibaskan lengan baju panjangnya yang lebar. Seketika, gelombang tekanan udara yang sangat berat membuat para prajurit itu terpental ke dinding, tulang mereka berderak namun He Xueyi tidak membunuh mereka—ia ingin mereka tetap sadar untuk melihat kehancuran tuan baru mereka.
Langkah kaki He Xueyi bergema di aula utama yang megah. Di sana, Penasihat Lu sedang duduk dengan santai di atas takhta Raja Roh yang terbuat dari kristal hitam. Di tangannya, ia memegang cawan berisi Cairan Pemurni Sukma—racun paling mematikan bagi penghuni dunia bawah. Di bawah kakinya, Raja Roh yang asli tergeletak tak berdaya dengan rantai emas yang mengunci aliran tenaganya.
"Ah, Nona He... Anda kembali lebih cepat dari perkiraanku," ucap Penasihat Lu dengan senyum palsunya yang menjijikkan, matanya menyipit melihat penampilan baru He Xueyi. "Dan lihatlah... Anda sekarang tampak lebih... bernyawa. Pipimu merah, matamu hidup. Sangat disayangkan, nyawa yang baru Anda dapatkan itu akan segera kupadamkan bersama paviliun terkutukmu itu."
He Xueyi berhenti tepat di tengah aula, sekitar dua puluh langkah dari takhta. Ia melihat takhtanya yang diduduki oleh pria itu. Ia merasakan detak jantungnya yang baru berdenyut kencang karena amarah yang sangat logis.
"Turun," ucap He Xueyi pelan, namun suaranya menggema seperti guntur di seluruh ruangan, memadamkan lilin-lilin yang menyala di dinding.
"Maaf? Anda bicara padaku?" Penasihat Lu tertawa kecil, menyesap isi cawannya.
"Aku bilang, TURUN DARI KURSI ITU, KAKEK TUA!" teriak He Xueyi, suaranya meledakkan beberapa pilar kristal di sekitarnya. "Logikanya sederhana: Kursi itu terlalu besar untuk pantatmu yang keriput! Dan yang lebih penting, kau sudah membuatku melewatkan waktu makan siangku karena harus berlari-laki di lintasan cermin! Kau tahu berapa banyak energi yang kubuang hanya untuk sampai ke sini tepat waktu?!"
Penasihat Lu berdiri, wajahnya berubah menjadi gelap. "Kau hanya seorang penjaga makam, He Xueyi! Selama seribu tahun kau hanya bersembunyi di balik lenteramu! Sekarang, rasakan kekuatan dari ribuan roh yang telah kupersiapkan untuk menghancurkanmu!"
Penasihat Lu melepaskan ribuan jarum hitam beracun dari balik jubahnya. Jarum-jarum itu terbang menutupi langit-langit aula seperti kawanan lebah maut. Namun, He Xueyi hanya berdiri tenang. Ia mengangkat tangannya yang halus, lalu menjentikkan jarinya sekali.
PING!
Waktu seolah melambat. Ribuan jarum itu berhenti di udara, lalu secara logis berputar arah seratus delapan puluh derajat. Dengan satu lambaian tangan He Xueyi, jarum-jarum itu melesat kembali dan menusuk para pengawal pengkhianat yang berdiri di belakang Penasihat Lu. Jeritan kesakitan memenuhi aula, tapi He Xueyi tidak peduli.
"Bian Zhi, bereskan kerikil-kerikil yang tidak berguna di sekitarnya. Jangan biarkan satu pun dari mereka melarikan diri," perintah He Xueyi. "Pria tua ini adalah bagianku. Aku akan menunjukkan padanya bahwa penjaga paviliun yang punya jantung itu sepuluh kali lebih kejam, lebih emosional, dan lebih dendam daripada yang tidak punya jantung!"
He Xueyi melesat maju, gaun merahnya berdesir indah seperti kelopak bunga mawar yang terbakar. Ia tidak menggunakan senjata tajam. Ia ingin merasakan setiap hantaman fisiknya pada pria yang sudah mengacaukan hidupnya.
Penasihat Lu mencoba mengeluarkan perisai energi, tapi telapak tangan He Xueyi yang kini dialiri api emas—api kehidupan dari Puncak Langit—menembus perisai itu seperti menembus mentega panas.
PLAAAKKK!
Suara tamparan itu begitu keras hingga gema suaranya memantul berkali-kali di dinding istana. Penasihat Lu terlempar dari takhta, tubuhnya berguling-guling di lantai marmer hitam yang dingin sebelum akhirnya menghantam dasar pilar.
"Itu karena kau sudah membuatku lapar dan mual di perjalanan!" ucap He Xueyi sambil berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya yang bersulam emas terdengar seperti lonceng kematian.
Penasihat Lu mencoba bangkit, wajahnya yang bengkak terlihat mengerikan. Ia hendak merogoh sebuah jimat dari pinggangnya, namun He Xueyi lebih cepat. Ia mengangkat kakinya yang mengenakan sepatu sulam indah dan menginjak tangan Penasihat Lu dengan kekuatan penuh tenaga dalam langit.
KRAAAKK!
"Dan ini," He Xueyi menekan kakinya lebih keras, menatap pria tua itu dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. "Ini karena kau sudah berani mengganggu ketenangan paviliunku dan berencana menghancurkan satu-satunya tempat di mana aku bisa tidur dengan tenang! Kau pikir kau bisa menguasai dunia bawah dengan cara murahan seperti ini? Secara logika, kau bahkan tidak layak menjadi minyak untuk sumbu lenteraku!"
Aula istana bergetar hebat saat He Xueyi melepaskan seluruh aura emosinya. Ia benar-benar sedang dalam mode Jang Man-wol yang kehilangan kesabaran total. Penasihat Lu kini hanya bisa merintih di bawah kakinya, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan naga yang seharusnya dibiarkan tidur.