NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: OPERASI REHABILITASI SANG MAWAR

​Pesawat pribadi Diningrat Group membelah kegelapan langit malam menuju Jakarta, namun di dalam kabin, suasana terasa lebih dingin daripada suhu di luar. Adrian Diningrat duduk bersandar dengan mata terpejam, tetapi otaknya bekerja seperti mesin algoritma yang sedang memetakan strategi perang. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan profil Cansu Alessandra—bukan sebagai "Mantan Ibu Negara yang Terbuang", melainkan sebagai wanita yang hidupnya dihancurkan oleh ambisi pria-pria berkuasa.

​"Yusuf," suara Ian memecah kesunyian kabin.

​Yusuf, yang sedang memeriksa laporan intelijen di kursi seberang, segera mendongak. "Ya, Tuan Muda?"

​"Kita tidak bisa membiarkan Matteo dan Cansu hidup dalam bayang-bayang ketakutan selamanya. Selama nama Cansu masih kotor di mata publik Indonesia, Matteo akan selalu menjadi rahasia yang mengancam kita semua," Ian membuka matanya, kilatan tekad muncul di sana. "Kita akan memulai operasi pembersihan nama. Bukan dengan kekuasaan paksa, tapi dengan narasi. Kita akan membuat masyarakat Indonesia jatuh cinta lagi pada sosok Cansu, kali ini sebagai korban, bukan pelaku."

​Yusuf mengangguk paham. "Artinya kita harus membongkar borok Pradikta Kusuma lebih dalam lagi. Mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di balik pernikahan paksa itu."

​"Tepat. Lakukan dengan halus. Gunakan kanal-kanal media independen, buat dokumenter pendek, dan narasikan Cansu sebagai mawar yang dipaksa tumbuh di ladang duri," perintah Ian.

​Kepulangan yang Penuh Sandiwara

​Pagi harinya di Mansion Ian, Jakarta menyambut Ian dengan hujan rintik yang tenang. Begitu Ian melangkah masuk ke lobi, Rhea sudah berdiri di sana. Wajahnya sedikit pucat karena morning sickness, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.

​"Ian!" Rhea berlari kecil dan menghambur ke pelukan suaminya.

​Ian memeluk Rhea erat, sangat erat, seolah-olah ia sedang memohon ampun melalui dekapan itu. Bau parfum Rhea yang menenangkan biasanya menjadi obat baginya, namun kali ini, ada rasa sesak yang menghimpit dada Ian. Di balik punggung Rhea, ia melihat bayangan Matteo di Italia.

​"Maaf aku lama, Sayang," bisik Ian sambil mencium puncak kepala Rhea.

​"Urusan bisnis sudah selesai?" tanya Rhea sambil mendongak, menatap mata Ian dengan binar penuh percaya.

​"Sudah. Semuanya sudah beres," bohong Ian. Lidahnya terasa pahit mengucapkan kalimat itu, namun ia harus melakukannya demi keselamatan janin di rahim Rhea. "Bagaimana kondisi anak kita? Kamu tidak terlalu lelah, kan?"

​Rhea tersenyum manis, menuntun tangan Ian ke perutnya yang masih rata. "Dia kuat, Ian. Sama sepertimu. Hanya saja, dia sepertinya tidak suka bau jamu Mbok Yem. Setiap kali Mbok Yem mendekat membawa jamu penguat kandungan, aku langsung mual."

​Ian tertawa kecil, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi gemuruh di hatinya. Di sudut ruangan, Yusuf berdiri kaku, menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia adalah satu-satunya saksi bisu tentang dosa dan rahasia yang kini membebani pundak tuannya.

​Benih Narasi yang Mulai Tumbuh

​Dua hari setelah kepulangan Ian, sebuah gerakan di media sosial mulai meledak. Diawali dari sebuah unggahan blog anonim yang viral, menceritakan kisah pilu seorang "Putri yang Dijual demi Tahta". Blog itu memuat bukti-bukti percakapan lama dan dokumen internal keluarga Kusuma yang menunjukkan bagaimana Pradikta secara sistematis mengancam nyawa ibu Cansu untuk memaksa Cansu menikahi Presiden Diningrat.

​Masyarakat Indonesia yang sebelumnya mencaci Cansu sebagai simbol nepotisme, tiba-tiba tersentak.

​“Ternyata dia menikah karena diancam? Kasihan sekali, wajahnya yang selalu sedih di TV dulu sekarang masuk akal.”

“Bayangkan, mengorbankan masa muda dan cintanya demi keselamatan ibunya. Dia bukan penjahat, dia adalah pahlawan bagi keluarganya sendiri.”

​Di saat yang sama, Ian memulai langkah keduanya. Melalui sebuah wawancara eksklusif di majalah gaya hidup terkemuka, Ian memberikan pernyataan yang mengejutkan publik.

​"Cansu?" ucap Ian di depan kamera dengan nada yang sangat emosional namun terkontrol. "Dia adalah bagian dari masa laluku yang paling indah. Kami adalah dua remaja yang bermimpi tentang masa depan sederhana, sebelum ambisi politik Pradikta Kusuma menghancurkan segalanya. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana dia menangis saat dipaksa mengenakan kebaya pengantin untuk ayah saya. Jika ada yang harus disalahkan atas apa yang terjadi pada nama baik keluarga Diningrat dulu, itu adalah Pradikta, bukan Cansu."

​Pernyataan Ian bagaikan bensin yang menyambar api. Narasi tentang "Cinta yang Terpisah oleh Kekuasaan" menjadi topik utama di seluruh penjuru negeri. Foto-foto lama Cansu saat masih menjadi aktivis muda yang cantik dan anggun mulai beredar kembali. Masyarakat mulai merindukan sosoknya. Tagar #JusticeForCansu dan #DimanaCansu mulai membanjiri lini masa.

​Dilema di Meja Makan

​Malam itu, makan malam di mansion terasa sangat tenang, namun televisi di ruang tengah masih menyiarkan berita tentang "Fenomena Kerinduan Publik pada Cansu".

​Mbok Yem, sambil meletakkan piring rendang, ikut berkomentar. "Duh, kasihan ya Nona Cansu itu. Mbok dulu memang lihat dia itu anaknya baik, tapi ya itu, Bapaknya jahat banget. Tuan Muda Ian hebat bisa bicara begitu di TV, biar orang-orang nggak salah sangka lagi."

​Rhea, yang duduk di samping Ian, menatap layar televisi dengan dalam. Ia lalu menoleh ke arah suaminya. "Kamu benar-benar mencintainya dulu, ya, Ian?"

​Pertanyaan itu membuat Ian berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya perlahan. Di bawah meja, tangannya mengepal. "Itu masa lalu, Rhea. Aku membicarakan ini agar sejarah tidak lagi salah mencatat. Aku ingin membersihkan nama baik keluarga Diningrat dari segala sisa-sisa Pradikta."

​Rhea tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Ian. "Aku tidak cemburu, Ian. Justru aku bangga padamu. Kamu berani membela wanita yang pernah terluka karena keluargamu. Itu menunjukkan betapa besarnya hatimu. Aku harap, di mana pun Cansu berada sekarang, dia melihat ini dan merasa lebih tenang."

​Ian hanya bisa tersenyum getir. Seandainya kamu tahu, Rhea, batinnya perih.

​Misi Rahasia: Labirin Air Terakhir

​Larut malam di ruang kerja, Yusuf melaporkan perkembangan terakhir.

​"Tuan Muda, publik sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. Nama Cansu kini bersih. Bahkan ada petisi yang meminta pemerintah memberikan rehabilitasi nama secara resmi kepada beliau. Lorenzo Valenti baru saja mengirim pesan; dia terkesan dengan kerja Anda."

​Ian berdiri di depan jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta. "Langkah selanjutnya, Yusuf. Aku ingin Cansu memiliki hak untuk kembali ke Indonesia suatu hari nanti tanpa harus ditangkap atau dicaci. Tapi ada satu hal yang mengganjal..."

​"Apa itu, Tuan Muda?"

​"Matteo. Jika narasi ini semakin besar, orang-orang akan mulai mencari tahu di mana Cansu sekarang. Jika mereka menemukan Matteo, semua rencana ini bisa berbalik menjadi senjata makan tuan. Kita harus memastikan keberadaan Matteo di Italia tetap menjadi rahasia negara paling ketat."

​"Saya sudah mengatur enkripsi data perjalanan Anda ke Venesia, Tuan Muda. Tidak akan ada jejak digital yang tersisa," jawab Yusuf meyakinkan.

​Namun, di tengah keberhasilan misi rehabilitasi nama itu, Ian merasakan sebuah lubang besar di hatinya. Ia telah berhasil mengembalikan martabat wanita yang dicintainya dulu di mata dunia, namun ia tetap tidak bisa memeluk putranya sendiri. Ia hidup dalam dua dunia: dunia cahaya bersama Rhea yang sedang mengandung, dan dunia bayang-bayang di mana putranya, Matteo, tumbuh tanpa seorang ayah.

​Tiba-tiba, ponsel pribadi Ian bergetar. Sebuah nomor internasional dari Italia. Pesan singkat dari Cansu:

​"Sebelum nya aku berterima kasih atas niat baik mu.Aku melihat beritanya dari sini. Rakyat tidak lagi membenciku. Tapi tolong, berhentilah di sini."

​Ian menatap pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia menyadari satu hal: meskipun ia telah memberikan "keadilan" bagi Cansu di mata publik, ia tetaplah seorang narapidana dalam cintanya sendiri.

​Di Jakarta, sang Macan telah memenangkan pertempuran narasi, namun di Venesia, sang Singa Kecil masih menjadi misteri yang terceklik oleh benih rahasia yang ia tanam sendiri. Dan di lantai bawah, Rhea yang sedang hamil mulai merasakan tendangan kecil di rahimnya—sebuah pengingat bahwa masa depan baru sedang menanti, sementara masa lalu masih menolak untuk terkubur.

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!