NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 9

Amelia sudah tidak bisa menyangkal perasaan suka miliknya pada Caelan telah berubah menjadi cinta. Perkenalannya dengan Caelan memang singkat, tapi semakin mengenal Caelan perasaan Amelia semakin besar.

Pria itu datang dengan tiba-tiba ke dalam kehidupan Amelia. Memberikan ketenangan dan rasa nyaman serta menghapus segala kekhawatiran Amelia. Semenjak ada Caelan, Amelia bisa menjalani harinya dengan lebih baik. Perlahan-lahan Amelia mengembalikan kehidupannya ke jalur yang benar.

Amelia tidak perlu takut tentang kesejahteraan Emi dan dirinya karena Caelan selalu memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Amelia bisa kembali fokus pada pekerjaan dan mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membayar hutang serta memiliki tabungan.

Dengan adanya uang untuk kebutuhan darurat, Amelia tidak lagi memiliki banyak kekhawatiran sehingga bisa bekerja baik meskipun dilakukan sembari merawat Emi.

Kehadiran Caelan seperti menjadi bagian tetap dalam kehidupan Amelia. Jika pria itu tidak datang karena ada pekerjaan, yang hanya terjadi 2 kali, Amelia pasti sangat merindukannya. Hanya saja, Amelia terlalu takut menghubungi Caelan lebih dulu. Jadi, setiap kali telepon maupun video call pasti dilakukan oleh Caelan. Amelia hanya berani mengirimkan pesan untuk menanyakan kabar Caelan, atau mengirimkan foto dan video perkembangan Emi.

Amelia baru saja mengirim video Emi yang mulai belajar berdiri. Caelan yang sangat antusias setelah melihat video itu langsung menelepon Amelia padahal masih di jam kerja.

“Aku ingin melihatnya,” ujar Caelan di seberang line telepon dengan bersemangat.

“Sayangnya, kau tidak bisa melihatnya sekarang karena Emi sedang tidur.”

Terdengar helaan napas kecewa dari Caelan. “Aku benar-benar ingin pergi ke sana dan melihatnya langsung.”

“Kau bisa melihatnya besok,” sahut Amelia. Ia sangat menantikan hari esok, ketika bisa pergi menjemput Caelan di stasiun.

“Soal besok … sepertinya aku tidak bisa datang.”

Amelia seketika merasa sedih. Jika Caelan tidak bisa datang besok, artinya Amelia harus menunggu seminggu lagi untuk bisa bertemu dengan Caelan. Tepatnya delapan hari lagi.

“Tidak apa-apa. Selesaikan saja pekerjaanmu dengan tenang.”

“Bukan soal pekerjaan.” Suara Caelan terdengar ragu. “Orangtuaku kembali dari luar negeri. Aku akan menemui mereka.”

Dari cerita Caelan, Amelia tahu bahwa orangtua pria itu yang juga kakek dan nenek Emi tinggal di luar negeri setelah pensiun dari pekerjaan. Mereka hanya sesekali pulang ke Kota Amber. Biasanya, Caelan yang akan mengunjungi mereka di hari raya atau ketika ada kesempatan di sela pekerjaan. Namun, akhir-akhir ini Caelan memang jarang pergi mengunjungi orangtua karena lebih sering menggunakan waktu libur mengunjungi Emi dan Amelia.

Dari cerita Caelan juga Amelia tahu bahwa pria itu belum menceritakan soal Emi. Jadi, kakek dan nenek Emi belum mengetahui keberadaan Emi.

“Kau akan memberitahu mereka?” tanya Amelia hati-hati.

“Sudah seharusnya. Aku sudah menunda terlalu lama.”

“Kira-kira bagaimana reaksi mereka, apakah mereka akan percaya?” Setelah mengajukan pertanyaan itu, Amelia baru teringat bahwa ia lupa untuk melakukan tes DNA sesuai kesepakatan dengan Caelan sebelumnya. Padahal sudah membuat janji dengan rumah sakit.

Karena Caelan mengatakan tidak perlu, Amelia jadi melupakan kewajiban untuk memberi bukti konkret bahwa Emi memang putri dari Henry, adik Caelan.

“Mereka pasti senang. Sama sepertiku, orangtuaku juga pasti ingin mengenal Emi, mereka sangat menyayangi Henry.”

Namun, Amelia tidak bisa merasa tenang. Ia khawatir jika orangtua Caelan tidak mau menerima Emi. Atau mereka menerima Emi dan ingin merawat Emi. Amelia menggeleng keras-keras. Mengusir pikiran negatif dari kepalanya.

“Amelia, kau masih di sana?”

“Ya,” sahut Amelia pelan.

“Aku tahu apa yang kau khawatirkan,” ucap Caelan. “Tenang saja, orangtuaku tidak akan merebut Emi darimu. Mereka hanya akan sering datang untuk bertemu.”

“Ya.”

Semoga saja seperti itu, karena Amelia belum siap berpisah dengan Emi.

Semalaman Amelia memikirkan bagaimana reaksi orangtua Caelan setelah mengetahui tentang Emi. Apakah mereka akan senang atau justru marah? Meskipun Caelan sudah mengatakan agar Amelia tetap tenang. Namun, kegelisahan itu tetap saja datang.

Bagaimana jika mereka tidak percaya?

Membayangkan Emi yang mungkin tidak diakui oleh orangtua Caelan karena kurangnya bukti bahwa Emi adalah putri Henry, membuat Amelia mengambil keputusan untuk melakukan tes DNA.

Keesokan harinya Amelia pergi ke Rumah Sakit Emerald. Ia tidak membuat janji terlebih dahulu, berharap ketika datang langsung bisa melakukan tes di hari yang sama.

Amelia langsung diarahkan ke Genos Laboratory, bagian laboratorium yang khusus menangani tes paternitas. Seorang perawat langsung membantu Amelia mengurus prosedur setelah Amelia menjelaskan tujuan kedatangannya.

“Anda sudah pernah membuat janji sebelumnya, tapi berhalangan hadir?” Perawat bernama Diana itu memastikan.

“Benar, ada berbagai hal yang terjadi sehingga saya terpaksa menunda melakukan tes.” Amelia tidak mau menjelaskan detail alasannya. “Apakah saya bisa melakukannya hari ini?”

“Tunggu sebentar, saya akan memeriksanya.” Diana kemudian sibuk dengan komputer, lalu setelah lima menit perawat itu kembali berkata. “Tes bisa dilakukan hari ini, tapi di jam sebelas siang, bagaimana?”

Amelia melirik jam dinding di belakang Diana. Baru pukul sembilan, artinya ada dua jam lagi sebelum waktu tes. “Saya setuju. Bisakah saya menunggu di sini?”

“Tentu saja,” jawab Diana. “Anda bisa menunggu di ruang tunggu.” Perawat itu keluar dari meja resepsionis. “Mari saya tunjukkan ruangannya.”

Amelia mengikuti langkah Diana memasuki sebuah ruang tunggu yang nyaman, tapi terasa sangat dingin. Sebenarnya, suhu di ruangan tersebut diatur di tingkat yang sesuai. Hanya saja, kegugupan Amelia membuatnya merasa menggigil.

“Anda baik-baik saja?”

Amelia mengangguk.

“Kalau begitu, saya pergi dulu. Anda bisa menggunakan fasilitas yang ada di ruangan ini. Ada box bayi, playmat, air minum, dan lainnya. Buat diri Anda nyaman, saya akan mengabarkan jika waktu tesnya sudah tiba.”

“Terima kasih,” ucapan Amelia mengiringi kepergian Diana. Kini, di ruangan itu hanya ada Amelia dan Emi.

Pelan-pelan Amelia lepaskan tali gendongan bayi, kemudian meletakkan Emi di playmat. Ruang tunggu itu memang dikhususkan bagi pengunjung yang membawa anak-anak. Dindingnya dicat warna biru pastel dengan gambar berbagai karakter hewan. Di salah satu sudut terdapat perosotan mini untuk bermain anak. Di sudut lain ada meja yang bisa digunakan untuk mengganti popok. Ada pula 2 box bayi yang bisa digunakan. Sudut lainnya ada playmat untuk bayi yang belum bisa bermain perosotan, dan di bagian lain ada deretan kursi tunggu.

Ruangan itu cukup nyaman untuk digunakan, tapi kesunyian di dalamnya membuat Amelia berpikiran macam-macam. Amelia memikirkan prosedur tes yang mungkin akan menyakiti Emi hingga hasil tes yang bisa jadi tidak sesuai harapan.

“Di mana keyakinanmu sebelumnya, Amelia?” Amelia berbicara pada diri sendiri. “Kau terlalu banyak berpikir.”

Saat Amelia sibuk dengan pikirannya, seorang wanita bersama satu anak kecil berusia 5 tahun masuk. Wanita itu menyapa Amelia, mengajak bicara sehingga Amelia tidak sempat berpikiran macam-macam lagi.

Tidak terasa dua jam berlalu, Diana datang menjemput Amelia dan tes dilakukan. Petugas mengambil sel mulut Emi dengan menggunakan alat khusus. Prosedurnya tidak berlangsung lama. Hanya saja, Amelia harus menunggu antrean sebab tidak membuat janji terlebih dahulu.

“Kami akan menghubungi Anda untuk hasil tes dalam waktu dua hingga lima hari kerja. Hasil tes cetak bisa diambil setelah pemberitahuan atau jika Anda menginginkan data digital akan dikirimkan dokumen digitalnya ke email atau nomor kontak yang tertera.”

Setelah mendapatkan informasi dari petugas. Amelia membawa Emi keluar dari rumah sakit. Ia cukup lama duduk di dalam mobil. Seharusnya Amelia membawa Emi pulang, tapi ia belum ingin pulang. Amelia ingin menemui Caelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!