Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.
Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.
Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.
Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Puisi yang Kacau.
Pei Yuling tidak pernah menyangka bahwa wanita di hadapannya akan benar-benar berani mengubah niat menjadi serangan fisik yang nyata.
Keheningan hutan musim dingin itu seolah terhisap habis saat jarak di antara mereka hilang dalam sekejap.
Bahkan ketika jemari Shen Fuyan yang kasar dan kuat sudah mencengkeram lehernya, pikiran Pei Yuling masih terasa kosong, membeku dalam sebuah ketidakpercayaan yang absolut.
Udara dingin yang tajam menusuk paru-parunya, namun rasa sesak di tenggorokannya jauh lebih nyata.
Di bawah pendar cahaya bulan yang pucat, ia merasa seolah-olah dirinya sedang terseret paksa ke dalam sebuah kisah aneh yang sama sekali tak masuk akal.
Logika dan martabatnya sebagai seorang pria bangsawan kelas atas Chang'an mendadak runtuh berkeping-keping saat tubuhnya dibanting dengan keras ke batang pohon tua yang kasar.
Punggungnya menghantam kulit kayu yang membeku, mengirimkan rasa sakit yang berdenyut hingga ke tulang belakang, sementara salju yang menumpuk di dahan-dahan atas luruh menyirami pundaknya.
Aroma tanah basah dan hawa dingin dari tubuh Fuyan menginvasi indranya. Pei Yuling terpaku, matanya menatap lurus ke dalam netra Fuyan yang berkilat berbahaya di tengah kegelapan malam. Ini... nyata?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya, terjepit di antara harga diri yang terluka dan kenyataan pahit bahwa di bawah bayang-bayang pohon ini, otoritasnya tak berarti apa pun di depan wanita yang memiliki kekuatan layaknya seekor pemangsa.
Namun jarak di antara mereka terlalu dekat untuk disangkal.
Ia bisa melihat dengan jelas kilau halus di wajah Shen Fuyan, pecahan mika yang
menangkap cahaya musim dingin, berkilau dingin seperti serpihan es.
Dan mata itu menatapnya dari atas dengan dingin, nyaris merendahkan.
Pei Yuling mencoba melawan.
Otot-ototnya menegang, tangannya mencengkeram pergelangan Shen Fuyan namun tidak bergerak.
Sedikit pun.
Seolah-olah tangan yang menahannya bukan milik seorang wanita melainkan besi yang hidup.
Wajahnya memerah.
Entah karena napasnya tercekik atau karena harga dirinya dihancurkan begitu saja.
“A-apa… yang kau inginkan…”
Suaranya serak, terputus-putus di antara tekanan di tenggorokannya.
Namun Shen Fuyan berbicara dengan santai.
Tenang.
Jelas.
Seolah-olah ia hanya sedang membicarakan cuaca.
“Batalkan pertunangan ini.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan
“Dan mulai sekarang, katakan pada setiap calon istrimu bahwa hatimu sudah milik
orang lain.”
Nada suaranya tetap datar.
Namun maknanya tajam.
Dengan begitu… tidak akan ada lagi gadis yang tertipu oleh janji kosong.
Dan jika tetap memilih menikah dengannya itu pilihan mereka sendiri.
Pei Yuling menatapnya, napasnya tersengal.
Namun alih-alih menjawab, ia justru tertawa pendek, pahit.
Seolah-olah menemukan celah.
“Lepaskan aku…”
“…atau aku akan mempercepat tanggal pertunangan.”
Untuk pertama kalinya, alis Shen Fuyan terangkat.
Terkejut.
Lalu ia tersenyum tipis.
Namun tangan di lehernya justru mengencang.
Tekanan itu datang tiba-tiba lebih kuat.
Lebih kejam.
Penglihatan Pei Yuling mulai berputar.
Dunia di sekitarnya mengabur.
Ia mencoba melepaskan tangan itu, menggaruk, mencengkeram sia-sia.
Kuku-kukunya hanya meninggalkan goresan tipis di kulit Shen Fuyan.
Lidahnya mulai kelu.
Napasnya putus.
Dan tepat saat kesadarannya hampir runtuh DOR!
Tubuhnya dilempar ke tanah.
Ia jatuh keras, udara keluar dari paru-parunya.
Tubuhnya gemetar.
Tidak bisa berdiri.
Tidak bisa bergerak.
Ia hanya bisa tergeletak di sana, batuk keras, tersedak napasnya sendiri.
Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang mengiris tenggorokannya.
Shen Fuyan berdiri di sampingnya.
Memandang.
Dingin.
Tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Saat batuk itu mulai mereda, ia berjongkok perlahan.
Pei Yuling refleks mundur.
Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya, naluri takut yang tak bisa dikendalikan.
Shen Fuyan mencibir pelan.
Menarik kerahnya, memaksanya kembali.
“Kau ingin menikah denganku?” katanya pelan.
Nada suaranya berubah.
Lebih rendah.
Lebih lembut namun justru lebih menakutkan.
“Baiklah.”
Ia mendekat.
Napas hangatnya menyapu telinga Pei Yuling seperti bisikan dari jurang.
“Aku tidak keberatan menjadi janda.”
Pei Yuling membeku.
“Malam pernikahan kita…”
“seorang pencuri masuk.”
“Dan suamiku yang berusaha melindungiku”
“mati di tempat.”
Setiap kata diucapkan perlahan.
Seolah-olah ia benar-benar sedang merencanakan semuanya.“Sejak saat itu…”
“kita terpisah oleh hidup dan mati.”
Ia tersenyum tipis.
“Bukankah itu jauh lebih indah… daripada kisah cintamu yang setengah hati itu?”
Tubuh Pei Yuling bergetar hebat.
Kini ia mengerti.
Ini bukan ancaman kosong.
Wanita ini benar-benar akan melakukannya.
Jika ia berani menikahinya, ia tidak akan hidup melewati malam pertama.
Harga dirinya mungkin hancur namun nyawanya jauh lebih berharga.
Dengan napas tersendat dan suara hampir tak terdengar ia menyerah.
Shen Fuyan akhirnya berdiri.
Beban di dadanya terasa jauh lebih ringan.
Ia berbalik, berjalan keluar taman tanpa menoleh lagi.
Di luar, Nyonya Lin sudah menunggu.
Melihatnya keluar, wanita itu tersenyum halus.
“Selamat, Jenderal.”
Shen Fuyan mendengus ringan.
“Terlalu cepat.”
Ini baru satu orang.
Masih banyak rencana perjodohan yang akan datang.
Perjalanannya masih panjang.
...----------------...
Saat kembali ke Paviliun Teratai Kembar keributan tiba-tiba pecah.
BYUR!
Suara air pecah memecah ketenangan.
Tirai terlepas.
Jatuh ke danau.
Dua sosok terlihat berjuang di air yang dingin membeku.
Jeritan memenuhi udara.
“Cepat! Tolong!”
“Tarik mereka!”
Kekacauan terjadi.
Beberapa gadis mencoba meraih tangan dari tepi gagal.
Yang lain hanya bisa berdiri kaku, wajah pucat ketakutan.
Kekacauan pecah seketika, membelah kesunyian musim dingin menjadi serpihan histeria yang mencekam.
Di tepi danau yang membeku, beberapa gadis tampak meronta dengan jemari yang memutih, mencoba meraih pegangan di pinggiran dermaga yang licin oleh es, namun pegangan mereka lepas dan mereka kembali terperosok ke dalam air yang menghujam seperti ribuan jarum es.
Yang lain hanya bisa berdiri kaku di atas paviliun, wajah-wajah mereka sepucat salju yang turun, lumpuh oleh ketakutan yang membekukan darah.
Di tengah suhu yang ekstrem ini, air danau itu bukan lagi sekadar air, ia adalah lubang kematian yang siap merenggut nyawa lewat hipotermia bahkan sebelum paru-paru mereka sempat menyerah pada air.
Sebelum siapa pun sempat memecah kebisuan atau mengulurkan bantuan, sebuah bayangan merah melintas dengan kecepatan yang tak masuk akal. Cepat, ringan, dan mematikan seperti kilat yang menyambar di tengah badai salju.
Shen Fuyan telah melesat, membelah udara musim dingin yang tajam.
Langkahnya nyaris tidak nyata; kakinya hanya menyentuh permukaan air danau yang hitam sejenak menciptakan riak kecil yang segera membeku kembali lalu ia melompat lagi dengan kekuatan pegas yang terlatih di medan perang.
Dalam satu gerakan yang mulus, tangannya meraih satu sosok yang hampir tenggelam, memeluknya dengan erat seolah nyawanya sendiri bergantung pada pelukan itu.
Tubuh Fuyan berputar dengan anggun di udara, melawan gravitasi, dan dalam satu tarikan napas yang singkat, ia sudah mendarat kembali di lantai paviliun yang kokoh.
Di dalam dekapannya, Lin Yuexin terengah-engah, tubuhnya basah kuyup oleh air yang mematikan, dan wajahnya tampak sepucat mayat akibat syok yang hebat.
Air menetes dari pakaiannya, menciptakan genangan dingin di lantai.
Shen Fuyan tidak memberikan ruang bagi keraguan dengan tatapan yang kembali tajam dan aura komando yang tak terbantahkan, ia berteriak memecah kepanikan yang tersisa.
“Turunkan tirai!” serunya tegas, suaranya menggelegar di tengah paviliun, memerintahkan perlindungan bagi martabat dan nyawa sang saudari di tengah badai yang belum reda.
Orang-orang baru tersadar.
Tirai bambu segera dijatuhkan.
Namun satu orang masih di air.
Shen Fuyan melepaskan jubah merahnya, membungkus Lin Yuexin, lalu
menyerahkannya pada pelayan.
Saat hendak pergi lagi, tangannya ditarik.
Lin Yuexin.
Bibirnya gemetar.
“Dia… yang mendorongku…”
“…aku menariknya ikut jatuh…”
Shen Fuyan menatapnya sejenak.
Lalu mengangguk pelan.
Ia mengerti.
Kali ini ia tidak lagi lembut.
Ia melompat kembali ke danau.
Menarik sosok kedua bukan dengan pelukan melainkan mencengkeram kerahnya.
Seperti menyeret hewan kecil.
Saat kembali ke paviliun—
ia melemparnya begitu saja ke atas meja.
BRAK!
Cangkir dan piring jatuh berserakan.
Jeritan terdengar lagi.
Namun kali ini tidak ada yang benar-benar peduli.
Semua perhatian tertuju pada Lin Yuexin.
Barulah seseorang berbisik—
“Itu… Nona Wang Ketujuh…”
Shen Fuyan menyipitkan mata.
Jadi…itu dia.
Pertemuan puisi pun berakhir kacau.
Namun badai sesungguhnya baru saja dimulai.