Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Antara Indonesia - Dubai
Indonesia.
Pagi cerah, langit jernih tidak terlihat awan yang menggelayut . Rumah mewah Magnolia sudah sibuk bahkan sebelum matahari memancarkan sinar nya.
Azzam dan Annasya sudah berangkat lepas sholat subuh dengan tujuan yang berbeda.
Azzam berangkat ke Dubai dengan pesawat pribadi di temani Vano, sementara Annasya ke rumah sakit di mana jadwal operasi bak lembaran daftar menu makanan yang sudah menunggu.
Tidak ada pesan dan kesan khusus untuk pasutri baru itu. Mereka berpisah begitu saja, tanpa ada kata pamit, tanpa ada kata romantis, apalagi sebuah kecupan manis.
Tidak ada yang istimewa.
Di dalam pesawat.
Vano yang baru saja selesai membacakan ritual A setelah nanti tiba di Dubai menatap wajah lesu sang bos.
" Apa mungkin terjadi sesuatu semalam hingga bos kurang tidur dan jadi tampak lesu? " Vano dalam mode interogasi.
A mengernyit. " Arah pertanyaan mu itu kemana ? "
" Saya tidak memikirkan hal itu." Vano tersenyum . " Jangan-jangan tuan A mengira jika saya mempertanyakan tentang tragedi malam pertama pengantin baru , tidak kan ?" Padahal sebenarnya memang iya. Vano sekarang punya pekerjaan baru mengusili A hingga kesal.
A memutar bola mata jengah dan tidak mempedulikan perkataan Vano.
Diam nya A tidak membuat Vano berhenti. Ia kembali melanjutkan. " Itulah yang saya katakan, kenapa juga harus di tinggal, kan sudah bisa di bawa serta. " Tak henti henti ia mengompori A meski suaranya itu masih menggumam.
" Apa kau bilang? "
" Oo_tidak ada , tuan. " Vano berkilah.
" Oiya, apa kamu sudah mendapatkan kabar dari nona Valira? Resto akan segera di resmikan."
Giliran Vano yang terlihat lesu tidak bersemangat. " Saya sudah menghubungi nona Najwa, tapi jawaban nya masih sama, dia yang akan mewakili setiap kegiatan CEO Amary. "
A menghela nafas.
" Kenapa saya merasa jika ada sesuatu yang terjadi dengan nona Valira , tuan ?"
" Mmmm..sebaiknya kamu cari tau."
" Baik, tuan A."
*
*
Brawijaya hospital.
Annasya tengah berada di kamar ganti, operasi pertama setelah satu minggu libur akan di lakukan dua puluh menit lagi.
" Sudah kerja aja , dok. " Tegur Melan. Salah satu perawat senior yang selalu menemani Annasya berjam jam di kamar operasi.
" Iya nih, kak Mel. Pasien lagi ramai ramai nya. " Annasya tersenyum manis.
Melan menatap layar yang menampilkan jadwal operasi Annasya satu minggu ke depan.
" Wah...bisa bisa menginap di rumah sakit ini , dok.."
" Tidak apa, asal ada kak Melan yang temani, pasti semua cepat beres."
" Idih, ogah dah . Dokter mau liat suami ku ikutan menginap di rumah sakit? Risih kan jadi nya."
Annasya tertawa kecil. " Iya ya, pak polisi kan tidak betah di tinggal lama oleh istri tercintanya." Seloroh nya.
" Memangnya dokter tidak? Bukan kah Presdir kita akan menutup rumah sakit ini jika istrinya sampai harus kerja lembur ?" Gantian Melan yang menggoda Annasya.
" Mana ada...lagian dia sudah berangkat ke Dubai tadi pagi."
" Ha.. serius, dok." Melan terkejut.
Annasya mengangguk.
" Kenapa dokter Asya tidak ikut? Manten baru loh ini..lagi hot hot nya."
( Apa nya yang hot? Dia saja tidak sudi melihat wajah ku ).
" Apaan sih kak. Lagian, kalau aku pergi, siapa yang akan mengoperasi tuan Yassin? Bisa bisa rumah sakit kena sanksi karena dokternya tidak bertanggung jawab. Kak Melan kan tau, keluarga tuan Yassin sudah hampir tiga mingguan harus menunggu hingga jadwal operasi ku kosong. "
" Iya juga sih..tapi tuan Azzam kan kasian harus tidur sendirian. "
" Sudah biasa kali, kak. "
" Waktu belum menikah , iya. Tapi kan sekarang sudah beda."
Pintu terbuka. Seorang residen bedah saraf menghampiri Annasya. " Dok, tuan Yassin sudah di tidurkan. "
Percakapan memojokkan Annasya itu akhirnya terhenti.
" Oke. Ayo kak Melan. "
" Ayo dok, medan perang sudah menunggu."
" Minyak urut sudah di siapkan, kan ?" Ujar Annasya di sela tawa.
" Jangan kan minyak nya, tukang pijit nya pun sudah aku siapkan , dok. " Melan ikut tertawa, kemudian membayangkan suaminya lah yang akan begadang semalaman memijat betis nya.
Keduanya tertawa bersama. Delapan, atau bisa sampai sepuluh jam, diagnosa spinal tumor atau tumor saraf tulang belakang menunggunya di dalam sana.
*
*
Dubai.
Azzam menghela nafas begitu tiba di mansion setelah melewati penerbangan delapan jam menguras energi dan pikiran . Terasa ada yang kurang, raut nya menandakan itu. Padahal sebelum sebelumnya, ia biasa saja.
Belum juga melepas penat, Vano sudah datang mengetuk pintu kamar A.
Tok..tok..tok..
" Masuk."
Vano muncul dari balik pintu.
" Ada apa? "
" Ini tentang Amary Design , tuan."
" Apa nona Valira sudah datang? "
Vano menggeleng lemah. " Saya menelpon asisten Amary dan untuk peresmian restoran , tetap nona Najwa yang akan hadir."
" Nona Valira, kamu sudah dapat kan kabar terbaru nya?"
Vano menghela nafas. " Belum, tuan. Ia seperti hilang di telan bumi."
A menatap lurus ke depan . Ia sudah yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan Valira.
" Ya sudah, siapkan seperti biasa, dan jangan ada kesalahan. "
" Baik, tuan."
Malam pun tiba.
A dan Vano menikmati makan malam mereka. Jika Vano lahap, A justru terlihat hanya mengaduk aduk makanan nya.
" Apa perlu saya meminta chef buatkan menu yang lain, tuan ?" Tanya kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan. Ia akan terus berada di situ hingga pemilik mansion beranjak.
Entah apa yang dia lamun kan hingga pertanyaan wanita paruh baya itu tidak di dengar kan A.
" Tuan A.." Vano mengambil alih tugas wanita tersebut.
" Mmm.." A mengangkat kepala. " Ada apa?"
" Basma bertanya, mungkinkah tuan A tidak suka dengan masakan chef kali ini? Ia menawarkan untuk mengganti yang baru."
A menatap Basma . " Tidak perlu. Ini sudah cukup."
" Baik, tuan." Ujar nya kembali tertunduk.
Dan lagi, Vano masih menyaksikan tingkah berulang A. Mengaduk nasi biryani dengan beberapa potongan kambing di atas nya. Vano pun menghela nafas.
" Apa ada yang mengganggu pikiran anda, tuan ? "
" Tidak ada. " Singkat A. Karena jujur, dia pun bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.
Sejak meninggalkan Indonesia, tiba tiba saja suasana hatinya berubah drastis. Ada yang mengganjal, tapi entah itu apa. Jika karena kangen umi Tata, A sudah seringkali mondar mandir ke luar negeri, dan ia tidak pernah merasakan hatinya sekosong ini. berarti penyebab nya adalah hal yang lain.
Mungkinkah, Annasya?
Tidak, dia tidak mengakui itu.
Tapi , tidak dengan Vano. Ia paham betul kegelisahan A.
" Kan sudah saya bilang, kenapa nona muda tidak di bawa sekalian, begini kan jadi nya .." Tak bisa lagi membendung kekesalan hati nya, akhirnya Vano menyuarakan yang sebenarnya tidak pernah di akui A.
Seketika, A mengangkat kepala. Sendok di tangan kanannya mengarah ke wajah Vano. " Diam kau ! ! "
Vano merapatkan kedua bibir nya menjadi satu kesatuan , kemudian menghabiskan makanan nya tanpa berani lagi berkomentar.
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣