NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

isi ruko

“Sebaiknya kita masuk dulu, Pak.” Amira melangkah menuju ruko.

Kuswara masuk mengikuti Amira, melihat sekeliling sudah tidak ada bau debu lagi, cat jadi lebih terang.

Melihat ada tumpukan kardus, dia mengambil dan menggelar kardus, kemudian duduk.

“Aduh, maaf, Pak, kami belum ada tikar, kompor, dan peralatan dapur.” Nanda menghampiri, tidak enak ada tamu malah duduk di atas kardus bekas yang semalam dia kumpulkan.

“Oh, nanti sore saya kirim… kompor gas, piring, tikar, dan peralatan rumah tangga lainnya.”

“Kami enggak minta, Pak… kami rencananya mau beli, Pak, hari ini.”

“Ngapain beli? Di rumah saya ada satu set bekas, mau dibuang.”

“Loh, kok dibuang, Pak?”

“Istri saya punya kebiasaan aneh.”

“Kebiasaan aneh seperti apa, Pak?” Amira yang bertanya, sedangkan Nanda duduk di samping Amira, sama-sama duduk di kardus.

Kuswara tampak menggaruk kepalanya.

“Kemarin mantan pacar saya sama suaminya, kebetulan teman bisnis saya, bertamu… saya suruh pembantu memberikan kopi pada mereka.”

“Terus?” Nanda mengernyitkan dahi, tak mengerti.

“Ya, terus satu set peralatan dapur harus ganti… sampai ke tempat tisu saja harus ganti. Padahal kita sudah sama-sama tua, tapi masih saja cemburuan.”

“Kalau begitu istri Anda sangat mencintai Anda,” komentar Amira.

“Entah mencintai atau memang overprotektif… padahal sama-sama sudah punya cucu.”

“Luar biasa istri Anda, Pak,” ucap Amira. “Tapi enggak enak kalau saya menerima begitu saja, Pak… bagaimana kalau saya beli saja, Pak?”

“Enggak usah dibeli, saya taruh saja di sini. Daripada di sana enggak dipakai, nanti kalau kamu ada uang kamu bisa bayar.”

“Baiklah kalau begitu,” ucap Amira.

“Nah, sekarang bagaimana, apakah kamu punya ide untuk menangkap maling itu?”

Kuswara menggaruk kepalanya.

“Saya panggil saja ya orangnya ke sini,” ucap Kuswara, mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

“Duh, maaf, saya pesan kopi dulu ya,” ucap Amira, tak enak akan kedatangan tamu.

Kuswara mengangkat tangan, melarang Amira memesan kopi.

“Nik, ke ruko paling ujung bisa enggak? Sekalian bawa air lima, kopi lima, sama cemilannya.”

Amira dan Nanda hanya melihat dan mendengarkan saja ucapan Kuswara.

“Duh, Pak, harusnya kami yang melayani tamu, Pak.”

“Sudah, jangan sungkan, tenang saja.”

Tak lama kemudian pria gemuk, rambut lurus, mata sipit, kacamata tebal, memakai celana selutut dan kaos putih bermerek Adidas datang.

Dia melihat Kuswara duduk di atas kardus, dia juga mengambil kardus lalu duduk di samping Kuswara.

“Lah nongkrong di sini, Pak, kirain lagi cari janda.”

“Het, jangan kenceng-kenceng. Apa kayak enggak tahu tante kamu saja gimana orangnya.”

“Ya jagoan di luar, di rumah macan ompong,” ucap Niko.

“Berisik lu ah… nah sekarang ceritain gimana lu kehilangan barang terus.”

Belum sempat menjawab, beberapa orang datang membawa cemilan, air putih, dan kopi.

Sekalian membawa piring dan gelas.

Setelah menyajikan semua hidangan, mereka pergi.

“Nih, yang gua ceritain kemarin, Ko.”

Niko tampak tersenyum pada Amira.

“Saya Niko, Mbak.”

“Amira,” sambil tersenyum.

“Saya Nanda.”

“Jadi gimana, apa pencurinya sudah ketemu?” tanya Kuswara.

“Sudah, Om.”

Kuswara mengernyitkan dahi. Beberapa jam lalu belum ketemu, sekarang sudah ketemu. Jadi pertemuan ini sia-sia, pikir Kuswara.

“Siapa?”

“Si Udin, Om.”

“Yang bener lu?”

“Ya emang sudah saya incar dia, Bang. Sudah tiga bulan terakhir ini barang ada yang hilang di awal bulan.”

“Terus dari mana lu tahu kalau itu si Udin pelakunya?”

“Tadi si Malik nemuin hair dryer di tas si Udin.”

“Si Udin ngaku?”

“Mana ada maling ngaku, Om… dia sumpah-sumpah pakai nama Tuhan dan ibunya, katanya dia enggak nyuri.”

“Oh gitu ya… enggak nyangka si Udin. Kelihatannya aja baik ya, pernah dia nemuin dompet gua malah dia balikin, padahal ada uangnya banyak di dompet gua.”

“Emang kepribadian Udin ini bagaimana, Pak?” kali ini Amira yang bertanya.

“Dia anak rajin dan penuh semangat, sebenarnya. Ibunya sakit ginjal, tiap bulan harus kontrol dan cuci darah. Sudah tiga bulan ini dia butuh uang untuk pengobatan ibunya. Rencananya saya mau kasih uang pesangon, tapi dia malah menolak… dia tetap tidak mengaku bersalah, ya sudah saya usir dia.”

“Dia sudah kerja berapa lama?” tanya Amira.

“Dia baru satu tahun. Anaknya rajin, saya suka, makanya saya promosikan dia jadi kepala toko, eh malah mencuri.”

“Bapak sudah berapa kali kehilangan, Pak?”

“Sudah empat kali, sama yang ini.”

“Kejadiannya tanggal berapa?”

“Ya tiap awal bulan sih… dan setelah saya cocokin, itu persis menjelang ibunya Udin kontrol.”

“Saya rasa pelakunya bukan Udin, Pak,” Amira menyimpulkan.

“Kenapa? Barang bukti sudah ada, terus motif dia kuat untuk mencuri.”

Amira menarik napas. Dulu di Taiwan dia bekerja pada majikan seorang detektif swasta. Sedikit banyak dia tahu pekerjaan majikannya, dan majikannya senang dengan Amira karena Amira rajin.

“Barang bukti ada di tas Udin, ini janggal sekali,” ucap Amira.

“Gimana janggalnya?”

“Kalau Udin adalah pencuri, maka tidak mungkin dia menaruh barang bukti di tas. Terus, kalau Udin butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya, tidak mungkin dia menolak uang pesangon dari Bapak. Dari segi kepribadian, Udin adalah orang yang jujur, Pak, tidak suka menjilat. Dia hanya fokus bekerja mencari uang, tidak pernah mengeluhkan.”

“Masuk akal juga,” ucap Kuswara. “Tapi, ngomong-ngomong, bukannya ada CCTV di toko?”

“Ada sih, cuma herannya di CCTV kayak tidak pernah ada maling.”

“Kalau begitu, saya harus lihat ruko Bapak dulu, tapi jangan sekarang, Pak. Nanti saja pas semua karyawan sudah pulang semua.”

“Menarik,” ucap Niko. “Ya sudah, nanti malam kamu cek ruko saya sama saya.”

“Baiklah, Pak,” ucap Amira.

Mereka mengobrol ngalor-ngidul dan berhenti saat Niko ditelepon seseorang.

Niko dan Kuswara pergi meninggalkan ruko Amira.

Amira, yang niat awal ingin belanja kebutuhan dapur, malah Kuswara akan memberikan pinjaman.

Baru saja Amira akan istirahat sambil menunggu malam, tiba-tiba mobil pick-up datang membawa lemari piring, rak, kompor, gas, wajan, ketel, rice cooker, dispenser, dan beberapa karpet.

Amira dan Nanda akhirnya sibuk menyusun barang.

Barangnya, walau bekas, jelas berkualitas tinggi.

“Amira, mamah beli beras dulu sama lauk-pauk ya,” ucap Nanda.

“Iya, Bu.” Amira memberikan uang pecahan 100.000.

“Nenek, aku ikut,” ucap Dewi.

“Ayo.”

Karena Dewi ikut, Arjuna pun ikut. Lemari, dispenser, semua sudah tersusun. Amira tinggal mengelap agar kinclong.

Tak lama kemudian Nanda sudah pulang dengan membawa beras dan lauk-pauk.

Nanda mencuci beras, Amira mempersiapkan untuk makan.

Magrib tiba, akhirnya mereka makan bersama.

Setelah makan, Dewi kekenyangan. Setelah loncat-loncat 100 kali, dia lelah dan tidur. Arjuna pun sama, tidur.

Jam 10 malam, Niko datang.

Amira, Nanda, dan Niko masuk ke ruko.

Amira mengedarkan pandangan melihat arah CCTV.

“Bapak ingat tidak, sebelum hilang, menaruh hair dryer di mana?”

Niko tampak melihat ponselnya.

“Kok tidak ada hair dryer ya di rekaman CCTV?”

“Bukan tidak ada, Pak. Hair dryer itu memang tidak terjangkau CCTV. Coba Bapak ingat-ingat lagi barang yang hilang sebelumnya, sebelum hilang ditaruh di mana.”

1
sunaryati jarum
Anjani kalau tidak dipanggil Dewi tidak datang, jadi tidak ada yang tahu keberadaannya
Anonim
Gemes ih sama dewi pengen nyuel 🤣
nunik rahyuni
waduuuh dewi kamu bikin masalah untuk anjani...bisa bisa di tangkap sama damkar di tuduh meresahkan warga.kya aq jg klo ketemu ular bisa parno berminggu minggu..jangan di ulangi suruh anjani sembunyi lg. keluar di saat tertentu saja
sunaryati jarum
Hewan ditolong akhirnya balas budi
Test Baru
kak autothor udah 2 hari kok belum up lagi sih 🙏🙏🙏
falea sezi
ular gaib kah
falea sezi
amira ini tolol liat anak mu menderita buat TKW semua gaji Jagan di kasih suami🤣 iya klo suamimu setia
nunik rahyuni
hah untung cs sama anjani....klo g mana mau anjani membantu🤣🤣🤣dan kenapa dewi jd penakut biasanya suka kelahi
sunaryati jarum
Ular Dewi yang beraksi
nunik rahyuni
thor deei manggilnya kok ganti2..dlu mamah td kok jd bunda mana yg betul
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
nunik rahyuni
mereka yg celaka ato mereka yg di celakai .
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔
nunik rahyuni: iya..klo tidurnya terganggu kan langsung jd sumala🤣🤣🤣
total 2 replies
nunik rahyuni
waduh...mau ngapain mereka....anjani muncul lah
mama
syg up ny cm sekali sehari😄
sunaryati jarum
Malik kamu salah, kau sekarang tidak bisa menyentuh Niko.Jika kau menargetkan Amira kau salah cari lawan.Dino sudah jadi pantauan dan pengawasan Niko.
sunaryati jarum
Wah mungkin Mery suka sama Udin
sunaryati jarum
Lanjut , semoga penghasilan kamu makin banyak Udin
nunik rahyuni
thor dewi mana...kangen nyaaaa q sm bocah ni..
nunik rahyuni
dilanjuut....bnyak lho kisah udin ini di dunia nyata...anak dr pejuang yg di lupakan..mudah2 an mereka mendapat nasib yg beruntung jd g mengharspkan negara
Anonim
Lanjut lagi up nya thor seru
sukensri hardiati
ruko ukuran 2x3 m ...?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!