Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 menghibur
Ester berdiri tegak menatap gerombolan anak anak kecil bermain sepak bola di depan sana,
Selain itu masih ada banyak anak kecil lain yang berlarian ke sana kemari.
Tak jarang mereka datang bersama keluarga mereka.
Bermain layang layang, bermain bola bola air...dan masih banyak lagi hal lain yang mereka lakukan di sini.
Pemandangan itu ternyata sangat menyenangkan.
Entah dari mana Yoga tahu tempat ini, pikir Ester.
Ia sendiri bukannya tak tahu tak tempat ini, ia tahu...
Ia sering melewati tempat ini setiap pergi atau pulang dari kampus.
Tapi tak pernah sekalipun ia berhenti apalagi masuk ke area alun alun ini.
Dan benar apa kata Yoga tadi, sejenak...melihat keriuhan anak anak itu ia jadi sedikit lupa dengan sakit hatinya.
Ia sedang serius memperhatikan seorang anak kecil laki laki yang bermain layang layang ketika sebuah suara membuatnya menoleh.
" shutt..."
Ester menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah Yoga,
Yoga memberinya isyarat mata,
Sebuah alas duduk telah terhampar di bawahnya.
" duduklah..." ucap pemuda itu sambil satu tangannya terulur menyerahkan satu cup berukuran besar berisi air dingin kepada Ester.
Ia sendiri telah lebih dulu di atas rumput tanpa alas.
" kau sendiri ?! Kenapa hanya satu ?! " tanya Ester sambil menerima pemberian Yoga
" tak apa, aku duduk di rumput saja "
" kenapa ?! Kau tak punya uang untuk menyewa satu lagi ?!
sewalah satu lagi tak apa....aku yang bayar " ucap Ester.
" sudahlah...jangan pikirkan aku, duduklah " perintah Yoga dan akhirnya Ester pun menurut walau dengan raut wajah sedikit aneh.
" sewa satu lagi gih....aku yang bayar " ucap Ester lagi mengulang kata katanya.
" nggak usah,
Aku nggak penting, yang penting kamu...baju kamu itu pasti mahalkan ?!
sayang kalau di pakai duduk di rumput.
kalau baju akukan murahan, nggak papa buat duduk di rumput " jawab Yoga yang sontak membuat Ester mencebik menatapnya.
" cepet di minum, biark agak dingin hatinya " ucap Yoga lagi sembari tersenyum tanpa merespon lirikan ketus Ester padanya.
Ester lagi lagi menurut, ia menyedot minuman yang di berikan Yoga kepadanya dengan isi kepala yang terus berputar.
Kapan kira kira Yoga membelikannya minuman dingin itu dan kenapa pemuda itu mau repot repot untuknya.
Padahal Pietter saja tidak pernah melakukannya tanpa permintaannya.
Eater kembali menoleh kepada Yoga yang duduk agak berjarak disisinya.
" kenapa ?! Nggak enak ?! " tanya Yoga ketika ia melihat Ester menatapnya.
Bukannya menjawab Ester hanya mengedikkan bahunya sambil terus menyedot minumannya.
Yoga mengerutkan keningnya melihat kelakuan putri majikannya sekaligus calon istrinya itu.
Ups...
calon istri...
apa iya....?!
Yoga diam diam cengengesan karena bermonolog seperti itu.
Yoga masih bingung melihat reaksi Ester ketika tiba tiba ia melihat sebuah bola melambung ke arah Ester.
" heii...awas...!! " pekik Yoga, reflek ia melompat dan memeluk Ester, tapi naas...bola itu malah menimpuk kening Ester sebelah kiri yang tak terlindungi tubuh Yoga.
" aww....sshhttt....." Ester meringis menahan sakit, seketika kepalanya terasa pusing.
" ah ya Tuhan...masih kena ?! Maaf maaf....aku telat ya...." Yoga masih memekik pelan.
Tangannya sibuk mengusap dan meniup niup kening Ester yang tertimpuk bola.
Ester membeku mendapat perlakuan spontan Yoga itu.
Tanpa sadar ia mendongak menatap Yoga yang posisinya agak di atasnya dan masih sibuk mengusap kepalanya.
Seakan sadar tatapan Ester, Yoga menunduk.
Mata keduanya bertemu,
" kak..." sebuah panggilan membuat tautan mata Ester dan Yoga terputus.
" ya..." jawab Yoga sementara Ester berdehem demi menetralkan detak jantungnya yang tiba tiba terasa tak baik baik saja.
" maaf kak, bolanya...." seorang anak laki laki kecil telah berdiri di hadapan Ester dan Yoga dengan raut wajah takut.
" ini bola kamu ?! " tanya Yoga sambil bangkit dan meraih bola yang teronggok di belakang Ester.
" iya kak " jawab anak itu.
" lain kali hati hati ya kalau main bola, lihat kening kakak itu jadi merah gitu karena bola kamu " ucap Yoga menasehati dengan lembut, tanpa ia sadari jika interaksinya menjadi perhatian Ester.
Gadis itu tak berkedip menatap Yoga yang nampak sabar dan lembut menghadapi anak laki laki itu.
" iya kak...maaf...." cicit anak itu, Yoga pun segera memberikan bola itu dan tak lama anak laki laki itu pun berlalu.
" kepala kamu nggak papa kan ? " tanya Yoga sambil menatap Ester cemas.
" nggak papa, udah nggak pusing " jawab Ester, ia menolehkan wajahnya ke tempat lain ketika tiba tiba ia merasa wajahnya terasa panas karena ia teringat adegan Yoga yang memeluknya barusan.
Harum dan segar...
Tak ia sangka, aroma wangi Yoga begitu membekas di kepalanya.
Yoga dan Ester kembali terdiam,
" ekhem....boleh aku tanya sesuatu ?! " tiba tiba Yoga bersuara.
" hem..
apa ?! " jawab Ester sambil kembali menyedot minumannya.
Tiba tiba saja ia merasa tak berani menatap Yoga.
" apa...
pacarmu itu juga melalukan hal yang sama seperti tadi padamu ?! " suara Yoga terdengar pelan dan hati hati sekali,
Tapi itu masih bisa di dengar Ester dengan sangat jelas.
Sungguh ia tak mampu menahan rasa ingin tahu yang berujung rasa gelisah di hatinya.
Hingga ia memutuskan untuk menanyakannya kepada Ester.
Kening Ester berkerut dan ia sontak menghentikan kegiatannya menyedot minumannya.
" apa maksudmu bertanya seperti itu ?! Kau pikir aku wanita murahan seperti wanita tadi ?!
hei...kamu dengar ya.....
Aku bukan wanita murahan..."
jawab Ester ketus dengan menatap Yoga tajam dan sukses membuat Yoga jadi salah tingkah dan serba salah.
" maaf, aku hanya bertanya saja..." cicit Yoga kemudian.
" aku tidak mau memaafkanmu....pertanyaanmu itu merendahkanku " sentak Ester
" rasanya ingin ku tampol saja mulutmu yang lemes itu....
berani beraninya kau bertanya seperti itu padaku....
memangnya menurutmu aku perempuan seperti apa ?!. "
Ester sungguh tak terima Yoga bertanya seperti itu padanya.
Harga dirinya terasa terusik.
" iya iya maaf....
aku hanya bertanya saja kok " jawab Yoga serba salah karena wajah Ester yang sudah merah padam.
Ester bangkit dari duduknya dan bersiap memukul Yoga, Yoga memejamkan mata dan sama sekali tak berniat menghindar darinya.
Ia sepertinya pasrah untuk menerima pukulan dari Ester.
Melihat hal itu, Ester menghentikan gerakannya.
" ah..menyebalkan kau ini, aku benci kau...." pekik Ester kesal.
" aku lapar...aku mau makan !! " pekiknya lagi dengan menghentakkan kedua kakinya di rumput.
Yoga membuka matanya dan menatap Ester.
" mau makan ?! " cicitnya takut salah dengar, ia pikir ia akan menerima sesuatu yang mungkin akan menguji adrenalinnya seperti biasa jika ia berhadapan dengan gadis itu,
tapi ternyata....
Makanya ia mengulang ucapan Ester itu,
Sementara Ester....
Gadis itu menatap sosok di hadapannya itu tajam.
Pertanyaan pemuda itu barusan membuatnya berpikir lain dan seketika membuatnya teringat akan pesan sang papa.
( jangan pernan kurang ajar apalagi menyulitkannya...)
" akhh....!! tidak jadi,
kau menyebalkan, kita pulang saja....
aku makan di rumah...." jawab Ester dengan raut wajah kesal dan lagi lagi menghentak rumput yang ia injak beberapa kali sebelum akhirnya ia memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan Yoga yang nampak kebingungan karenanya.
makasih udah up di hari Minggu ya Kak Thara, aku beneran ga nyangka, love sekebon deh😍😍😍😍
ngakuuuuuuuuuu udah mulai tersepona dan teryoga yoga🤣🤣🤣