NOVEL PERTAMA, MAAF JIKA BANYAK TYPO.
Autor hanya ingin menulis bercermin dari kehidupan sehari-hari, jauh dari CEO atau lehidupan yang kaya raya. selamat membaca.
Queen! begitulah teman-teman dia sering memanggil, seorang gadis sederhana berusia 18 tahun yang baru lulus SMA. Tidak banyak impian gadis ini, hanya ingin segera mendapatkan pekerjaan, dan membantu ekonomi keluarganya.
queen memiliki kekasih sejak 1 tahun terakhir, tepat nya saat queen duduk di bangku kelas 3 SMA.
Bagaimana perjalanan cinta seorang queen, apakah dia bisa mewujudkan keinginannya membantu ekonomi keluarga??
Selamat membaca, saran dan kritik saya nantikan, jangan menghujad yang bisa meruntuhkan mental autor ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUNRISE DAN DINGINNYA GUNUNG
Setelah registrasi selesai dan semua pendaki sudah di briefing, mereka semua segera melakukan pendakian agar tidak terlambat melihat sunrise. Dari pos 1 ke pos 4 semua berjalan lancar.
" masih kuat sayang" tanya erfan di sela sela istirahat mereka.
"masih mas" jawab queen dengan yakin.
" kalau capek atau tidak kuat bilang ya dek, gunung tidak akan berpindah, summit atau puncak itu bonus, rumah tetap tujuan berpulang, jadi jangan sungkan sama kita-kita ya, jika kita gagal summit hari ini, masih bisa mengulang waktu di kesempatan lain" nasehat mba aning, salah satu kekasih teman erfan juga.
" iya mba, tetapi beneran aku masih kuat kok, makasih sudah seperhatian itu sama aku" jawab queen yang langsung di rangkul bahunya sama erfan.
"istirahat sudah cukup belum??, kalau sudah cukup ayo kita lanjutkan, jalan semakin menanjak, tetap fokus ya guys, saling mengingatkan" kata teman erfan.
Queen tersenyum tipis. Dia sangat bahagia akhirnya bisa sebebas ini, ini yang dia maksud bebas pergaulan tanpa batas, keluar masuk club seperti prasangka abdi. Tetapi bebas menikmati alam di sela-sela hiruk pikuk aktifitas kota.
Queen yang terbiasa di cuekin, tidak punya teman, akhirnya merasa benar-benar bahagia, dia yang paling bersemangat di antara semua teman erfan, tidak banyak kata, tetapi dia terlihat sangat ceria.
" aku senang melihatmu sedikit demi sedikit melupakan abdi, aku yakin aku bisa masuk ke hatimu lebih dalam... Aku mencintaimu" erfan berkata dalam hati sambil menggenggam gangan queen.
Pos 5 terlewati sampai pos 7, selangkah lagi summit, waktu menunjukkan pukul 00.00. Waktu yang masih panjang, padahal mereka berjalan dengan santai tetapi tidak lambat.
"kita mendirikan tenda di sini atau kita lanjut summit??" tanya erfan.
"queen, kamu masih kuat atau sudah cepek??" bukannya menjawab pertanyaan erfan, mereka malah bertanya pada queen.
"aku masih kuat mba" jawab queen.
" yakin sayang??" tanya erfan.
"yakin mas" tegas queen
" ya sudah ayo lanjutkan, kalau semua masih kuat, kita dirikan tenda di summit" kata mas kancil, ntah siapa nama sebenarnya, queen tidak ingin bertanya. Baginya berteman baik seperti ini sudah cukup.
02.00 mereka sampai puncak, para laki-laki segera mendirikan tenda. Setelah berbincang, mereka sepakat mendirikan tenda melingkar, untuk memecah angin jika sewaktu-waktu bertiup kencang. Ada 4 tenda, dan semua tenda lebar, jadi cukup untuk mereka bermalam. para wanita membuat api unggun dan mempersiapkan minuman hangat. Kopi dan teh pilihan mereka. Setelah semua siap tenda sudah berdiri dengan kuat, mereka berkumpul untuk menikmati secangkir teh panas dan kopi panas. Mereka tidak sendiri, tidak jauh dari lingkaran tenda, sudah berdiri banyak tenda dari pendaki lain.
"cuaca cerah, bintang bertebaran" kata kancil yang di setujui semua kawan-nya.
Angin bertiup lumayan kencang, tapi bukan badai juga tidak di sertai hujan, mereka memutuskan untuk masuk tenda masing2.
"ayo dek, istirahat dulu sebelum melihat matahari terbit" kata erfan.
"di sini??" tanya queen.
" mereka masuk ke tenda masing-masing, di luar sangat dingin, ayo masuk"
Queen menurut, karena memang hembusan angin lumayan kencang dan teh yang tadi panas dalam sekejap berubah dingin.
Di dalam tenda lumayan hangat, erfan menutup tenda agar angin tidak masuk, queen sudah memakai jaket tebal, erfan memakaikan kaos kaki pada queen.
" kaki kamu lecet sayang, harus di obati biar besok bisa turun dengan aman" kata erfan
Queen mengangguk saja saat erfan membubuhkan obat di kakinya.
"jangan di plester, biarkan kering, di plester saat turun nanti." kata erfan.
Mereka duduk berdampingan, lalu erfan meminta queen untuk rebahan agar bisa tidur, tapi queen menolak. "tidurlah sayang, aku akan menjagamu, teman-teman yang lain juga sudah tidur"
"aku tidak bisa tidur mas" jawab queen.
"paling tidak rebahan saja"
Akhirnya queen menurut, queen merebahkan badannya, terasa lebih rilex. " kamu juga rebahan mas, biar rilex juga" kata queen
"apa tidak apa-apa" tanya erfan.
"ya tidak apa-apa bro, cuma rebahan, kalau apa-apa ya di vila bukan di tenda". Dari sebelah kancil menjawab.
queen tersenyum lalu memberi jarak agar erfan bisa tebahan. Erfan mencium kening queen lama, lalu ikut berbaring dengan jantung yang berdetak.
terdengar dengkuran halus, menandakan queen susah terlelap. " sudah tidur dia" gumam erfan.
" manis"... Satu kata itu meluncur dari bibir erfan.
" ntah kenapa aku begitu mencintaimu sayang" erfan bergumam lalu memberanikan diri memeluk queen dan ikut terlelap.
AUTOR merasa ada di antara mereka. Astagaaaa padahal suami disamping nih.
Queen merasakan ada yang melingkar di perutnya, dia sudah terjaga saat mendengar ada tarikan resleting tenda. Dia menoleh pada erfan di sampingnya, dan yang dia lihat, erfan sudah tersenyum menatapnya.
" sudah bangun sayang? ," erfan menyapa queen dan tiba-tiba mengecup bibir queen. Queen kaget dengan aksi spontan erfan. " mas...."
" dari tadi aku ingin menciummu, tapi menunggu kamu bangun" kata erfan.
Queen tersenyum tidak menjawab, lalu membalas kecupan erfan... lama... Dan semakin dalam.... Erfan menarik tengkuk queen untuk memperdalam ciumannya.
Setelah lama, erfan melepaskan bibir queen, mengusap saliva dan membelai puncak kepala queen.
"mau keluar sayang? Nyalain api unggun, atau mau sholat dulu? sebentar lagi fajar" tanya erfan dengan sayang.
" iya mas" jawab queen.
Setelahnya mereka keluar dan sudah mendapati teman-temnya berkumpul. Ada yang menyiapkan makanan dan yang menyiapkan minuman.
Queen bergabung dengan mereka, dan sudah tersaji minuman serta makanan. Tanpa mereka ketahui, queen sudah sering naik gunung, sendirian. Queen merasa sungkan diperlakukan seperti ini, sebab dia terbiasa sendiri.
Queen kembali ke tenda mengambil makanan yang dia bawa, ada roti tawar lengkap dengan selai, ada kacang-kacangan, ada oatmeal , madu dan ada sarden. Kening teman-teman erfan mengernyit, mereka heran dengan apa yang di bawa queen, seolah queen terbiasa mendaki.
Queen tersenyum lalu berkata
"biasa aja mba mas, jangan lihatin aku gitu, aku biasa bawa makanan-makan gini kalau tektok, cuma biasanya aku naim sendirian, ayo di makan. Di dalam masih ada stok nya. " kata queen.
"waaaah kita salah kira, makanya kok kemarin aku lihat dia seperti sudah terbiasa naik gunung, ternyata benar dugaan ku, fan kamu tahu??" tanya kancil
" tidak. Aku sempat bertanya kok dia punya alat-alat camping, dia hanya tersenyum. Ayo makan sayang, kenapa kamu tidak bilang kalau biasa naik gunung?? , aku khawatir kamu gak kuat loh tadi malam"" kata erfan. Queen hanya tersenyum dan memakan roti nya.
Langit gelap mulai memudar, bintang yang bertebaran perlahan tenggelam. Di ujung sana bias oranye mulai terlihat, queen dan teman-temannya mulai mengabadikan momen itu. , headlamp di rapatkan, jaket tebal tetap membalut tubuh mereka. Perlahan lahan tapi pasti... Bias oranye berubah menguning, langit cerah, lautan awan mulai terlihat menghiasi hamparan sekitar puncak. bias yang menguning kini berubah menjadi cahaya menyilaukan, matahari menampakkan senyum indahnya. Semua takjub, segala puji Allah yang Esa . Erfan dan queen dudu menghadap matahari, erfan mengenggam tangan queen, mengecup berkali-kali tangan itu. Lalu membawa ke sekapannya.
Setelah matahari terlihat sempurna, queen dan yang lainnya memasak mie instan dan oatmeal untuk mengisi perut sebelum mereka turun. Bercanda di sela-sela aktifitas.
Queen sangat menikmati kebersamaan ini, sungguh dia sangat bahagia, pertama kali nya dia memiliki teman, pertama kali nya dia tidak menjelajah alam sendirian, umurnya yang paling kecil menjadikan dia seperti adik bagi teman-teman erfan. "terimakasih ya Allah..."
Matahari semakin meninggi, tenda sudah di lepas dan di rapikan, mereka bersiap untuk turun gunung. Sampah-sampah sisa makanan dan minuman di jadikan satu untuk di bawa turun. Queen dan yang lainnya mengikat tali sepatu dengan kuat. Lalu satu persatu para pendaki melangkahkan kaki menuruni jalan setapak meninggalkan keindahan puncak dengan cerita dan kenangan.....