Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Tidak boleh Menyerah
Restu mengusap air mata dan sisa debu di wajahnya dengan kasar. Napasnya masih memburu, namun matanya kini menatap tajam ke depan. Rasa sakit hati tadi berubah menjadi bara api yang membakar semangatnya.
"Benar... aku tidak boleh menyerah!" Gumamnya tegas sambil menyalakan mesin motor.
"Dreng, dreng, dreng"
Suara motor bebek Revo keluaran Honda tahun 2016 ini mulai berjalan dengan baik
"Aku punya cita-cita! Aku punya mimpi! Biarlah hari ini aku kalah, tapi besok dan seterusnya, aku akan berjuang sampai aku berhasil! Aku akan buktikan pada mereka bahwa aku bukan orang lemah!"
Gas motornya diputar kencang. Angin malam menerpa wajahnya, seolah membersihkan keputusasaan yang tadi sempat hinggap. Ia merasa lebih kuat, lebih siap menghadapi dunia. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan ada yang bisa menjatuhkannya lagi.
Namun, takdir seolah masih ingin menguji batas kesabarannya.
Saat melewati tikungan tajam di jalan yang agak sempit, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap keluar dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi dan mengambil jalannya secara paksa.
BRAAAK!
DERRRR!
Suara benturan keras memecah keheningan malam. Samping mobil itu menyenggol bagian depan motor Restu dengan keras.
Restu terpental jauh ke pinggir jalan, tubuhnya bergesekan dengan aspal yang kasar. Motornya tergelincir beberapa meter, asap mengepul dari mesin yang hancur berantakan.
"Aduhhh...!"
Erang Restu kesakitan. Semuanya terlihat gelap dan dia mencoba bangun, tapi seluruh tubuhnya terasa perih dan linu. Celananya sobek, tangannya tergores panjang hingga berdarah, lututnya lecet menganga, dan bajunya yang sudah kotor kini semakin kotor bercampur darah.
Dari dalam mobil mewah itu turun seorang pria berpenampilan sangat kaya dan bergaya elit. Wajahnya panik bukan main melihat goresan panjang dan penyok yang cukup dalam di bodi samping mobilnya yang sangat mahal itu.
"Dasar buta! Kau gila mengemudi?!" hardik pria itu dengan nada tinggi dan merendahkan. Ia tidak peduli sama sekali pada kondisi Restu yang babak belur dan berdarah-darah.
Restu memegangi lututnya yang berdarah, berusaha tetap berdiri meski gemetar.
"Bukan saya, Pak... Bapak yang ambil jalan sembarangan dan senggol motor saya..."
Jawab Restu pelan, suaranya lemah karena kesakitan yang dia usahakan untuk tetap bicara
"Masih berani membantah?!"
Pria itu mendorong bahu Restu hingga ia hampir jatuh lagi.
"Lihat ini! Ini mobil baru! Harganya miliaran! Kau tahu tidak, biaya cat dan perbaikannya saja bisa puluhan juta?!"
"Tapi Pak, saya yang jatuh... badan saya luka semua..."
"Itu urusanmu! Yang jelas mobilku rusak karena tabrakan dengan motormu! Karena kau pengendara motor, otomatis kau yang salah dan tidak hati-hati!"
Pria itu menunjuk hidung Restu dengan wajah garang.
"Kau harus bertanggung jawab! Bayar kerusakannya! Minimal 20 juta! Kalau tidak, aku seret kau ke kantor polisi sekarang juga!"
Restu tertegun, tubuhnya lemas bukan main namun kata-kata dua puluh juta seakan membuat dia tersadar
"20 juta?"
Ia baru saja kena potong gaji 1 juta karena kasus di kantor. Uang tabungannya hampir habis. Motornya pun rusak parah. Tubuhnya penuh luka dan sakit. Dan sekarang, ia dituntut membayar puluhan juta untuk mobil yang justru menyenggolnya?
Dunia seakan berputar di kepalanya. Semangat yang baru saja menyala kembali, kini seakan disiram air panas.
Ia menatap tangannya yang berdarah, lalu menatap pria kaya itu yang terus meneriakinya.
'Tuhan... sekejam itukah Engkau mengujiku?'
Batinnya berteriak putus asa.
'Baru saja aku berniat bangkit, baru saja aku ingin berjuang... kenapa kau timpakan aku dengan masalah sebesar ini?'
Kakinya semakin lemas. Rasa sakit fisik bercampur dengan hancurnya harapan. Ia merasa seperti semut yang sedang diinjak-injak oleh raksasa.
"Bayar sekarang atau kita urus hukum! Jangan banyak bacot!"
Ancam pria itu lagi sambil mencengkeram kerah baju Restu yang kotor dan berdarah.
Restu menunduk, air mata kembali menetes, kali ini bukan karena sakit, tapi karena ia merasa... betapa kecil dan tak berdayanya dirinya di dunia ini.
"Kenapa bisa begini?"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi