NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Pusat Gosip

RS Sentral Nusantara. IGD, jam 08.12 WIB.

Setelah izin tiga hari, Clarissa akhirnya kembali bertugas. Dia masuk shift pagi. Datang dengan mengenakan masker, make-up tipis, tapi tetap terlihat wajahnya masih sedikit pucat.

"Dok Clara? Sudah sehat? Katanya kemarin Dokter demam tinggi." Maya berada di nurse station, menyambut kedatangan Clarissa dengan antusias.

"Sudah. Cuma butuh istirahat," balasnya.

Maya mengangguk-angguk. Kemudian, matanya tertuju ke kotak bekal yang dibawa oleh Clarissa. Cukup besar, warna kuning terang dengan stiker di atasnya.

"Dari suami ya, Dok?" Maya menyenggol bahu Clarissa, tersenyum penuh makna.

Suster-suster yang mendengar langsung ikut konek, mulai menggoda Clarissa.

"Cie, Dokter. Jangan lupa makan sampai habis ya, Dok. Itu pasti dibuat dengan cinta."

"..."

Mereka tertawa, sementara Clarissa langsung beringsut. Dia menatap kotak bekal di tangannya, memang sangat mencolok. Menarik perhatian.

"Kenapa sih pilih yang warna kuning?!" keluh Clarissa, kesal.

Dia bahkan ingin menolak membawa bekal itu, tetapi Alvian sangat menjengkelkan, terus mengancam dengan nama papanya.

Yang dirinya masih tidak mengerti, hubungan di antara keduanya, papanya dan Alvian, menjadi lebih akrab setelah permainan golf. Mereka lebih sering bertukar pesan, bahkan pernah sekali melakukan panggilan video.

Cara pria mulai berteman, menurutnya sangat aneh.

"..."

"Sudah. Aku ke ruangan dulu. Malas meladeni kalian."

Berjalan menjauh, Maya dan suster-suster malah membicarakan Alvian.

"Eh, itu kemarin. Katanya yang rawat Dok Clara di rumah itu suaminya."

"Iya, dengar-dengar juga begitu. Tapi wajar juga sih, soalnya suaminya dokter juga. Infus sendiri di rumah."

"Gila! Couple goals banget. Dokter rawat dokter. Aku bayanginnya sampai mulut kelu sendiri, terlalu banyak tersenyum."

Clarissa mendengarnya tapi pura-pura tidak dengar. Terus jalan, pergi ke ruangannya.

Sekitar jam setengah sepuluh, Clarissa melakukan visite ke beberapa pasien. Pertama adalah Bu Maryam, 58th, ACS. Sudah stabil, tinggal observasi.

"Bu, nyerinya sudah hilang ya? EKG bagus. Besok bisa pindah ke ruang biasa."

Bu Maryam manggut-manggut. "Iya, Dok. Makasih ya, Dok Clara. Tiga hari nggak ketemu, Dokter sakit katanya, izin."

"Iya. Kelelahan, Bu. Biasa,"

"Tapi untung ya, Dok. Suami juga dokter, jadi bisa dirawat sendiri di rumah. Enak. Sekalian mesra-mesraan." Bu Maryam tertawa cekikikan. Suaminya di samping juga ikut tertawa, sedangkan senyum Clarissa perlahan menjadi kaku.

"Ha-ha.. Ibu tahu dari mana? Kok bisa tahu cerita ini?" Tertawa karir, Clarissa bertanya ala kadarnya.

"Itu, Dok... Dokter Maya. Juga ada suster-suster yang cerita saat visite ke sini. Katanya, suami Dokter itu hebat. Bisa rawat istri di rumah, bisa pasang infus mandiri." Pasien lain di bed samping ikut menyahut.

Clarissa lagi-lagi tertawa karir. Tanpa membalas lebih banyak, segera meninggalkan ruangan.

"..."

Di lorong, Clarissa kebetulan berpapasan dengan dr. Hermawan yang berjalan dari arah lain.

"Clara, sudah fit? Sepertinya Dokter Alvian merawat kamu dengan baik di rumah."

"Om bicara apa sih? Dari tadi ketemu orang, bicaranya selalu tentang hal itu." Clarissa mengeluh.

Tapi dr. Hermawan hanya tertawa. "Ya mau bagaimana lagi. Beritanya sudah tersebar ke seluruh rumah sakit. Kamu yang sabar-sabar ya mendengarnya."

"Sudah ya, Om. Saya mau lanjut visite."

Clarissa jalan cepat. Tapi tidak lurus, malah berbelok masuk ke toilet. Berdiri menatap kaca.

"Padahal cuma demam. Kenapa jadi satu RS tau?" batin Clarissa.

Pada saat itu HP nya bergetar. Sebuah pesan muncul, dari Alvian. "Istri, sudah makan? Jangan sampai telat ya, nanti bisa maag."

Clarissa mengetik, "Sudah" tapi satu detik kemudian menghapusnya. Menulis ulang, "Jangan chat jam kerja." Kirim, lalu matikan HP.

___

Klinik Aditya Medika.

Alvian melihat balasan pesan yang dikirim Clarissa dan sudut bibirnya langsung terangkat. Mbak Sari di samping mengerutkan kening, bertanya, "Kenapa, Dok? Kesambet ya?"

"Enak saja Mbak Sari kalo ngomong. Saya lagi balas-balasan pesan sama istri."

Mbak Sari tertawa. "Lagian Dokter, tidak ada angin tidak ada hujan malah senyum-senyum sendiri. Saya kan takut jadinya."

"..."

Saat Alvian mau membalas, Bu RT datang sambil menuntun anaknya yang berusia sepuluh tahun.

"Dok. Tolong, Dok. Anak saya demam."

Alvian langsung bangun dari kursi dan menepuk-nepuk kursi tersebut. "Sini, Bu. Duduk."

Setelah duduk Alvian langsung periksa. "Ini radang tenggorokan, Bu RT. Saya akan buatkan resepnya. Jangan lupa minum air hangat, ya."

Bu RT terima resep, "Iya, Dok. Makasih." Saat mau pulang BU RT menahan langkahnya. "Eh, Dok, gimana istrinya? Sudah sehat? Soalnya tadi saya ke RS, dengar suster-suster pada cerita katanya Dokter yang rawat intensif di rumah. Hebat ya, Dok. Suami siaga."

Alvian tertawa. "Hahaha, Bu RT bisa aja. Namanya juga suami, Bu. Kalau istri sakit masa panggil damkar."

Pasien-pasien lain tertawa. "Cocok Dok sama Dok Clara. Sama-sama dokter. Suka tolong orang."

"Do'ain ya, Bu. Biar langgeng."

---

Malam harinya, Alvian baru pulang sekitar jam sembilan. Dia masuk rumah lampu sudah dalam keadaan mati. Clarissa juga sudah pulang, dan sepertinya sudah tidur di kamarnya.

Alvian hendak ke kamar. Tapi kemudian dia berhenti saat berada di depan tangga.

Ada satu perbedaan yang sangat nyata. Di tangga ketujuh, lakban hitam yang biasanya terlihat sangat jelas, dan menjadi pembatas, telah hilang dari tempatnya.

Alvian sumringah. Dia menapakkan kakinya di tangga, berjalan dengan bebas.

"Apa ini sebuah kode?" gumam Alvian, cengengesan.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!