Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sengaja Tapi Satunya Sengaja
Suara radio dengan musik zaman dulu terdengar begitu nikmat bagi bapak-bapak yang masih asik bermain kartu, sambil bernyanyi dengan suara sumbang mereka lalu tertawa bersama jika nada tidak sampai suara tercekat di tengah.
Suasana yang menyenangkan bagi perkumpulan bapak-bapak dan para pemuda desa asik mengikuti keindahan sesungguhnya di kampung halaman mereka, sebuah kenyamanan yang tidak akan pernah di miliki orang kota yang selalu sibuk dengan deru mesin penuh kebisingan.
Aldi dan Kang Asep bermain catur, namun wajah kang Asep di penuhi kekesalan karena sudah kalah tujuh kali dengan Aldi membuat suasana menjadi lebih tegang seperti lomba nasional saja.
"Nah skakmat lagi kang," ujar Aldi, dia tertawa kecil melihat Kang Asep kalah lagi.
"Jangan lupa kang dua bungkus rokoknya," lanjut Aldi yang ternyata mereka taruhan rokok.
Wajah Kang Asep di penuhi kekesalan tapi dia juga tidak menyangka jika Aldi sangat pintar bermain catur.
"Dah ambil saja dua bungkus rokok kesukaanmu," pinta Kang Asep.
"Siap kang," balas Aldi, lalu dia meminta dua bungkus rokok Gajah Muda.
Aldi duduk kembali di samping kang Asep, mereka berdua menunggu ketua desa yang pergi kedesa sebelah karena ada keperluan mendadak.
Tepat jam sebelas malam lebih Mbak Sita datang ke warung Ngatemi yang berada di samping pos ronda, dengan jalan perlahan sendiri menuju warung.
"Ternyata disini kamu Al," ucap Mbak Sita.
Aldi yang mendengarkan itu dia menoleh kebelakang. "Loh mbak sita, ada apa?," tanya Aldi bingung.
"Aku mau minta tolong benerin lampu di rumah tiba-tiba mati," ujar sita.
"Oke siap mbak," balas Aldi. "Kang nanti kalau ketua desa balik kesini suruh nungguin aku ya?," Aldi berpamitan.
"Iya Al," balas kang Asep.
Kini Aldi pergi bersama Sita menuju rumahnya, dalam perjalanan kerumah Sita Aldi merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman baginya.
Sita juga merasakan hal yang sama seperti suasana perjalan pulang itu sangat ramai di belakang mereka berdua.
"Al, aku takut nih," ujar Sita, kini dia memegang lengan Aldi karena ketakutan.
"Sudah ayo mbak jalan aja," Aldi berkata dengan suara pelan namun dalam hatinya berkata lain. "Sial, aku juga takut mbak tapi sebagai cowok harus berani, huh."
Sita terus memegang lengan Aldi hingga sampai rumahnya, lalu mereka masuk kedalam rumah Sita.
"Ini Al lampu kamarku yang rusak," Sita berkata kepada Aldi sambil membuka pintu kamarnya.
"Lampu gantinya mana mbak?," tanya Aldi.
"Ini Al," balas singkat Sita, dia memberikan lampu gantinya.
Aldi menata tangga berdiri dia meminjam di pos ronda tadi.
"Mbak pegangin tangganya," pinta Aldi.
"Iya sudah mbak pegangin," balas Sita.
Aldi naik perlahan dengan membawa senter kecil nyala redup tapi cukup memberikan cahaya bantuan, dia mengambil lampu yang rusak lalu mengganti dengan lampu satunya.
"Coba nyalakan mbak?," pinta Aldi.
Sita menyalakan lampunya.
"Nah dah nyala mbak," ujar Aldi, lalu dia turun perlahan.
Karena lantai sedikit licin membuat tangga berdiri itu bergoyang pelan, Aldi terkejut dengan goyang itu akhirnya dia jatuh menimpa Sita yang sama-sama terkejutnya.
"Aduhhh...," rintihan Aldi merasakan sedikit telapak tangannya, dia menahan tubuhnya agar tidak menindih Sita namun tetap saja Aldi menindih tubuh Sita.
"Aduhhh.. Al berdiri dong berat banget kamu," ujar Sita, dia sedikit kesakitan tertindih tubuh Aldi yang lebih besar dan tinggi darinya.
Aldi tidak sengaja menyentuh benda milik Sita membuat wajah memerah malu, sita juga sama wajahnya memerah karena sentuh tanpa sengaja Aldi pada bendanya.
Kini suasana menjadi canggung di antara mereka berdua, akan tetapi kecanggungan itu tidak bertahan lama ketika Bima memanggil mereka berdua.
"Ma lagi ngapain sama Om Aldi?," suara pelan sambil minum dot berisi air gula.
Aldi dan Sita terperanjat kaget mendengar pertanyaan itu.
"Ini om Aldi jatuh," jawab Sita, dia bangun dengan perlahan mendekat kepada putranya.
Sita membawa pergi Bima ke kamar satunya lalu dia meminta Bima segera tidur karena hari sudah malam. Sita mengecup kening putra semata wayangnya lalu menepuk pelan hingga Bima memejamkan matanya.
Aldi kini duduk sendiri dengan kepala menunduk malu karena ketidaksengajaannya tadi. Tidak berselang lama Sita keluar dari kamar Bima.
Sita memandang Aldi seperti sedikit takut dengan kejadian tadi, sita menghela napas panjang lalu jalan mendekati Aldi.
"Sudah Al mbak gak papa kok, namanya juga tidak sengaja mau bagaimana," Sita berkata pelan.
"Iya mbak maaf," ucap Aldi.
"Sudah jangan minta maaf," balas Sita, lalu dia duduk di dekat Aldi.
Jantung Aldi berdegup kencang karena dia merasakan sesuatu yang berbeda dan sedikit takut kalau mbak sita akan menamparnya.
"Terima Kasih berondong muda tampan, sudah malam kamu balik sana. Mbak takut kalau kejadian tadi bikin naik," bisik lirih Sita di telinga Aldi membuatnya berkeringat dingin.
Aldi membeku sesaat, dia mencerna apa yang di ucapkan mbak sita kepadanya. "Mbak saya pergi dulu," Aldi langsung berdiri pergi tidak menunggu jawab Sita yang sedang tertawa kecil.
Aldi berjalan kembali menuju pos ronda dengan langkah sedikit berat, masih terngiang-ngiang oleh ucapan mbak sita tadi.
"Dasar berondong muda," gumam pelan Sita melihat kepergian Aldi, lalu dia menutup pintu rumahnya.
Semilir angin malam begitu dingin hingga menusuk kedalam tulang, Aldi kembali kepos ronda membawa tangga dengan wajah merah padam karena terngiang-ngiang apa maksudnya tadi.
Aldi meletakkan kembali tangga itu di tempat, lalu dia pergi kebelakang mencuci muka di tengah dinginnya malam. Setelah selesai dia kembali duduk di warung Ngatemi yang di jaga anak gadisnya.
Kang Asep ternyata tidur di kursi panjang di sebelah kiri jadi tempat kosong sebelah kanan sedikit dekat dengan Indah anak Ngatemi yang sedang menjaga warung ibunya.
"Mas Al darimana?," tanya indah pelan.
"Dari benerin lampu Mbak Sita," jawab Aldi, lalu duduk tidak jauh dari Indah.
Indah melihat kanan kiri setelah itu dia beranjak duduk di samping Aldi.
"Kenapa wajah mas Al sedikit merah?," indah bertanya tepat di depan Aldi.
Aldi sedikit menelan ludahnya melihat pakaian Indah sedikit terbuka, dia tidak menyangka kalau indah akan duduk di dekatnya.
"Kok diem sih mas Al?," tanya indah lagi membuyarkan lamunan Aldi.
"Itu tadi apa! Duh lupa aku. Itulah aku kaget liat pocong disana," balas Aldi sedikit bingung dengan alasannya.
Indah yang mendengarkan soal pocong, wajahnya berubah lalu dia celingak-celinguk karena ketakutan. Kemudian indah lebih dekat duduk di samping Aldi membuat bau khas parfum gadis muda tercium wangi.
Aldi terdiam dengan jantungnya berdebar-debar, dia sadar apa yang di ucapkan lalu menunjuk ke arah asal namun telat disana memang ada pocong.
"Mas aku takut," ujar Indah, begitu dekat jarak mereka membuat Aldi sedikit tidak nyaman takut ibu indah melihatnya.
"Kalau takut masuk duduk saja disana!," pinta Aldi, dia menunjuk tempat Indah tadi duduk di depan kotak uang jualannya.
"Ishh, mas Al gak peka banget sih jadi cowok, dah ahh kesel banget aku," balas Indah, dengan wajah sedikit kesal dia kembali duduk di tempatnya.
"Jangan ngambek terus cepet tua kamu ndah," ujar Aldi, dia tertawa kecil melihat gadis itu ngambek.
"Bodoh amat," balasnya, dengan wajah ketus, dia memalingkan pandangannya.
Aldi menggelengkan kepalanya lalu dia keluar melihat bapak-bapak yang masih bermain kartu. Tak terasa sudah jam setengah satu, ketua desa belum juga kembali. Aldi sudah merasakan kantuknya datang melanda.
"Pak dirman saya pulang dulu ya?, besok saja saya kerumah ketua desa langsung," Aldi berpamitan.
"Iya, nanti aku kasih tau ketua desa," balas pak dirman.
Aldi kini berjalan pulang dengan mata setengah kantuk, dengan langkah pelan dia terus berjalan. Tepat di pertengahan jalan Aldi tercekat kaget melihat sebuah batang pohon yang sangat besar seperti berjalan.
Aldi menajamkan matanya melihat itu dengan penuh fokus.
"Gusti pengeran itu ular gede banget," ujar Aldi, dia merinding melihat ular sangat besar melintas di tengah jalan pulangnya.
Bau busuk begitu menyengat dengan bau umbi bakar di campur amis darah tercium oleh hidung Aldi. Dia terdiam ketika mencium bau yang sangat bikin mual perutnya, Aldi melihat kanan kiri, depan belakang tidak ada apa-apa.
°°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.