Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
...Matahari mulai bergeser ke arah barat, membiaskan cahaya keemasan melalui jendela besar di kantor pusat perusahaan....
...Kesibukan di dalam gedung itu perlahan mulai mereda seiring dengan berakhirnya jam kerja yang produktif....
...Stella telah selesai meeting dan ia kembali ke ruang kerjanya....
...Ia meletakkan tumpukan dokumen di atas meja mahogani miliknya, lalu menghela napas panjang....
...Keberhasilan rapat tadi memberikan sedikit rasa lega, namun rasa lelah tetap tak bisa disembunyikan dari wajahnya yang cantik....
...Saat ia baru saja duduk untuk merapikan barang-barangnya, ia mendapati ponselnya yang berdering....
...Stella mengernyitkan dahi saat melihat nomor yang tidak dikenal muncul di layar, namun instingnya mengatakan sesuatu yang lain....
...Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau....
..."Halo?"...
..."Stella, ini aku."...
...Suara parau dan penuh keputusasaan di seberang sana seketika membuat suasana hati Stella menjadi dingin. Itu adalah suara yang sangat ia kenal, suara yang dulu menjanjikan kebahagiaan namun hanya memberikan luka....
..."Abbas? Untuk apa lagi?" tanya Stella dengan nada datar dan tegas. Tidak ada lagi getaran emosi atau kemarahan; yang tersisa hanyalah kebosanan yang mendalam....
..."Stella, aku mohon. Kita harus bicara," suara Abbas terdengar gemetar, seolah ia sedang menahan tangis atau rasa malu....
..."Aku di bawah, di depan gedung kantormu. Tolong, beri aku waktu lima menit saja. Hanya lima menit."...
...Stella terdiam sejenak. Ia menatap foto di meja kerjanya—foto dirinya bersama Askhan dan si kembar saat makan nasi goreng malam itu....
...Ia merasa sudah selesai dengan masa lalu, namun ia tahu jika ia tidak menemui pria ini sekarang, Abbas mungkin akan terus mengganggunya....
..."Baiklah, ini untuk yang terakhir," ucap Stella dingin....
..."Lima menit. Jangan lebih."...
...Stella menutup sambungan telepon itu dengan tegas....
...Ia berdiri, memperbaiki letak blazernya, dan melangkah keluar ruangan dengan kepala tegak....
...Ia tidak lagi takut. Kali ini, ia akan memastikan bahwa pintu masa lalu itu tertutup rapat, terkunci, dan kuncinya telah ia buang jauh ke dasar samudra....
...Ia menemui Abbas bukan karena masih peduli, melainkan untuk memberikan titik terakhir pada kalimat yang sudah lama ia selesaikan....
...Langkah kaki Stella terdengar mantap saat ia keluar dari lobi gedung....
...Di sana, ia melihat sosok pria yang dulu sangat ia banggakan, namun kini tampak seperti orang asing yang menyedihkan....
...Stella menemui Abbas, yang berdiri di samping sebuah mobil tua dengan pakaian yang tampak kusut....
...Tanpa banyak bicara, Abbas mengajaknya ke taman yang tak jauh dari kantor agar mereka bisa bicara lebih tenang. Namun, saat sampai di sana, Abbas justru menghentikan mobilnya di tempat yang agak sepi dan tidak membiarkan Stella turun. Mereka mengobrol di dalam mobil....
..."Ada apa?" tanya Stella langsung pada intinya. Sorot matanya dingin, sedingin es yang tidak tersentuh matahari....
..."Stella, aku mohon kita rujuk. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menceraikan Annisa," ucap Abbas dengan nada memelas....
...Ia mencoba meraih tangan Stella, namun wanita itu segera menariknya menjauh....
..."Aku sadar aku salah, aku telah dibutakan olehnya. Tapi hanya kamu yang bisa menyelamatkanku, Stella."...
...Stella yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya....
...Ia menatap Abbas dengan rasa tidak percaya. Pria ini benar-benar tidak punya rasa malu....
..."Bas, kamu sudah melakukan hal yang melampaui batas," ucap Stella dengan suara bergetar karena emosi....
..."Aku tidak bisa untuk rujuk lagi. Maaf, dan jangan ganggu aku lagi. Hidupku sudah jauh lebih baik tanpa kamu."...
...Merasa pembicaraan ini sudah tidak berguna, Stella akan membuka pintu mobil untuk segera pergi. Namun, niatnya terhenti seketika saat...
...Abbas melakukan tindakan yang tak terduga....
...Dengan gerakan cepat dan beringas, Abbas menarik dan menutup mulut Stella menggunakan sapu tangan yang sudah dibasahi cairan kimia berbau menyengat....
..."MMMMPPHH!!" Stella meronta sekuat tenaga, tangannya berusaha menggapai pintu dan mencakar apa pun untuk melepaskan diri....
..."Ssssh... tenang Stella sayang. Ini semua untuk kebaikan kita," bisik Abbas di telinga Stella dengan nada yang terdengar gila dan obsesif....
..."Kalau aku tidak bisa memilikimu dengan cara baik-baik, maka tidak ada orang lain yang boleh memilikimu."...
...Stella merasakan pandangannya mulai kabur. Paru-parunya terasa sesak oleh aroma tajam dari sapu tangan itu....
...Kekuatan di tangannya perlahan menghilang, dan dalam hitungan detik Stella jatuh pingsan di pelukan pria yang pernah berjanji untuk melindunginya, namun kini justru menjadi penculiknya....
...Firasat buruk menyergap jantung Askhan saat ia melangkah masuk ke lobi perusahaan....
...Biasanya, Stella sudah menunggunya di depan atau setidaknya memberi kabar melalui pesan singkat. Namun, kali ini ponselnya sama sekali tidak aktif....
...Kedatangan Khan di perusahaan Stella disambut dengan keheningan yang janggal. Ia bergegas naik ke lantai atas dan ia mendapati ruangan yang kosong....
...Meja kerja Stella masih rapi, tasnya tidak ada, namun komputernya masih menyala....
..."Vira, di mana Stella?" tanya Khan dengan nada cemas yang tak tertutupi saat bertemu manager Stella di lorong....
...Vira tampak bingung. "Tadi Ibu bilang mau menemui seseorang sebentar di bawah, Dok. Katanya hanya lima menit, tapi sudah hampir satu jam beliau belum kembali."...
...Kepanikan mulai menyebar. Mereka mencari keberadaan Stella ke seluruh penjuru gedung, mulai dari lobi hingga area parkir....
...Di sana, langkah Khan terhenti. Ia melihat mobil Stella yang masih ada terparkir rapi di slot biasanya....
..."Jangan-jangan..." gumam Khan dengan wajah pucat....
...Ingatannya langsung melayang pada kejadian kemarin saat Abbas memukulnya....
...Ia tahu Abbas sedang putus asa, dan orang yang putus asa bisa melakukan hal gila apa pun....
...Tanpa membuang waktu, Khan menghubungi si kembar dan Papa....
...Suaranya bergetar saat menjelaskan situasi darurat tersebut, meminta mereka melacak posisi ponsel Stella atau memeriksa CCTV sekitar kantor....
...Sementara itu, Stella terikat di kursi dengan mulut tersumpal di dalam sebuah gudang tua yang pengap....
...Kesadarannya perlahan pulih, namun kepalanya terasa sangat berat dan pening akibat obat bius tadi....
...Ia berusaha meronta, namun tali yang melilit tangan dan kakinya terlalu kuat....
...Di hadapannya, Abbas yang akan membawanya pergi jauh sedang sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas besar....
...Wajah pria itu tampak kalap, sorot matanya tidak lagi menunjukkan penyesalan, melainkan obsesi yang gelap....
..."Kita akan pergi dari sini, Stella," bisik Abbas sambil mendekati Stella dan mengusap rambutnya dengan kasar....
..."Ke tempat di mana tidak ada Khan, tidak ada keluarga Permana, dan tidak ada kemiskinan. Aku sudah menyiapkan segalanya. Kamu akan kembali menjadi milikku sepenuhnya."...
...Air mata Stella jatuh membasahi kain yang menyumpal mulutnya....
...Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar Khan bisa menemukannya sebelum Abbas membawanya lenyap ke tempat yang tidak terjangkau oleh siapa pun....