NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: IKAN BAKAR DAN AMUKAN SI GILA

Langit di atas hutan pinggiran Desa Bambu Kuning mulai meredup, namun perut Rangga Nata justru sedang bergemuruh laksana genderang perang.

“Ah… akhirnya, rezeki anak saleh tidak akan lari ke mana,” gumam Rangga sambil berjongkok di tepi sungai yang jernih.

Di tangannya, dua ekor ikan gurame sungai berukuran jumbo menggelepar-gelepar.

Dengan cekatan, ia membersihkan sisik ikan itu menggunakan pisau kecil, lalu menusuknya dengan ranting pohon yang ujungnya sudah diruncingkan.

“Sejak kemarin cuma makan mangga muda pemberian warga… Bukan kenyang, yang ada malah perutku mulas dan lidahku kelu. Kalau begini terus, bukannya jadi pendekar sakti, aku malah jadi pendekar sakit perut,” keluhnya sambil menyalakan api kecil dari tumpukan kayu kering.

Aroma daging ikan yang mulai bersentuhan dengan api perlahan meruap, memenuhi udara pagi itu dengan bau gurih yang menggoda iman.

Rangga membalik ikan itu dengan penuh kasih sayang, seolah sedang memegang pusaka paling berharga di jagat raya.

“Kalau guruku melihatku begini, pasti dia akan menceramahi dengan suara seraknya yang mirip kodok itu: *‘Rangga! Pendekar sejati itu harus tahan lapar, tahan haus, dan tahan godaan dunia!’*”

Rangga menirukan suara gurunya sambil terkekeh.

“Tapi si tua itu lupa, muridnya ini tetap manusia biasa yang butuh gizi untuk menendang bokong penjahat.”

Saat ia baru saja hendak mencuil sedikit daging ikan yang mulai matang—

“TOLOOONG!!! JANGAN!!!”

Teriakan melengking memecah kesunyian, disusul oleh suara denting senjata yang beradu di kejauhan arah desa.

Rangga berhenti bergerak. Matanya menyipit tajam ke arah kepulan asap hitam yang mulai membubung dari Desa Bambu Kuning.

“Sudah mulai rupanya…” gumamnya. Suara benturan baja dan teriakan ketakutan warga semakin jelas terdengar oleh indra pendengarannya yang terlatih.

Rangga menoleh ke arah desa, lalu kembali menatap ikan bakarnya yang baru matang setengah. Air liurnya hampir menetes.

Kruuuukkkk! Perutnya berbunyi sangat keras, seolah ikut memprotes kerusuhan yang mengganggu waktu makannya.

“Aduh, Gusti… Kalau aku pergi sekarang dengan perut kosong melilit begini, bisa-bisa aku pingsan di tengah jalan saat baru mau pasang kuda-kuda. Nanti malah aku yang harus digendong warga,” Rangga mengangguk-angguk sendiri, membenarkan logikanya yang agak sesat.

“Perut dulu kenyang, baru jadi pahlawan!”

Dengan gerakan cepat, ia melahap satu ikan bakar itu meski masih panas mengepul.

“Panas! Panas! Aduh, lidahku!” teriaknya sambil mengibas-ngibas tangan, namun ikan itu ludes dalam sekejap.

Sementara itu, di pusat Desa Bambu Kuning, kekacauan pecah. Sekelompok perampok brutal berpakaian serba hitam tengah mengobrak-abrik apa pun yang ada di depan mata.

“Jangan biarkan mereka masuk ke rumah warga! Lindungi lumbung padi!” teriak seorang gadis cantik dengan ikat kepala merah. Ia adalah murid senior padepokan setempat.

“Gunakan Formasi Bambu Berlapis!"

Seketika, delapan orang gadis murid padepokan bergerak lincah. Mereka mengayunkan tongkat bambu panjang, menyusun pertahanan melingkar yang rapi.

Wuttt! Wuttt! Angin serangan mereka cukup kuat, namun lawan yang mereka hadapi kali ini bukanlah perampok kelas teri.

“Ha ha ha! Bocah-bocah cantik seperti kalian lebih cocok memegang ulekan di dapur daripada tongkat kayu!” tawa seorang perampok berwajah penuh codet. Ia mengayunkan golok besarnya dengan tenaga dalam yang kasar.

Trang!!!

“AAK!” Benturan itu membuat salah satu gadis terpental. Tongkat bambunya pecah berkeping-keping.

“Rina!” teriak sang pemimpin gadis.

“Tetap fokus! Jangan beri celah!”

Namun, jumlah perampok semakin banyak. Mereka menyerang dengan brutal dan tidak mengenal belas kasihan. Warga desa berlarian ketakutan sementara rumah-rumah mulai dijilat api.

“Kenapa jumlah mereka jadi tiga kali lipat dari kemarin?!” tanya seorang murid dengan napas terengah.

“Ini bukan kelompok perampok biasa… Mereka sengaja mencari gara-gara!”

Tepat saat para gadis itu mulai terdesak ke arah dinding balai desa, terdengar suara langkah santai yang sangat tidak selaras dengan suasana mencekam di sana.

“Wah… ramai sekali ya. Ada pesta kembang api atau bagaimana ini?”

Semua orang—baik perampok maupun warga—serentak menoleh. Di pintu masuk desa, berdirilah seorang pemuda dengan caping bambu miring menutupi sebagian wajahnya.

Di tangan kirinya, ia memegang sebilah kayu yang ditusuki sisa ikan bakar.

Gadis galak pemimpin murid itu langsung melotot.

“Kau lagi?! Si pemuda malas dari sungai?!”

Rangga melambaikan sisa ikan bakarnya dengan santai. “Iya, Nona manis… aku lagi. Maaf terlambat, ikan sungainya tadi agak keras jadi lama dikunyahnya.”

“Ini bukan waktunya bercanda, Bedebah! Cepat lari kalau kau tidak mau mati!” bentak gadis itu sambil menangkis tebasan golok.

Rangga justru duduk dengan tenang di atas sebuah batu besar di pinggir jalan desa, seolah sedang menonton pertunjukan wayang.

“Kalian lanjut saja… Aku nonton dulu. Lumayan, jarang-jarang ada hiburan gratis sambil cuci mata melihat kalian beraksi.”

“APA?! KAU—!” Para gadis itu hampir pingsan karena kesal.

Salah satu perampok dengan perut buncit tertawa keras.

“Ha ha ha! Siapa bocah gila pembawa ikan ini?! Hei, Nak! Serahkan ikanmu atau kepala kau yang aku bakar!”

“Habisi saja dia! Biar tidak banyak bicara!” perintah perampok lain.

Dua orang perampok melesat ke arah Rangga dengan kecepatan tinggi. Golok mereka berkilat, mengincar leher dan perut sang pemuda.

WUSSS!!!

Rangga masih tetap duduk. Ia bahkan sempat-sempatnya meniup sisa daging ikan di tangannya.

“Sudah kubilang… jangan ganggu orang kalau sedang menikmati makanan. Itu pamali tahu.”

BRAKK!!!

Tanpa bergeser dari posisi duduknya, Rangga menggerakkan kaki kanannya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang.

Dua tendangan beruntun menghantam dada kedua perampok itu tepat saat mereka mendekat.

“AAAKHH!!!”

Kedua pria berbadan besar itu terpental laksana nangka busuk, menabrak tembok kayu hingga roboh!

Suasana mendadak hening sesaat. Para gadis murid padepokan terpaku. “Dia… dia bahkan tidak berdiri dari tempat duduknya?” gumam Rina tak percaya.

Rangga akhirnya berdiri perlahan. Ia membersihkan tangannya dari bekas minyak ikan ke bajunya yang lusuh.

“Baiklah… Sepertinya kalian sudah mulai kelelahan melayani mereka.”

Ia melirik ke arah para gadis yang napasnya sudah mulai tersengal.

“Gantian. Sisanya biar aku yang urus. Kalian istirahat saja dulu, mungkin sambil cari sambal untuk ikan ini.”

Gadis pemimpin itu mendengus meski hatinya mulai ragu.

“Jangan sok pahlawan! Kau hanya beruntung tadi!”

Rangga hanya tersenyum simpul. “Aku tidak sok pahlawan… aku memang pahlawan. Setidaknya di mimpiku tadi malam.”

“BANGSAT!!! BERANI SEKALI KAU!”

Lima orang perampok menyerang Rangga secara bersamaan dari berbagai sudut. Udara di sekitar mereka bergetar akibat dorongan tenaga dalam kasar.

WUSSS!!!

Rangga bergerak. Namun, gerakannya sangat aneh. Tubuhnya terhuyung-huyung ke kiri dan ke kanan, kepalanya miring laksana orang mabuk berat setelah minum tuak berliter-liter.

“Jurus apa itu?! Seperti orang gila!” teriak salah satu perampok.

“Ini namanya Jurus **Angin Puyuh di Kedai Tuak**, atau bahasa kerennya… Ilmu Orang Gila,” gumam Rangga santai.

Sret!

Sebuah golok menebas udara kosong di tempat Rangga berada sedetik sebelumnya. Rangga tiba-tiba sudah berada di belakang si penyerang.

Plak! Ia menampar pipi perampok itu dengan sangat keras hingga si perampok berputar laksana gasing.

Dug!

Sikut Rangga menghantam perut perampok kedua.

Sret! Ia memutar tubuhnya, kakinya menyapu laksana ekor naga yang mengamuk.

BRAKK!!!

Tiga orang perampok jatuh tumpang tindih dengan tulang rusuk yang sepertinya sudah tak pada tempatnya.

“Cepat sekali!!!”

“Gerakannya… sama sekali tidak bisa ditebak!”

Rangga tertawa kecil, membetulkan letak capingnya. “Masih mau lanjut? Ikan bakarku masih ada satu tusuk lagi loh kalau kalian mau menyerah.”

Seorang perampok bertubuh raksasa dengan kapak besar di pundaknya maju ke depan. Wajahnya merah padam menahan amarah.

“AKU YANG AKAN MENGIRIMMU KE NERAKA, BOCAH!”

Ia mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi.

“MATI KAU!!!”

WUSSS!!!

Kapak itu menghantam ke bawah dengan kekuatan yang sanggup membelah batu besar.

Rangga hanya mencondongkan sedikit tubuhnya ke samping. Kapak itu lewat hanya sejengkal dari hidungnya, menciptakan embusan angin kencang yang mengangkat ujung capingnya.

“Tenaga besar, tapi pelan sekali… Seperti kerbau mau mandi,” ejek Rangga.

Sret!

Tangannya bergerak membentuk cakar yang dialiri tenaga dalam berwarna kebiruan tipis. “Cakar Naga Membelah Batu!.'

DUARRR!!!

Hantaman telapak tangan Rangga tepat mengenai dada si raksasa. Terdengar suara tulang yang retak, disusul dengan tubuh besar itu yang terlempar sejauh sepuluh meter, menghancurkan pagar desa hingga berkeping-keping.

Gadis-gadis itu kini benar-benar terdiam. Mereka menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara kagum, takut, dan bingung.

“Dia… benar-benar kuat… tapi kenapa kelakuannya seperti itu?” gumam Rina.

Rangga menepuk-nepuk tangannya yang berdebu. “Nah, masih ada lagi yang ingin mencoba gratisan?”

Tepat saat itu, seorang pria melangkah maju dengan tenang dari barisan belakang perampok.

Pria ini mengenakan jubah abu-abu dengan sebilah pedang panjang yang melilit di pinggangnya. Aura yang terpancar darinya jauh berbeda—dingin, berat, dan menusuk batin.

“Cukup… Mundur kalian semua. Kalian bukan tandingannya,” suara pria itu rendah namun berwibawa.

Para perampok segera mundur dengan wajah pucat. “Pemimpin…”

Pria itu menatap Rangga dengan mata yang tajam laksana elang.

“Jadi, kau yang berani membuat kekacauan di wilayah kekuasaan Harimau Hitam…”

Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau yang kau maksud dengan membuat kekacauan adalah menyapu sampah-sampah yang berceceran di jalanan… mungkin iya.”

Pria itu menyeringai, sebuah senyuman kejam.

“Sombong sekali untuk pemuda sepertimu. Namaku adalah—”

“Ssttt! Berhenti di situ,” potong Rangga sambil mengangkat tangan.

Suasana mendadak sunyi.

“Kenapa?” tanya si pemimpin perampok bingung.

Rangga menggigit sisa ikan terakhir di tangannya. “Namamu tidak penting bagiku. Benar-benar tidak penting. Aku tidak mau memenuhi otakku dengan nama orang yang sebentar lagi akan berteriak minta ampun.”

Wajah pria itu berubah dari pucat menjadi merah padam. Matanya seakan ingin mengeluarkan api.

“Bocah sialan! AKAN KUKULITI KAU HIDUP-HIDUP! BUNUH DIA!!!”

SHRIIING!! Ia mencabut pedang panjangnya. Aura membunuh meledak dari tubuhnya, membuat debu-debu di tanah berterbangan liar.

Rangga membuang ranting ikan bakarnya yang sudah kosong. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan menurunkan kuda-kudanya.

Tatapannya berubah total. Tidak ada lagi senyum jenaka. Tidak ada lagi sorot mata malas. Yang tersisa hanyalah sepasang mata tajam yang memancarkan kewibawaan seorang pendekar tingkat tinggi.

“Baiklah…” Rangga melangkah maju satu tindak. Tanah di bawah kakinya sedikit amblas.

“Main-mainnya sudah cukup. Perutku sudah kenyang, sekarang saatnya membakar kalori.”

Angin berputar liar di sekeliling tubuh Rangga, membuat caping bambunya bergetar hebat. Para gadis menahan napas, mereka merasa seolah-olah sedang berdiri di depan seekor naga yang baru saja terbangun dari tidurnya.

“Sekarang…” Rangga melesat maju laksana kilat.

“…Aku yang mulai!”

Bersambung... 🔥

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!