"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Manis dan Bayangan Gelap
POV Zhira Permatasari
Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah gorden, membangunkanku dari tidur yang sangat nyenyak. Aku membuka mata perlahan, dan hal pertama yang kulihat adalah wajah tampan suamiku yang sedang tidur pulas di sampingku.
Arfan.
Rasanya masih seperti mimpi. Semalam kami menyatukan hati dan raga dalam ikatan yang halal dan indah. Sentuhan hangatnya, ciuman manisnya, masih terasa jelas di sekujur tubuhku. Pipiku otomatis memanas mengingat kejadian semalam.
"Masih capek kan? Atau mau diulang lagi?"
Ah! Suaminya ini kalau ngomong panas banget! Aku tersenyum sendiri sambil memukul pelan bantal tempat tidur.
Perlahan aku berusaha bangun, ingin menyiapkan air wudhu dan mungkin menyiapkan sarapan buat suami dan keluarga. Kebiasaan menjadi anak pertama yang mandiri masih saja melekat.
Tapi baru saja aku mau menggeser tubuh, tangan kokoh itu langsung menarik pinggangku kembali ke dalam pelukan hangat.
"Mau ke mana pagi-pagi buta, Bu Haji?" suara berat dan serak basah itu terdengar sangat menggoda di telingaku.
Aku terkikik malu. "Mau bangun dong Mas. Udah pagi nih. Mau mandi terus masak sarapan."
Arfan membuka matanya perlahan, menatapku dengan tatapan mengantuk namun penuh cinta dan... nafsu. Dia mengusap rambutku lalu menempelkan dahinya ke dahiku.
"Pelan-pelan dong sayangnya. Kan baru semalam kita halal. Nikmatin dulu masa-masa indahnya. Lagian, istri cantik gini ditinggal tidur sendirian, sedih tahu."
Dia menarikku semakin dekat, hingga tubuh kami bersentuhan. "Peluk dulu 5 menit. Awas kalau berani lepas."
Aku hanya bisa menurut dan tersenyum lebar. Di pelukannya, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hangat, aman, dan dicintai sepenuhnya.
Setelah mandi dan bersiap, aku turun ke dapur dengan semangat baru. Hari ini aku adalah Nyonya Arfan Darmawan!
"Eh pagi Nduk Zhira! Tumih bangunnya? Cantik-cantik aja dari tadi senyum-senyum sendiri," goda Bu Ratna yang sudah ada di sana.
"Pagi Bu... ih apaan sih Bu..." jawabku malu sambil mendekat. "Biar Zhira yang masak sarapan ya Bu. Biar Ibu istirahat."
"Wah boleh dong! Coba lihat masakan menantu Ibu gimana. Arfan pasti lahap makannya nanti."
Aku sibuk memasak nasi goreng spesial dan membuatkan teh hangat. Rasanya senang sekali bisa melayani keluarga dengan ikhlas. Tidak ada rasa terpaksa, tidak ada rasa takut dimarahi, semuanya dilakukan dengan cinta.
Tiba-tiba Arfan datang dan memeluk pinggangku dari belakang di tengah dapur.
"Wangi banget sih istriku... masakan apa ini? Wanginya sampai ke lantai atas," bisiknya sambil mengecup leherku singkat.
"Itu nasi goreng kesukaan kamu lah. Sudah sana cuci tangan, sebentar lagi siap."
"Iya Chef... siap dilayani!"
Sarapan pagi berjalan sangat hangat dan penuh tawa. Ibu Zainal dan Ayah Alvin juga sudah bangun dan ikut bergabung. Mereka terlihat sangat bahagia melihat aku dan Arfan begitu mesra.
"Makan yang banyak ya Nak Arfan. Biar kuat kerjaannya," ledek Ibu Zainal membuat semua orang tertawa. Arfan cuma nyengir kuda sambil mengangguk, "Siap Bu! Insya Allah kuat!"
Aku makin malu menunduk makan.
Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba terhenti saat ponsel Arfan berbunyi nyaring. Dia melihat layarnya, dan seketika senyum di wajahnya lenyap digantikan oleh kerutan dahi yang dalam. Wajahnya berubah serius dan dingin dalam sekejap.
"Ada apa Fan?" tanyaku pelan.
"Sebentar ya Sayang. Aku ada panggilan penting. Aku ke luar sebentar," katanya singkat lalu langsung berjalan cepat keluar ruangan meninggalkan meja makan.
Suasana jadi sedikit canggung. Aku menatap ke luar jendela tempat Arfan berjalan mondar-mandir sambil mengangkat telepon dengan wajah murka. Dia terlihat sangat marah dan tegang.
Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia berubah begitu drastis?
Beberapa menit kemudian, Arfan masuk kembali. Wajahnya sudah berusaha tersenyum lagi tapi matanya terlihat sangat lelah dan waspada.
"Maaf ya semua. Ada masalah sedikit di kantor. Harus segera diurus," katanya singkat.
"Masalah apa Fan? Serius nggak?" tanyaku khawatir.
Arfan menatapku, lalu mengelus kepalaku lembut. "Nggak apa-apa Sayang. Cuma masalah kerjaan biasa. Kamu tenang aja ya. Aku selesaikan cepat terus balik lagi."
Tapi aku tahu dia berbohong. Matanya berbohong. Karena saat dia berjalan keluar, aku tidak sengaja melihat sekilas layar HP-nya yang terbuka.
Bukan nama kantor yang tertera.
Tapi sebuah pesan singkat yang membuat darahku seakan berhenti mengalir:
"Selamat menikah Arfan. Tapi ingat, permainan kita belum selesai. Zhira Permatasari itu milikku. Awas kalau kamu sampai bikin dia bahagia, aku hancurkan kamu berdua."
Jantungku copot!
Siapa pengirimnya?! Kenapa dia berani mengancam Arfan?! Dan kenapa dia bilang aku miliknya?! Siapa orang gila ini?!
Arfan tahu siapa pelakunya! Aku yakin dia tahu! Tapi kenapa dia menyembunyikannya dariku?!
Apa bahaya besar sedang mengintai kehidupan rumah tangga kami yang baru saja dimulai ini?!
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh! Gawat banget kan Bestie! 😱😰 Tiba-tiba ada pesan ancaman lagi! Dan pengirimnya ngaku-ngaku punya Zhira!
Siapa sih orangnya?! Mantan? Musuh bisnis? Atau orang gila?! Bikin penasaran banget kan!
Gimana Bab 34-nya? Seru dan deg-degan kan? Lanjut Bab 35 lagi gas! Kita mau cari tahu siapa orangnya dan Arfan bakal ngapain! 🔍🔥📖