Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Waktu Bersama Keluarga.
Setelah rapat film selesai, Nala langsung kembali ke apartemen. Malam itu Jakarta masih ramai, lampu-lampu kota berkedip seperti bintang-bintang yang tak pernah tidur. Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Seolah ada suara halus yang terus berbisik: pulanglah.
Tanpa berpikir lama, ia mengemas beberapa barang ke dalam tas ransel kecil. Gaun rapat ia gantikan dengan sweater abu-abu lembut dan celana jeans sederhana, wajahnya dibersihkan dari make up. Ia ingin jadi dirinya sendiri saat bertemu dengan ayah dan ibunya nanti.
Pukul tujuh malam, Nala menyalakan mobil pribadinya. Suara mesin mengisi ruang hening, sementara di luar sana jalanan Jakarta mulai dipadati kendaraan yang pulang kerja. Ia menarik napas panjang, lalu menginjak pedal gas.
Perjalanan menuju Sukabumi bukanlah perjalanan singkat, apalagi malam hari. Namun Nala terbiasa. Jalan tol panjang membentang di hadapannya, lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil, menyisakan bayangan samar wajahnya yang bulat dan manis.
Mata bulatnya memantul redup cahaya dashboard. Di balik keletihan yang masih tersisa, ada binar hangat yang tak bisa ia sembunyikan: kerinduan. Rambut hitam panjangnya ia ikat sederhana, beberapa helai terlepas membingkai pipinya yang lembut.
Di mata orang lain, mungkin ia hanya terlihat sebagai gadis muda yang menyetir sendirian di malam hari. Tapi bagi Nala, ia adalah seorang anak yang sedang pulang—anak yang rindu suaranya dipanggil “Nyai” oleh ibunya, anak yang rindu teguran lembut dari ayahnya.
Radio mobilnya sengaja ia matikan. Malam itu, ia hanya ingin ditemani oleh suara sunyi. Deru mesin, gesekan ban dengan aspal basah, dan sesekali suara jangkrik saat ia melewati daerah pinggiran. Semua itu terasa seperti simfoni perjalanan pulang.
Begitu memasuki jalan yang lebih gelap menuju Sukabumi, lampu-lampu kota mulai hilang satu per satu, digantikan kabut tipis yang menggantung di perbukitan. Pohon-pohon tinggi berjajar di kiri kanan jalan, seolah mengiringinya pulang.
Di kaca spion, Jakarta sudah jauh tertinggal. Dan di hatinya, Nala berjanji: malam ini, ia akan pulang bukan sebagai penulis terkenal, bukan sebagai sosok yang dipuja pembaca, tapi hanya sebagai Nala—anak perempuan dari Hendra dan Sumiati, gadis sederhana yang selalu menemukan rumahnya di Sukabumi.
Perjalanan panjang dari Jakarta membuat punggung Nala terasa kaku. Ia berangkat pukul tujuh malam, dan benar saja—jalanan tol arah Sukabumi dipenuhi kendaraan, lampu-lampu rem memerah sepanjang jalur. Sesekali hujan rintik mengguyur kaca mobil, wipernya bergerak pelan, menambah nuansa dingin yang menempel di kulit.
Jarum jam di dashboard mobil menunjukkan pukul sebelas malam ketika akhirnya Nala keluar dari jalur utama dan memasuki jalanan kecil menuju Pelabuhan Ratu. Jalan berliku, menurun dan menanjak, dihiasi kabut tipis yang menggantung di udara.
Di kiri kanan, sawah terbentang gelap, hanya sesekali tampak kilau air yang memantulkan cahaya lampu mobil. Suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing hutan menyambut, menandakan ia sudah semakin dekat dengan kampungnya.
Nala membuka kaca jendela sedikit, membiarkan angin malam Sukabumi yang lembab masuk, membawa aroma tanah basah, bau pohon bambu, dan samar-samar wangi asap kayu bakar dari dapur rumah penduduk. Semua itu begitu akrab, seakan waktu tak pernah mengubahnya.
Ketika mobilnya memasuki jalan kampung, suasana makin hening. Rumah-rumah sederhana berjajar, sebagian besar sudah gelap karena penghuninya terlelap. Hanya lampu teras temaram yang masih menyala di beberapa rumah. Jalan kecil berbatu yang membelah sawah dan kebun membuat mobil harus berjalan pelan.
Dari kejauhan, terdengar samar suara sholawat yang masih diputar lewat pengeras suara masjid—meski waktunya sudah lewat, rekaman itu menjadi semacam kebiasaan warga untuk menemani malam.
Hati Nala bergetar pelan. Inilah rumahnya, dunia yang membesarkannya. Tempat di mana orang-orang sederhana hidup dengan doa, kerja keras, dan tradisi yang tak pernah pudar.
Akhirnya, ia sampai di depan rumah orangtuanya. Rumah kayu bercat hijau muda dengan teras kecil dan kursi bambu di depannya. Pohon mangga besar berdiri tak jauh dari halaman, sementara suara gemericik air dari selokan kecil di samping rumah menambah keheningan malam.
Nala mematikan mesin mobil. Hening sejenak. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Lampu ruang tengah masih menyala samar, menandakan ibunya mungkin belum tidur—seperti biasa, menunggu anak-anaknya pulang. Nala memang sempat mengabari keluarga nya jika malam ini dia akan pulang kemungkinan karena itu mereka menunggu nya.
Dengan langkah perlahan, Nala turun dari mobil, menyeret tasnya, lalu berjalan melewati jalan setapak menuju pintu kayu rumah. Tangannya bergetar saat hendak mengetuk, bukan karena lelah, tapi karena rindu yang sudah menumpuk.
Suara engsel pintu berderit pelan ketika pintu itu terbuka. Dari dalam terlihat sosok perempuan paruh baya dengan kerudung sederhana, wajahnya lembut meski ada garis lelah.
“Nala…?” suara itu lirih, seperti tak percaya.
Dan di detik itu juga, mata Nala basah. Ia langsung memeluk ibunya erat-erat, seakan tak ingin melepas lagi.
“Aku pulang, Ma…” bisiknya.
Pelukan panjang itu belum sempat terlepas ketika suara berat dari ruang tengah terdengar.
“Saha eta, Mi?” (Siapa itu, Mi?) suara ayahnya terdengar pelan tapi tegas. Sumiati, ibu Nala, masih memeluk putrinya sambil menjawab dengan suara bergetar.
“Nala, Pak… anak urang uih,” (Nala, Pak… anak kita pulang.)
Hendra, ayah Nala, muncul dari balik tirai ruang tengah. Tubuhnya masih tegap meski usia sudah setengah abad, wajahnya keras namun sorot matanya penuh kehangatan. Saat melihat Nala berdiri di depan pintu, ia terdiam, lalu senyumnya merekah perlahan.
“Alhamdulillah… ayeuna uih ogé, Nyi?” (Alhamdulillah… akhirnya pulang juga, Nak?) tanyanya, suaranya bergetar menahan haru.
Nala segera melepaskan pelukan ibunya dan berlari kecil ke arah ayahnya, lalu merunduk, mencium tangan yang kasar karena bertahun-tahun memegang cangkul.
“Tiba tiba Nala inget kalian," ucap Nala dengan suara tercekat.
“Bapak ogé, Nyi…” (Bapak juga, Nak…)" jawab ayahnya singkat, sebelum akhirnya menarik Nala ke dalam pelukan hangat.
Belum sempat suasana itu mereda, suara lain yang jauh lebih riang terdengar dari arah tangga kayu.
“Teh Nalaaaa!” teriak seorang gadis remaja dengan rambut panjang tergerai. Alya Maharani, adik bungsu Nala, langsung berlari sambil menyeret sandal, wajahnya sumringah.
“Yeayy akhirnya teteh pulang, tadi siang aku lihat acara teteh di youtube, aku kira teteh tidak pulang," serunya sambil memeluk kakaknya erat-erat. Nala tertawa kecil meski air matanya masih mengalir.
"Niat nya memang tidak pulang karena lelah, tapi tiba-tiba kangen kampung jadi pulang, ouh ya ayo bantu teteh turunkan barang barang di mobil, tadi di jalan teteh beli," ujar Nala yang membuat Alya mengangguk, sang ibu juga membantu Nala menurunkan barang barang nya yang cukup banyak dari bagasi mobil.
"Teh kenapa beli banyak sekali?" Tanya Alya sembari membantu membawa beberapa kardus kue ke dalam rumah, Nala menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tertawa pelan.
"Tidak tahu juga, aku hanya sengaja beli banyak. Mungkin Mama bisa bagikan ke tetangga juga," kata Nala menatap sang ibu yang tengah sibuk membereskan banyak barang yang di bawa Nala, begitu pula dengan sang ayah yang sibuk membongkar satu persatu barang yang di bawa putri tengah nya dari kota itu.
Nala memang sangat jarang pulang kampung bukan karena tidak mau tapi karena dirinya sering kali di sibukkan oleh jadwalnya nya yang padat sebagai seorang penulis yang tengah naik daun.
"Nyi, mau langsung tidur atau mandi dulu," ujar Sumiati menatap Nala yang sedang bicara dengan Alya di ruang tamu. Nala menoleh lalu menggeleng pelan.
"Aku tunggu bang Raka dulu mah, aku dengar dia juga sudah di jalan," kata Nala yang membuat sang ibu mengangguk lalu kembali pokus pada kardus makanan yang baru selesai di turunkan dari mobil Nala.
Tak lama kemudian, dari luar terdengar suara motor berhenti. Raka, kakaknya, baru saja pulang dari bengkel. Dengan jaket lusuh dan wajah yang masih berpeluh, ia masuk sambil mengucek mata.
“Nala, sudah sampai?” tanyanya lirih, suaranya penuh campuran lega dan sedikit protes. Nala tersenyum kecil, menahan isak.
“Sudah... Ikhh jangan peluk peluk badan Abang bau,” ledek Nala sembari mendorong tubuh kakak lelakinya itu.
Raka hanya mendengus, tapi matanya berkaca-kaca. Ia mendekat, menepuk kepala adiknya dengan kasar tapi penuh sayang.
“Dasar bodoh… namanya juga baru pulang kerja,” ujar nya yang membuat Nala terkekeh geli.
Lalu kembali memeluk kakak laki-lakinya itu, suasana rumah malam itu jadi hangat luar biasa. Tawa Alya, isak kecil ibunya, teguran penuh kasih dari Raka, dan genggaman tangan ayahnya—semua bercampur jadi satu, menghapus semua lelah perjalanan panjang.
Untuk sesaat, Nala merasa kembali menjadi gadis kampung biasa. Bukan penulis besar, bukan bintang tamu di panggung mana pun, hanya seorang anak yang akhirnya pulang. Setelah puas berbincang dan melepas rindu, Sumiati—sang ibu—menepuk lembut bahu Nala.
“Ini sudah larut, Nyi. Ayo tidur. Mau mandi sekarang? Kamu pasti lelah,” ucapnya pelan, namun penuh perhatian.
Nala mengangguk, matanya terasa berat. Badannya memang sangat letih setelah seharian penuh bekerja: menghadiri jumpa pembaca, rapat film yang alot, ditambah perjalanan panjang Jakarta–Sukabumi yang membuat energinya terkuras habis.
“Iya, Ma. Nala mandi dulu ya,” ucap Nala.
Alya yang sedari tadi sibuk membuka beberapa kardus makanan bersama ayah dan ibunya langsung mendekat, wajahnya berbinar penuh harap.
“Teh, besok teteh sibuk nggak? Ajak kami jalan-jalan naik mobil teh, boleh?” tanyanya manja, sang ibu ikut menimpali sambil tersenyum.
“Iya, Nyi, ajak kami jalan-jalan juga naik mobilmu,” pinta nya yang membuat Nala terkekeh, matanya melembut memandang dua orang yang sangat ia rindukan itu.
“Baiklah. Besok kita jalan-jalan, ya. Mumpung Nala lagi libur kerja,” jawab Nala, Alya langsung berjingkrak kegirangan, membuat suasana rumah semakin riuh hangat.
Setelah itu, Nala memutuskan untuk mandi. Namun karena Raka masih di kamar mandi—rumah mereka memang hanya punya satu—ia terpaksa menunggu.
Beberapa menit kemudian, barulah gilirannya. Air dingin menusuk kulitnya begitu keras, jauh berbeda dari apartemennya di Jakarta yang selalu menyediakan air hangat. Tapi Nala tetap memaksa diri; tubuhnya sudah terlalu lelah dan lengket oleh keringat perjalanan.
Begitu selesai, ia keluar dengan handuk melilit tubuh dan kepala, berjalan setengah berlari menahan gigil. Dari ruang tamu, kedua orang tuanya yang masih berbincang hanya tersenyum hangat melihat anak gadisnya melintas. Sementara Raka dan Alya sudah terlelap di kamar masing-masing.
“Ma, baju-baju Nala masih ada di sini?” tanyanya sambil mengusap lengan, berusaha mengusir dingin.
“Ada, di lemari kamar kamu. Cari saja, Nyi,” jawab sang ibu sembari tersenyum.
Dalam sorot matanya, ada perasaan bangga sekaligus haru. Ia tidak pernah menyangka anak yang ia lahirkan dua puluh dua tahun lalu kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sukses.
Nala membuka pintu kamarnya. Aroma ruangan yang lama tak ditempati segera menyeruak, khas campuran kayu tua dan debu halus. Semuanya masih sama sejak kepulangannya terakhir, setahun lalu.
Rak buku kecilnya berdiri di pojok, berisi novel-novelnya sendiri, buku bacaan favorit, hingga beberapa koleksi filsafat klasik. Meja belajar sederhana masih ada di sana, begitu pula rak pajangan yang dipenuhi album dan merchandise SOLIX—boy group Korea Selatan yang sejak masa sekolah ia gemari.
Poster para member terpampang di sisi kanan-kiri dinding, sementara foto mereka dalam bingkai berdiri rapi di atas meja.
Nala tersenyum kecil, hatinya hangat oleh kenangan.
“Hai, SOLIX… aku kembali,” gumamnya sambil menatap foto itu, seolah menyapa teman lama padahal jelas hanya gambar.
Setelah puas bernostalgia, ia membuka lemari kayu. Beberapa pakaiannya masih tertata rapi, seakan orang tuanya sengaja menjaga kamar itu agar tetap hidup meski ditinggal pemiliknya. Ia mengambil satu setel pakaian tidur, lalu duduk sebentar di ranjang kayu yang kasurnya terasa lebih keras dibanding tempat tidur empuk di apartemen.
Aroma masa lalu memenuhi inderanya: bau kayu, lembaran buku, dan kain yang lama tersimpan. Rasa letih pelan-pelan menelan tubuhnya. Nala sempat membuka ponsel, membaca sekilas notifikasi yang terus berdatangan, lalu meletakkannya di nakas.
Malam itu, tanpa sadar, ia terlelap dengan senyum kecil di bibirnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur bukan sebagai penulis terkenal, melainkan hanya sebagai Nala—anak kampung yang akhirnya pulang.