NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Bayang-bayang di Balik Badai

Dingin di Puncak Frost bukan sekadar suhu rendah; itu adalah entitas yang mencoba menyedot sisa-sisa kehidupan dari setiap pori kulitku. Aku berdiri di balkon stasiun pengamatan cuaca yang telah diubah menjadi pos jaga, membiarkan angin salju menghantam wajahku hingga mati rasa. Di tanganku, HK416 terasa seperti bongkahan es, namun mekanismenya tetap terjaga karena pelumas khusus yang sempat kuambil dari hanggar Markas Omega. Mataku menyipit, menembus kabut putih yang pekat, mencari tanda-tanda pergerakan di lembah bawah.

Logikaku terus berputar. Harris bilang ada 'pemimpin' di luar sana. Dalam biologi evolusioner, predator yang sukses adalah mereka yang bisa mengorganisir kawanan. Jika zombi-zombi ini mulai memiliki hierarki, maka dinding beton dan pagar kawat di tempat ini hanyalah tumpukan sampah yang menunggu waktu untuk dirubuhkan.

"Zidan, ini jatah makan malammu. Harris bilang kita harus berhemat," suara Kurumi memecah kesunyian di belakangku.

Aku berbalik. Kurumi berdiri di sana, terbungkus jaket bulu tebal yang tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Dia menyodorkan mangkuk seng berisi bubur gandum encer dan sepotong daging asap yang keras. Aku mengambilnya tanpa kata, merasakannya hangat di telapak tanganku—satu-satunya hal hangat yang kutemukan sejak mendarat di sini.

"Makanlah di dalam. Di sini terlalu dingin," kata Kurumi, matanya menatap cemas ke arah kegelapan di luar balkon.

"Dingin ini adalah perlindungan kita, Kurumi," jawabku sambil menyuap bubur hambar itu. "Zombi-zombi biasa akan membeku jika diam terlalu lama. Tapi jika mereka terus bergerak, artinya ada sesuatu yang memicu adrenalin atau impuls saraf mereka melampaui batas normal. Itulah yang sedang kupantau."

Kurumi menghela napas, uap putih keluar dari bibirnya. "Kamu selalu bicara soal logika. Apa kamu tidak pernah merasa takut? Sedikit saja?"

Aku menelan suapan terakhir, lalu menatapnya datar. "Takut adalah respons biologis terhadap ketidakpastian. Aku meminimalisir ketidakpastian dengan observasi. Jika aku tahu apa yang akan datang, aku tidak perlu takut. Aku hanya perlu bersiap."

Tiba-tiba, suara lonceng peringatan berdentang pelan dari arah gerbang bawah. Bukan dentangan keras tanda serangan penuh, tapi dentangan ritmis yang menandakan ada sesuatu yang mencurigakan. Aku segera meletakkan mangkuk kosong itu dan menyambar senapanku.

"Tetap di dalam, Kurumi. Jangan keluar kecuali aku yang memanggil," perintahku dingin.

Aku berlari menuruni tangga beton yang licin menuju gerbang depan. Di sana, Harris dan dua orang pria lainnya sedang mengintip melalui celah barikade kayu. Senter mereka menyorot ke arah tumpukan salju sekitar lima puluh meter dari pagar.

"Ada apa?" tanyaku.

"Lihat itu, Zidan," Harris menunjuk dengan jarinya yang gemetar.

Di bawah sinar senter yang temaram, aku melihat sesuatu yang aneh. Bukan kerumunan zombi yang menyerang, melainkan jajaran mayat yang dipancang di atas tiang kayu darurat di tengah lapangan salju. Mayat-mayat itu bukan zombi; mereka adalah manusia, mengenakan seragam penjaga Puncak Frost yang hilang saat patroli kemarin. Tubuh mereka dikuliti sebagian, dan di dada mereka, ada simbol yang digambar menggunakan darah beku.

"Mereka mengirim pesan," bisik salah satu pria dengan wajah pucat pasi.

"Psikologi perang," gumamku, mataku memindai sekeliling. "Mereka mencoba menghancurkan mentalitas kalian sebelum serangan fisik dimulai. Zombi biasa tidak akan melakukan ini. Ini adalah perbuatan entitas yang memiliki ego."

"Apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengambil jenazah mereka!" seru Harris.

"Jangan!" aku menahan bahunya dengan kuat. "Itu umpan. Logikanya sederhana: kalian keluar untuk mengambil teman kalian, dan penembak jitu atau penyergap mereka akan menghabisi kalian di ruang terbuka. Biarkan saja mereka di sana."

"Tapi mereka teman-teman kami!" Harris berteriak marah.

"Temanmu sudah mati, Harris. Yang ada di sana sekarang hanyalah potongan daging yang digunakan sebagai alat taktis. Jika kau keluar sekarang, kau hanya akan menambah daftar pajangan di lapangan itu," suaraku tidak memiliki simpati sedikit pun. Di dunia ini, sentimentalitas adalah tiket menuju kuburan.

Harris menggeram, tapi dia tahu aku benar. Dia menurunkan senapannya dan memerintahkan anak buahnya untuk tetap di pos masing-masing.

Malam semakin larut, dan badai salju semakin menggila. Aku memutuskan untuk tidak tidur. Aku duduk di ruang tengah, di depan peta topografi wilayah Puncak Frost yang sudah kusam. Puncak Frost adalah bekas stasiun cuaca yang dibangun di atas tebing curam. Hanya ada satu jalan masuk utama melalui lereng selatan. Namun, ada jalur setapak kuno di sisi timur yang biasanya tertutup es tebal.

Jika aku adalah 'pemimpin' zombi itu, aku akan menggunakan massa zombi biasa untuk menyerang gerbang selatan sebagai pengalihan, sementara unit elit—seperti Crawler—akan memanjat tebing di sisi timur yang dianggap mustahil untuk dilewati manusia.

Aku memanggil Harris. "Berapa banyak ranjau sisa dari gudang yang bisa kita gunakan?"

"Hanya ada sepuluh ranjau antitau dan beberapa kawat pemicu," jawabnya lesu.

"Pasang semuanya di jalur timur. Di lereng tebing yang paling curam," perintahku.

"Timur? Tidak ada yang bisa naik dari sana, Zidan. Itu dinding es vertikal!"

"Kita tidak bicara tentang manusia, Harris. Kita bicara tentang makhluk yang bisa merayap di langit-langit gua. Pasang di sana sekarang, atau jangan salahkan aku jika besok pagi ada monster yang masuk ke kamar tidurmu."

Harris akhirnya menuruti perintahku. Aku bisa melihat ketidakpercayaan di matanya, tapi setelah kejadian di Markas Omega yang kuceritakan, dia tidak berani membantah logikaku sepenuhnya.

Sambil menunggu pemasangan ranjau, aku kembali ke ruang medis untuk menemui Kurumi. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa lilin. Kurumi sedang duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di dinding, mencoba memejamkan mata sejenak.

Aku duduk di sampingnya, meletakkan HK416 di pangkuanku.

"Mereka akan datang malam ini, bukan?" tanya Kurumi tanpa membuka mata.

"Kemungkinan besar. Badai ini memberikan tutupan visual yang sempurna bagi mereka," jawabku.

"Zidan... jika sesuatu terjadi, jika tempat ini jatuh... berjanjilah padaku satu hal."

"Aku tidak suka berjanji, Kurumi. Janji adalah beban emosional yang bisa mengganggu pengambilan keputusan."

Kurumi membuka matanya, menatapku dengan tatapan yang sangat jernih. "Berjanjilah untuk tetap hidup. Bahkan jika kamu harus meninggalkanku. Gunakan logikamu. Jangan biarkan diri kamu mati karena mencoba menyelamatkan 'beban' sepertiku."

Aku terdiam. Logikaku mencari argumen untuk membantah kata-katanya. Secara teknis, meninggalkannya saat situasi kritis adalah pilihan yang paling efisien untuk kelangsungan hidupku. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan variabel matematika mana pun.

"Aku sudah bilang padamu, Kurumi. Kamu adalah investasi jangka panjangku," kataku akhirnya, suaraku tetap datar namun tegas. "Seorang investor yang baik tidak akan membuang asetnya begitu saja hanya karena ada sedikit fluktuasi pasar. Aku akan membawamu keluar dari sini, bukan karena janji, tapi karena itulah rencana yang sudah kususun."

Kurumi tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. "Dasar kaku."

Aku membiarkannya di sana selama beberapa menit, merasakan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan dinginnya udara di sekitar kami. Namun, momen itu tidak berlangsung lama.

BOOM!

Sebuah ledakan keras bergema dari arah sisi timur gedung. Getarannya terasa sampai ke lantai yang kami duduki.

"Ranjau di jalur timur," kataku sambil berdiri seketika. "Mereka sudah sampai."

Aku berlari menuju koridor utama. Harris dan para pria lainnya sudah siaga dengan wajah penuh ketakutan.

"Zidan! Kau benar! Sesuatu mencoba memanjat tebing timur!" teriak Harris.

Aku tidak menjawab. Aku segera menuju jendela yang menghadap ke arah tebing. Di bawah sinar bulan yang tertutup awan, aku melihat pemandangan yang mengerikan. Puluhan Crawler sedang merayap naik di dinding es, gerakan mereka cepat dan terkoordinasi. Ledakan ranjau tadi hanya berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka, tapi sisanya terus maju.

Dan di dasar tebing, berdiri sesosok makhluk yang berbeda. Dia tinggi, kurus, dengan jubah compang-camping yang berkibar tertiup angin badai. Dia tidak bergerak, hanya menatap ke atas. Tangannya yang panjang memegang sebuah tongkat yang diujungnya terikat tengkorak manusia.

"Si Pemimpin," bisikku.

Makhluk itu mengangkat tongkatnya, dan seketika itu juga, ribuan zombi biasa di lereng selatan mulai meraung secara serentak. Suaranya begitu keras hingga mengalahkan deru badai salju. Mereka mulai berlari menuju gerbang selatan, bertumpuk-tumpuk mencoba memanjat pagar kawat.

"Semuanya ke pos masing-masing! Tahan gerbang selatan! Aku akan mengurus jalur timur!" perintahku dengan suara yang menggelegar.

Aku berlari menuju balkon timur, tempat Crawler pertama mulai muncul di tepian. Aku tidak menggunakan senapan mesin; aku menggunakan shotgun pompa yang diisi dengan peluru slug.

DOR!

Crawler pertama terpental kembali ke jurang, kepalanya hancur berkeping-keping.

DOR! DOR!

Dua lagi jatuh. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Aku bisa merasakan laras senjataku mulai memanas. Kurumi muncul di pintu balkon, membawa kotak amunisi cadangan.

"Kurumi! Kembali ke dalam!"

"Aku bisa membantumu mengisi peluru! Kamu butuh kecepatan!" teriaknya, wajahnya penuh tekad meski tubuhnya gemetar.

Logikaku menghitung: dengan bantuannya, kecepatan tembakanku akan meningkat 40%. Risiko dia terkena serangan adalah 60%. Dalam situasi ini, 40% peningkatan daya tembak adalah satu-satunya cara untuk menahan titik ini.

"Cepat kemari! Tiarap di bawah pagar balkon!" perintahku.

Kurumi bergerak cepat. Dengan jemari yang lincah meski kedinginan, dia membantu mengisi peluru ke dalam magazen cadanganku sementara aku terus menekan pelatuk. Kerja sama kami menjadi sinkron, sebuah tarian kematian di tengah badai salju.

Namun, perhatianku teralih saat melihat si Pemimpin di bawah sana mulai bergerak. Dia tidak memanjat; dia mulai mengeluarkan suara nyanyian yang aneh—suara frekuensi rendah yang membuat telingaku berdenging sakit.

Tiba-tiba, zombi-zombi biasa di selatan berhenti menyerang gerbang. Mereka justru mulai berkumpul menjadi satu massa besar, membentuk semacam piramida daging untuk menjembatani pagar kawat.

"Mereka belajar taktik pengepungan," gumamku horor. "Harris! Bakar gerbangnya! Gunakan semua cadangan bahan bakar!"

Tapi terlambat. Gerbang selatan rubuh karena beban ribuan mayat hidup. Suara jeritan mulai terdengar dari dalam gedung.

"Zidan, mereka masuk! Mereka masuk ke dalam!" Kurumi berpegangan pada lenganku.

Aku melihat ke sekeliling. Jalur timur sudah bersih untuk sementara, tapi bagian dalam stasiun cuaca sudah menjadi zona merah. Logikaku langsung beralih ke rencana pelarian darurat.

"Kita tidak bisa bertahan di sini lagi. Kita harus menuju helikopter," kataku.

"Tapi bahan bakarnya habis, Zidan!"

"Aku sempat melihat beberapa jerigen bahan bakar cadangan di gudang bawah saat pemeriksaan tadi. Kita harus mengambilnya, mengisi tangki secara manual, dan terbang keluar dari sini."

"Itu gila! Kita harus melewati kerumunan zombi di lobi!"

"Tidak ada pilihan lain yang logis, Kurumi. Diam di sini berarti mati membeku atau dicabik. Bergerak berarti punya peluang 10% untuk hidup. Aku memilih 10% itu."

Aku menarik Kurumi masuk kembali ke dalam gedung. Koridor sudah dipenuhi asap dan bau darah. Aku melihat Harris sedang bertarung mati-matian dengan seekor Crawler di tengah lobi. Sebelum aku sempat membantunya, makhluk itu merobek tenggorokannya.

Harris tewas. Pemimpin Frost Peak telah jatuh.

"Jangan menoleh, Kurumi! Fokus ke depan!" aku menembak dua zombi yang menghalangi jalan menuju tangga gudang.

Kami sampai di gudang bawah. Beruntung, pintunya masih utuh. Aku menendangnya terbuka dan menemukan tiga jerigen avgas yang kucari.

"Bawa satu, aku bawa dua! Cepat!"

Kami merangkak keluar melalui ventilasi udara yang mengarah langsung ke landasan helikopter. Di luar, si Pemimpin zombi sudah berdiri di pinggir landasan, seolah-olah dia tahu kami akan ke sana. Dia menatapku dengan mata putihnya yang kosong, memberikan senyuman yang mengerikan.

Dia mengangkat tongkatnya, dan tiga ekor Crawler berukuran besar melompat dari atap hanggar, mendarat di antara kami dan helikopter.

"Kurumi, tuangkan bahan bakarnya ke tangki! Aku akan menahan mereka!"

"Tapi Zidan..."

"LAKUKAN SEKARANG!"

Aku berdiri di depan helikopter, HK416 di tangan kanan dan pisau tempur di tangan kiri. Tiga Crawler elit ini jauh lebih besar dan cepat dari yang pernah kutemui. Mereka mengelilingiku, mencari celah.

Logikaku memproses: serangan bersamaan dari tiga arah. Peluang bertahan: 5%.

"Ayo, monster," bisikku, otot-ototku menegang. "Mari kita lihat apakah evolusi kalian cukup untuk menghadapi logika manusia yang sudah kehilangan segalanya."

Di bawah guyuran salju yang semakin lebat dan kilatan api dari gedung yang terbakar, pertarungan terakhir di Puncak Frost dimulai. Aku bukan pahlawan yang menyelamatkan orang-orang; aku adalah penyintas yang menolak untuk mati. Dan malam ini, salju akan berubah menjadi merah.

Catatan Penulis:

Chapter 19 mencapai titik didih! Puncak Frost jatuh, Harris tewas, dan Zidan harus berhadapan dengan Si Pemimpin zombi serta pengawalnya. Dengan hanya sedikit bahan bakar dan dikepung monster, mampukah Zidan dan Kurumi terbang menuju keselamatan? Ataukah perjalanan mereka berakhir di pegunungan es? Jangan lupa Like, Favorit, dan berikan komentar kalian!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!