NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kelalaian

Fortuner hitam itu baru melaju beberapa meter ketika kaki Rafiq menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Ban mobil mengeluarkan suara decitan keras yang memecah kesunyian malam. Dadanya naik turun. Tangannya yang menggenggam setir gemetar hebat.

Anakku.

Seperti ada yang menyambar kesadarannya yang sempat hancur berkeping-keping. Di tengah pusaran amarah dan sakit hati yang membakar setiap serabut sarafnya, tiba-tiba muncul wajah mungil dengan senyum manis yang selalu ia sapa setiap pagi sebelum berangkat kerja.

Muhammad Al Fatih. Putra semata wayangnya. Usia empat tahun. Anak yang selalu ia gendong ketika pulang kerja, yang selalu ia ajak mengaji sebelum tidur, yang selalu tertawa renyah ketika Rafiq menggelitik perutnya.

"Fatih..." bisik Rafiq dengan suara parau.

Ia menoleh ke arah rumah. Lampu teras masih menyala kuning. Jendela kamar utama tempat ia baru saja menyaksikan pemandangan paling menyakitkan dalam hidupnya kini gelap kembali.

Tono mungkin sudah pergi melalui pintu belakang—pengecut, seperti yang ia duga.

Tapi Rafiq tidak peduli dengan Tono sekarang. Yang ia pikirkan hanya satu: di mana Fatih?

Fatih seharusnya ada di rumah. Fatih seharusnya tidur di kamarnya. Rafiq ingat dengan jelas—pagi sebelum berangkat ke Bandung, ia sempat menggendong Fatih yang masih mengantuk, mengecup keningnya, dan berbisik, "Tunggu Abi pulang ya, Nak. Abi bawain mainan."

Dan Fatih, dengan mata masih setengah terbuka, menjawab lirih, "Iya, Abi."

Tapi malam ini, ketika ia memasuki rumah, ketika ia menaiki tangga menuju kamar utama, ketika ia melihat semua yang tidak seharusnya ia lihat—tidak sekalipun ia mendengar suara Fatih.

Tidak sekalipun ia melihat cahaya dari kamar anak yang berada di ujung lorong sebelah kiri, berseberangan dengan kamar utama.

Biasanya, lampu tidur Fatih selalu menyala. Anak itu takut gelap. Rafiq selalu memastikan lampu tidur berbentuk pesawat terbang kesayangan Fatih menyala setiap malam sebelum ia tidur.

Tapi malam ini, lorong gelap. Kamar Fatih gelap.

Rafiq mematikan mesin mobil yang baru saja menyala. Tangannya membuka pintu Fortuner dengan gerakan yang tergesa, hampir membuatnya terjatuh karena kakinya masih belum memakai sepatu—hanya kaus kaki tipis yang kini basah oleh embun malam.

Ia berlari. Berlari menembus kegelapan halaman. Berlari melewati teras yang dingin. Berlari masuk ke dalam rumah yang masih terasa asing. Pintu depan masih terbuka seperti saat ia tinggalkan beberapa menit lalu.

"Aisyah!" teriaknya. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya meninggi. Bukan karena amarah pada perselingkuhan. Tapi karena kepanikan yang merayap di dadanya. "Fatih! Di mana Fatih?!"

Ia melangkah berjalan cepat. Kakinya yang berkaus kaki hampir terpeleset di anak lantai itu, tapi ia tidak peduli. Lorong lantai itu masih gelap. Ia menyalakan sakelar di dinding, dan lampu lorong menyala dengan cahaya putih pucat.

Kamar utama tertutup rapat. Rafiq mengabaikannya. Ia berlari menuju ujung lorong sebelah kiri, tempat kamar Fatih berada.

Ia membuka pintu kamar anak itu dengan gerakan membanting.

"Fatih!"

Kosong.

Tempat tidur anak berbentuk mobil-mobilan itu masih rapi. Selimut bergambar karakter kartun kesukaan Fatih masih terlipat rapi di ujung tempat tidur. Lampu tidur berbentuk pesawat terbang tidak menyala. Mainan kesayangan Fatih—boneka jerapah kecil berwarna kuning—masih tergeletak di lantai dekat bantal.

Tapi Fatih tidak ada.

Rafiq merasakan dadanya seperti dihantam palu godam. Ia berbalik. Kakinya membawanya kembali ke lorong, lalu ke kamar utama. Kali ini ia tidak mengetuk. Ia langsung membanting pintu hingga terbuka lebar.

Aisyah masih di dalam. Ia sudah mengganti daster pink mudanya dengan gamis panjang berwarna hijau tua. Wajahnya masih basah oleh air mata. Rambutnya yang tadi terurai kini diikat asal-asalan.

Ia sedang duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya gemetar, tangan kanannya memegang ponsel yang baru saja ia letakkan di pangkuan.

Tono sudah tidak ada. Hanya aroma parfum pria yang masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma keringat dan sesuatu yang tidak ingin Rafiq identifikasi lebih jauh.

"Di mana Fatih?!" Rafiq tidak membuang waktu. Ia melangkah masuk, berdiri tepat di depan istrinya dengan tubuh yang gemetar bukan karena dingin, tapi karena amarah yang kini berganti wujud menjadi ketakutan.

Aisyah mendongak. Matanya yang sembab menatap Rafiq dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara ketakutan, rasa bersalah, dan kebingungan.

"Fa-Fatih..." suara Aisyah terputus-putus.

"Fatih... dia..."

"DI MANA FATIH?!" Rafiq membentak.

Suaranya menggema di seluruh ruangan. Tubuh Aisyah tersentak kaget hingga ponsel yang ada di pangkuannya jatuh ke lantai karpet.

"Fatih... dia dibawa Mama..." jawab Aisyah dengan suara nyaris berbisik.

"Tadi sore... Fatih demam tinggi... aku minta Mama jemput... dia bawa Fatih ke rumah sakit..."

Rafiq terdiam. Matanya membelalak. Demam tinggi. Anaknya demam tinggi. Dan ia—sebagai ayah—tidak tahu. Ia sedang di Bandung. Ia sedang sibuk dengan urusan proyek yang katanya mendesak. Sementara anaknya sakit.

Dan Aisyah—istrinya—mengirim anak itu ke mertua. Mengirim anak satu-satunya ke orang lain.

"Kenapa?" suara Rafiq turun. Dari teriakan menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. Tapi di bisikan itu ada nada yang jauh lebih mengerikan dari teriakan.

"Kenapa kau kirim Fatih ke Mamamu? Kenapa tidak kau rawat sendiri? Kenapa tidak kau kabari aku?"

Aisyah menunduk. Bahunya bergetar lebih hebat. Tangisnya pecah kembali.

"Aku... aku panik, Abi. Fatih tiba-tiba demam

tinggi setelah Maghrib. Aku coba kompres, tapi panasnya tidak turun. Aku mau telepon Abi, tapi..."

"Tapi apa?!"

Aisyah mengangkat wajahnya. Air mata membasahi pipinya yang pucat. Dan Rafiq melihatnya. Di mata wanita yang pernah ia cintai itu, ada kejujuran yang menyakitkan.

"Tapi Tono ada di sini, Abi. Dia datang sebelum Maghrib. Aku... aku tidak bisa..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Rafiq sudah mengerti.

Tono datang sebelum Maghrib. Mereka bersama. Mereka melakukan itu. Sementara anaknya demam tinggi di kamar sebelah.

Dan ketika anaknya semakin sakit, Aisyah—ibunya—memilih untuk menelepon mamanya, meminta tolong menjemput Fatih, mengirim anak itu pergi, agar ia bisa terus bersama Tono. Agar tidak ada yang mengganggu kebersamaan terlarang mereka.

Rafiq merasakan dadanya seperti diremas oleh tangan raksasa. Bukan hanya sakit hati karena perselingkuhan. Ini lebih dari itu. Ini adalah kelalaian. Ini adalah pengabaian. Ini adalah seorang ibu yang memilih kekasih gelapnya di atas keselamatan anak kandungnya sendiri.

"Kau..." Rafiq menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Matanya yang tadinya kosong kini menyala dengan api yang berbeda. Api kemarahan seorang ayah yang anaknya diabaikan.

"Kau lebih memilih bersenang-senang dengan pria itu daripada mengurus anak kau sendiri yang sedang sakit?!"

"Aku tidak—aku tidak berniat—"

"DIAM!"

Bentakan Rafiq membuat Aisyah membeku. Mulutnya terkunci. Matanya terpaku pada suaminya yang berdiri di depannya dengan tubuh gemetar hebat. Kemeja putihnya yang tadi rapi kini kusut. Wajahnya pucat pasi.

Matanya merah, tapi bukan merah karena menangis—merah karena amarah yang menumpuk dan mencari celah untuk meledak.

"Kau tahu, Aisyah?" suara Rafiq turun lagi. Kini menjadi bisikan yang dingin, dingin seperti es kutub.

"Gue pikir sakit hati karena kau selingkuh adalah yang terburuk malam ini. Tapi ternyata tidak. Yang jauh lebih buruk adalah kau tega mengabaikan anak kau sendiri.

"Anak kau, Aisyah. Daging darah kau. Yang kau kandung sembilan bulan. Yang kau susui dua tahun. Yang setiap malam kau peluk dan kau cium sebelum tidur."

"Kau tega mengirimnya pergi ketika dia sakit, hanya karena kau ingin bersama pria simpanan kau."

"Tono bukan pria simpanan..." Aisyah berbisik, nyaris tak terdengar.

Rafiq tersenyum. Senyum yang sama seperti di lorong tadi. Senyum yang membuat darah Aisyah membeku.

"Oh, bukan? Lalu apa? Sahabat suami kau? Rekan bisnis suami kau? Atau—tunggu, biar gue tebak—kekasih gelap yang kau sembunyikan selama setahun di belakang suami kau sendiri, di rumah yang suami kau bangun, di tempat tidur yang suami kau beli, sementara anak kau terbaring sakit di kamar sebelah?"

Aisyah tidak bisa menjawab. Tangisnya semakin menjadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya tersedu-sedu.

"Maaf... maaf, Abi... maaf..."

"Jangan minta maaf padaku," potong Rafiq dingin.

"Minta maaf pada anak kau. Tapi sepertinya kau bahkan tidak punya nyali untuk itu."

Ia berbalik. Tidak ingin melihat wajah Aisyah lagi. Tidak ingin mendengar tangisnya lagi. Tidak ingin menghirup udara yang sama dengan wanita yang telah memilih untuk mengabaikan darah dagingnya sendiri demi kenikmatan sesaat.

Tapi ketika ia melangkah menuju pintu—

BZZT. BZZT.

Suara getaran ponsel.

Bukan dari ponselnya. Dari lantai karpet dekat kaki Aisyah. Ponsel Aisyah yang tadi jatuh.

Rafiq berhenti. Matanya beralih ke ponsel yang bergetar di lantai. Layarnya menyala, memperlihatkan nama yang tertera di sana.

Mama.

Rafiq tidak berpikir dua kali. Ia membungkuk, mengambil ponsel itu, dan menggeser layar hijau.

"Bu?" suaranya terdengar terburu-buru. "Bu, ini Rafiq. Fatih gimana?"

Di ujung sana, suara mertuanya—Bu Hj. Sumarni—terdengar panik. Suaranya terputus-putus, seperti sedang menahan tangis.

"Ra-Rafiq? Nak, kamu di mana? Fatih... Fatih sedang kami bawa ke rumah sakit. Demamnya tinggi sekali, Nak... kami sudah di jalan. Kami lewat jalan raya selatan, mau ke RS Islam..."

"Baik, Bu. Saya akan menyusul. Tolong jaga Fatih."

"Ya, Nak... kamu cepat ya. Fatih terus teriak-teriak minta Abinya..."

Rafiq menutup telepon. Matanya beralih ke Aisyah yang masih duduk di tepi tempat tidur, kini memandangnya dengan mata penuh ketakutan dan penyesalan.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini. Ia hanya menatap Aisyah—istrinya, ibu dari anaknya—selama beberapa detik.

Di detik-detik itu, Aisyah melihat sesuatu yang membuatnya merinding. Di mata Rafiq, tidak ada lagi cinta. Tidak ada lagi kasih sayang. Tidak ada lagi harapan. Yang ada hanya kehampaan. Kehampaan yang begitu dalam, begitu luas, seperti jurang yang tidak berdasar.

"Kau tahu, Aisyah?" suara Rafiq keluar pelan, nyaris berbisik.

"Dari semua yang kau lakukan malam ini—selingkuh, berbohong, menghianati—yang paling tidak bisa gue maafkan adalah kau mengabaikan Fatih. Anak kita, Anak kau. Anak yang setiap malam berdoa sebelum tidur, 'Ya Allah, lindungi Abi di perjalanan. Lindungi Umi di rumah. Jadikan kami keluarga yang sakinah.' Itu doanya setiap malam, Aisyah. Setiap malam ia berdoa untuk kita berdua. Tapi kau—"

Ia tidak melanjutkan. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.

"Kau tidak pantas menjadi ibunya."

Kalimat itu keluar begitu saja. Lembut, tapi menghancurkan.

Rafiq berbalik dan melangkah keluar. Ia tidak mendengar jeritan Aisyah yang memanggil namanya. Ia tidak mendengar suara Aisyah yang jatuh dari tempat tidur dan merangkak ke lorong sambil menangis.

Ia hanya fokus pada satu tujuan: anaknya. Fatih. Muhammad Al Fatih yang berusia empat tahun yang sedang demam tinggi di dalam mobil bersama kakek dan neneknya.

Ia berlari. Kakinya yang berkaus kaki terpeleset, membuatnya jatuh tersungkur di lantai keramik ruang tamu. Sakit. Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Ia bangkit, meraih sepatu ketsnya yang masih ada di dekat pintu, dan tanpa sempat memakainya dengan benar, ia berlari keluar rumah.

Halaman terasa lebih gelap dari sebelumnya. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah seperti akan turun hujan. Rafiq membuka pintu Fortuner, duduk di kursi pengemudi, dan menyalakan mesin dengan gerakan yang kasar.

Mesin menderu. Lampu mobil menyorot jalanan yang gelap.

Rafiq menginjak pedal gas. Fortuner melaju kencang meninggalkan rumah yang kini terasa seperti kuburan bagi semua mimpi-mimpinya.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!