NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 3

Jek menarik napas panjang, membiarkan notifikasi berwarna emas itu memudar di pinggiran visinya. Ia tidak ingin menjadi budak algoritma yang selalu haus akan ekspansi. Baginya, kemenangan malam ini bukan karena jatuhnya sang Arsitek, melainkan karena ia masih bisa merasakan jemari Rara yang hangat di genggamannya.

"Dia sudah tidak berdaya, Jek," bisik Rara, melirik sang Arsitek yang masih menatap cangkir tehnya dengan tatapan kosong, seolah tidak percaya bahwa kekaisaran digitalnya runtuh hanya dengan satu gerakan kemanusiaan. "Apa yang akan kamu lakukan padanya?"

Jek tidak menoleh. "Aku akan memberinya apa yang paling ditakuti oleh orang-orang sepertinya: ketidakrelevanan. Dia akan tetap kaya secara materi, tapi sistemnya sudah mati. Dia tidak akan lagi bisa menyentuh hidup satu orang pun di negeri ini."

Jek kemudian membawa Rara menjauh dari ruang tamu, menuju balkon yang kini kacanya kembali transparan. Udara malam Jakarta yang biasanya terasa menyesakkan, kini seolah membawa aroma harapan yang baru. Di bawah sana, lampu-lampu kota berkedip, dan Jek tahu bahwa di pemukiman padat penduduk, aliran listrik kini mengalir tanpa beban biaya yang mencekik.

"Sistem itu memintaku pergi lebih jauh, Ra," kata Jek jujur. "Bukan lagi soal energi atau pangan, tapi soal bintang-bintang. Mars. Mereka ingin aku membangun koloni di sana."

Rara terdiam cukup lama. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jek, menatap bintang-bintang yang jarang terlihat karena polusi cahaya. "Mars? Kedengarannya seperti tempat yang sangat sepi, Jek. Apa di sana ada warung kopi kayu seperti tempat kita dulu?"

Jek terkekeh, suara tawa yang tulus dan tanpa beban. "Mungkin tidak ada. Dan itulah alasan kenapa aku belum menekan tombol 'Terima'. Aku tidak ingin membangun peradaban baru jika itu artinya meninggalkan apa yang membuat kita menjadi manusia di sini."

Namun, di tengah keheningan itu, sistem di kepala Jek berdenyut pelan. Bukan peringatan merah, melainkan sebuah transmisi data yang sangat halus. Sebuah koordinat di pedalaman Nusantara muncul, diikuti oleh sebuah pesan singkat: "Sistem bukan diciptakan untuk menguasai, tapi untuk mengembalikan. Datanglah ke tempat asalmu, pewaris terakhir."

Jek mengerutkan kening. Pesan itu tidak berasal dari algoritma 'Sistem J' maupun 'Ares'. Itu terasa... purba.

"Ada apa?" Rara menyadari perubahan ekspresi Jek.

"Sepertinya jawaban tentang mengapa aku terpilih bukan ada di langit, Ra," jawab Jek pelan. "Tapi ada di tanah tempat kita berpijak. Ada sesuatu di masa lalu—sesuatu tentang leluhur kita—yang memicu semua teknologi ini."

Jek menatap Rara dengan tekad baru. "Besok, kita tidak hanya ke panti asuhan. Kita akan melakukan perjalanan. Bukan sebagai kaisar atau pengusaha, tapi sebagai dua orang yang mencari akar dari kekuatan ini."

Rara tersenyum, lalu menggenggam tangan Jek lebih erat. "Ke mana pun kamu pergi, aku ikut. Asalkan kita tidak lupa membawa kopi saset favoritmu."

Di kejauhan, fajar mulai menyingsing di ufuk timur Jakarta. Jek mematikan semua notifikasi hologramnya, benar-benar menutup dunia digitalnya. Untuk pertama kalinya sejak memiliki Sistem, ia merasa benar-benar memegang kendali penuh atas takdirnya sendiri—bukan karena angka-angka di saldo banknya, tapi karena ia tahu ke mana ia harus pulang.

Pagi itu, Jakarta terbangun dalam keadaan yang berbeda. Di layar-layar besar pusat kota, angka-angka bursa saham tidak lagi menunjukkan grafik merah yang mencekam, melainkan garis stabil yang aneh. Berita utama dipenuhi oleh satu topik: "Keajaiban J-Group: Energi Gratis Mulai Mengalir ke 500 Desa Terpencil."

Jek dan Rara sudah meninggalkan penthouse sebelum hiruk-pikuk media mencapai puncaknya. Mereka berada di dalam mobil SUV hitam yang tampak biasa dari luar, namun di dalamnya, Jek telah menonaktifkan semua fungsi pelacakan satelit. Di kursi belakang, hanya ada satu tas ransel berisi pakaian dan alat seduh kopi manual milik Rara.

"Kita benar-benar akan pergi ke sana?" tanya Rara sambil melihat koordinat di ponselnya yang kini terhubung ke enkripsi pribadi Jek. Titik itu berada di sebuah lembah tersembunyi di wilayah Jawa Timur, daerah yang jarang tersentuh peta digital modern.

"Pesan itu menyebutkan 'Pewaris Terakhir'," jawab Jek sambil mengemudi. "Selama ini aku pikir Sistem ini adalah teknologi alien atau eksperimen militer masa depan. Tapi bagaimana kalau ini adalah sesuatu yang sudah ada di sini, terkubur di bawah tanah kita, menunggu seseorang yang cukup 'lapar' untuk membangunkannya?"

Perjalanan itu membawa mereka menembus jalanan aspal yang mulai retak, berganti menjadi jalan tanah berbatu yang dikelilingi hutan jati yang lebat. Semakin jauh mereka masuk, semakin aneh sinyal yang diterima oleh Sistem di kepala Jek. Notifikasi hologram biru yang biasanya tajam, kini mulai bergetar dan berubah warna menjadi kuning keemasan, menyerupai nyala api kuno.

"Jek, lihat," Rara menunjuk ke luar jendela.

Di tengah hutan yang seharusnya sepi, berdiri sebuah gerbang batu besar yang ditumbuhi lumut. Bentuknya tidak menyerupai candi pada umumnya. Garis-garisnya terlalu presisi, terlalu geometris, seolah dipotong menggunakan laser ribuan tahun yang lalu.

Saat mobil mereka berhenti di depan gerbang itu, Sistem Jek tiba-tiba berteriak di dalam pikirannya: "Sinkronisasi Lokal Terdeteksi. Mengunduh Data Protokol Majapahit: Fase Pemulihan Nusantara."

Jek terpaku. "Majapahit?" bisiknya. "Jadi ini bukan soal Mars... ini soal mengembalikan kejayaan yang pernah hilang dengan teknologi yang melampaui zaman."

Mereka turun dari mobil. Suasana sangat hening, hanya suara serangga hutan yang bersahutan. Namun, saat kaki Jek menyentuh tanah di depan gerbang batu itu, tanah di bawahnya bergetar pelan. Pola-pola cahaya keemasan merambat dari telapak kakinya, menjalar ke dinding batu, dan perlahan pintu besar itu bergeser tanpa suara.

Dari kegelapan di balik gerbang, muncul sebuah proyeksi hologram. Bukan berbentuk teks atau grafik digital, melainkan sesosok pria dengan pakaian zirah kuno namun memiliki pola-pola sirkuit cahaya di dadanya. Sosok itu tidak menatap Jek dengan amarah, melainkan dengan pengakuan yang mendalam.

"Kamu datang dengan membawa hati yang tetap manusia, Jek," suara itu menggema, bukan di telinga, melainkan langsung di dalam kesadaran Jek. "Sistem itu bukan alat untuk memperkaya diri, tapi kunci untuk menjaga kedaulatan tanah ini. Sekarang, pilih: apakah kamu akan menggunakan kekuatan ini untuk menguasai dunia, atau untuk melindungi kehidupan?"

Rara menggenggam lengan Jek, merasakan ketegangan yang merambat di tubuh pria itu. "Jek, apa pun yang ada di dalam sana, ingat apa yang kita bicarakan di balkon semalam."

Jek menatap sosok bayangan itu, lalu menatap Rara. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh ketenangan. Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan yang bersinar itu, siap menghadapi kebenaran tentang siapa dirinya sebenarnya dan apa misi sebenarnya dari "Sistem" yang selama ini dianggapnya sebagai keberuntungan semata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!