NovelToon NovelToon
MANTAN ISTRI SATU MILIAR

MANTAN ISTRI SATU MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
​Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
​Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
​Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andalkan diri sendiri

"Bun, minum obat dulu, ya!"

Telaten sekali Aliya merawat Ibu mertuanya. Dalam waktu 24 jam, ia hampir setiap saat selalu siaga disamping perempuan itu. Tak ia biarkan sang Ibu mertua beraktifitas terlalu banyak. Aliya memastikan, perempuan paruh baya itu cukup istirahat dan tidak punya banyak beban pikiran.

Hasilnya pun sudah mulai terlihat. Selama seminggu ini, kondisi Saraswati benar-benar pulih dengan cepat.

"Al, maaf ya... Bunda jadi ngerepotin kamu selama beberapa hari ini," ucap Saraswati selepas meminum obatnya.

Aliya tersenyum. Dia meletakkan botol obat dan juga air minum sang Ibu mertua kembali diatas nakas.

"Nggak apa-apa, Bun. Aku senang kok ngerawat Bunda," timpal Aliya dengan senyuman kecil. "Kan, aku sudah menganggap Bunda sebagai Bunda kandungku sendiri."

Mendengar itu, sudut hati Saraswati terasa menghangat. Perasaannya persis sama seperti Aliya. Dia juga sudah menganggap Aliya seperti putri kandungnya sendiri.

"Al, apapun yang terjadi ke depannya nanti, kamu akan jadi anak Bunda selamanya," lirih Saraswati dengan mata berkaca-kaca.

Tangannya menggenggam tangan Aliya dengan erat. Entahlah! Firasatnya terus mengatakan jika sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi meski Ibas dan Aliya selalu terlihat baik-baik saja.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu yang diketuk perlahan membuat keduanya sontak menoleh. Tepat di depan pintu, Ibas berdiri di sana dengan tubuh yang menempel pada bingkai pintu.

"Apa aku ganggu?" tanya Ibas kepada keduanya.

"Nggak, kok. Masuk, Bas!" ujar sang Ibu mempersilakan.

Ibas pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Dia duduk di samping Aliya namun perempuan itu dengan cepat malah berdiri lalu mundur agak menjauh hingga menempel di dekat jendela.

Ibas sadar jika Aliya sengaja menghindar. Namun, dia berusaha mengabaikan hal itu. Walau bagaimanapun, dia sedang berada di depan sang Ibu. Ia tak boleh memperlihatkan ekspresi yang bisa saja membuat sang Ibu jadi curiga.

"Al, kok malah cepat-cepat berdiri?" tanya Saraswati kepada menantunya.

"Maaf, Bun," ucap Aliya. "Tadi, di tempat aku duduk agak basah."

"Kamu lagi nggak berusaha menghindar dari Ibas, kan?"

Aliya tersenyum kemudian menggeleng. "Mana mungkin," sahutnya.

Sementara, Ibas memilih tak berkomentar banyak. Perasaannya terasa ganjil melihat tingkah Aliya yang terasa semakin menjauh.

Walau Ibas sudah berusaha menjalin hubungan baik, namun Aliya terus menghindarinya. Sepertinya, perempuan itu tak mau lagi menjalin hubungan apapun dengan Ibas setelah bercerai.

"Bas, ada apa? Kamu ada perlu sama Bunda?" tanya Saraswati yang memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya kepada putranya.

"Gini, Bun... Nanti malam, Ibas izin bawa menantu kesayangan Bunda keluar jalan-jalan, ya!"

Mata Aliya tampak membulat karena kaget. Apa-apaan ini? Jalan-jalan? Jalan-jalan kemana?

"Kemana, Bas?" tanya sang Ibu lagi.

"Cuma ngumpul-ngumpul sama teman-teman lama Ibas kok, Bun. Boleh, kan?"

"Boleh, dong!" sahut sang Ibu senang.

"Mas, aku kayaknya nggak bisa, deh. Aku..."

"Ikut aja, Al!" potong sang Ibu mertua cepat. "Jarang-jarang kan, Ibas ngajakin kamu?"

"Tapi, Bun..."

"Kamu nggak usah takut! Kalau Ibas berani bikin kamu sedih, kamu telfon Bunda aja! Biar Bunda yang marahin dia."

"Terus, Bunda gimana?"

"Sebentar lagi Ayah kalian akan pulang. Bunda nggak akan kenapa-kenapa."

Aliya menghela napas putus asa. Dia berusaha menolak namun sang Ibu mertua malah memaksanya untuk ikut.

Mau tak mau, Aliya terpaksa ikut bersama Ibas. Meski, dia tahu jika Ibas pasti mengajaknya karena ada sebab.

"Malam ini, Nadia juga akan datang."

Ucapan Ibas terdengar singkat dan sedikit canggung. Pria itu sedang berganti pakaian. Sementara, Aliya duduk di depan meja rias untuk berdandan sedikit karena Ibas berkata jika malam ini adalah pesta ulang tahun salah satu sahabatnya.

Tak sepatah kata pun yang Aliya lontarkan dari mulutnya. Perempuan itu hanya diam. Terus fokus merias wajah dengan ekspresi yang terlihat datar.

"Aku harap, kamu bisa ngerti. Mungkin, di pesta nanti aku nggak akan terlalu perhatian sama kamu."

"Nggak apa-apa," timpal Aliya. "Asal Mas Ibas bisa tepati janji, aku nggak ada masalah."

"Kamu tenang aja! Aku pasti akan tepati janjiku," ujar Ibas dengan mantap.

Aliya hanya tersenyum tipis. Menepati janji? Sepertinya, Aliya sedikit ragu. Akankah ucapan Ibas bisa dipegang?

.....

Pesta ulang tahun sahabat Ibas diadakan di sebuah ruang VIP di salah satu tempat karaoke paling bergengsi di ibu kota.

Aliya dan Ibas sudah tiba di sana. Keduanya terlihat serasi dalam balutan pakaian dengan warna yang senada. Sama-sama berwarna hitam.

"Mas Ibas masuk duluan aja! Aku mau ke toilet sebentar," ujar Aliya sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan, tempat dimana teman-teman Ibas sudah berkumpul.

"Didalam juga ada toilet. Kenapa nggak didalam aja?" tanya Ibas.

"Nggak apa-apa. Aku ke toilet yang di sana aja," sahut Aliya.

Dia belum sepenuhnya siap. Bertemu dengan teman-teman Ibas mungkin bukan hal yang cukup menyenangkan baginya. Apalagi, didalam sana juga ada Nadia.

Dan, Aliya bisa menebak. Pasti, teman-teman Ibas akan lebih berpihak kepada Nadia dibanding kepada dirinya mengingat mereka adalah kenalan lama.

Untuk itu, Aliya butuh menyendiri sebentar sebelum terjun ke medan perang. Dia harus mempersiapkan mentalnya terlebih dulu.

"Ayo, Al! Rumusnya sederhana aja. Mereka baik, kamu baik. Mereka ramah, kamu ramah."

Aliya tersenyum. Melatih ekspresi wajahnya agar bisa tersenyum senatural mungkin.

"Gimana rasanya nikah sama cewek kampung itu, Bas? Seru, nggak?" tanya Raka, teman Ibas yang malam ini sedang berulangtahun.

Degh!

Aliya yang baru saja mendorong sedikit pintu ruangan itu langsung mematung di tempat. Dari celah sempit yang tak lebih dari lima belas centi meter itu, dia berusaha menguping pembicaraan Ibas dan teman-temannya.

"Ngapain masih nanya sih, Ka?" timpal Evan, sahabat Ibas yang lain. "Jelas nggak enaklah! Lo nggak ingat, gimana ekspresi jijik Ibas pas ijab Kabul mereka? Kalau bukan demi uang, mana mungkin Ibas mau nikah sama cewek kampungan itu. Udah bau, norak, miskin lagi!"

Hahahaha!!

Semua orang tertawa. Sementara, Ibas hanya menyunggingkan senyum kecil.

Namun, senyuman kecil di sudut bibir Ibas sudah cukup menghancurkan sisa perasaan yang masih Aliya simpan untuk pria itu. Kini, cintanya benar-benar mati. Terkubur bersama sosok Ibas yang dulu pernah Aliya kenal saat zaman putih abu-abu.

"Kalian jangan gitu sama Aliya, dong! Kalau dia dengar, gimana?" celetuk Nadia. Terdengar membela, tapi sebenarnya dia sedang memancing sekelompok pria itu untuk semakin memojokkan Nadia.

"Biarin aja dia dengar. Justru, itu bagus, kan? Setidaknya, dia harus tahu diri. Ibas itu punya kamu. Tapi, dengan lancangnya dia malah rebut Ibas dari sisi kamu."

"Aku nggak apa-apa," sahut Nadia. "Meski, Aliya adalah istri sahnya Ibas, tapi aku tetap perempuan yang paling dia cintai. Iya kan, Bas?" tanya Nadia sambil memeluk erat lengan Ibas.

Kepalanya dia sandarkan di bahu pria itu. Sementara, senyumnya terpatri indah di wajahnya.

"Ehm," angguk Ibas. Entah kenapa, hatinya sedikit tak terima saat teman-temannya menghina Aliya. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa.

Dia tak mau Nadia salah paham jika dia tiba-tiba membela Aliya didepan teman-temannya.

"Bas, sekarang Nadia udah balik. Jadi, kapan kamu akan ceraiin si cewek kampung itu?" tanya Raka lagi.

"Nggak lama lagi, kok," jawab Ibas.

"Cewek kampung itu nggak akan coba bunuh diri saat Lo ceraiin, kan?"

"Itu nggak mungkin. Aliya..."

"Dia nggak akan bunuh diri," sambar Nadia cepat. Perempuan itu tak akan membiarkan Ibas membela Aliya.

"Ibas udah janjiin dia uang satu miliar sebagai bentuk kompensasi perceraian. Apa kalian pikir, Aliya akan menolak uang sebanyak itu?"

"Wah, si cewek kampung ternyata matre juga, ya?"

"Namanya juga cewek kampung, ya pasti matre lah, Ka. Kenapa masih kaget, sih?"

"Kalau gitu, apa dia mau naik ke tempat tidur gue kalau gue kasih dia duit seratus juta?"

"Lo mau sama bekasnya Ibas, Ka?" tanya Evan dengan mata membulat.

"Bekas nggak apa-apa. Asal goyangannya mantap aja, Bro! Apalagi, mukanya juga lumayan, kan? Bodynya apalagi. Beuhhhh..." sahut Raka.

"Bisa diatur. Nanti, aku yang akan bicara sama Aliya buat nego harganya. Gimana?" timpal Nadia.

Dan, mereka semua tertawa kecuali Ibas. Telapak tangan Ibas mengepal erat. Dia baru saja hendak berdiri untuk memperingatkan Raka namun seseorang jauh lebih cepat bertindak dibanding dirinya.

Prang!

Sebotol minuman mendarat telak dan hancur berkeping-keping diatas kepala Raka. Pelakunya... tentu saja Aliya.

"Anj!Ng!!" teriak Raka murka. "Siapa yang berani ngelakuin hal kayak gini ke gue?" pekiknya dengan amarah yang menggunung.

"Aku," jawab Aliya dengan suara bergetar karena amarah.

Matanya yang memerah menatap nyalang ke sekelompok manusia tak bermoral itu. Tak ada yang bisa melindungi harga dirinya selain dia sendiri.

Ya, yang bisa Aliya andalkan hanya dirinya sendiri. Karena, kali ini Ibas tak akan melindunginya lagi seperti dulu.

1
RaDja
terima kasih
Kar Genjreng
mantan mertua sangat bijak mana orang tua yang tega anak perempuan di sakiti oleh laki laki yang menamakan suami,,,maka walupun hanya anak menantu ada ko mertua yang baik.jadi mau menang sendiri untuk melepas wanita yang pernah menjadi menantu,,,karena memang baik si
Ilfa Yarni
kemana Alta pergi ya semoga kedepannya km bahagia ya alya
Ilfa Yarni
bagus
mariammarife
pergilah Aliya carilah kebahagiaan mu sendiri
Aidil Kenzie Zie
Jalang tetiak jalang
pelacur teriak pelacur
Kar Genjreng
jadi mau kejar Aliya sampai ke ujung Dunia Bas. nah coba sadar dari bulan bulan yang lalu sebelum memberi talak malah selalu memanas manasin dengan nadia coba lihat beruntung orang tua Lo masih ada Semua,,,dan coba orang tua mu ga mau punya menantu tukang tipu alias ngibul. yang hanya menginginkan uangnya Ibas saja,,,jangan jangan sengaja ayah pindahin Ibas kerja di luar kota ,,,sedangkan Aliya masih di rumah orang tua Ibas

👍
Ilfa Yarni
dbagualah km cepat sadar berarti kmrn2 km salah orang mengira pacar osetama km nadia tp ternyata naqiya atau alya ya udah km hrs semangat kejar alya lg
Ilfa Yarni
mah lo iBas ternyata aliya perempuan yg km cinta knp ingatan lama banget kembalinya
Kar Genjreng
kejang Lo basss!!! ternyata Ibas pernah kecelakaan dan ketika SMA justru naksir nya Aliya tetapi ga tau nya salah ejaan huruf
mariammarife
lebih baik kalian cerei aku lebih setuju Aliya sama Aufar
Kar Genjreng
nadia juga takut kehilangan ATM berjalan' nya ,,,,kan itu cita cita Nadia bersedia jadi kekasihmu bas ,,,bahkan rela kencan buta perempuan ,L**<***** nat itu baru calon istri idaman Ibas berkelas orang kota ga taunya kotak kotak otaknya ,,,,mana ada calon menantu memaki calonertua h
Ilfa Yarni
perempuan seperti itu yg ibad cinta lihat apa yg dia lakukan pd orang tuamu kolabs kam
Kar Genjreng
jadi Aufar tau siapa Aliya yang telah menolong Ibas,,,Ibas pernah. Oneng kah ahemm ya 😁 kasian Aliya sekarang pergi jauh biar Ibas sadar sesadar nya,,,, sekarang baru rasa tu kekasihl Lo yang mulutnya jahat juga yang berpura pura naik manis tetapi manis ya gula biang jadi semu pait,,,dan bila sampai Mama mu tau Aliya kabur dan membawa luka tak berdarah alamat. menjadi anak yang di buang oleh orang tua Lo bas
Ilfa Yarni
semakin penasaran dgn ceritanya lanjut thor
Kar Genjreng
Aufar kenal Aliya berarti teman nya juga kah ketika SMA kayanya di masa lalu sudah menaruh hati terhadap gadis cantik Aliya cuma belum ada kesempatan mungkin ya,,,,semoga Aufar berbeda dari yang lain,, suka menghina dan membully
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
Ilfa Yarni
kokaufar kaget iBas sebut nama aliya siapa aufar
Kar Genjreng
Afar ahhh pria yang baik ya beda sama yang lain suka ngebully dan suka menghina orang kampung,,,,justru orang kota malah kampungan Ibas nyawamu di ujung jari Aliya ya Lo juga harus maklum dengan teman Lo bas,,,, karena mereka kan didikan lo semua kan bermuka dari lo
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺
Kar Genjreng
Benar Al siapa lagi yang akan melindungi mu kalau bukan kamu sendiri. ada juga bencis berani pada di mulut saja tanpa cari tau kebenaran nya ,,,justru orang kampung lebih berharga di banding yang menganggap baik dan suci orang yang luar negri,,,,justru lebih mata duitan tapi
ya sudah Al biarin saja mulut bencis akan berkata apa ,,,😭
mariammarife
tunjukkan taring mu Aliya bahwa kau bukan wanita lemah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!