Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Official Jadian?
Sementara itu, di tempat lain.
Aira baru saja keluar dari kamar Oma Alisia, kedua tangannya masih hangat habis memijat wanita paruh baya itu. Tapi pijatan tadi jelas bukan dari kebaikan hati semata karena di genggamannya kini ada lembaran merah yang jumlahnya tidak sedikit. Oma Alisia memang tidak pernah nanggung kalau soal bayar.
Langkahnya lebar, kakinya bahkan sesekali melompat kecil di sepanjang koridor menuju kamarnya.
Begitu pintu kamar terbuka, Aira langsung melempar tubuhnya ke atas kasur tanpa basa-basi. Kedua tangannya terentang, dan uang itu dia hamburkan ke atas begitu saja, membiarkannya jatuh berhamburan mengenai wajahnya sendiri.
"Yuhuuu, aku kaya!"
Tawanya meledak sendiri di langit-langit kamar.
Dua juta. Tidak buruk untuk sepasang tangan dan satu jam kerja keras. Aira bangkit duduk, menghitung sebentar sebelum dengan sigap memasukkan semuanya ke dalam dompet, lalu menyelipkannya rapat-rapat di dalam tas sekolah.
"Kalau begini terus, aman ATM-ku!" gumamnya terkikik geli.
Setelahnya dia kembali bersandar ke headboard ranjang, menarik laptop ke pangkuannya dan membukanya cepat. Jelas hanya ada satu tujuan, yaitu mengirim pesan untuk prianya yang Sudah cukup lama tidak dia ganggu hari ini.
Tapi sebelum jarinya sempat membuka room chat-nya bersama Leonel, matanya tertahan pada notifikasi grup kelas yang tiba-tiba meledak ramai.
Aira mengerutkan dahi. Tumben.
Lebih anehnya lagi, namanya di-tag berkali-kali oleh orang yang berbeda-beda.
"Apaan sih, pada bahas apa coba?"
Rasa penasarannya yang memang tidak pernah bisa diam langsung menyeret jarinya masuk ke dalam grup. Dia mulai menggulir, membaca satu per satu, hingga sampai di pesan paling atas dan jarinya berhenti.
Dadanya tiba-tiba sesak.
"Apa-apaan ini!!"
Laptop itu menjauh dari pangkuannya, didorong sebentar, tapi kemudian ditarik lagi karena matanya masih belum percaya pada apa yang baru saja dilihatnya.
"Ini... Leonel sama Cleo? Seriusan?"
Foto itu terpampang jelas. Leonel memakaikan helm pada Cleo, tangannya menyentuh tali pengikat helm di bawah dagu gadis itu dengan hati-hati. Gestur kecil yang terlihat begitu intim, begitu berbeda dari Leonel yang selama ini bahkan tidak sudi menanggapi satu pun dari semua hal yang sudah pernah Aira lakukan.
Kontras itu menghantamnya tepat di dada.
Belum cukup, notifikasi dari laman media sosial sekolah ikut berdatangan. Aira membukanya dengan tangan yang sudah tidak setenang tadi. Dan di sana, sama seperti di grup kelas, semua orang sedang membicarakan hal yang sama.
Foto berikutnya bahkan lebih parah. Cleo naik ke motor Leonel, kedua tangannya melingkar di pinggang pemuda itu dari belakang, wajahnya bersandar nyaman. Caption-nya pendek tapi cukup untuk membuat darah Aira mendidih sampai ke ujung kepala.
Leonel dan Cleo, akhirnya official jadian.
Kolom komentar sudah penuh sesak. Sebagian besar menyambut dengan antusias, tapi sebagian lainnya jelas tidak terima, dan Aira bisa menebak tanpa perlu berpikir panjang bahwa itu semua adalah orang-orang yang selama ini ada di pihaknya.
Tapi itu tidak membuatnya merasa lebih baik sama sekali.
"Ini bohongan, jangan pada percaya. Leonel itu milik Aira, bukan orang lain, apalagi Cleo!"
Jarinya mengetik cepat tanpa pikir panjang, langsung membalas komentar di sana. Tidak butuh waktu lama, balasannya langsung diserbu. Komentar baru berdatangan bertubi-tubi, sebagian memanas, sebagian mengejek, dan semuanya datang dari mulut-mulut murid Manggala High School yang jelas tidak mau kalah.
Aira menutup laptopnya keras.
Tidak mood.
"Leonel," desisnya, rahangnya mengatup, wajahnya sudah merah entah karena amarah atau karena efek datang bulan yang memang dari tadi sudah membuat suasana hatinya tidak karuan, "kalau kamu benar jadian sama Cleo, jangan harap hubungan kalian tenang."
Ponselnya dia letakkan begitu saja di samping bantal. Niat mengirim pesan ke Leonel tadi sudah menguap entah ke mana. Moodnya terlalu hancur untuk itu sekarang.
...****************...
Leonel kembali ke kamarnya setelah makan, pintu tertutup pelan di belakangnya.
Matanya jatuh pada ponsel di atas ranjang. Dia menatapnya sebentar dari tempat dia berdiri, tidak langsung menghampiri, seolah memberi jarak adalah cara untuk berpura-pura bahwa dia tidak peduli.
Tapi akhirnya dia mengambilnya juga.
Tidak ada pesan masuk. Layarnya bersih, sunyi, sama seperti tadi sebelum makan.
Aira benar-benar tidak mengirim apapun kali ini.
Leonel meletakkan ponselnya kembali, sedikit lebih keras dari yang perlu. Dia berdiri sebentar di tepi ranjang, menghela napas panjang, kemudian memutuskan untuk mandi. Setidaknya itu sesuatu yang bisa dilakukan selain berdiri diam menunggu notifikasi yang tidak kunjung muncul.
Di bawah air yang mengalir, pikirannya tetap tidak benar-benar pergi ke mana-mana.
Tidak lama kemudian Leonel keluar, rambut masih setengah basah, handuk tersampir di bahu. Langkahnya masuk kembali ke kamar, dan tanpa sadar, tanpa benar-benar berniat melakukannya, matanya langsung mencari ponsel di atas ranjang.
Masih sunyi. Dia menghembuskan napas pelan, duduk di tepi ranjang, menatap layar yang gelap itu lebih lama dari yang seharusnya.
Dengan gurat wajah yang tampak sangat terpaksa, Leonel akhirnya memberanikan diri mengirim pesan lebih dulu kepada Aira. Pesan yang ia kirim pun sangat absurd, hanya sebuah tanda titik.
Bibirnya terangkat tipis saat melihat status di layar ponselnya berubah, gadis di seberang sana sedang mengetik. Leonel menunggu dengan sabar. Namun, status sedang mengetik itu terus bertahan lama tanpa ada satu pun pesan yang benar-benar mendarat di layarnya.
"Dia ngetik apa sepanjang ini?" gumam Leonel, mulai merasa heran.
Hingga akhirnya, sebuah balasan dari Aira muncul setelah penantian yang cukup lama. Isinya hanya,
"APA?"
Leonel mengernyit, menatap layar dengan tatapan tidak percaya. "Dia mengetik selama itu hanya untuk menulis satu kata yang isinya cuma tiga huruf?" protesnya, merasa tidak terima.
"Maaf, salah kirim!" balasnya cepat melalui ketikan, sebelum akhirnya melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...