Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Kencan pertama.
Malam itu Nala baru saja selesai mandi setelah beberapa jam lalu pulang dari agency. Tubuhnya masih terasa lelah karena seharian bekerja tanpa henti. Hari ini ia memang pulang lebih awal, sekitar pukul empat sore. Biasanya ia baru meninggalkan kantor menjelang pukul sebelas malam setelah lembur panjang.
Berulang kali ia menatap layar ponselnya, di mana terpampang foto saat dirinya menerima trofi penghargaan malam itu—trofi yang diberikan langsung oleh Junho sebagai juri tamu dalam acara penghargaan penulisan internasional tersebut.
Lalu pikirannya melayang pada kejadian pagi tadi, saat Junho menyatakan perasaannya kepadanya. Senyum kecil perlahan terbit di bibirnya. Tanpa sadar tangannya terangkat menyentuh kalung yang diberikan Junho pagi itu. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana pria itu memasangkan kalung tersebut di lehernya, dan bagaimana kemudian ia diminta memasangkan kalung yang sama pada leher Junho.
"Ya Allah... kalau ini mimpi, jangan bangunkan aku," ujarnya lirih sambil tersenyum manis, matanya masih terpaku pada liontin kecil yang berkilau samar di bawah cahaya lampu apartemen.
Di tengah keheningan apartemen itu, tiba-tiba perutnya berbunyi pelan—tanda bahwa ia sudah sangat lapar. Hari ini ia melewatkan makan siangnya karena harus menghadiri rapat panjang bersama beberapa tim kreatif lainnya. Untungnya Nala sempat memasak sebelum mandi.
Dengan langkah tenang ia berjalan menuju meja makan. Namun langkahnya terhenti ketika bel apartemen berbunyi.
Selama tujuh bulan tinggal di sana, Nala hampir tidak pernah kedatangan tamu. Jika ada yang datang, biasanya hanya kurir makanan atau pengantar paket. Tapi kali ini ia tidak memesan apa pun.
Lalu siapa?
Walaupun ragu, Nala tetap melangkah menuju pintu. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Namun akhirnya ia menarik napas pelan dan membuka pintu itu.
Awalnya ia hanya mengintip sedikit. Namun begitu pintu terbuka lebih lebar, tubuhnya langsung mematung.
Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan hoodie yang menutupi kepalanya dan masker hitam menutupi setengah wajahnya.
“Hai…”
Suara itu begitu lembut, nyaris tenggelam di antara dengung mesin pendingin ruangan dan detak jantung Nala yang tiba-tiba berpacu lebih cepat.
Cahaya hangat dari lorong apartemen menyorot samar wajah di balik masker hitam dan tudung hoodie abu-abu itu—namun Nala tak perlu menebak dua kali untuk tahu siapa yang berdiri di hadapannya.
“Junho-ssi…?” suaranya terdengar nyaris seperti bisikan.
Pria itu mengangguk pelan. Matanya tersenyum lembut, seolah khawatir sekaligus tak sabar melihat reaksi Nala.
“Aku tak bermaksud membuatmu terkejut, tapi… bolehkah aku masuk sebentar?” tanya nya yang membuat refleks Nala melirik kanan dan kiri, memastikan tak ada tetangga yang keluar dari unit lain.
Ia cepat menarik pria itu masuk, lalu menutup pintu rapat-rapat. Begitu pintu tertutup, keduanya berdiri diam di ruang tamu yang remang.
Untuk beberapa detik, hanya ada suara jam dinding berdetak pelan.
“Aku… tidak tahu harus bilang apa, kau datang tiba-tiba seperti ini…” ucap Nala akhirnya, dengan nada gugup yang berusaha ia sembunyikan.
Junho menurunkan maskernya, menampakkan senyum yang sehangat sore musim semi, wajah tegas nya terlihat manis ketika lesung pipi nya muncul ketika tersenyum.
“Aku tahu ini tidak sopan. Tapi setelah seharian… aku terus memikirkanmu. Aku pikir, jika aku tidak melihatmu malam ini, aku tidak akan bisa tidur. Jadi aku putuskan untuk datang,” ujar nya yang mana kata-katanya sederhana, tapi cukup untuk membuat jantung Nala berdebar nyaris tak karuan.
Ia menunduk pelan, mencoba menyembunyikan rona merah yang mulai merekah di wajahnya.
Junho tersenyum kecil melihat reaksi itu. Ia membuka tas selempang kecil yang dibawanya, lalu mengeluarkan sesuatu — sebuah kotak kue berwarna krem yang dihiasi pita putih.
“Aku tadi mampir ke toko roti langganan di Gangnam,” ujarnya, suaranya sedikit pelan. “Aku pernah tak sengaja mendengar mu bicara dengan staf lain jika kamu suka hal-hal manis tapi bukan yang terlalu manis, kan? Mereka baru saja buat honey chiffon cake. Katanya rasanya ringan. Aku ingin kamu mencobanya,” ujar nya sembari menyodorkan kotak kecil tersebut.
Hal itu membuat Nala terpaku. Ia tak menyangka idol besar seperti Kim Namjunho datang ke apartemennya… hanya untuk membawakan kue. Ia menerima kotak itu perlahan, jemarinya bersentuhan sekilas dengan tangannya. Sekejap, waktu seperti berhenti.
“Terima kasih Junho-ssi… ini, sangat tidak perlu repot-repot sebenarnya,” gumam Nala, berusaha tenang. Junho hanya menggeleng ringan.
“Untukku, hal kecil seperti ini justru menyenangkan. Karena… aku bisa melakukan sesuatu untukmu. Ouh ya, sudah aku bilang jika kita berdua jangan bicara formal dengan ku. Panggil aku Oppa,” Ujar nya yang akhirnya membuat Nala mengangguk canggung.
Junho kemudian menatap sekeliling apartemen Nala — rapi, sederhana, tapi hangat. Beberapa buku berserakan di meja kecil pemandangan yang sama persis seperti di apartemen nya di mana buku bergeletak di manapun, kertas bertumpuk di meja dekat laptop yang terlihat mati, secangkir teh herbal masih mengepulkan uap, dan di sudut, lilin aromaterapi beraroma lavender menyala lembut. Suasananya membuat waktu seakan melambat.
“Tempatmu terasa… damai, aku rasa mulai hari ini kita akan sering bertemu, terutama di sini,” ujar Junho jujur.
Nala tertawa kecil, gugup namun tulus.
“Kau terlalu memuji. Ini hanya apartemen kecil untuk pekerja biasa,” ujar nya yang membuat Junho menggeleng pelan.
“Bagi seseorang yang kucintai, tidak ada yang ‘biasa’, ini luar biasa chagiya.”
Ucapan itu keluar begitu saja, tanpa tekanan, tanpa keraguan. Dan justru karena itu — rasanya lebih dalam dari apa pun. Nala menatapnya sesaat, lalu buru-buru berpaling, berpura-pura sibuk menyiapkan dua piring dan memotong kue yang baru dibawa Junho.
“Duduklah, kita makan bersama. Tapi hanya sebentar, karena… aku tidak ingin paparazi tahu kau ke sini,” ujar nya sembari menyodorkan potongan cake tersebut, Junho menerimanya sembari tertawa kecil.
“Aku sudah memastikan aman. Aku memarkir mobil di blok belakang dan naik tangga darurat. Bahkan manajer Han pun sudah aku beritahu,” ujar nya yang membuat Nala terhenti sejenak.
"Apa tidak masalah seperti itu? Maksud ku apa tidak berpengaruh pada pekerjaan mu?" Tanya Nala.
Dia takut jika hubungan ini akan menghancurkan apa yang telah di bangun dari nol oleh pria di hadapannya itu, tapi Junho menggeleng tenang.
"Perusahaan sudah tahu maka semuanya akan baik-baik saja, mereka aka melindungi kita," ujar nya yang membuat Nala mengangguk pelan.
Dia teringat pada ucapan Jeongin tempo hari, di mana jika ada idol yang menjalin hubungan maka agency akan menutup nya rapat-rapat.
“Aku pernah dengar tentang itu, dan sekarang aku mengalaminya sendiri,” Nala memegangi keningnya, antara gemas dan tak percaya.
“Kita mengalaminya,” balas Junho lembut mengoreksi ucapan Nala.
Keheningan hangat menyelimuti ruangan itu. Mereka duduk berhadapan di meja di ruang makan, hanya diterangi cahaya kuning temaram dari lampu gantung kristal.
Nala memotong sepotong kecil kue, menyuapkannya perlahan ke mulut, lalu menatap Junho yang menunggu reaksinya dengan ekspresi cemas seperti anak kecil.
“Rasanya… enak,” ucap Nala, tersenyum lembut.
Junho ikut tersenyum lega lalu ikut menyuapkan cake nya, tapi pandangan nya tetap tertuju pada Nala yang terlihat begitu menikmati cake tersebut. Awalnya dia ragu Nala akan suka tapi ternyata semua ini tidak seburuk pikiran nya.
“Syukurlah. Aku takut rasanya aneh. Aku tak punya keberanian untuk memberi kesan buruk di pertemuan pertama kita setelah… pagi tadi,” ujar nya yang membuat Nala terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Ini apa?" Tanya Junho.
Pandangan pria itu jatuh pada makanan di meja, Nala yang memang tadi dia ingin makan tapi tertunda karena kedatangan Junho.
"Itu soto mie," ujar Nala yang membuat Junho terdiam lama.
"Apa itu?" Tanya nya bingung seolah asing mendengar nama makanan ini.
"Ini makanan khas Indonesia, tepat nya dari Jawabarat. Kalau di sini mungkin seperti Jjampong atau Ramyeon," ujar Nala yang membuat Junho terdiam lama, melihat makanan di mangkuk itu.
"Eum... Apa enak?" Tanya nya bingung yang membuat Nala mengangguk pelan.
"Menurut ku iya, mau coba? Aku masak sendiri," ujar Nala yang membuat Junho mengangguk.
Nala mengambil sendok baru lalu menyendok soto tersebut, mengipas nya dengan tangan sebelum menyuapkan nya pada Junho. Pria itu terlihat tertegun melihat sendok itu sebelum akhirnya dengan berani mencoba makanan yang menarik perhatiannya itu.
Junho menguyah pelan, mata nya terpejam hingga akhirnya dia tersenyum lembut lalu berkata.
"Benar benar mirip Jjampong, apa ini daging sapi?" Tanya nya yang membuat Nala mengangguk.
"Iya... Aku muslim jadi tidak bisa sembarangan makan," ujar nya, Junho mengangguk dia pernah mendengar tentang ketat nya aturan di agama itu, dia menatap Nala ragu sebelum akhirnya berkata.
"Aku rasa aku suka itu," ujar nya yang membuat Nala tersenyum lalu mengambil mangkuk kecil dan memisahkan nya untuk Junho.
"Makan lah... Aku senang kamu suka," ujar Nala yang membuat Junho mengangguk. Ada kejanggalan, tapi bukan yang canggung — melainkan manis.
Canggung yang ingin mereka biarkan tetap ada, karena entah kenapa, itu membuat semuanya terasa nyata.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya nya yang membuat Nala yang sedang memakan cake nya menoleh pelan.
“Tentu,” jawab Nala hati-hati.
“Sejujurnya… apa yang kamu pikirkan tentangku, Nala?” kata nya.
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba hingga Nala tak sempat mempersiapkan diri. Ia menatap pria di hadapannya — sorot matanya tenang tapi menyala lembut. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang membuat jantung Nala bergetar pelan.
“Aku… " Nala berhenti sejenak, menarik napas panjang. “Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi setiap kali melihat mu, aku merasa seperti hidup dalam dunia yang sedikit lebih indah dari biasanya. Dan itu… menakutkan,” ujar nya yang membuat Junho tersenyum kecil, lalu beranjak dari kursinya.
Ia berdiri di hadapan Nala, membungkuk sedikit, lalu menatap matanya dengan penuh kelembutan.
“Kalau begitu, biarkan aku menjagamu di dunia yang menakutkan itu. Aku tidak menjanjikan kesempurnaan, tapi aku janji tak akan membuatmu merasa sendirian di dalamnya,” ujar nya yang membuat Nala terdiam lama.
Napasnya terasa berat, tapi bukan karena takut — melainkan karena perasaan yang tiba-tiba terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata.
“Oppa…” bisiknya, nyaris tak terdengar.
“Ya?” jawab Junho mengalihkan pandangannya dari makanan yang sedang dia nikmati dengan antusias.
“Terima kasih sudah datang malam ini,” ujar nya yang membuat Junho mengangguk kecil.
“Tidak. Terima kasih sudah menerimaku — dua kali dalam sehari. Dan memasak makanan seenak ini,” ujar nya yang membuat mereka tertawa pelan, dan malam pun terus bergulir, membawa dua hati yang perlahan menemukan ritmenya sendiri.
Di luar, lampu-lampu kota berpendar lembut seperti bintang yang tak ingin tertidur, sementara di dalam, satu kisah baru mulai ditulis — bukan dengan tinta, tapi dengan keberanian sederhana untuk mencintai dan dicintai.
Dan entah bagaimana, malam itu terasa seperti awal dari segalanya entah kebahagiaan atau perjuangan yang tak terbayangkan.
⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹
Setelah selesai menyantap makanan masing-masing kedua nya memilih duduk di kursi balkon, udara malam Seoul berhembus lembut, membawa aroma samar dongbaek (bunga camellia) yang tumbuh di taman kecil depan apartemen.
Lampu kota berpendar seperti ribuan bintang yang turun ke bumi, menari di antara gedung-gedung tinggi yang berdiri megah.
Di balkon kecil itu, dua cangkir teh hangat mengepulkan uap tipis. Nala dan Junho duduk berdampingan di kursi, membiarkan keheningan bekerja untuk mereka. Tak ada yang terburu-buru bicara, seolah dunia tahu malam ini diciptakan hanya untuk mereka.
“Cantik sekali pemandangannya dari sini,” ujar Junho akhirnya, suaranya pelan namun dalam. “Rasanya seperti melihat kehidupan dari kejauhan — begitu ramai, tapi entah mengapa… terasa sunyi.”
Nala menoleh sedikit.
Sorot matanya menangkap wajah Junho yang diterangi cahaya lampu kota — matanya tampak lelah, tapi jujur. Ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang selama ini tak pernah bisa ia lihat dari layar televisi atau panggung.
“Sunyi?” ulang Nala pelan.
Junho mengangguk, menatap ke langit yang nyaris tanpa bintang.
“Menjadi idol itu… indah, tapi juga sepi, Nala. Semua orang mencintaimu, tapi mereka tidak benar-benar mengenalmu. Semua orang memujimu, tapi mereka tidak tahu berapa banyak luka yang kau simpan hanya untuk tetap terlihat sempurna.” Ia menarik napas panjang, lalu bersandar di kursinya.
“Kadang aku merasa hidupku seperti naskah yang sudah ditulis orang lain. Apa yang boleh kulakukan, apa yang tidak. Siapa yang boleh kutemui, bahkan bagaimana aku harus tersenyum.”
Nala diam mendengarkan. Ia tak menyela sedikit pun, hanya menatap profil Junho yang kini memandangi jauh ke arah lampu-lampu kota. Angin lembut meniup ujung rambutnya, dan dalam cahaya temaram itu, sosoknya tampak lebih manusiawi daripada siapa pun di dunia.
“Setiap kali konser berakhir,” lanjut Junho perlahan, “aku melihat ribuan wajah bersorak, memanggil namaku dengan cinta. Tapi setelah semua lampu padam, aku hanya sendirian di kamar hotel, duduk di depan cermin, bertanya — apakah mereka benar-benar mencintai diriku, atau hanya bayangan yang mereka lihat di panggung?”
Nada suaranya tidak getir, tapi tenang — seperti seseorang yang sudah terlalu sering berdamai dengan luka.
Nala menunduk. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa sesak. Ia tahu perasaan itu bukan iba, melainkan kekaguman yang bercampur dengan pemahaman yang begitu dalam.
“Oppa…” ucapnya pelan. “Aku rasa… itu alasan kenapa kau bisa menulis lirik seindah itu. Karena kau tahu bagaimana rasanya kosong, tapi tetap memilih untuk mencintai dunia,” ujar nya.
Junho menoleh, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan — lembut, tapi dalam, seperti laut yang menyimpan ribuan rahasia.
“Dan kamu… Kamu adalah bagian dari dunia itu, chagiya.” ujarnya, senyum tipis mengembang di bibirnya.
Nala tertegun, bibirnya nyaris terbuka tapi tak ada kata yang keluar. Ia hanya menatap pria itu lama, mencoba mengerti bagaimana seseorang bisa bicara seindah itu, tanpa sadar sedang mencuri seluruh detak jantungnya.
Junho menggeser tubuhnya pelan, jarak di antara mereka kini hanya beberapa inci. Udara malam mendadak terasa lebih hangat.
“Boleh aku jujur lagi?” tanya Junho dengan nada rendah.
“Tentu.”
Nala menatapnya.
“Sejak pagi tadi… aku tidak berhenti memikirkan bagaimana rasanya memelukmu,” ujar nya yang mana ucapan itu membuat Nala terpaku.
Detak jantungnya berpacu kencang, tapi sebelum sempat ia bereaksi, Junho sudah perlahan mengulurkan tangannya — memberi ruang untuk menolak jika ia mau. Namun Nala tidak bergerak. Ia hanya diam walaupun sempat tersentak sedikit, membiarkan tubuhnya mengikuti arah perasaan yang bahkan belum sempat ia definisikan.
Dan dalam diam itu, Junho akhirnya menariknya perlahan ke dalam pelukannya.
Pelukan itu bukan milik seorang idol kepada penggemarnya, bukan pula seorang pria kepada wanita yang ia inginkan. Itu pelukan seseorang yang akhirnya menemukan ketenangan setelah bertahun-tahun hidup dalam sorotan yang menyilaukan.
Nala sempat terkejut — tubuhnya menegang sesaat, tapi kemudian ia mulai rileks. Kepalanya bersandar pelan di dada Junho. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu, teratur tapi berat, seolah menulis irama dari perasaan yang tak lagi bisa disembunyikan.
“Aku minta maaf kalau ini terlalu tiba-tiba, tapi aku janji akan melindungi mu apapun yang terjadi, mulai hari ini kita akan berjalan bersama. Kamu dan aku,” bisik Junho di telinganya, suaranya nyaris serak. Nala tidak menjawab.
Ia hanya menggeleng pelan dan berbisik.
"Terimakasih... Aku begitu beruntung," ujar nya yang membuat Junho terdiam lama.
Pelukannya mengencang sedikit, tapi lembut — seolah takut Nala menghilang jika ia melepasnya.
Dari balkon kecil itu, mereka memandangi Seoul yang gemerlap. Dunia di luar terus berputar, tapi di dalam pelukan itu, waktu seakan berhenti.
Tak ada idol dan penulis. Tak ada panggung, kamera, atau sorotan lampu. Hanya dua manusia yang saling menemukan tempat untuk bernafas.
Dan di tengah keheningan malam itu, Nala sadar — ia telah menjadi bagian dari cerita yang tidak pernah ia tulis, tapi perlahan sedang ia jalani.
"Aku dengar kamu akan pulang ke Indonesia?" Ujar Junho memecahkan keheningan yang mulai menyelimuti mereka.
Nala mengangguk, posisi nya masih bersandar nyaman di dada pria itu.
"Ada semacam launching event untuk film yang di adaptasi dari novel ku, aku harus datang sebelum film itu benar benar di rilis," ujar Nala yang membuat Junho diam cukup lama hingga akhirnya berkata.
"Tapi kamu akan kembali ke sini kan?" Tanya nya seolah takut jika Nala akan pergi selamanya.
Hal itu membuat Nala tertawa pelan berusaha mencairkan suasana.
"Tentu saja, aku terikat kontrak dengan agency, sekarang hatiku terikat cinta oleh mu. Tidak mungkin aku tidak kembali," ujar nya membuat Junho mengangguk dia meletakkan dagu nya di kepala Nala, sebelum berkata.
"Itu benar, jika kamu tidak kembali hukuman nya double," ujar nya yang membuat Nala tersenyum lalu mengangguk.
Kedua terus berbincang menghabiskan waktu bersama malam itu untuk pertama kali nya. Taada formalitas taada kebohongan, hanya sebuah kisah yang perlahan di ukir oleh tuhan.