NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suhu dibawah 16 Derajat

Suasana hening di lantai 40, di ruang rapat Adrian duduk di ujung meja, seperti biasa suasana hening para karyawan yang ada di dalamnya merasakan atmosfer yang mencekam dengan perhatian Adrian yang datar tanpa ekspresi.

Rendi mempresentasikan laporan bulanan yang sudah menjadi tanggungjawabnya. Rendi menjelaskan laporan perkembangan distribusi setiap bulannya guna untuk mengetahui progres distribusi perusahaan milik Adrian. Rendi merupakan ketua devisi operasional.

Adrian diam memperhatikan presentasi yang Rendi sampaikan, dengan tatapan dingin dan datar ke arah layar proyektor.

“Bisa dijelaskan kenapa grafik pada bulan ini seperti terlihat garis orang yang hampir mati?” Tanya Adrian membuat suasana menjadi mencekam, yang terdengar setelahnya adalah dentuman jarum jam, dan bunyi AC di ruangan tersebut.

Para ketua devisi yang hadir di ruangan saat itu saling tatap dan tidak berani mengeluarkan suara.

Rendi yang mendapat pertanyaan sekaligus tatapan dingin dari sang CEO membuat keringatan dingin merembes pelan di dahinya.

“Ee.. itu anu pak, itu pak…” ucap Rendi gugup sambil mengusap keringat di dahinya.

“Sejak kapan kamu jadi gagu?” Tanya Adrian dengan nada rendah.

“Ini pak maksudnya ada kendala di bagian pengiriman pak” ucap Rendi dengan cepat.

Adrian menatap Rendi dengan mengerutkan dahinya. Rendi melepas nafasnya dengan pelan mendapat tatapan intimidasi butuh jawaban lebih dan pasti.

“Gini pak, ada kendala lapangan pak. Cuaca akhir-akhir ini kurang bersahabat, sehingga pengiriman mengalami kendala di pelabuhan pak. Dan juga hujan sepanjang hari mengakibatkan proses distribusi terhambat” ucap Rendi lalu menelan salivanya dengan susah payah.

Adrian tidak memberikan jawaban masih dengan tatapannya membuat siapa saja ingin menghilang dari ruangan tersebut.

“Karena adanya kendala cuaca tersebut, sehingga tim kami mengalami kesulitan pak, untuk mendistribusikan barang-barang tersebut pak dalam dua hari pak” lanjut Rendi.

“Apa tidak ada solusi?” Tanya Adrian masih dengan nada rendah. Semua yang hadir di ruangan tersebut diam tanpa kata dan saling tatap.

“Kami sudah berusaha maksimal pak untuk —“ ucap Rendi namun langsung disanggah oleh Adrian.

“Kalau maksimal pasti tidak akan kendala, dan harusnya kamu punya solusi dengan kondisi sekarang ini. Kamu tahu berapa kerugian yang dialami oleh perusahaan?” Ucap Adrian tanpa meninggikan suaranya.

“Tapi pak cuaca saat ini memang lagi —“ Randi berusaha memberikan pengertian kepada Adrian.

“Saya mengajimu bukan untuk memperhatikan kondisi cuaca, saya di sini ingin ada solusi dari tim kalian. Cuaca bukan kendala untuk menghambat distribusi barang kita sampai ke klaen kita, dan dengan kecerobohan kalian tanpa solusi yang jelas terhadap masalah kalian dapat merugikan perusahaan” ucap Adrian dengan nada rendah tapi menekan suaranya.

Adrian membaca secara seksama laporan dari tabletnya.

“Dua hari keterlambatan kamu tau itu sudah merusak kepercayaan klaen kita, dan kerugiannya tidak sedikit” ucap Adrian tegas membuat Rendi semakin menundukkan wajahnya.

“Tahu pak, tapi semua di luar kendali kami —“ ucap Rendi

Adrian mengetatkan rahangnya “Tidak ada yang di luar kendali jika kamu punya rencana yang mantang dan memiliki solusi. Laporan yang kamu berikan ini, meminta saya untuk mentolerirnya? Dan Saya harus memaklumi kamu gagal mendistribusikan semua barang ke klaen kita hanya karena masalah cuaca?" Ucap Adrian mulai menekan suaranya.

“Bukan begitu maksud saya pak —“ ucap Rendi berusaha memberikan penjelasan kepada Adrian.

Adrian menatap datar kepada Rendi, “Baik pak kami akan segera lembur dalam minggu ini secepatnya akan kami revisi laporannya dan mengirim barang-barang kepada klaen kita pak” ucap Rendi dengan cepat karena mendapat tatapan dingin dari sang Bos.

“Lembur hanya menambah biaya operasional” ucap Adrian seketika membuat Rendi menjadi panas dingin di ruangan yang memiliki suhu 16 derajat.

“Efisiensi bukan dikerjakan dengan keringat di akhir waktu, tapi dengan otak diawal rencana” ucap Adrian sambil menggeser tablet miliknya.

“Saya beri waktu kamu dengan tim untuk memperbaiki laporan ini dan saya tidak mau tahu segera lakukan pengiriman barang tepat pada jam 12.00 siang” ucap Adrian dengan santai masih sibuk dengan tabletnya.

Rendi menelan salivanya dengan susah payah, dengan cepat dia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

“Pak sekarang sudah jam 11.10” ucap Rendi dengan pelan

“Kenapa ada apa?” Tanya Adrian dengan santai.

“Baik pak kami akan segera memperbaiki laporan dan melakukan pendistribusian” ucap Rendi

“Bagus, waktumu 50 menit dari sekarang” ucap Adrian berdiri lalu meninggalkan ruang rapat, diikuti oleh asisten pribadinya.

“Ren gimana nih” ucap salah temannya satu devisi.

“Entahlah” ucap Rendi lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

***

Rendi masuk ke ruangan Devisi Opresional, ia melonggarkan dasi yang ia kenakan.

“Semuanya perhatian” ucap Rendi kepada stafnya.

Semua staf yang berjumlah 3 orang itu langsung mengarahkan posisi mereka menatap ke arah Rendi dan Budi.

“Ada apa Ren?” Tanya Iwan yang merupakan sahabat Rendi.

“Kita hanya punya waktu 50 menit dari sekarang, untuk membenahi laporan dan melakukan pendistribusian barang” ucap Rendi tanpa menjawab pertanyaan Iwan.

“Sekarang Pak?” Tanya Maya

“Sekarang Maya” ucap Rendi ketus

“Loh bukannya laporan sudah aku buat sesuai instruksi dari Pak Rendi?” Tanya Maya

“Laporan itu sampah di mata pak Adrian Maya. Pak Adrian tidak mau mendengar alasan kita tentang cuaca dan juga tidak mau tahu soal adanya badai di pelabuhan” ucap Rendi

“Pak Adrian butuh angka yang pasti dari laporan pendistribusian kita, alasan itu tidak diterima oleh pak Adrian, hanya karena terhalang oleh cuaca menghambat semua pesanan klaen” ucap Rendi

“Tapi emang sekarang lagi cuaca buruk pak, nggak mungkin kita paksain untuk tetap mengirim barang ke klaen Pak” ucap Budi

“Kamu nggak dengar tadi di ruangan rapat ucapan pak Adrian, sekarang ini bukan saatnya kita berdebat, kerjakan sesuai dengan perintah pak Adrian, kalau kalian masih tetap mau digaji di sini” ucap Rendi gusar

“Emang dasar ya tu manusia kutub, apa kita harus melawan kehendak alam kalau misalnya ada badai, banjir, gunung meletus” sungut Budi kesal menuju meja kerjanya.

“Budi, kalau sampe nanti jam 12.00 siang ini. Maka saya akan dipecat. Dan kalian akan mendapat ketua baru dan mungkin akan lebih parah. Jadi mari kita benahi bersama laporan sebelum semuanya hancur” ucap Rendi

“Jam 12.00 pak?” Tanya Maya “Nggak bakal makan siang kita nih pak” sungut Maya kesal.

“Maya sudah nggak usah protes, kerjakan apa yang menjadi bagianmu” ucap Rendi mengacak rambutnya.

“Cik, dasar manusia kutub, tingkahnya menyebalkan” ucap Maya, “Mana pesanan Go Foodnya sementara diorder lagi”

“Makannya bisa nanti setelah semua selesai, Ok. Jadi jangan mengeluh kerjakan bagian masing-masing” ucap Rendi dari meja kerjanya.

“Iwan, buka kembali jalur alternatif untuk memungkinkan kita bisa mengirimkan barang” ucap Rendi.

“Siap Bos” ucap Iwan.

“Maya, hitung kembali selisih keuangan jika kita ambil jalur darat, dan kita pakai sub kontraktor lokal buat last Mile Delivery” ucap Rendi

“Baik Pak” ucap Maya.

“Budi tanyakan ke pihak gudang pasokan untuk dikirim hari ini bisa disediakan secepatnya” ucap Rendi

“On proses pak” ucap Budi.

Suasana di ruangan Devisi Operasional mencekam hanya suara keyboard terdengar dari meja kerja masing-masing.

“Pak Rendi jika kita memakai sub kontraktor maka profit kita akan turun menjadi 5%” ucap Maya tiba-tiba.

Mereka semua saling tatap, menunggu jawaban Rendi terkait pernyataan Maya.

“Ok Maya, lanjutkan saja. Lebih baik kita kehilangan profit 5% daripada kita kehilangan kepercayaan 100% dari klien besar kita” ucap Rendi.

“Benar pak Adrian lebih memilih kredibilitas dari pada kebilangan uang” lanjut Iwan

“Setuju, lanjutkan pengerjaannya. Maya jangan lupa memasukkan skema penalti rebound, jelaskan bahwa kita akan mengembalikannya pada kuartal berikutnya dengan efisiensi bahan bakar” ucap Rendi

“Baik pak” ucap Maya.

Hening seketika, mereka kembali fokus dentum detik pada jam dinding memeras otak mereka untuk segera menyelesaikan laporan.

“Pak Rendi, persediaan stok di gudang sudah siap, akan tetapi pihak mereka minta uang lembur, karena ini sudah masuk di bagian perioritas” ucap Budi.

“Waduh jangan lembur Bud” ucap Rendi gelisah

“Kalau nggak ada lembur para sopir pasti tidak akan menyalurkan barangnya pak” ucap Budi

“Iya maksud saya jangan pake kata lembur, kalau memang mereka meminta uang lembur, kita pikirkan untuk pergeseran seperti apa” ucap Rendi

“Baik pak” ucap Budi kembali ke pekerjaannya.

“Kamu tau kan Bud, pak Adrian tidak suka dengan kata lembur, jadi ganti katanya atau kalimat untuk biaya operasional jam kerja non-shift” ucap Rendi.

“Wan, tolong kau buat perbandingan rute tercepat dari A, B, dan C. Pilih yang paling efektif dan gampang dijangkau dengan truk. Hindari kata mungkin atau kendala ya, kau tau seperti apa pak Adrian” ucap Rendi

“Sipppp” ucap Iwan.

30 menit sudah berlalu, tersisa 20 menit mereka masih berkutat di keyboard masing-masing.

Tim Opersional berusaha maksimal dan tetap menjalin komunikasi dengan tim gudang.

“Maksimalkan kerja kalian, kalau tidak ingin dipecat oleh manusia kutub. Jika itu terjadi pilihan kita adalah mencari kerja di perusahaan lain, atau mungkin bisa kita pilih perusahaan saingan si beruang kutub” ucap Budi dengan gaya Kemayunya memecah keheningan.

“Sebaiknya kerjakan apa yang sudah kau mulai Budi, cegah kemungkinan untuk kita di PHK, cari kerja jaman sekarang tidak gampang Budi” ucap Rendi masih sibuk dengan kerjanya.

“Solusi saja pak Rendi, secara tu manusia kutub tidak pernah salah” ucap Budi

“Bisa diam nggak sih Bud. Pusing nih dengar Luu ngoceh” ucap Maya

“Mmm, iya in aja, dikasih solusi malah ngeyel” ucap Budi tidak mau kalah.

Iwan tersenyum dan menggeleng kepalanya menyaksikan ketegangan teman-temannya. Walaupun pak Adrian terkenal dengan ketegasan dan kedispilnannya, tapi Adrian terkenal dengan sosok yang memuliakan karyawannya.

Detak jam di dinding seperti Bom waktu untuk tim operasional yang berusaha untuk memperbaiki laporan yang diminta Adrian.

“Ooo, S*hhhiittt..” teriak Rendi tiba-tiba, sehingga menyebabkan Iwan, Maya, dan Budi menoleh ke arahnya.

“Kenapa Ren?” Tanya Iwan

“MY God, tamatlah sudah kita Wan” ucap Rendi dengan nafas memburu.

“Tamat maksudnya gimana sih pak, jangan buat galau bisa nggak sih” ucap Budi dengan gaya khasnya kemayu.

“CRITICAL ERROR; CONECTION LOSS” ucap Rendi lirih

“WHAT!!!” Sentak ketiganya langsung menuju ke tempat Rendi berada.

“O Tuhan apa lagi ini” ucap Budi setengah menahan tangis

“Klar sudah kita Pak Rendi” ucap Maya Lemas

“Tenang Bro, pasti ada solusi” ucap Iwan kemudian mengutak Atik keyboard milik Rendi.

Iwan terpaku sesaat layar monitor tetap dengan tulisan yang sama. Rendi mengacak wajahnya, kepanikan mulai melanda.

“10 menit lagi, kita tidak punya data yang akan kita tunjukan kepada pak Adrian” ucap Rendi lirih.

Maya bergegas ke tempat duduknya kembali jari-jarinya yang lentik menarik di atas keyboard mencoba solusi untuk Rendi atasannya.

Maya terdiam “Pak Rendi” panggilannya lirih.

“Harapan kita pupus pak” ucap Maya dengan suara bergetar.

“Fix buat surat pengunduran diri” ucap Budi lalu menuju tempat duduknya.

“Bud, jangan gegabah kita pasti ada jalan dari masalah ini” ucap Iwan

“Apalagi solusinya pak Iwan CONECTION LOSS terus apa lagi sama lu May?” Tanya Budi

“Server pusat benar-benar tumbang pak” ucap Maya lirih. “Saya sudah coba by pass pak, lewat sistem cadangan pak, akan tetapi kosong” lanjut Maya.

“Dan lagi kita kehilangan 200 unit barang yang akan didistribusikan pak. Jadi itu menandakan barang itu tidak ada pak” ucap Maya lirih

“S***aallll” Rendi menggebrak meja karena kesal.

“Tenang Broo” ucap Iwan berusaha menenangkan sahabatnya.

“Bagaimana bisa tenang Wan, CONECTION LOSS dengan server pusat yang ada di Singapura. Dan sekarang ada 200 unit barang yang siap dikirim hilang entah ke mana, kita pasti akan kena imbasnya” ucap Rendi dengan nafas memburu.

“Bukannya barang itu ada di gudang Ren?” Tanya Iwan antusias

“Barangnya memang ada di gudang, aku sudah cek di bagian Gudang” ucap Budi. “Akan tetapi sekarang sistemnya yang eror, jelas bukan salah kita lah pak Rendi” ucap Budi

“Dan aku bisa pastikan pak Rendi tu manusia kutub pasti akan beragumen lain kepada kita. Dan dia tidak mau tau tentang data base. Datanya itu harus ada kita laporkan, kalau 200 unit ini hilang, maka nyawa kita juga sekalian akan hilang. Percaya deh”ucap Budi semakin membuat ketegangan diantara mereka.

“Kok loo ngomong gitu sih Bud, harusnya loo memberi semangat kepada pak Rendi” ucap Maya kesal.

“Semangat cuma satu, ayo bareng-bareng kita tulis surat pengunduran diri” ucap Budi

“Cik dasar loo “ ucap Maya kesal.

“Apa kita minta waktu hari ini saja Ren, kepada pak Adrian” ucap Iwan

“Udah gak bisa lagi Wan, pasti Pak Adrian tidak akan menerima alasan kita lagi” ucap Rendi lirih

“Kalau sistem mati kenapa otak Luu juga ikutan mati, kurang lebih manusia kutub ngomongnya seperti itu” ucap Budi spontan membuat Maya dan Iwan melotot ke arah Budi.

“Ada apa dengan mata kalian?” Protes Budi.

Rendi tertawa getir mendengar ocehan Budi.

“Lo kalau ngomong suka ngasal aja ya Maduri” ucap Maya ke tempat Budi dan mencubit mulut Budi.

“Sakit dodol” ucap Budi memukul tangan Maya.

”Lah gue ngomong apa adanya, gue udah tau persis atasan lo manusia kutub itu seperti apa” ucap Budi tak mau kalah.

“Bisa diam gak sih Maduri” ucap Maya kesal menutup mulut Budi.

“Apa sih” ucap Budi melepas tangan Maya dengan kasar.

“Benar apa yang dikatakan oleh Budi, pasti pak Adrian tidak akan menerima alasan apa pun. Dan pasti dia akan menatap kita seperti sampah tidak layak di perusahaannya karena menghambat kerja perusahaan” ucap Rendi lirih.

“Kalian tahu kan ketua operasional sebelum saya dipecat, hanya karena terlambat lima menit mengirimkan barang ke klien berujung pemecatan di depan umum oleh Adrian, tanpa pembelaan atau penjelasan alasan keterlambatan tersebut” ucapnya lirih.

“Pak coba bapak minta penambahan waktu kepada Adrian, karena ini adalah kesalahan sistem, yang artinya dari devisi IT yang harus bertanggungjawab karena server mereka eror” ucap Maya

Rendi menggeleng lemah dan tertawa miris “Kamu minta tambahan waktu kepada manusia kutub itu, sama halnya kamu memaksakan untuk matahari terbit dari barat Maya. Bagi Adrian waktu adalah Tuhan. Telat satu menit itu artinya kita gagal, dan kalau kita gagal maka kita harus pergi” ucap Rendi

“Betul —“ Budi hendak melanjutkan kalimatnya, seolah tahu apa yang disampaikan oleh Budi, Maya langsung membengkap mulut Budi.

“Apa sih Marsinah” ucap Budi kesal

“Lu diam Maduri” ucap Maya tak kalah sengit. Budi hendak berbicara akan tetapi Maya langsung memperingatkan dengan menunjuk ke arah Budi dengan mata yang melotot, akhirnya Budi memilih diam menahan kesal.

“Pak Rendi, tersisa tiga menit” ucap Budi dengan lemas, “Apa kita harus pasrah dengan keadaan ini?” Ucap Budi, selama ini Budi merasa nyaman bekerja di perusahaan Adrian di dalam hati kecilnya ia masih berharap tidak dipecat. Walaupun bekerja dibawah tekanan tapi Budi merasakan sejahtera berada di perusahaan milik Adrian.

“Pak saya sudah siap untuk pergi, surat pengunduran diri saya sudah jadi, saya sudah tidak sanggup untuk menghadap kepada manusia kutub itu, sudah cukup pak saya tidak mau dihina lagi oleh manusia kutub itu” ucap Budi dengan memelas.

Rendi berdiri dengan lemas dan merapikan jasnya. “Biar saya saja yang menghadap kepada Pak Adrian, sudah menjadi tanggungjawab saya semua ini, kalian di sini saja” ucap Rendi dengan nada pasrah

“Broo, gue temani yah” ucap Iwan menahan pundak sahabatnya.

“Gak usah Wan, loo di sini saja” ucap Rendi tersenyum menahan asa di dadanya.

“Kalau saya tidak kembali dalam satu jam, maka saya bukan atasan kalian lagi” ucapnya lirih menatap Maya dan Budi lalu tersenyum. Hening sesaat, kemudian Rendi pergi meninggalkan ruangan yang sudah membesarkan namanya menjadi seorang manager opersional.

Rendi menyusuri lorong yang terlihat sepi, Rendi menuju lift dan menekan tombol angka 40 di mana Adrian berada. Lift bergerak membawa Rendi ke lantai eksekusi. Rasa sendiri menyelimuti perasaannya, tanpa teman, tanpa data, hanya membawa harga diri yang siap dihancurkan oleh Manusia Kutub.

To Be Continue

1
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!