Raka terlahir dengan tubuh lemah, namun suatu hari ia menemukan sebuah bola berwarna putih didalam hutan terlarang yang ternyata adalah sebuah sistem yang bernama sistem dewa.
sejak saat itulah Raka menjadi seorang ahli bela diri yang akan menggemparkan seluruh daratan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irfan Sajilie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Lelang
Malam akhirnya tiba dan paviliun bunga mawar hitam dipadati pengunjung. Seluruh ruangan biasa hingga VIP penuh, bahkan ruangan besar didepan juga penuh sesak.
Raka berada di ruang VIP 1 dan tiba-tiba pintu terbuka.
''bawa masuk'' titah Wisnu yang ternyata datang dengan membawa teh dan makanan mewah beserta dua gadis yang sangat cantik dan menggoda.
''apa anda perlu sesuatu lagi tuan muda?'' tanya Wisnu dengan sangat ramah.
''tidak, ini saja sudah cukup'' geleng Raka lalu acuh tak acuh, sangat terlihat jelas kalau dia tak menginginkan kedua gadis yang disodorkan Wisnu untuk menyenangkannya.
''baik tuan muda'' jawab Wisnu lalu menyuruh kedua gadis yang ia bawa masuk untuk pergi dengan isyarat kepalanya.
'benar-benar pemuda yang sopan dan baik, bahkan tak tergoda dengan yang namanya kecantikan' batin Wisnu kembali takjub, padahal biasanya pemuda berbakat sepertinya akan dengan senang hati menerima wanita yang disodorkan padanya.
Pelelangan pun dimulai dan banyak barang sudah dilelang hingga sebuah tanaman obat menarik perhatian raka.
''buah naga biru'' lirih Raka.
''apa tuan muda menginginkannya?'' tanya Wisnu.
''ya aku mau'' angguk Raka dengan antusias.
Saat ia ingin mengangkat papan nomor lelang, tiba-tiba Wisnu sudah membuka suara.
''tuan mudaku menginginkannya, aku harap yang lainnya berkenan mengalah''
Semua orang menatap kearah suara dan terkejut sebab yang berbicara ternyata si pemimpin paviliun cabang di kota batu, semua orang yang mengenalnya heran sebab selama ini Wisnu tak memiliki tuan muda.
''kudengar orang yang membuat pil tingkat langit adalah seorang pemuda, jangan bilang pemuda itu yang menginginkan herbal itu'' tebak salah satu orang yang ada diruang VIP 2.
Tak hanya orang yang berada di ruang VIP 2 yang berpikiran seperti itu tapi semua peserta lelang juga berpikiran sama sebab kebanyakan peramu obat sangat tergiur dengan yang namanya herbal langka.
Seluruh peserta lelang diam dan kebanyakan mereka menatap ke ruang VIP 1 untuk melihat siapa pemuda yang sangat berbakat tersebut namun mereka tak melihatnya dengan jelas sebab sejak awal dinding pembatas transparan tidak disingkirkan oleh Raka.
''dia memakai topeng dan bisa terlihat kalau dia masih belasan tahun'' ucap salah satu orang tua yang berada di ranah orang suci.
"Belasan tahun, benar-benar monster" takjub salah satu nona muda.
''apa ranahnya itu asli tetua?'' tanya tuan muda yang ada disampingnya.
''asli, dia memang berada diranah jendral tingkat lima'' jawab si tetua.
Karena tak ada yang berani menawar, akhirnya buah naga biru jatuh ketangan Raka.
'memiliki identitas sebagai seorang peramu obat ternyata ada untungnya juga, mereka jadi tak berani bersaing denganku' batin Raka.
Ia berdiri lalu membungkuk hormat pada semua peserta lelang sebagai ucapan terima kasihnya karena mengalah sehingga membuat semua orang senang sebab ternyata sang peramu obat berbakat sangat sopan dan tak sombong sedikitpun.
''benar-benar pemuda yang sangat langka'' ucap beberapa orang yang memiliki ranah yang tinggi, mereka sangat puas dengan sikap Raka.
Akhirnya sesi yang ditunggu-tunggu semua orang tiba juga, para peserta lelang mulai fokus dengan podium di depan.
Seorang wanita cantik naik kepanggung dengan sebuah botol putih porselen.
Semua orang menatap dengan penuh keantusiasan.
Dengan berhati-hati si wanita cantik menuangkan butiran pil kedalam piring putih, seketika bau harum pil obat menyebar di seluruh ruang pelelangan.
''WAAHHHHH'' seruan takjub menggema di seluruh ruangan lelang, banyak peserta yang meneguk ludah dengan keras saat melihat sepuluh butir pil tersebut.
Seandainya tak ingin menyinggung si peramu obat maka dipastikan mereka akan bertempur untuk memperebutkannya.
Mereka juga tak bodoh, pemuda belasan tahun dengan ranah jendral saja sudah membuktikan kalau orang dibelakangnya sangat berpengaruh apalagi pemuda itu sekarang bisa membuat pil tingkat tinggi. Bisa dipastikan pemuda itu berasal dari keluarga kuno yang ingin mengetahui betapa luasnya dunia sehingga mampir ke kota kecil seperti kota batu.
Satu demi satu pil obat tingkat tinggi milik Raka terjual, bahkan Wisnu sendiri hanya mendapatkan satu butir dengan mengeluarkan hampir semua uang yang ia miliki.
Total malam ini Raka menghasilkan seratus ribu lebih batu roh tingkat tinggi sebab pil obat hanya dilelang dengan batu roh tingkat tinggi dan bukan menggunakan koin emas.
''tuan muda anda kaya raya'' celetuk Malik kesenangan seperti dirinya yang mendapatkan uang.
Saat pelelangan selesai, banyak orang ingin bertemu dengan si pemuda peramu obat namun Wisnu tak memberikan izin sebab takut Raka kelelahan karena terlalu banyak orang yang ingin bertemu. Tapi ternyata dia tetap tak berdaya saat pemimpin utama paviliun ingin bertemu.
''kamu sangat beruntung Wisnu'' ucap si pemimpin utama dan diangguki pemimpin cabang lainnya meskipun tak semuanya hadir sebab tak bisa datang mengingat waktunya yang terlalu mepet dan pemberitahuannya yang dadakan.
''hehehe kebetulan saja pemimpin'' kekeh Wisnu.
''aku ingin bertemu dengannya, bisakah?'' tanya si pemimpin utama yang ternyata berasal dari salah satu keluarga kuno yaitu keluarga Pratama, si pemimpin bernama William Pratama.
''akan saya tanyakan dulu'' ucap Wisnu ingin pergi namun segera ditahan oleh Wiliam.
''akan sangat tak sopan kalau memintanya kesini, bawa saja kami kesana'' ucapnya.
''baiklah'' dengan berat hati Wisnu membawa pemimpinnya dan rekan-rekannya menuju ruang istirahat yang disediakan Wisnu untuk Raka sebab merasa penginapan yang di sewa Raka dan kelompoknya sangat tak layak untuk seorang pemuda berbakat seperti Raka.
''siapa nama pemuda itu Wisnu?'' tanya Wiliam.
''Raka Tama'' jawab Wisnu.
'ternyata berasal dari keluarga bangsawan juga' batin wiliam karena Raka memiliki marga.
Di persimpangan jalan, langkah kaki mereka dihentikan oleh sekelompok orang yang ternyata adalah tiga orang suci dan kelompoknya.
''maaf sebelumnya kami menguping pembicaraan kalian, bolehkah kami ikut bertemu dengan si pemuda peramu obat'' ucap salah satu orang suci bukan dengan nada permintaan namun seperti sebuah perintah.
Wiliam sebenarnya tak ingin menerima perintah itu namun ia tidak bisa apa-apa sebab di belakang orang suci itu ada eksistensi yang jauh lebih kuat lagi, apalagi mereka berasal dari akademi terhebat di benua timur.
''tentu saja boleh'' angguk Wiliam.
'huhuhu maafkan aku tuan muda' batin Wisnu meraung didalam hatinya karena lagi-lagi mengganggu waktu Raka.
Beberapa saat kemudian kelompok besar itu sampai didepan sebuah ruangan istirahat yang diperuntukkan untuk kelompok Raka.
Raka yang mengetahui akan kedatangan banyak tamu menjadi santai saja walaupun ada sedikit rasa was-was dihatinya, namun ia harus tetap tenang seolah-olah tak ada yang bisa mengancamnya di dunia ini sehingga membuat orang lain berpikiran bahwa ada orang yang melindunginya.
TOK TOK TOK
Malik, Mina dan Lina sudah sejak awal waspada dengan tangan yang berada disenjata masing-masing.
''masuk'' ucap Raka tenang.
CEKLEK
Pintu terbuka dan masuklah Wisnu.
''tuan muda maaf mengganggu waktu istirahat anda, ada yang ingin bertemu dengan anda'' ucapnya sambil membungkuk hormat.
''hmm masuklah'' angguk Raka.
Satu demi satu masuk kedalam ruangan istirahat yang ditempati Raka. Ruangan yang awalnya sangat lapang menjadi sempit karena saking banyaknya yang datang.
''salam tuan muda'' ucap ketiga orang suci membungkuk hormat.
Meskipun umur mereka sangat terpaut jauh dan bisa dikatakan sangat pantas untuk dipanggil kakek oleh Raka namun seorang peramu obat sangat dihormati walau semuda apapun sebab setiap pendekar selalu bergantung pada mereka.
Yang lainnya juga ikut membungkuk mengikuti ketiga orang suci.
''salam para tuan-tuan, para tuan muda dan para nona muda, silahkan duduk'' balas Raka juga membungkuk hormat.
'ternyata sikapnya sebelumnya tak dibuat-buat' batin beberapa tuan muda dan nona muda.