Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~19 Berkah di bawah langit Jaya Wijaya
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, menyinari atap-atap rumah warga dan jalanan berdebu ibu kota Kerajaan Jaya Wijaya. Namun sebelum sinarnya meninggi, kerumunan manusia sudah memadati alun-alun besar di depan gerbang istana. Kabar telah tersebar sejak kemarin sore: Raja Gustaf akan membagikan berkah bagi seluruh rakyatnya. Tidak ada pembedaan antara kaya atau miskin, tua atau muda, petani atau pedagang—semua berhak mendapatkan bagian.
Di bawah kanopi kain emas dan merah yang dibentangkan megah, Raja Gustaf berdiri tegak. Hari ini ia tidak memakai pakaian perang, melainkan jubah kebesaran berwarna keemasan yang disulam benang perak, melambangkan kemakmuran. Di samping kanannya berdiri Ibu Ratu Permaisuri Ratna, berwibawa dan lembut. Di sisi kirinya... berdiri Layla.
Layla mengenakan kebaya berwarna hijau daun tembakau dengan selendang berwarna emas muda, pakaian yang diserahkan Ibu Ratu khusus untuk hari ini. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi bunga melati rangkaian panjang. Ia tidak memakai perhiasan berlebihan, namun senyumnya yang tulus dan tatapannya yang lembut membuatnya terlihat bersinar, jauh lebih indah dari permata manapun.
Di belakang mereka, berbaris para pejabat, penasehat, serta para permaisuri. Ratu Yasmin dan Ratu Anaya ada di sana, tersenyum ramah namun di balik wajah itu tersimpan rasa yang berbeda. Ratu Anaya diam saja, berusaha menutupi rasa cemburu, sementara Ratu Yasmin menatap Layla dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran iri dan rencana yang sedang dipendam. Jauh di barisan belakang, Pangeran Serasa berdiri diam, matanya tak lepas dari sosok Layla, menahan perasaannya sendiri agar tidak terlihat.
“Rakyatku sekalian!” suara Gustaf menggelegar, terdengar sampai ke ujung alun-alun. “Hari ini Jaya Wijaya tidak merayakan kemenangan perang. Tapi kita merayakan kedamaian dan persaudaraan! Mulai hari ini, tidak ada lagi rasa takut akan pedang. Ada hanya rasa aman dan kebersamaan!”
Tepuk tangan dan sorakan bergema riuh rendah.
Pembagian pun dimulai. Keranjang-keranjang besar berisi beras, gula, garam, dan ikan kering dibagikan. Di meja panjang lainnya, peti-peti kayu dibuka lebar—berkilauan koin emas dan perak yang diserahkan satu per satu kepada setiap kepala keluarga yang maju ke depan.
Namun yang paling menyentuh hati rakyat adalah saat Layla ikut turun tangan. Ia tidak diam berdiri di atas panggung. Ia turun ke bawah, berjalan di antara kerumunan, membantu menyerahkan bingkisan makanan kepada anak-anak kecil, orang tua, dan para janda.
“Terima kasih, Ratu Layla!” seru seorang nenek tua sambil mencium punggung tangan Layla yang diserahkan sebungkus besar makanan. “Kedatanganmu membawa cahaya baru bagi negeri ini.”
Layla tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. “Bukan aku, Ibu. Ini berkat kebijaksanaan Baginda Raja. Aku hanya mewakili kebahagiaan kita semua.”
Gustaf yang melihat itu dari atas panggung, menatapnya lekat-lekat. Hatinya terasa hangat. Ia sadar, kehadiran Layla bukan sekadar penyambung perdamaian, tapi ia adalah jembatan yang menghubungkan hati Raja dengan rakyatnya. Di mata warga, Layla kini bukan lagi putri dari kerajaan tetangga, tapi Ratu mereka yang dicintai.
Pembagian berlangsung sampai menjelang tengah hari. Suasana alun-alun penuh dengan tawa, rasa syukur, dan harapan baru. Jaya Wijaya terasa lebih hidup dari sebelumnya.
Sore Hari: Pulang ke Tanah Candra
Matahari mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna jingga kemerahan yang indah. Kini suasana di halaman istana berubah menjadi sibuk namun penuh kemegahan. Rombongan besar telah bersiap: puluhan kereta kuda berhias ukiran emas, ratusan prajurit berkuda berpakaian rapi, serta penari dan pembawa upeti.
Upeti yang dibawa bukan barang perang atau tuntutan, melainkan persembahan damai: tumpukan kain sutra terbaik Jaya Wijaya, rempah-rempah langka, beras pilihan, dan hewan ternak terbaik sebagai tanda hormat.
Layla berdiri di depan kereta utama, jantungnya berdebar kencang—lebih kencang daripada saat ia berhadapan dengan pedang Gustaf kala itu. Napasnya sedikit tercekat. Di hadapannya, Gustaf berjalan mendekat dengan langkah tegap. Hari ini Raja itu mengenakan pakaian perang yang disulam halus, bukan untuk mengancam, tapi untuk menjaga kehormatan perjalanan. Ia tampak gagah, dan ada kelembutan di matanya saat menatap Layla.
“Kau siap?” tanya Gustaf pelan, suaranya hanya terdengar berdua. “Sebentar lagi kau akan melihat rumahmu lagi.”
Layla mengangguk, menelan ludah yang terasa kering. “Siap, Baginda. Hanya saja... rasanya seperti mimpi. saat itu hamba berangkat dari sini dengan hati yang terluka dan benci. Sekarang... hamba pulang membawa kedamaian" kata Layla haru. "Dan Baginda di sisi hamba.” Layla menunduk malu.
Gustaf tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. “Maka mari kita pulang.”
Ia menuntun Layla naik ke kereta kuda utama yang terbuka, agar rakyat di sepanjang jalan bisa melihat pasangan penguasa itu. Di belakang mereka, Pangeran Serasa menunggangi kuda hitamnya, wajahnya tertutup bayangan penutup kepala, mengawal kereta itu dengan diam. Sementara dari gerbang istana, Ratu Yasmin berdiri menyaksikan kepergian mereka. Bibirnya tersenyum, tapi matanya tajam seperti pisau.
"Nikmati kemegahan ini sekarang, Layla," batin Yasmin dingin. "Perjalanan ke Candra masih jauh, dan di jalanan sepi... banyak hal buruk bisa terjadi sebelum kau sampai ke gerbang kerajaanmu."
Genta berbunyi tiga kali sebagai tanda keberangkatan. Rombongan besar itu pun bergerak perlahan, meninggalkan gerbang Jaya Wijaya, diiringi sorak-sorai rakyat yang berjejer di pinggir jalan sampai batas kota.
Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Saat matahari mulai terbenam dan cahaya keemasan menyelimuti bumi, di kejauhan, tampaklah benteng dan menara-menara tinggi Kerajaan Candra.
Jantung Layla seakan berhenti berdetak.
Itu rumahnya. Itu tanah tempat ia dilahirkan, tempat ia bermain kecil, tempat ayahnya memimpin dengan bijak. Ia pikir takkan pernah melihat tempat ini lagi.
“Lihatlah, Layla,” ucap Gustaf pelan di sampingnya, ia pun ikut menatap pemandangan itu dengan rasa hormat. “Negerimu indah. Dan hari ini, negeri ini tidak perlu lagi takut pada Jaya Wijaya.”
Semakin dekat, semakin jelas terlihat gerbang besar Candra yang sudah terbuka lebar. Di bawah gerbang itu, sudah berkumpul rombongan penyambut: Raja Gustaf—ayah Layla—berdiri tegak di depan, dikelilingi para penasehat dan prajurit Candra. Wajah Raja Batara tampak serius, namun matanya tak lepas dari kereta kuda utama yang mendekat itu.
Rombongan berhenti tepat di depan gerbang. Suasana hening sejenak, penuh haru dan sejarah.
Gustaf turun lebih dulu, lalu dengan sopan ia berbalik dan mengulurkan tangannya kembali untuk membantu Layla turun. Gerakan itu penuh hormat, seolah Layla adalah ratu tertinggi yang sedang dikawal.
Saat kaki Layla menyentuh tanah Candra—tanah merah yang begitu dikenalnya—lututnya terasa lemas. Ia berlutut sejenak, menyentuh tanah itu dengan kedua tangannya, lalu menempelkan tanah itu ke keningnya. Air mata bahagia tak tertahankan lagi jatuh membasahi pipinya.
“Aku pulang... Ayah... aku pulang,” bisiknya parau.
Raja Batara yang melihat itu, matanya berbinar berkaca-kaca. Ia melangkah maju, hendak menyambut putrinya yang sempat dianggap hilang itu. Namun sebelum ia sempat bicara, Raja Gustaf berjalan maju beberapa langkah.
Dihadapan seluruh prajurit dan rakyat Candra, Raja Gustaf—penguasa Jaya Wijaya yang dulu ditakuti—menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Raja Batara.
“Raja Batara... Ayahanda dari Ratu Layla,” suara Gustaf lantang dan jelas, terdengar oleh semua orang. “Aku datang ke sini bukan sebagai raja yang menaklukkan, bukan sebagai musuh yang meminta pertanggungjawaban. Aku datang sebagai menantumu, yang memohon maaf atas kesalahan masa lalu. Aku datang membawa damai, dan membawa pulang putrimu... sebagai Ratu yang dihormati dan dicintai di kerajaanku.”
Keheningan menyelimuti sejenak, lalu perlahan, senyum bangga dan haru merekah di wajah Raja Batara. Ia melangkah mendekat, menepuk bahu Gustaf sebagai tanda penerimaan, lalu beralih memeluk putrinya erat-erat.
“Anakku... kau pulang membawa kemenangan terbesar,” bisik sang ayah di telinga Layla. “Kau memenangkan kedamaian, sesuatu yang gagal aku menangkan dengan pedang.”
Layla menangis dalam pelukan ayahnya, lalu ia menoleh ke arah Gustaf yang berdiri di samping mereka.
Di bawah langit senja Candra, di antara dua kerajaan yang dulu bermusuhan, Layla tersenyum. Perjalanan panjangnya belum selesai, bahaya dari dalam istana Jaya Wijaya masih mengintai, tapi untuk saat ini... damai telah tercipta, dan ia berada di tempat yang paling ia cintai.