NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Langkah Kemenangan

****

Langkah kaki lebarku bergema konstan menyusuri selasar koridor gedung administrasi yang sunyi. Begitu pintu kaca buram ruang Kepala Sekolah berayun menutup sempurna di belakang punggungku, atmosfer menekan yang dipenuhi racun korporat keluarga Dirgantara mendadak menguap, berganti dengan kebebasan mutlak yang terasa begitu melegakan di dalam rongga dadaku. Aku mengancingkan kembali satu kancing atas almamater biru tuaku yang sempat agak longgar, lalu memasukkan tangan kananku ke dalam saku celana abu-abu yang rapi. Di dalam jepitan jemariku, alat perekam suara digital hitam itu terasa kokoh—sebuah amunisi taktis yang baru saja sukses meruntuhkan dinasti kekuasaan donatur utama sekolah.

Aku berjalan menuruni anak tangga semen satu per satu dengan ketukan sepatu yang mantap. Seringai tipis nan ugal-ugalan yang sempat kusembunyikan di depan Pak Malik kini kembali terukir jelas di sudut bibirku. Menatap ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke area parkiran depan, aku bisa melihat siluet mobil sedan mewah hitam milik keluarga Devan perlahan bergerak mundur, berbalik arah dengan terburu-buru sebelum akhirnya melesat kencang melewati pintu gerbang utama SMA Tunas Bangsa. Pemandangan itu bener-bener jadi penutup yang epik bagi keangkuhan modal mereka siang hari ini.

Langkah kakiku kubawa memotong jalur pintas menuju ke arah kantin bawah, wilayah perbatasan netral yang menjadi tempat di mana aku menyuruh Mikaela untuk menunggu bersama Risa. Begitu bayangan tubuh tegapku muncul dari balik pilar beton tangga koridor, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua pasang mata gadis di sudut ruangan itu langsung bergerak cepat mengunci pergerakanku. Mikaela refleks bangkit berdiri dari kursi plastik birunya, meremas ujung seragam putih abu-abunya dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kecemasan yang luar biasa pekat.

Aku melangkah lebar menghampiri mejanya, mengabaikan tatapan beberapa murid kelas sepuluh yang sedang duduk santai di sudut lain kantin. Aku sengaja memotong jarak di antara kami hingga tubuh tinggiku menjulang tepat di hadapan Mikaela, menguarkan aura perlindungan posesif yang selama dua minggu ini terpaksa kurem di balik sistem sekolah.

"Saka... gimana di dalam? Lo... lo gak apa-apa, kan? Mereka gak beneran mengeluarkan surat pemecatan buat lo, kan?" untaian pertanyaan bernada panik langsung meluncur dari bibir Mikaela dengan suara yang bergetar hebat. Kedua matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan tidak ada luka fisik atau tanda-tanda kekalahan di wajahku.

Aku tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Sebuah senyuman manis namun sarat akan keagresifan tulus yang sangat khas justru perlahan terukir di wajahku. Aku mengulurkan tangan kananku maju, meraih pergelangan tangan kanannya dengan satu gerakan cepat yang sangat posesif namun penuh dengan kelembutan yang menenangkan. Aku menggenggam erat tanganku pada kulitnya, memastikan bandul bintang kecil di gelang perak pemberianku menekan pergelangan tangannya dengan mantap, menyalurkan getaran proteksi total yang membuat tubuh gematarnya perlahan-lahan mulai rileks.

"Gue gak apa-apa, Mikaela. Malah posisi kita sekarang udah menang mutlak di dalam maupun di luar sekolah," tuturku dengan nada suara bariton yang serak, rendah, namun memiliki penekanan tak terbantahkan yang seketika membuat atmosfer di sudut kantin itu berubah menjadi hangat. "Bapak Dirgantara sendiri yang tadi terpaksa menarik kembali seluruh draf laporan pengaduannya dari meja Pak Malik. Dan yang paling penting... draf pemecatan gue resmi dimusnahkan dari arsip sekolah hari ini."

Risa yang sejak tadi berdiri mematung di samping meja langsung mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega, memukul pundakku singkat dengan ekspresi puas yang meluap-luap. "Sumpah, Saka! Lo bener-bener gila parah! Gue gak tahu taktik apa yang lo pakai di dalam ruangan itu sampai bisa bikin donatur utama sekolah tekuk lutut, tapi lo bener-bener penyelamat hidup Mika hari ini!"

"Gue cuma mengembalikan posisi amunisi yang semestinya, Ris," jawabku santai, lalu beralih kembali menatap lurus ke dalam manik mata Mikaela yang kini sudah mulai meneteskan setitik air mata lega membasahi pipi mulusnya. Aku terulur maju, menggunakan ibu jari tangan kiriku untuk menghapus jejak air mata itu dengan gerakan yang sangat protektif. "Dan buat urusan beasiswa kuliah lo... besok pagi draf bersihnya bakal dikirim langsung ke rumah lo tanpa ada syarat klausul tambahan atau ancaman pemotongan dana dari pihak yayasan mereka seumur hidup lo. Devan udah resmi kehilangan seluruh taring kekuasaannya buat mengurung kebebasan lo."

Mikaela membeku sesaat, menatapku dengan binar mata yang dipenuhi oleh rasa haru dan cinta yang teramat pekat—sebuah binar mata indah yang selama berbulan-bulan ini dirampas oleh jeratan manipulasi psikologis milik Devan. Dia mengangguk pelan, mempererat remasan jemari tangannya di dalam genggaman telapak tanganku yang besar, seolah-olah dia telah dengan sukarela menyerahkan seluruh sisa masa remajanya untuk dikunci dengan rapat di dalam lingkaran obsesi protektif milik si berandal patuh aturan ini.

"Makasih banyak ya, Sak... makasih karena lo selalu ada buat pasang badan di depan gue setiap kali badai itu datang," bisik Mikaela dengan suara yang teredam di antara desir angin kantin sore yang sejuk.

"Udah tugas gue buat menjaga apa yang udah jadi hak milik perlindungan gue, Mik," geramku rendah dengan nada posesif yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh kekuatan modal mana pun di dunia nyata. Aku melirik ke arah jam tangan hitamku yang menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit, lalu menatap kembali ke arah Mikaela dan Risa bergantian. "Sekarang jam pelajaran sekolah udah bener-bener habis. Kalian berdua rapikan tas kalian. Reno dan anak-anak pangkalan IPS udah nunggu di jalur belakang kantin pake minibus perak buat mengantarkan lo pulang dengan aman sampai depan pintu rumah."

"Lo sendiri gak ikut pulang bareng kita di mobil, Sak?" tanya Risa sambil menyampirkan tas ranselnya di bahu kiri.

Aku menggelengkan kepala, sebuah seringai dingin nan sangat tajam kembali melintas di wajah tampanku saat mengingat siluet Devan yang tadi berjalan keluar dari ruang Kepala Sekolah dengan kepala tertunduk lesu. "Gue masih ada sedikit urusan di pangkalan belakang pasar lama, Ris. Gue mau memastikan kalau sisa-sisa anak buah Devan di kepengurusan OSIS lama malam ini bener-bener membersihkan seluruh draf laporan palsu mereka sampai ke akarnya, biar gak ada lagi sumbu konflik baru yang menyala selama masa skorsing dua minggu ketos bangsat itu berjalan."

Aku melepaskan genggaman tanganku dari pergelangan tangan Mikaela secara perlahan, lalu menepuk puncak kepalanya dengan gerakan lembut yang penuh dengan getaran emosi protektif yang pekat. "Sana jalan duluan bareng Risa lewat pintu belakang. Tetap berada di dalam jangkauan pandangan anak-anak pangkalan sepanjang jalan pulang. Gue bakal menyusul ke komplek rumah lo setelah urusan pangkalan selesai."

Mikaela mengangguk patuh menuruti perintah posesifku, melemparkan satu tatapan hangat terakhir sebelum akhirnya berbalik tubuh dan berjalan cepat beriringan bersama Risa menuruni tangga selasar menuju ke arah pintu keluar belakang kantin yang sepi. Aku berdiri diam di posisi semula, melipat kedua tanganku di depan dada sambil terus mengawasi pergerakan langkah kaki kedua gadis itu hingga sosok mereka benar-benar menghilang seutuhnya di balik rimbunnya pohon mangga area luar sekolah.

Setelah memastikan Mikaela berada di dalam zona aman yang mutlak di bawah pengawalan Reno, aku menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan ponsel pintarku dari dalam saku almamater, lalu mendial nomor kontak internal pangkalan IPS dengan satu sentakan jari yang cepat. Sambungan telepon langsung terhubung pada nada dering pertama.

"Gimana, Sak? Konfrontasi di dalam gedung administrasi aman?" suara bariton Reno langsung menyambut di seberang sana dengan nada penuh kesiagaan.

"Aman mutlak, Ren. Kubu keluarga Dirgantara udah resmi mundur teratur dari meja sekolah," jawabku dengan nada suara yang merendah penuh dengan keagresifan taktis yang dingin. "Sekarang tugas lo pastikan mobil minibus perak lo mengantar Mikaela pulang lewat jalur memutar jalan tikus kota, jangan lewat jalur utama komplek depan yang rawan pengawasan. Dan kasih tahu anak-anak pangkalan yang ada di bengkel tua... sore ini kita adakan rapat pleno tertutup buat mengunci seluruh akses informasi luar sekolah. Permainan asmara berkarakter *red flag* ini bener-bener udah kita menangkan di dalam sistem kaku sekolah, dan gue gak bakal membiarkan ada satu pun celah kecil yang ditinggalkan oleh si mantan Ketua OSIS itu buat melukai kebebasan hidup cewek gue lagi di luar sana. Paham?!"

"Paham, Ketua! Perintah dilaksanakan secepatnya!" seru Reno tegas sebelum akhirnya sambungan telepon terputus sepi.

Gue memasukkan kembali ponselku ke dalam saku, memutar arah tubuhku dengan gerakan yang sangat tegap lalu melangkah lebar meninggalkan area kantin bawah menuju ke arah parkiran motor sport hitamku di sudut belakang sekolah. Mata fajar sore yang kian menggelap diselimuti sapuan warna jingga keunguan seolah ikut mengiringi langkah kemenanganku siang hari ini. Dinding tirani penuh manipulasi psikologis yang dibangun Devan menggunakan wewenang jabatan dan kekuatan modal keluarganya kini telah resmi runtuh berkeping-keping menjadi abu di atas meja jati Kepala Sekolah, dan di bawah lingkaran perlindungan agresif nan tulus dari seorang Saka Aditya, babak baru kehidupan asmara kami yang jauh lebih indah dan bebas baru saja resmi dimulai membelah pekatnya malam kota.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> Alur pergerakan plot cerita **RED FLAG** sengaja dibuat bergerak dengan jauh lebih cepat, padat taktik konfrontasi, dan langsung menusuk ke inti masalah agar para pembaca tidak merasa bosan! Konflik asmara segitiga beracun ini dipastikan bakal semakin memacu adrenalin dengan pergerakan taktik Saka yang semakin cerdas dan berbahaya.

> Jangan lupa ya buat klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** sebanyak-banyaknya untuk kelancaran novel kita di NovelToon, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan teori kalian tentang apa yang bakal terjadi di bab selanjutnya! Sampai jumpa di Bab 33 besok pagi, *keep reading and stay alert, guys!*

>

1
Indah Sari Nurwahyuningtyas
tapi bagus ga si kalo si saka sama devan kerja sama buat dapetin Mikaela kan jadi seru
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!