Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Sama Kerasnya
"Saya sudah bilang, Mbak Saskia. Hasil lab memang sudah membaik, tapi tubuh Mbak masih sangat lemah. Ginjalnya baru mulai pulih. Kalau Mbak paksakan diri, bisa kambuh lagi."
Saskia mengancingkan kemeja kotak-kotak yang dibawakan Julian dari rumahnya. Kemeja bekas. Lusuh. Tapi bersih. "Saya tidak bisa tiduran disini sementara Paman Harto masih bebas berkeliaran, Dok."
"Tapi—"
"Sapi-sapi saya sudah mati dua kali karena orang itu. Saya tidak akan biarkan yang ketiga."
Dokter Maya menghela nafas. Ia melirik Daniel yang berdiri di sudut ruangan, berharap dapat dukungan. Tapi Daniel hanya menggeleng pelan.
"Jangan lihat saya, Dok. Saya sudah coba larang dia. Tidak mempan."
"Kalian berdua sama keras kepalanya," gumam Dokter Maya. Ia menyerahkan setumpuk kertas pada Saskia. "Ini resep obat yang harus diminum setiap hari. Jangan lupa. Dan kalau ada gejala pusing, mual, atau nyeri di pinggang, langsung kembali ke sini."
"Terima kasih, Dok."
Saskia berdiri. Lututnya sedikit gemetar, tapi ia menahan. Tangannya meraih tas kecil berisi obat-obatan. Daniel mendekat, mencoba memegang lengannya, tapi Saskia menepisnya pelan.
"Aku bisa jalan sendiri."
"Kau baru bangun dari koma tiga hari yang lalu."
"Aku sudah tidur cukup lama. Sekarang waktunya kerja."
Julian sudah menunggu di lobi rumah sakit dengan map plastik di tangannya. Wajahnya sumringah melihat Saskia berjalan keluar, meskipun masih sedikit pucat.
"Kau sudah boleh pulang? Dokternya bilang apa?"
"Bilang aku keras kepala."
"Itu bukan diagnosis medis."
"Tapi akurat."
Mereka bertiga masuk ke Alphard hitam Daniel. Budi yang menyetir. Julian duduk di kursi tengah, Saskia di sampingnya, Daniel di depan. Begitu mobil mulai bergerak, Julian membuka map plastiknya.
"Aku sudah kumpulkan bukti-bukti yang kau minta. Jejak kaki di sekitar sumur—cocok dengan sepatu boot Paijo yang kami sita diam-diam dari rumahnya. Sidik jari di botol sianida—ada dua: Paijo dan Paman Harto. Dan ini yang paling penting..." Julian mengeluarkan selembar kertas. "Kesaksian tertulis dari penjual potasium sianida di Pasar Besar. Dia ingat Paman Harto datang bersama seseorang. Dia kenali dari foto."
Saskia mengambil kertas-kertas itu. Matanya membaca cepat. "Ini cukup untuk sidang desa?"
"Lebih dari cukup. Pak RT sudah setuju mengadakan sidang. Besok malam."
"Bagus."
Daniel menoleh dari kursi depan. "Aku bisa kirim pengacara. Dua belas orang. Seperti kemarin."
"Tidak perlu." Saskia menggeleng. "Ini urusan desa. Aku tidak mau warga mengira aku bersembunyi di belakang pengacaranya CEO. Aku harus selesaikan ini sendiri."
"Kau tidak sendiri."
Saskia menatap Daniel. "Aku tahu. Tapi kali ini biarkan aku yang maju."
Daniel tidak membantah. Ia kembali menatap ke depan. Tapi dari kaca spion, Saskia bisa melihat sudut bibirnya terangkat sedikit.
Mereka berhenti di warung makan di pinggir jalan. Julian memesan nasi pecel untuk semuanya. Daniel, yang biasanya tidak mau makan di tempat seperti ini, kali ini tidak protes. Ia bahkan menghabiskan sepiring penuh.
"Sapi-sapinya gimana?" tanya Saskia sambil menyendok nasi.
"Aman. Delapan yang selamat sudah pulih total. Dara dan yang lain sehat-sehat. Satpam sudah ganti shift, sekarang jaga dua orang setiap malam."
"Dan Reza?"
Daniel dan Budi saling pandang. "Masih dalam pengawasan," kata Daniel. "Belum kita sentuh."
Saskia mengangguk. Ia tidak bertanya lebih lanjut.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan ke Malang Selatan. Julian, yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba berhenti mengetik. Wajahnya berubah.
"Saskia..."
"Apa?"
"Aku... aku baru saja cek email. Ada sesuatu yang harus kau lihat."
Julian memutar layar laptopnya ke arah Saskia. Di layar, sebuah jurnal akademis berbahasa Inggris terbuka. Judulnya: "Accelerated Muscle Growth in Bos taurus: A Case Study from Indonesian Local Farm."
Jantung Saskia berhenti selama satu detik.
"Ini... ini data pertumbuhan sapi kita. Data Si Belang. Data yang dulu kuberikan padamu."
"Aku tahu." Suara Julian bergetar. "Aku tidak pernah mengirimkan ini ke jurnal manapun. Tapi seseorang mengambilnya dari laptopku. Atau dari emailku. Atau..." Ia berhenti. Wajahnya pucat. "Saskia, aku tidak tahu bagaimana ini bisa bocor."
Saskia menatap layar itu. Matanya bergerak ke bagian bawah halaman. Di sana, di bagian "Funding and Sponsorship", tertulis dengan jelas: "This research was funded by a grant from Global Beef Corporation."
Global Beef Corp. Perusahaan yang sama yang membayar Reza. Perusahaan yang sama yang membayar Ardiansyah. Perusahaan yang sama yang berada di balik semua sabotase ini.
Dan sekarang, data pertumbuhan sapi Saskia—data yang membuktikan keajaiban Air Suci—sudah ada di tangan mereka.
"Aku yang memberikan data itu padamu," bisik Saskia. "Aku yang memberimu akses. Aku yang membuka pintu itu."
"Kau tidak salah." Julian memegang lengannya. "Aku yang tidak curiga. Aku yang seharusnya lebih berhati-hati dengan data sepenting ini."
"Tapi aku yang memilih untuk percaya padamu."
Julian terdiam. Tangannya masih memegang lengan Saskia, tapi sekarang terasa dingin.
Saskia menatap layar laptop itu lagi. Data yang ia kumpulkan dengan susah payah. Data yang hampir membunuhnya. Data yang sekarang ada di tangan musuh. Mereka bisa mempelajarinya. Mereka bisa mencari tahu apa yang membuat sapi-sapinya istimewa. Mereka bisa...
"Aku salah percaya," kata Saskia, suaranya pelan. "Dan kepercayaan yang salah itu membunuh dua sapiku."
"Itu tidak adil. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri untuk—"
"Aku tidak menyalahkan. Aku menghitung." Saskia menutup laptop itu. "Satu kepercayaan salah. Dua sapi mati. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi."