NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Lelang di Atas Air Mata

Ruang auditorium utama Balai Lelang Negara pagi ini dipenuhi oleh ratusan pengusaha kelas kakap, jurnalis ekonomi, dan para kurator independen. Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan seolah tidak mampu meredakan ketegangan yang mendidih di dalam aula tersebut. Di atas panggung utama, sebuah layar proyektor raksasa menampilkan daftar puluhan aset logistik, gudang kontainer, dan izin trayek pelayaran milik anak perusahaan Baskoro Group yang disita secara paksa sejak subuh tadi untuk menutupi utang margin bursa efek mereka yang membengkak.

Di barisan kursi paling depan sebelah kanan, Nicholas Baskoro duduk dengan penampilan yang sangat berantakan. Tidak ada lagi jas desainer internasional seharga ratusan juta atau rambut klimis yang tersisir rapi. Kemeja putih yang dikenakannya tampak kusut, lingkaran hitam tebal menghiasi kedua matanya yang merah karena menahan kantuk dan stres berat sepanjang malam. Ayahnya, Teguh Baskoro, saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif di gedung KPK ibu kota, meninggalkan Nicholas sendirian untuk menyaksikan bagaimana dinasti bisnis yang mereka banggakan selama puluhan tahun perlahan-lahan dipotong dan dijual eceran di daerah pinggiran ini.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan palu dari petugas lelang paruh baya memecah keheningan auditorium. "Selamat pagi para hadirin sekalian. Hari ini kita akan membuka lelang eksekusi massal untuk aset Paket A, yaitu seluruh kepemilikan saham, tanah gudang seluas dua puluh hektar di kawasan pelabuhan, serta lima puluh unit kapal kargo logistik milik PT Baskoro Logistik Nusantara. Nilai buku asli aset ini adalah empat ratus lima puluh miliar rupiah. Namun, karena ini adalah lelang sitaan darurat, harga pembukaan resmi kami tetapkan di angka lima puluh miliar rupiah!"

Mendengar angka pembukaan yang sangat murah itu, beberapa pengusaha lokal langsung saling berbisik dengan mata berbinar serakah. Menghancurkan Baskoro Group dan mengambil alih aset mereka di pelabuhan adalah kesempatan emas sekali seumur hidup untuk menguasai jalur perdagangan kota.

"Lima puluh lima miliar!" seorang pengusaha batubara di barisan ketiga langsung mengangkat papan lelangnya.

"Enam puluh miliar!" sahut pengusaha properti dari seberang ruangan.

Nicholas Baskoro hanya bisa mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, menusuk telapak tangannya sendiri. Setiap kenaikan angka lelang itu terasa seperti sebilah belati yang menguliti harga dirinya secara perlahan. Aset yang dibangun dengan keringat dan suap miliaran rupiah oleh ayahnya, kini diperebutkan seperti daging segar di pasar tradisional oleh orang-orang yang biasanya selalu membungkuk hormat di depan kakinya.

Tepat di saat suasana lelang mulai memanas, pintu ganda auditorium bagian belakang mendadak terbuka lebar. Langkah kaki yang konstan dan berwibawa memecah konsentrasi ruangan. Semua orang menoleh ke arah pintu, dan seketika itu juga, ruangan kembali senyap.

Kirana melangkah masuk dengan sangat anggun, mengenakan setelah blazer formal berwarna merah marun yang memancarkan aura kepemimpinan seorang Direktur Utama yang mutlak. Di sampingnya, aku berjalan dengan santai, kedua tangan kumasukkan ke dalam saku celana kain hitamku yang rapi. Meskipun penampilanku kasual, pandangan mataku yang dingin menyapu seluruh isi ruangan, membuat beberapa pengusaha besar yang tadinya ingin menatap langsung ke arah Kirana refleks menundukkan kepala mereka karena tertekan oleh auraku.

Kami berdua berjalan melewati lorong tengah auditorium, menuju barisan kursi paling depan di sebelah kiri, tepat berseberangan dengan posisi duduk Nicholas Baskoro.

Nicholas mendongak. Begitu matanya menangkap bayanganku, seluruh tubuhnya refleks gemetar hebat. Rasa trauma fisik dan mental dari pukulan tujuh detat di ruang kerja Kirana kemarin kembali menghantam otaknya secara instan. Matanya yang merah menatapku dengan kombinasi rasa benci yang membakar sekaligus ketakutan yang mendalam.

Aku tidak membalas tatapannya. Aku hanya duduk di samping Kirana, lalu memberikan isyarat anggukan kecil kepada tim hukum dan keuangan Wijaya Group yang sudah bersiaga di barisan belakang kami sejak subuh.

"Harga saat ini berada di angka delapan puluh lima miliar rupiah! Apakah ada penawaran lebih tinggi untuk Paket A?!" teriak petugas lelang dengan suara lantang dari atas podium.

Kirana perlahan mengangkat tangan kanannya, mengacungkan papan lelang resmi bernomor 01 atas nama Wijaya Group. Dengan suara yang sangat tenang, jernih, namun sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat, dia berbicara ke arah mikrofon kecil di bajunya.

"Dua ratus miliar rupiah. Tunai," ucap Kirana tegas.

Deg!

Seluruh auditorium mendadak riuh oleh suara kasak-kusuk yang luar biasa panik. Menaikkan taruhan dari delapan puluh lima miliar langsung melompat ke dua ratus miliar rupiah tunai adalah tindakan kegilaan finansial yang hanya bisa dilakukan oleh konglomerat tingkat atas yang memiliki dana segar tanpa batas di rekening mereka! Pengusaha batubara dan pengusaha properti yang tadinya memimpin penawaran langsung menurunkan papan lelang mereka dengan wajah pucat, memilih mundur teratur daripada harus bertarung melawan monster keuangan baru bernama Wijaya Group.

Nicholas Baskoro langsung berdiri dari kursinya dengan wajah yang memerah padam karena murka. "Kirana! Adrian! Kalian berdua sengaja ingin menghancurkan keluargaku secara total, kan?!" teriak Nicholas histeris, mengabaikan tata tertib ruang lelang negara hingga membuat beberapa petugas keamanan bergerak mendekatinya. "Kalian menggunakan uang haram dari mana untuk membeli aset kami?! Ayahku tidak akan melepaskan kalian setelah dia keluar dari pemeriksaan!"

Aku perlahan berdiri dari kursiku, membalikkan badan untuk menatap langsung ke arah Nicholas Baskoro yang sedang mengamuk layaknya orang gila. Aku mengaktifkan keterampilan *Retorika Hipnotis Dewa* yang baru saja kuterima dari Sistem kemarin malam, memfokuskan getaran vokal suaraku tepat ke arah pusat kesadaran mentalnya yang sudah rapuh.

"Nicholas," ujarku dengan nada suara yang sangat rendah, namun anehnya gema suaraku terdengar begitu berat dan menusuk langsung ke dalam gendang telinga semua orang di ruangan itu. "Ayahmu tidak akan pernah keluar dari gedung pemeriksaan itu di sisa hidupnya. Dan untukmu... keangkuhan yang kamu banggakan kemarin di hadapan istriku, hari ini telah dibayar tunai dengan air mata kemiskinan keluargamu sendiri. Berlututlah, dan mintalah maaf pada Kirana, maka aku mungkin akan menyisakan sepeser uang untuk ongkos pulangmu ke ibu kota."

Mendengar kata-kata yang kuucapkan dengan penekanan sugesti mutlak dari Sistem, Nicholas mendadak merasakan kepalanya seperti dihantam oleh palu raksasa. Pandangan matanya kabur, dan seluruh pertahanan mentalnya runtuh dalam sekejap. Di dalam otaknya, suara perintahku bergema layaknya titah seorang dewa yang tidak boleh dilanggar.

Bruk!

Kedua lutut Nicholas Baskoro mendadak menyerah dan lemas. Dia jatuh berlutut di antara sela-sela kursi barisan depan auditorium, menatap lantai marmer dengan pandangan mata yang kosong dan dipenuhi keputusasaan yang teramat sangat. Putra mahkota dari ibu kota yang beraset belasan triliun rupiah, kini berlutut tanpa daya di atas air matanya sendiri di depan ratusan pasang mata pengusaha daerah.

[Ding! Misi Pengambilalihan Aset Strategis Berhasil Diselesaikan dengan Sempurna!]

[Evaluasi Kinerja: Penghancuran Mental Target 100% Sempurna.]

[Hadiah Utama Diaktifkan: Surat Izin Operasional Bank Digital Global atas nama Tuan Rumah telah diterbitkan secara resmi oleh Bank Sentral!]

[Saldo Tambahan Rp 40 Miliar telah berhasil ditransfer ke rekening pribadi Anda!]

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan palu tiga kali dari petugas lelang menandakan kemenangan mutlak kami. "Paket A resmi jatuh ke tangan Wijaya Group dengan harga dua ratus miliar rupiah!"

Aku tersenyum tipis, kembali duduk di samping Kirana dan menggenggam tangannya dengan erat. Raksasa dari ibu kota telah resmi kehilangan taringnya di kota ini, dan jalur perdagangan pelabuhan kini sepenuhnya berada di bawah telapak kaki dinasti baruku.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!