NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18: Rahasia Harta Tersembunyi

Rubellite terus melangkah, sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang cepat dan konstan. Ia tidak menoleh ke belakang, namun telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki lain yang jauh lebih berat dan mantap. Langkah itu tidak terburu-buru, namun jelas sedang mengikutinya.

"Nona, sepertinya seseorang..." bisik Anna dengan waspada.

"Aku tahu, Anna. Berhenti di sini," perintah Rubellite pelan.

Mereka berhenti di sebuah balkon terbuka yang menghadap ke taman labirin istana. Angin malam yang dingin menerpa wajah Rubellite, sedikit mendinginkan sisa amarah yang membara di dadanya setelah jamuan makan siang yang penuh racun itu. Tak lama kemudian, sosok jangkung dengan jubah perak khas pangeran muncul dari balik pilar.

Caspian berdiri di sana. Ia tidak membawa pedang atau pengawal, hanya sepasang mata biru yang menatap Rubellite dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara rasa kasihan dan penyesalan yang tertahan.

"Kau selalu pandai melarikan diri dari situasi yang menyesakkan, Rubellite," ucap Caspian dengan suara rendah. Ia melangkah mendekat, namun berhenti pada jarak yang cukup sopan.

Rubellite membalikkan badannya, memberikan penghormatan singkat yang sangat formal. "Hamba hanya tidak ingin merusak suasana hati Yang Mulia Ayahanda dengan wajah hamba yang kurang sehat, Kak Caspian. Bukankah itu yang diinginkan Scarlet juga?"

Caspian menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada pagar balkon yang dingin. "Kau tahu Scarlet memang bermulut tajam sejak dulu. Dia merasa terancam dengan keberadaanmu, dan sekarang dengan adanya Shiera, dia merasa memiliki sekutu alami untuk menyingkirkanmu."

"Dan Anda, Kak? Di mana posisi Anda dalam papan catur ini?" tanya Rubellite tajam, matanya menatap langsung ke mata kakaknya.

Caspian terdiam sejenak, menatap hamparan taman di bawah mereka. "Aku bukan bagian dari rencana Scarlet, tapi aku juga tidak bisa terang-terangan membantumu di depan Ayahanda. Kau tahu posisiku sulit sejak konflik di perbatasan Barat tahun lalu. Ayahanda sedang mencari alasan untuk menguji kesetiaanku."

Ia melangkah satu tindak lebih dekat, suaranya merendah hingga hanya Rubellite yang bisa mendengar. "Hati-hatilah, Adikku. Kedatangan Shiera bukan sekadar kembalinya anak yang hilang. Ada alasan mengapa Valerius menemukannya tepat saat kau merayakan kedewasaanmu. Ayahanda tidak hanya menginginkan darah asli, dia menginginkan 'sesuatu' yang dibawa wanita itu."

Rubellite menyipitkan matanya. "Sesuatu? Apa maksud Anda?"

"Aku belum bisa memastikannya, tapi jangan percayai apa pun yang tampak lemah dan suci di istana ini," Caspian merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah lencana perak kecil berpola burung elang, lalu menyerahkannya pada Rubellite. "Gunakan ini jika kau butuh akses ke arsip rahasia di perpustakaan bawah tanah tanpa sepengetahuan pengawal Ayahanda. Anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maafku karena hanya bisa diam di meja makan tadi."

Rubellite menerima lencana dingin itu, merasakan berat logamnya di telapak tangan. "Mengapa Anda membantuku sekarang, Kak? Padahal selama setahun ini kita bahkan tidak saling bicara."

Caspian memberikan senyum tipis yang pahit sebelum berbalik pergi. "Karena mawar yang berduri lebih baik daripada melati yang beracun. Dan aku lebih suka melihatmu tetap tegak daripada melihat istana ini jatuh ke tangan seseorang yang tidak kita kenal."

Begitu Caspian menghilang di tikungan lorong, Rubellite menggenggam lencana itu kuat-kuat. Ia menahan diri sepanjang sore, berpura-pura istirahat di kamarnya sampai matahari benar-benar tenggelam. Begitu malam menyelimuti istana dan penjagaan mulai berganti sif, ia menyelinap menuju perpustakaan bawah tanah bersama Anna. Berkat lencana dari Caspian, para penjaga area terlarang membiarkannya lewat tanpa banyak tanya.

Di bawah tanah yang pengap, Rubellite menemukan naskah kuno bersampul kulit hitam legam tanpa judul. Jemarinya gemetar saat membuka halaman pertama. Matanya membelalak membaca catatan tentang entitas parasit yang menghuni raga berambut putih. Namun, ada satu detail yang membuatnya mematung; simbol-simbol aneh di balik catatan itu menunjukkan bahwa jiwa yang menempati raga Shiera berasal dari tempat yang sangat jauh—sebuah jiwa transmigran yang merasuki raga yang sudah mati.

"Ayahanda tidak tahu..." bisik Rubellite ngeri. "Dia mengira Shiera adalah putrinya, padahal raga itu hanya cangkang bagi jiwa asing dan entitas penghisap jiwa."

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat bergema di lorong batu. Dengan gerakan cepat, Rubellite menutup buku itu, menyembunyikannya kembali, dan memberi isyarat pada Anna untuk mematikan lentera. Mereka segera keluar lewat jalur samping yang sempit dan berdebu.

Saat Rubellite baru saja keluar dari akses rahasia dan melangkah menuju lorong utama paviliunnya, langkahnya terhenti seketika. Di bawah remang cahaya obor dinding yang bergoyang pelan, ia berpapasan dengan Valerius. Panglima itu berdiri diam di dekat jendela besar, jubahnya tampak sedikit berantakan seolah ia baru saja berkeliling mencari udara segar untuk menjernihkan pikirannya.

Tatapan Valerius jatuh pada Rubellite yang muncul dari arah yang tidak terduga. Ia mengerutkan kening, matanya menatap tajam ke arah tangan Rubellite yang disembunyikan di balik kain gaunnya.

"Apa yang kau perbuat di malam hari seperti ini, Rubellite?" tanya Valerius dengan suara rendah yang kaku. Langkahnya maju satu tindak, menutup jarak di antara mereka. "Bukankah kau seharusnya sudah berada di kamarmu sejak sore tadi?"

Rubellite hanya menatapnya dengan tatapan sedingin es, tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ia berikan pada pria ini. "Sejak kapan seorang Panglima memiliki hak untuk mengatur jam tidur Putri Kekaisaran, Valerius? Aku hanya ingin menghirup udara malam yang tidak menyesakkan seperti di meja makan tadi."

Tanpa menunggu jawaban atau memberikan penjelasan lebih lanjut, Rubellite melangkah pergi melewati Valerius. Bahunya sempat bersenggolan dengan pria itu, namun ia terus berjalan lurus tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Keesokan Paginya, Hari Pertemuan Dewan Klan telah dimulai, Rubellite melangkah dengan dagu terangkat menuju Paviliun Mawar Putih untuk menjemput Shiera. Saat pintu dibuka, ia melihat Shiera sedang menatap telapak tangannya sendiri sambil menggumamkan kata-kata aneh seperti, "Status window... kenapa tidak muncul? Bukankah aku karakter utama di sini?"

Shiera tersentak saat melihat bayangan Rubellite di ambang pintu. Ia segera memasang wajah polos dan ketakutan yang biasa ia gunakan untuk menarik simpati. "Putri Rubellite... apakah Dewan Klan akan menghakimiku?"

Rubellite tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mengerikan bagi siapa pun yang bisa membacanya. "Hanya jika kau gagal membuktikan bahwa kau benar-benar 'manusia', Shiera. Ayo, jangan biarkan para tetua menunggu keajaiban yang kau bawa."

Rubellite menuntun Shiera menyusuri lorong menuju Aula Dewan Klan. Ia bisa merasakan hawa dingin yang keluar dari tubuh Shiera—bukan hawa dingin musim dingin, melainkan hawa kematian dari jiwa transmigran yang tidak selaras dengan raga Valtia tersebut.

Tepat sebelum penjaga membukakan pintu perunggu raksasa Aula Dewan Klan, Shiera tiba-tiba berhenti. Ia mencengkeram lengan baju Rubellite, membuat langkah sang Putri terhenti seketika.

Rubellite menoleh, matanya yang tajam menatap tangan Shiera yang gemetar di lengannya. "Ada apa? Kau takut?"

Shiera tidak menjawab dengan suara lirih seperti biasanya. Ia justru menatap pintu besar itu dengan pandangan yang aneh—seolah ia sedang melihat sesuatu yang melayang di udara yang tidak bisa dilihat oleh Rubellite. Mulutnya bergerak pelan, menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti bahasa asing atau mantra yang kacau.

"...pilihan dialog... kenapa terkunci?" bisik Shiera pelan, nyaris tak terdengar. Matanya menyipit frustrasi. "Sial, haruskah aku menggunakan opsi paksa?"

Rubellite membeku. Pilihan? Opsi? Kata-kata itu tidak pernah ia dengar dalam kamus kekaisaran manapun. Ia segera menepis tangan Shiera dengan gerakan tegas. "Bicara yang jelas, Shiera. Jangan mengacau di depan pintu suci klan Valtia."

Shiera tersentak, wajahnya langsung berubah kembali menjadi topeng kepolosan yang menyedihkan. Ia menunduk dalam, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "M-maafkan saya, Putri Rubellite. Saya hanya... saya merasa ada suara-suara aneh di kepala saya sejak masuk ke istana ini. Saya takut para tetua akan menganggap saya gila."

Rubellite menyipitkan mata. Ia bisa merasakan hawa dingin yang keluar dari tubuh Shiera—sebuah getaran energi yang tidak selaras dengan raga Valtia tersebut. Ingatan Rubellite tentang catatan di perpustakaan bawah tanah kembali berputar: Hanya raga yang merupakan Valtia, namun di dalamnya bersemayam entitas kuno.

"Jika kau memang darah asli, air pemurnian di dalam sana tidak akan menyakitimu," desis Rubellite sambil memperbaiki posisi lencana Elang Perak di balik lengan bajunya. "Tapi jika ada 'sesuatu' yang lain di dalam dirimu, kesucian itu akan mengoyak jiwamu sampai habis."

Shiera terdiam, namun Rubellite sempat menangkap kilatan kebencian yang sangat dewasa dan penuh perhitungan di mata biru itu—tatapan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang gadis kuil yang malang.

"Jika kau memang darah asli, air pemurnian di dalam sana tidak akan menyakitimu," desis Rubellite sambil memperbaiki posisi lencana Elang Perak di balik lengan bajunya. "Tapi jika ada 'sesuatu' yang lain di dalam dirimu, kesucian itu akan mengoyak jiwamu sampai habis."

Shiera terdiam, namun Rubellite sempat menangkap kilatan kebencian yang sangat dewasa dan penuh perhitungan di mata biru itu—tatapan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang gadis desa yang malang.

"Pintu dibuka!" seru pengawal dengan suara menggelegar.

Pintu perunggu itu perlahan bergeser, mengungkapkan ruangan luas yang dipenuhi oleh para tetua klan Valtia yang duduk di kursi-kursi batu tinggi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam marmer kecil berisi Air Suci Valtia yang berkilauan perak. Kaisar Volrantz duduk di singgasana pengawas, sementara Panglima Valerius berdiri di sisi aula, mengawasi setiap gerak-gerik kedua wanita itu dengan tangan yang tak lepas dari gagang pedangnya.

Rubellite melangkah masuk dengan anggun, membiarkan gaun sutranya menyapu lantai batu. Di sampingnya, Shiera berjalan dengan langkah yang diseret, menciptakan citra gadis yang rapuh dan terintimidasi. Begitu Shiera mencelupkan jemari pucatnya ke dalam permukaan air suci, sebuah ledakan cahaya biru yang begitu murni dan terang benderang terpancar dari dasar kolam, memenuhi seluruh ruangan.

Cahaya itu adalah bukti yang tak terbantahkan bagi semua orang di sana bahwa Shiera memiliki darah Valtia yang paling murni, bahkan mungkin lebih murni daripada Rubellite sendiri.

"Lihatlah! Air suci tidak pernah bereaksi sekuat ini sebelumnya!" seru salah satu tetua dengan suara gemetar karena kagum.

Kaisar Volrantz berdiri dari singgasananya, matanya berkaca-kaca menatap pemandangan itu. "Putriku... benar-benar putriku yang hilang."

Namun, di tengah kemuliaan cahaya itu, Shiera tiba-tiba memekik keras. Tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh tersungkur di lantai marmer yang dingin. Ia mencengkeram dadanya, napasnya tersengal-sengal seolah-olah ia baru saja terkena sihir hitam yang bereaksi negatif dengan kemurnian air suci tersebut.

"Argh! Panas... sakit sekali!" rintih Shiera. Ia mendongak dengan wajah basah oleh air mata, menatap Rubellite dengan pandangan hancur yang langsung menarik simpati seluruh ruangan.

"Hamba tahu... hamba tahu Anda membenci hamba karena hamba akan mengambil posisi Anda, kan?" isak Shiera dengan suara bergetar. Ia menunjuk Rubellite dengan jari yang gemetar hebat. "Tapi mengapa Anda harus menyerang hamba dengan sihir hitam sekeji ini di tempat suci ini, Putri Rubellite? Apakah tahta jauh lebih berharga daripada nyawa hamba?"

Padahal, Rubellite sama sekali tidak mengeluarkan sihir apa pun. Namun, tepat saat Shiera menuduhnya, lencana perak di lengan baju Rubellite bereaksi aneh akibat manipulasi Shiera, mengeluarkan asap hitam tipis yang terlihat sangat mencurigakan.

Aula itu seketika menjadi senyap. Tatapan memuja para tetua berubah menjadi kilatan kecurigaan yang diarahkan langsung pada Rubellite.

"Rubellite! Kau menggunakan sihir hitam untuk mengacaukan ritual suci ini? Kau mencoba membunuh saudaramu sendiri di depan mataku?!" suara Kaisar menggelegar, penuh dengan amarah yang tertahan.

Valerius melangkah maju, berdiri di depan Shiera seolah-olah sedang melindungi mangsa dari pemangsa. Ia menatap Rubellite dengan tatapan yang lebih tajam dari pedang mana pun yang pernah ia pegang. Ada kekecewaan mendalam yang terpancar dari mata birunya.

"Aku tidak percaya kau akan bertindak sejauh ini, Rubellite," ucap Valerius dengan suara rendah yang bergetar karena emosi. "Aku tahu kau merasa terancam, tapi menyerangnya dengan sihir hitam? Kau benar-benar telah kehilangan akal sehatmu. Kau bukan lagi Rubellite yang kukenal."

Valerius membuang mukanya, tangannya mengepal kuat di gagang pedang. Kekecewaan di matanya jauh lebih menyakitkan bagi Rubellite daripada bentakan Kaisar.

"Bawa dia pergi!" perintah Kaisar dengan suara menggelegar. "Kunci di paviliun terdalam. Sampai Dewan Klan memutuskan hukuman yang tepat atas tindakan ini, dia tidak diizinkan keluar atau menemui siapa pun!"

Saat Rubellite diseret keluar, ia melihat Shiera yang sedang terisak di balik punggung Valerius, dan untuk sesaat, ia melihat sudut bibir gadis itu terangkat membentuk seringai tipis yang sangat singkat. Valerius justru berlutut di samping Shiera, memberikan dukungan yang seharusnya menjadi milik Rubellite.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!