NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melangkah Pergi

Briana langsung dibawa ke rumah sakit oleh Arjuna dan Agatha. Sementara Dirgantara dan Aiza ikut menyusul.

Beberapa jam kemudian, suasana di lorong rumah sakit terasa mencekam. Dokter Anton—dokter yang sama saat memeriksa kehamilan Briana waktu itu. Dia keluar dari ruang tindakan dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. Ia melepas maskernya dan menunduk di depan Arjuna.

"Maafkan saya, Arjuna. Benturan itu terlalu keras bagi janin yang masih sangat muda. Kita... kita kehilangan calon bayi itu.”

Arjuna luruh ke lantai. Dunianya runtuh. Cintanya pada Briana berubah menjadi kemurkaan yang luar biasa pada Aiza.

"Dokter yakin ini karena benturan?" tanya Dirgantara dengan nada curiga yang masih tersisa, meski ia juga tampak sangat terpukul.

"Sangat yakin, Tuan Dirgantara. Ada memar di dinding perut yang menunjukkan adanya tekanan paksa atau dorongan," bohong Dokter Anton tanpa berkedip. Ia bahkan sudah menyiapkan laporan medis palsu untuk mendukung fitnah Briana.

Di sudut lain, Briana terbaring di ranjang rumah sakit dengan akting tangisan yang memilukan. Di dalam hatinya, ia tertawa puas. Masalah kemandulannya kini terkubur selamanya dengan alasan keguguran akibat didorong Aiza. Tidak akan ada yang pernah tahu rahasianya sekarang.

Aiza berdiri di kejauhan, menatap mereka dengan air mata yang mengalir deras. Ia tidak tahu bagaimana cara membuktikan kebenarannya.

"Ya Allah... jika seluruh dunia menuduhku, aku hanya butuh Engkau yang tahu kebenarannya," batin Aiza hancur.

Tak tahan terus berada di ruangan yang bahkan tak seorangpun melihatnya, Aiza lantas keluar dari rumah sakit dengan langkah seribu. Telinganya masih berdenging mendengar teriakan "pembunuh" dari mulut Arjuna dan Agatha. Ia tidak peduli lagi pada pembelaan yang tak akan didengar. Di bawah langit yang mulai menggelap, Aiza hanya punya satu tujuan, menyelamatkan dirinya dan satu-satunya harta yang ia miliki.

Sesampainya di rumah, Aiza langsung menuju kamar belakang. Di sana, Warih sedang duduk di atas sajadah, baru saja menyelesaikan doa-doanya.

“Assalamualaikum, Mbah."

“Waalaikumsalam. "Aiza? Kenapa wajahmu pucat sekali, Nduk?" tanya Warih dengan suara serak yang penuh kasih.

Aiza tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung berlutut dan memeluk kaki Mbahnya, tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah seada-adanya.

"Mbah... kita pergi dari sini ya? Sekarang juga. Aiza sudah ndak punya siapa-siapa lagi di rumah ini. Mas Arjuna sudah menceraikan Aiza, dan mereka... mereka menuduh Aiza melakukan hal yang tidak pernah Aiza lakukan.”

Warih tidak bertanya apa fitnahnya. Ia hanya mengusap kepala Aiza dengan tangan yang keriput namun terasa sangat menenangkan. "Mbah sudah tahu, Nduk. Rumah yang penuh kepalsuan memang bukan tempat untuk orang setulus kamu. Ayo, Mbah ikut ke mana pun kamu pergi.”

Dengan gerakan cepat yang dipicu oleh rasa takut akan kedatangan Arjuna yang murka, Aiza memasukkan pakaian seadanya ke dalam satu koper besar. Ia tidak mengambil satu pun barang mewah pemberian Arjuna. Ia hanya membawa pakaiannya sendiri, keperluan Warih, dan juga Kitab dari Qais.

"Sudah semua, Mbah?" tanya Aiza sambil membantu Mbahnya berdiri.

"Sudah. Hanya ini yang kita butuhkan. Ridha Allah tidak ada di dalam lemari-lemari besar itu, Aiza," jawab Warih tenang.

Saat mereka berjalan menuju pintu depan, Aiza sempat berhenti sejenak menatap ruang tengah yang kini terasa asing dan dingin. Ia meletakkan kunci rumah dan surat cerai yang tadi ia pegang di atas meja. Di samping kunci itu, ia meninggalkan sebuah catatan singkat.

..."Kalian boleh mengambil duniaku, tapi kalian tidak akan pernah bisa mengambil kebenaranku. Biarlah waktu dan Pemilik Semesta yang bicara.”...

Aiza menuntun Mbahnya keluar, memesan taksi daring dengan sisa uang tabungannya sendiri, dan segera pergi menuju stasiun. Ia ingin menghilang sebelum fitnah itu semakin meluas.

“Aku sudah lepas. Aku memang hancur di mata mereka, tapi aku merasa bebas di hadapan-Nya."

Tiba di stasiun, mereka yang sudah pesan tiket pun tak langsung berangkat. Mereka harus menunggu malam, sebab kereta tujuan Jawa Tengah akan berangkat malam.

Stasiun terasa sangat sesak malam itu. Suara pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan dengan deru mesin kereta. Aiza menggandeng tangan Warih dengan sangat erat, sementara tangan satunya menarik koper besar yang berisi seluruh sisa hidupnya.

"Sabar ya, Mbah. Sebentar lagi kita naik kereta. Di kampung nanti, kita akan hidup lebih tenang," bisik Aiza, mencoba menguatkan Warih meski kakinya sendiri sudah gemetar karena lelah dan lapar.

Saat mereka akan ke stasiun, dan bersiap untuk menuju kereta__karena kereta yang akan mereka tumpangi akan berangkat, tiba-tiba seorang pria dengan jaket kumal menabrak Aiza dengan sangat keras.

"Aduh! Hati-hati, Pak!" seru Aiza sambil berusaha menjaga keseimbangan agar Warih tidak jatuh.

Pria itu hanya bergumam tidak jelas dan segera menghilang di balik kerumunan orang yang sedang terburu-buru. Aiza tidak menaruh curiga, ia hanya menarik napas panjang dan merogoh tas selempangnya untuk mengambil dompet—berniat membayar biaya tambahan bagasi.

Seketika, jantung Aiza seolah berhenti berdetak.

Tangannya meraba ruang kosong di dalam tasnya. Tas itu sudah robek di bagian bawah, sebuah sayatan rapi yang hanya bisa dilakukan oleh pencuri profesional.

"Astagfirullah... Mbah... dompet Aiza..." suara Aiza tercekat di tenggorokan.

Ia panik, memeriksa seluruh isi tasnya. Hilang. Uang sisa tabungannya selama menjadi istri Arjuna—satu-satunya modal untuk ia menyambung hidup di kampung dan mengobati Warih—semuanya lenyap. Di dalam dompet itu juga ada kartu identitas dan tiket kereta yang sudah ia beli.

Aiza luruh ke lantai stasiun yang dingin. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Fitnah keguguran di rumah sakit tadi sudah cukup menghancurkan jiwanya, dan sekarang, dunia seolah ingin benar-benar membuatnya tidak punya jalan pulang.

"Nduk...ono opo?" tanya Mbah cemas, ikut berjongkok di samping Aiza.

"Uang kita hilang, Mbah... Semuanya dicuri. Kita ndak punya apa-apa lagi untuk pulang," isak Aiza pelan. Ia merasa sangat tidak berguna. Di rumah mewah itu ia dihina, dan di sini, ia dira*pok.

Harapan Aiza untuk pulang ke kampung halaman luruh bersama robekan tasnya. Ia memeriksa setiap sudut tas, berharap ada selembar uang yang tersisa, namun hasilnya nihil. Pencuri itu mengambil semuanya. Modal untuk memulai hidup baru, uang makan Warih, hingga tiket kereta yang menjadi satu-satunya akses keluar dari kota kejam ini, semuanya lenyap. Yang tersisa hanya pakaian mereka di dalam tas usang itu, juga kitab dari Qais yang untungnya ia tumpuk di dalam tas pakaiannya.

"Kita ndak bisa pulang malam ini, Mbah..." bisik Aiza dengan suara yang hilang timbul di antara keramaian stasiun.

Mbah Warih hanya diam, matanya yang mulai kabur menatap sayu ke arah Aiza. "Ndak apa-apa, Nduk. Gusti Allah mboten sare. Di mana saja, asal bersamamu, Mbah ndak takut.”

Tiba-tiba, petir menyambar di langit Jakarta, disusul dengan hujan deras yang turun seolah langit ikut menangisi nasib Aiza. Angin kencang membawa sisa air hujan masuk ke selasar stasiun yang terbuka. Orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh yang lebih hangat, namun Aiza dan Mbah Warih hanya bisa terpojok di sebuah sudut tembok beton yang dingin.

Aiza melepas jaket tipis yang ia kenakan, lalu menyampirkannya ke bahu Warih yang mulai menggigil.

"Mbah tidur ya, kepalanya senderkan ke bahu Aiza," ucap Aiza lembut.

Malam itu, mereka luntung-lantung tanpa arah. Stasiun yang tadinya riuh perlahan mulai sepi saat tengah malam tiba, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Aiza duduk bersandar di tembok, memeluk koper besar mereka agar tidak basah terkena tempias hujan.

Ia tidak menangis lagi. Air matanya seolah sudah kering sejak di rumah sakit tadi. Di tengah deru hujan, pikiran Aiza melayang pada Arjuna yang mungkin saat ini sedang tertidur di kasur empuk rumah sakit menjaga Briana, atau mungkin sedang merayakan kebebasannya.

Aiza memejamkan mata, bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat kursi untuk mengusir rasa takutnya. Ia merasa seperti pengembara di negeri asing, padahal ia masih di kota yang sama.

"Ya Allah... jika ini adalah cara-Mu untuk membersihkan dosaku, maka kuatkanlah aku," rintihnya pelan.

Suara gemericik air hujan yang menghantam atap seng stasiun menjadi satu-satunya melodi yang menemani tidur ayam mereka di atas ubin dingin. Aiza tidak tahu esok harus makan apa, atau bagaimana caranya ia membawa Warih keluar dari kota ini. Ia hanya tahu, selama ia masih bersama Mbahnya, ia belum benar-benar kalah.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
BundaNazwa: Hooh. Dibalikin nggak bisa lagi. Auto nangis dah tu🤧
total 1 replies
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
BundaNazwa: Siap😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!