Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Kenyataan Pahit
Selama bekerja, Rio merasa tidak tenang karena memikirkan istrinya yang sedang marah. "Lebih baik sekarang aku pulang dan membeli bunga untuk Ashika, pasti dia akan senang," batin Rio pada saat keluar dari ruangan rapat.
Ikbal mengikuti langkah Rio dari belakang dan masuk ke dalam ruangan Rio. "Bal, jadwal aku kosong 'kan setelah ini?" tanya Rio.
"Iya, Pak," sahut Ikbal.
"Aku mau pulang dulu, mau membujuk Ashika soalnya Ashika sedang marah kepadaku," ucap Rio.
"Apa itu masalah tadi malam?" seru Ikbal dingin.
Rio seketika menatap Ikbal kaget. "Kenapa kamu tahu?" tanya Rio penasaran.
"Tadi malam Ashika menghubungiku dan menanyakan keberadaan kakak," sahut Ikbal.
"Terus, kamu jawab apa?"
"Aku jawab seadanya saja, kalau kakak tidak ada di rumah," sahut Ikbal.
Rio kaget, dia mengusap wajahnya kasar. "Astaga Ikbal, kenapa kamu tidak bilang kalau aku ada di sana, kalau begini bagaimana aku bisa menjelaskan kepada Ashika," geram Rio.
"Tidak ada yang sempurna di dunia itu Kak, begitu pun dengan pernikahan kakak yang kakak sembunyikan karena lambat laun Ashika akan mengetahuinya dan kakak harus siap itu. Menurutku, Ashika lebih baik mengetahuinya sekarang dari pada nanti karena itu akan sangat menyakitkan bagi dia," sahut Ikbal.
"Bal, kakak tidak bisa melepaskan Ashika karena kakak sangat mencintai Ashika," ucap Rio.
Ikbal tersenyum sinis. "Kalau kakak benar-benar mencintai Ashika, kakak tidak akan berselingkuh dengan menikahi Nathalie jadi itu tandanya cinta kakak kepada Ashika masih belum kuat," sahut Ikbal.
"Terus sekarang kakak harus bagaimana Bal? Kakak bingung," ucap Rio dengan memegang kepalanya.
"Pilih salah satu jangan maruk, karena segala sesuatu jika dilakukan berlebihan akan berakibat tidak baik."
"Kakak tidak bisa melepaskan Ashika dan kakak juga tidak bisa menceraikan Nathalie," sahut Rio.
Ikbal mengepalkan tangannya. "Kakak memang egois, menginginkan dua wanita dalam hidup kakak tanpa kakak pikirkan bagaimana perasaan mereka," kesal Ikbal.
"Kakak ingin sekali menceraikan Nathalie tapi saat ini Nathalie sedang hamil jadi kakak tidak bisa menceraikan dia," lirih Rio.
"Kalau begitu lepaskan Ashika, biarkan dia hidup bebas dan mencari kebahagiaannya sendiri. Wanita seperti Ashika membutuhkan sosok pria yang mampu menerima keadaan dia apa adanya tidak seperti kakak yang kurang bersyukur dengan semua ini. Bahkan aku juga bisa menikahi Ashika kalau Ashika mau," ucap Ikbal.
Seketika darah Rio mendidih mendengar ucapan adik angkatnya itu. Rio menghampiri Ikbal dan mencengkram baju Ikbal dengan penuh emosi.
"Brengsek, berani sekali kamu bicara seperti itu. Apa kamu ingin merebut Ashika dariku!" bentak Rio.
"Aku tidak akan merebut siapa-siapa, tapi jika kakak tidak bisa membahagiakan Ashika maka aku siap membahagiakan dia," sahut Ikbal dengan mantapnya.
"Kurang ajar!"
Bughh....
Rio memukul Ikbal sampai Ikbal tersungkur ke lantai. "Kalau sampai kamu berani merebut Ashika dariku, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!" bentak Rio penuh emosi.
Rio pun dengan cepat meninggalkan Ikbal. Dia keluar dari kantor dan berniat untuk pulang menemui Ashika karena dia ingin sekali meminta maaf kepada istrinya itu. Sedangkan di rumah, Ashika baru saja sampai di rumahnya dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Baru saja dia mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel. Ashika bangkit dari duduknya dan menajamkan pendengarannya. "Bunyi ponsel siapa itu?" batin Ashika.
Ashika semakin menajamkan pendengarannya, hingga akhirnya dia menemukan bunyi itu dari dalam laci bagian paling bawah. Perlahan dia membuka laci, dan betapa terkejutnya Ashika saat melihat sebuah ponsel dan terlihat ada panggilan juga. Dengan tangan bergetar, Ashika mengambil ponsel itu.
"Nathalie," gumamnya.
Ashika pun memutuskan untuk mengangkatnya, tapi dia tidak bicara sama sekali.
"Sayang, kamu ke mana sih? Kok lama sekali angkat telepon dari aku? nanti siang kamu ke apartemen aku ya, dan bawakan rujak soalnya perut aku mual terus lagi pula calon anak kamu kayanya sudah rindu ingin bertemu dengan Papanya," ucap Nathalie dengan manjanya.
Bagai disambar petir di siang bolong, hati Ashika sangat hancur bahkan ponsel yang dia pegang pun terjatuh ke lantai. Air mata Ashika keluar dengan derasnya, hatinya hancur dan sangat sakit ternyata selama ini Rio selingkuh di belakangnya. Terlihat panggilan Nathalie pun terputus dan Ashika menangis sejadi-jadinya saat itu.
sementara itu Nathalie mengerutkan keningnya. "Kenapa Rio tidak bicara sama sekali, apa jangan-jangan itu yang angkat Ashika? baguslah, kalau dia tahu yang sebenarnya maka aku tidak akan susah-susah menyuruh Ashika untuk melepaskan Rio," gumam Nathalie dengan senyumannya.
Setelah puas menangis, Ashika kembali mengambil ponsel itu dan membukanya. Ashika membuka pesan dan membaca semua pesan yang dikirim oleh Nathalie. Hatinya semakin sakit melihat percakapan keduanya yang sangat mesra bahkan yang lebih menyakitkan lagi, ternyata saat ini Nathalie sedang mengandung anaknya Rio.
"Kamu jahat Mas, katanya kamu sangat mencintaiku dan menerima aku apa adanya tapi nyatanya sekarang apa? kamu malah selingkuh di belakang aku," batin Ashika dengan deraian air matanya.
Ashika kembali menangis, dia tidak terima Rio mempermainkan hati seperti ini. Ashika pun mengepalkan kedua tangannya, matanya memerah menahan amarah yang sangat besar itu. Dengan kasar dia menghapus air matanya.
"Aku tidak boleh cengeng, aku harus balas mereka berdua. Rasanya tidak adil jika aku harus mengalah dengan mudah, pasti mereka akan menertawakanku," geram Ashika.
Ashika segera menyimpan ponsel itu ke dalam laci kembali. Dia akan berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa, dan berpura-pura tidak tahu dengan perselingkuhan Rio. Dia bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah, setelah itu dia memoles kembali wajahnya supaya tidak terlihat seperti habis menangis.
Tidak lama kemudian, terdengar suara deru mobil berhenti di halaman rumah. Ashika mengintip dari balik jendela kamarnya. "Kenapa siang-siang begini dia pulang? apa dia ingin meminta maaf kepadaku?" batin Ashika.
Ashika pun segera turun ke bawah. "Sayang, ini aku belikan bunga kesukaan kamu," ucap Rio dengan senyumannya.
"Terima kasih, Mas," sahut Ashika dengan senyuman yang dipaksakan.
"Sayang, kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Rio khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja. Mas kenapa pulang? apa ada yang ketinggalan?" tanya Ashika sembari berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
"Tidak, aku hanya rindu saja sama kamu. Maafkan Mas ya, sayang. Tadi malam aku memang tidak pergi ke rumah Mama karena klien memintaku untuk bicara di restoran," dusta Rio.
Ashika tersenyum getir. "Aku sudah tahu Mas, kamu bukan bertemu klien tapi kamu bertemu Nathalie," batin Ashika.
"Bagaimana kalau siang ini kita makan di luar, sebagai ganti karena tadi malam kita tidak jadi dinner, bagaimana?" seru Rio.
"Boleh, tunggu sebentar aku ganti baju dulu," sahut Ashika dengan senyumannya.
Ashika segera naik ke atas untuk mengganti baju, sedangkan Rio terlihat sangat bahagia. "Alhamdulillah, ternyata Ashika tidak marah kepadaku," batin Rio bahagia.
Rio tidak tahu jika Ashika sudah mengetahui semuanya.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan