Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Narendra
"Apa yang mau Lo lakuin?!" Teriak Pria itu sambil menghampiri Bintang yang tampak sudah memejamkan matanya dengan tangan yang melindungi kepala..
"Siapa Lo?" Tanya Saka dengan mengerutkan dahinya lalu kembali menurunkan tangannya.
"Gue... Lo gak perlu tahu siapa gue... Yang perlu Lo tahu, jika Lo sampai sedikit saja menyentuh Bintang, maka Lo akan berurusan sama gue." Lalu merentangkan tangannya didepan dada Bintang, setelah itu menyembunyikan tubuh mungil Bintang dibalik tubuh kekarnya.
"Heh... Jalang! Pria liar mana lagi yang sudah Lo taklukkan, hingga segitunya melindungi Lo..." Tampak Kalla berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya didepan dada dan nada yang mengejek serta raut wajah yang sinis.
Bintang kembali mengangkat wajahnya dan menatap Kalla dengan tatapan yang nanar dan terlihat terluka, mata bening itu tampak berkaca-kaca serta bibir yang bergetar, tapi bibir mungil itu terlihat menyunggingkan senyum walau terlihat sangat getir.
"Hehehe... Seperti itukah nilaiku dimata kalian? Sehina dan serendah itukah?" Tanya Bintang yang terdengar penuh luka, dengan diiringi tawa getir.
Lalu tangan mungil itu menepuk bahu pria yang berdiri didepannya dan mencoba melindungi nya dari serangan ganas Saka dan Kalla.
"Lalu coba Lo katakan bagaimana seharusnya kami menilai Lo? Gadis suci? Heh... Lihat dimana Lo berdiri sekarang?" Ejek Saka semakin menjadi.
"Hei! Jaga bacot Lo ya...!" Teriak pria itu dengan mengepalkan tangannya dan wajah yang langsung mengeras saat mendengar ejekan Saka.
"Lo tahu... Prilaku jalang itu, hanya menjilat dan tidak tahu malu, dengan sikap yang seperti itu bagaimana nilai yang seharusnya Dia dapatkan?"
Kalla juga tampak emosi dan mengucapkan apa saja untuk melampiaskan emosinya, hatinya terasa panas saat melihat Bintang yang hanya diam dalam perlindungan pria itu dan tidak sedikitpun memohon pertolongan padanya seperti biasanya.
"Iya... Jika Dia punya sedikit saja sikap Aurora mungkin nilainya sudah akan menjadi sedikit berbeda," Lanjut Saka dengan tersenyum miring.
Pria itu dengan wajah yang terkejut menoleh dan menatap wajah Bintang yang terlihat sangat menyedihkan, bibirnya tetap mengurai senyum tapi, sorot mata bening itu terlihat sangat jelas jika terluka, senyum yang Dia sunggingkan itu tampak menusuk hatinya, senyum terluka.
"Hentikan bacot Lo itu brengsek...!" Teriak pria itu lalu dengan penuh emosi melangkah maju dan melayangkan tangannya pada wajah Saka.
Saka yang sudah biasa berkelahi tentu saja mempunyai refleks yang bagus, dengan santai Saka berkelit lalu menangkap tangan pria itu dan mengibaskan nya dengan kuat hingga membuat pria itu sedikit oleng.
Bintang yang melihat itu langsung bergegas menahan tubuh pria itu, lalu membantunya berdiri kembali, sambil memegang dan memperhatikan lengan pria itu yang tampak kemerahan akibat cekakan kuat dari Saka.
"Sudah Kak Naren... Dia bukan tandingan Kakak, jangan biarkan Kakak terluka hanya karena Bintang, itu tidak layak..." Lirih Bintang yang mulai meneteskan air matanya.
"Maaf... Gara-gara Bintang, kakak harus mengalami ini..." Lanjutnya lagi, lalu tampak Bintang berbalik dan menatap Saka yang tampak berdiri dengan congkaknya.
"Urusan kalian hanya dengan ku, jangan libatkan orang lain," Ucap Bintang datar.
"Jangan coba-coba menyentuhnya, jika kalian tidak ingin menyesal." Ucap Narendra dan dengan cepat menarik Bintang dan menyembunyikan nya lagi dibalik tubuh kekarnya.
"Ada apa sih, lama sekali, dasar para pecundang ini tidak bisa diandalkan sama sekali. Terpaksa gue harus turun tangan sendiri." Monolog Aurora lalu turun kembali dari mobil.
"Ada apa ini, mengapa Tuan muda Moses ini bisa ada disini, apa! Dia melindungi jalang itu! Apa yang sudah dia berikan hingga Tuan muda yang terkenal sombong itu bisa melindungi nya sampai seperti itu." Ucap Aurora terkejut dan dengan emosi sambil mengepalkan tangannya dengan erat hingga kuku-kukunya menusuk ke telapak tangannya.
"Dasar jalang murahan, sihir apa yang Dia gunakan hingga bisa membuat mereka takluk," Lanjutnya lagi dengan suara yang tertahan.
Tak lama kemudian mata Aurora langsung melotot melihat Saka dan Kalla yang merangsek maju menyerang Narendra dengan ganas.
Sementara Narendra hanya menatap santai dan sinis seolah tengah mempermainkan emosi mereka.
"KAK... BERHENTI!!!" Teriak Aurora sambil berlari mendekati mereka yang tampak terkejut mendengar teriakan kencang Aurora.
"Kak... Tahan emosi kalian, Dia bukanlah orang yang bisa kalian usik," Bisik Aurora sambil menahan tangan Kalla dan Saka.
"Heh... Apa seber bahaya itukah? Memang siapa Dia," Sahut saja dengan tatapan yang meremehkan dan senyum sinis.
"Dia Tuan muda Moses..." Sahut Aurora dengan suara yang penuh penekanan.
Saka dan Kalla yang mendengar jawaban dari Aurora tentang indentitas pria yang ada dihadapan mereka itu langsung terkejut. Siapa yang tidak tahu keluarga Moses, sang pengusaha berlian.
"Maaf Kak Naren... Kakak Rora hanya sedang emosi," Ucap Aurora lembut dengan tersenyum manis.
"Mereka hanya sedang mengajari Bintang,"
"Bintang... Ucapakan sesuatu...jangan keras kepala lagi, walau sebesar apapun kesalahan mu, kami pasti akan tetap memaafkan mu, karena walau bagaimanapun juga kita tetaplah dari darah yang sama, keluarga Miller."
"Kak Kalla dan Kak Saka bermaksud baik, mereka hanya menghawatirkan mu, karena takut terbawa pergaulan dan salah jalan... Jangan lakukan itu lagi, itu benar-benar salah dan sangat tidak baik untuk reputasi mu." Aurora terlihat sangat menjiwai perannya yang seolah-olah tengah menghawatirkan dan menasehati Bintang dengan kata-kata yang ambigu.
"Kakak? Siapa kakak Lo... Gue ini anak tunggal, dan adik gue cuma Bintang," Sanggah Narendra dan dengan sombong merangkul pundak Bintang.
'Brengsek! Sialan!