NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Over protective

Pagi datang pelan, nyaris tak terasa. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di wajah Luciano yang masih terlelap. Alana berdiri di sisi ranjang cukup lama, membiarkan waktu berjalan tanpa ia ganggu.

Luciano tidur lebih nyenyak dari semalam. Napasnya kini teratur, tidak lagi terengah atau bergetar. Demamnya memang belum sepenuhnya turun, tapi wajahnya tak lagi pucat keabu-abuan seperti malam tadi. Garis keras yang biasanya menghuni rahangnya kini melunak, alisnya tak lagi berkerut, seolah dunia di kepalanya akhirnya memberi jeda.

Alana mengulurkan tangan, ragu sesaat, lalu dengan sangat hati-hati menyibakkan rambut Luciano yang jatuh ke dahi. Sentuhannya ringan, nyaris tak terasa.

“Kalau kamu tahu…” bisiknya lirih, “kamu kelihatan jauh lebih damai saat tidur.”

Ada kehangatan yang aneh mengalir di dadanya. Perasaan yang tak ia beri nama, tapi terasa nyata. Melihat Luciano dalam kondisi seperti ini, rapuh, tenang, manusiawi, membuat Alana sadar bahwa pria di hadapannya bukan hanya sosok berbahaya yang menakutkan, bukan hanya lelaki dengan dunia gelap dan tangan berdarah.

Ia juga seseorang yang bisa terluka. Yang bisa jatuh sakit. Yang bisa hampir mati.

Dan entah sejak kapan, Alana tak lagi sanggup bersikap acuh pada kenyataan itu.

Ia menarik napas dalam, lalu mundur perlahan dari sisi ranjang. Selimut Luciano dirapikan, lampu kamar dibiarkan redup, pintu ditutup setengah agar udara tetap mengalir tanpa mengganggu tidurnya.

Alana melangkah keluar kamar dengan langkah ringan.

Begitu tiba di dapur besar rumah itu, suasana langsung berubah. Beberapa pelayan menoleh, jelas terkejut melihatnya.

“Nyonya Alana?” salah satu dari mereka hendak bicara, tapi langkah cepat di belakang memotongnya.

Altair muncul di ambang pintu dapur, wajahnya serius seperti biasa. Tatapannya langsung tertuju pada Alana, lalu beralih ke celemek yang sudah diambil gadis itu dari gantungan.

“Tidak,” kata Altair tegas. “Nyonya tidak perlu melakukan ini.”

Alana menoleh. “Melakukan apa?”

“Memasak,” jawab Altair singkat. “Sudah ada pelayan. Sudah ada koki. Anda tidak perlu repot.”

Alana menghela napas pelan, lalu melangkah mendekat ke meja dapur. Tangannya mulai menata bahan-bahan yang tadi ia minta diambilkan daging segar, wortel, kentang, bawang, seledri.

“Aku ingin membuat sup,” katanya tenang. “Untuk Luciano.”

Altair mengernyit. “Itu tidak perlu. Tuan Luciano tidak pernah—”

“Aku tahu,” potong Alana, suaranya tetap lembut tapi kali ini mengandung keteguhan. “Aku tahu dia tidak pernah minta. Tapi kali ini aku ingin.”

Altair terdiam sesaat. “Ini bukan tempat yang aman untuk Anda berada lama-lama, Nyonya. Dapur—pisau, api—”

Alana berhenti menata bahan. Ia menoleh, menatap Altair lurus-lurus.

“Altair,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Semalam aku berjaga tanpa tidur karena dia hampir mati. Pagi ini aku hanya ingin membuatkan sup.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Altair menghela napas panjang, seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Ia menatap Alana, wajahnya pucat karena kurang tidur, matanya sembab, tapi sorotnya penuh tekad.

“Setidaknya biarkan pelayan membantu,” katanya akhirnya, nada suaranya melunak. “Anda tidak perlu sendirian.”

Alana menggeleng. “Aku mau masak sendiri. Aku bisa.”

Altair menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk kecil. “Baik. Tapi saya akan tetap di sini.”

Alana tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Ia mulai bekerja. Pisau bergerak perlahan di atas talenan. Bawang diiris dengan hati-hati, wortel dipotong rapi. Setiap gerakan terasa penuh makna bukan sekadar memasak, tapi seperti menyalurkan sesuatu yang selama ini terpendam.

Dalam benaknya, wajah Luciano terus muncul. Tangannya yang menggenggam bajunya semalam. Suaranya yang mengigau menyebut namanya. Tubuhnya yang gemetar dalam pelukan.

Alana mengaduk sup yang mulai mendidih, uap hangat naik ke wajahnya. Aromanya perlahan memenuhi dapur mewah, tapi menenangkan.

“Dia harus makan,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Tubuhnya butuh tenaga.”

Altair memperhatikan dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Alana sebagai sandera. Ia melihatnya sebagai seseorang yang peduli.

Sup akhirnya matang. Alana mencicipinya sedikit, memastikan rasanya pas tidak terlalu asin, hangat, menenangkan.

Ia menuangkannya ke mangkuk, meniup perlahan uap panasnya.

“Aku akan antar ini untuk Luciano.” tanyanya pada Altair.

Altair mengangguk. “Saya akan ikut.”

Alana membawa mangkuk itu dengan kedua tangan, melangkah menuju kamar Luciano. Di depan pintu, ia berhenti sejenak, menarik napas, lalu masuk pelan.

Luciano masih tidur.

Alana mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah itu lagi, kali ini dengan perasaan yang lebih dalam dari sebelumnya.

“Bangun,” bisiknya pelan, hampir seperti doa, “aku sudah buatkan sesuatu untuk kamu.”

Sup daging hangat di tangannya mungkin sederhana.

Tapi bagi Alana, itu adalah caranya berkata.

Aku di sini. Aku peduli. Dan kali ini, aku memilih untuk tinggal.

Aroma sup daging itu lebih dulu menyentuh kesadaran Luciano sebelum matanya benar-benar terbuka. Hangat, gurih, dan entah kenapa terasa menenangkan. Sangat kontras dengan bau darah dan lumpur yang masih samar terbayang di kepalanya.

Kelopak matanya bergerak pelan. Saat pandangannya fokus, hal pertama yang ia lihat adalah Alana duduk di sisi ranjang, memegang mangkuk sup dengan hati-hati, seolah benda itu jauh lebih berharga dari apa pun di ruangan itu.

“Kamu udah bangun,” ucap Alana lembut, senyum kecil terbit di wajahnya.

Luciano menelan ludah. Tenggorokannya kering. Tanpa diminta, Alana segera mengambil gelas dan menyodorkannya ke bibir Luciano.

“Minum dulu,” katanya.

Luciano menurut. Tangannya masih lemah, jadi Alana yang menopang gelas itu. Tatapan Luciano tak lepas dari wajah Alana selama ia minum seolah memastikan gadis itu benar-benar ada di sana, tidak menghilang seperti mimpi buruk semalam.

“Apa itu…” suara Luciano serak, matanya melirik mangkuk sup, “menu baru dari koki?”

Alana tersenyum kecil, tapi ada getar halus di baliknya. “Bukan.”

Ia menggeser mangkuk itu sedikit lebih dekat. “Ini resep ibuku.”

Luciano terdiam.

“Aku yang masak sendiri,” lanjut Alana pelan. “Ibu dulu sering buatkan ini kalau aku sakit.”

Wajah Luciano langsung berubah. Bukan hanya terkejut, ada kepanikan yang nyata di matanya.

“Kau memasak?” nadanya langsung mengeras, tubuhnya berusaha bangkit meski jelas belum cukup kuat. “Alana, siapa yang menyuruhmu?”

“Aku sendiri yang mau—”

“Tidak,” potong Luciano cepat. Tangannya refleks mencengkeram pergelangan Alana, tidak keras, tapi cukup kuat untuk menunjukkan ketakutannya. “Jangan pernah lakukan itu lagi.”

Alana terdiam, menatapnya bingung.

“Pisau,” lanjut Luciano, napasnya sedikit memburu. “Api. Kompor. Kau bisa terluka. Tanganku saja bisa hampir—” ia menghentikan kalimatnya, rahangnya mengeras. “Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu. Tidak boleh.”

Nada suaranya bukan marah. Lebih seperti panik yang disamarkan jadi perintah.

“Luciano, aku baik-baik aja,” Alana mencoba tersenyum. “Aku bisa jaga diri.”

“Tidak,” ulang Luciano, kali ini lebih tegas. “Mulai sekarang, apa pun yang berbahaya, memasak, keluar sendiri, bahkan menyentuh benda tajam, jangan lakukan tanpa izin.”

Alana terdiam cukup lama. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Luciano. Ada rasa tidak nyaman, tapi juga ada sesuatu yang lain, ketakutan yang tulus dari pria itu.

“Kamu terlalu berlebihan,” ucap Alana akhirnya, suaranya pelan.

Luciano menatapnya intens. “Aku tahu.”

Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan jujur, “Tapi aku tidak bisa kehilanganmu. Aku hampir mati semalam, Alana. Dan satu-satunya hal yang membuatku takut bukan kematian, tapi kemungkinan kau terluka karena hal sepele.”

Alana menunduk. Dadanya terasa sesak.

“Aku tidak ingin kau berubah jadi tahanan lagi,” katanya lirih.

Luciano meraih wajah Alana dengan lembut, ibu jarinya menyentuh pipi gadis itu seolah memastikan tidak ada goresan sekecil apa pun. “Aku hanya ingin kau aman. Itu saja.”

Alana mengangguk pelan, meski jelas ada kompromi berat di hatinya.

“Baik,” ucapnya akhirnya. “Aku nggak akan masak lagi.”

Luciano langsung menghela napas lega, seolah beban besar terangkat dari dadanya. Tangannya masih enggan melepaskan Alana.

“Tapi sekarang,” Alana berkata sambil mengangkat sendok, “kamu harus makan. Atau aku akan marah.”

Luciano tersenyum tipis, tapi hangat.

“Baik,” katanya. “Asal kau di sini.”

Alana menyuapinya perlahan. Luciano menutup mata saat sup itu menyentuh lidahnya, hangat, sederhana, tapi sarat rasa yang tidak bisa ia jelaskan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!