Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Makhluk itu melangkah maju, perlahan namun pasti, setiap langkahnya terasa berat dan dipenuhi aura dingin yang mencekik. Senyum mengerikan itu tak pernah pudar, seolah menikmati setiap detik ketakutan yang ia tebarkan.
Udara di ruangan itu terasa menipis, membuat Emily, Antonio, Bastian, dan Anya kesulitan bernapas. Mereka ingin berteriak, ingin lari, namun kaki mereka terpaku di lantai, menyaksikan kengerian yang tak terbayangkan merasuki tubuh Greta.
Jantung Astra berdebar kencang, memukul-mukul dadanya seperti genderang perang. Rasa takut itu nyata, dingin, dan melumpuhkan. Ia merasa seolah-olah seluruh kekuatannya tersedot habis oleh tatapan mata merah darah itu. Ia terhuyung, energinya terkuras habis.
"Maneh pikir, maneh bisa ngeren keun aing?" desis makhluk itu, bangkit dengan seringai yang lebih lebar.
[ Kamu pikir kamu bisa menghentikan ku? ]
"Maneh ukur bakal jadi dahareun utama aing." [ Kamu hanya akan menjadi makanan utamaku. ]
Astra memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, namun tubuhnya bergetar hebat.
Tepat pada saat itu, Samuel, yang sedari tadi hanya berdiri di belakang, tiba-tiba melangkah maju. Berdiri di depan makhluk itu membelakangi Astra, ekspresinya yang tadi datar kini terlihat tajam, seolah marah namun terasa horor.
Ia berdiri tepat di depan Astra, membelakangi gadis itu, menatap lurus ke mata merah darah makhluk yang merasuki Greta.
"Cukup," ucap Samuel, suaranya rendah dan dalam, memecah keheningan yang mencekam.
Makhluk itu terkiki. "Kkkk~ lihat siapa ini. Anak kecil lain yang ingin menjadi pahlawan? Tapi kamu cukup baik untuk jadi makan penutup ku, kkk~"
"Tunguan, aing rék mangsa nu hiji ieu." [ Tunggu aku memangsa yang satu ini. ]
Greta berlari menerjang menuju Astra, namun sebelum dia benar-benar melewati Samuel, sesuatu menghalangi nya.
Samuel mengabaikan ancaman itu. Ia kemudian memejamkan mata sejenak, dan ketika ia membukanya, matanya tidak lagi berwarna cokelat biasa, melainkan memancarkan cahaya keemasan yang redup.
Tiba-tiba, bayangan di belakang Samuel memanjang dan memadat. Bukan bayangan biasa, melainkan siluet raksasa yang terbentuk dari kegelapan pekat yang diselimuti zirah kristal berwarna ungu tua.
Sosok itu perlahan mengambil bentuk, menjadi Raksasa Bayangan Berzirah Kristal dengan Enam Lengan. Tingginya menjulang hingga langit-langit rumah dan di setiap bahunya terdapat tiga pasang mata yang menyala biru dingin. Di keenam tangannya, masing-masing memegang senjata yang berbeda... Pedang besar, cambuk rantai, kapak perang, perisai bundar, trisula, dan sebuah bola energi yang berdenyut.
Khodam Penjaga Samuel telah muncul.
Raksasa Bayangan itu mengeluarkan suara gemuruh yang bukan berasal dari tenggorokan, melainkan dari resonansi dimensi lain. Suaranya seperti ribuan batu yang bergesekan. Khodam itu menggerakkan keenam lengannya secara serempak, menciptakan pusaran energi yang menekan makhluk itu.
"Jangan mengganggu nya!" bentak Khodam itu, suaranya menggema di seluruh ruangan, membuat kaca-kaca jendela bergetar.
Makhluk itu terkejut. Seringainya menghilang, digantikan oleh ekspresi teror murni. Ia tidak menyangka anak muda ini memiliki penjaga sekuat ini.
"Penjaga Dimensi!" desis makhluk itu, menyadari bahwa ia berhadapan dengan entitas yang setara.
Khodam Samuel tidak memberi jeda. Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan pedang dan kapaknya, memaksa entitas itu untuk melepaskan tubuh Greta dan menghindar. Tubuh Greta jatuh tak sadarkan diri, dan Khodam itu segera menahan makhluk itu yang kini berbentuk gumpalan asap hitam pekat.
Saat pertarungan sengit antara dua entitas gaib itu pecah, Astra yang masih terhuyung di belakang Samuel, tiba-tiba merasakan kehangatan di hatinya. Suara-suara di sekitarnya meredup, dan ia mendengar suara lain, suara yang sangat familiar dan sesuatu yang ia kenali.
“Dia tidak bisa dihancurkan di sini. Kekuatanmu tidak cukup untuk melawan entitas setua ini di dimensi fisik. Kamu harus keluar dari ragamu, Nak. Makhluk penjaga pemuda itu tidak bisa bertahan lebih dari 10 menit. Ingat apa yang selalu Emah lakukan saat menghadapi yang terkuat? Jiwa harus melawan jiwa."
Astra segera menjatuhkan dirinya ke lantai, mengingat hal yang di lakukan Ibunya dulu. Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai mengatur napasnya.
Di tengah gemuruh pertarungan antara Khodam Samuel dan makhluk itu, Astra memfokuskan seluruh niatnya. Ia membayangkan dirinya melepaskan semua ikatan fisik, membiarkan jiwanya mengambang bebas.
Astra merasakan sensasi aneh, seperti tarikan lembut dari dalam dirinya. Tubuhnya terasa dingin, sementara jiwanya terasa ringan. Dengan satu tarikan napas terakhir, ia berhasil.
Jiwa Astra terlepas dari raganya. Ia kini berdiri di samping tubuh fisiknya yang bersila, melihat dirinya sendiri, melihat Samuel dan Khodamnya, Raksasa Bayangan Berzirah Kristal dengan Enam Lengan, yang sedang bertarung sengit melawan makhluk itu.
Khodam Samuel tampak terdesak, namun ia terus menahan makhluk itu agar tidak mendekati tubuh Astra.
Astra, dalam wujud jiwanya, kini memancarkan cahaya putih kebiruan. Ia menoleh ke arah makhluk itu, yang kini menyadari kehadiran jiwa Astra.
"Oh, mojang leutik, maneh geus mimiti ulin seuneu." raung makhluk itu, suaranya kini terdengar lebih jelas dan lebih jahat di dimensi astral.
[ Oh, gadis muda kamu sudah mulai bermain api! ]
***
Maaf, 2 hari gak update author sibuk jadi panitia LDKS~
Btw retensi cerita ini anjlok 😞
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶