Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau: Bab 19 Prahara di Pelataran Paman Baskoro
Pagi itu, mentari baru saja merangkak naik, menumpahkan cahaya keemasan yang sejuk di atas atap-atap rumah perkampungan. Udara masih terasa menggigit, membawa aroma khas tanah basah dan daun-daun kering yang baru saja disapu oleh angin malam. Valaria berdiri di halaman rumahnya dengan sapu lidi di tangan. Gerakannya teratur, menciptakan irama gesekan yang menenangkan di atas paving block yang mulai ditumbuhi lumut tipis. Semuanya tampak normal, damai, dan bersahaja sebuah potret pagi yang lazim di desa itu.
Namun, kedamaian itu terusik ketika dua sosok asing tiba-tiba muncul. Mereka berperawakan tegap dengan langkah kaki yang berat. Wajah mereka keras, tanpa sedikit pun keramahan, dan mereka berhenti tepat di depan pintu rumah Paman Baskoro, tetangga sekaligus kerabat Valaria.
"Siapa mereka?" gumam Valaria lirih. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak. Sapu lidi disandarkannya pada pohon mangga di sudut halaman, sementara matanya terus mengikuti kedua tamu tak diundang itu masuk ke dalam rumah Paman Baskoro.
Awalnya, Valaria mengira mereka hanyalah tamu biasa; mungkin rekan kerja paman atau sanak saudara dari kota. Namun, suasana berubah dengan sangat cepat. Dari dalam rumah, suara-suara meninggi mulai merembes keluar. Suara Paman Baskoro yang biasanya berat dan menenangkan kini terdengar bergetar menahan amarah, diselingi nada bicara dingin dan kasar dari salah satu tamu tersebut. Tak lama kemudian, teriakan melengking Bibi Tirta menyusul, membelah kesunyian pagi.
"Tidak! Tolong, jangan lakukan itu!"
Valaria tersentak. Itu bukan lagi perdebatan biasa; itu adalah keributan yang berbahaya.
"Kau pikir kami ini badut? Jangan main-main dengan properti bos kami! Bayar sekarang atau kami hancurkan tempat ini!" Sebuah suara menggelegar dari dalam, penuh dengan ancaman yang nyata.
BRAKKK!
Suara pecahan kaca dan dentuman keras benda yang dilempar membuat ketenangan pagi itu benar-benar hancur berkeping-keping. Jantung Valaria berdebar kencang, seolah-olah hendak melompat keluar dari dadanya. Ia ingin berlari menolong, namun kakinya terasa seperti terpaku ke bumi.
Keributan hebat itu membangunkan seisi rumah Valaria. Ayah dan ibunya, bergegas keluar dari ruang tengah dengan wajah tegang. Lorong desa yang semula sepi kini mulai ramai. Pintu-pintu rumah tetangga terbuka satu per satu; warga mulai berkerumun di halaman rumah Paman Baskoro dengan mata penuh rasa ingin tahu yang bercampur dengan kecemasan.
"Valaria! Ada apa ini? Kenapa ramai sekali di rumah Baskoro?" tanya Arjun dengan nada cepat, matanya menatap tajam ke arah rumah sebelah.
Valaria menelan ludah, wajahnya pucat pasi. "Aku... aku tidak tahu pasti, Yah. Tadi ada dua orang asing masuk ke rumah Paman Baskoro. Lalu tiba-tiba saja mereka mengamuk. Mereka yang membuat keributan itu!"
Ekspresi Ayah mengeras. Ia melirik ibunya yang juga menatapnya dengan kekhawatiran yang mendalam. "Kita harus ke sana, istriku. Ini sudah tidak benar," tegas Arjun.
Baru saja Ayah melangkah, ibuku menahan lengannya. Ia menoleh kepada Valaria dengan tatapan serius. "Valaria, kau jangan ikut ke sana. Jaga adikmu, Raka. Dia pasti segera bangun karena suara gaduh ini. Biar Ayah dan Ibu yang melihat situasi di rumah Pamanmu. Kau awasi saja dari sini."
Valaria mengangguk cepat. Rasa cemasnya kini bercampur dengan tanggung jawab untuk melindungi adiknya. Benar saja, tak lama kemudian Raka keluar dengan rambut berantakan dan wajah bantal.
"Kakak, ada apa? Kenapa berisik sekali? Ayah dan Ibu mana?" tanya Raka dengan suara kecil yang kebingungan.
Valaria segera memeluk adiknya, mencoba menutupi pandangan bocah itu. "Ayah dan Ibu sedang di rumah Paman Baskoro. Ada sedikit masalah teknis. Jangan khawatir, kita tunggu di sini saja, ya?"
Namun, rasa penasaran Raka tidak bisa dibendung. Ia melepaskan diri dari pelukan kakaknya dan matanya langsung terpaku pada kekacauan di halaman depan rumah Paman Baskoro. Melalui pintu yang terbuka lebar, pemandangan memilukan tersaji. Meja kayu yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu kini terbalik dengan kaki yang patah. Kursi-kursi terlempar ke sudut ruangan, bahkan peralatan memasak dari dapur berserakan di lantai, seolah-olah baru saja diterjang badai.
Dua pria asing itu berdiri dengan angkuh di tengah puing-puing perabotan. "Kau dengar, Jaya?! Ini baru permulaan! Kau hanya punya waktu dua minggu! Dua minggu untuk mengumpulkan uangnya!" bentak pria yang bertubuh lebih tinggi. Suaranya tajam, menyakitkan telinga bagi siapa pun yang mendengar.
Di lantai, di antara sisa-sisa kehancuran, Jaya putra dari Paman Baskoro berlutut dengan tubuh gemetar. Wajahnya merah padam, bukan karena amarah, melainkan karena rasa malu dan bersalah yang menghimpit jiwanya. Air matanya membasahi pipi, namun ia memaksakan diri untuk bersujud di hadapan kedua pria kejam itu.
"Aku mohon... kumohon hentikan! Aku janji akan bertanggung jawab. Aku akan mengganti rugi semua barang ini! Beri aku sedikit waktu lagi!" Jaya memohon dengan suara parau yang menyayat hati.
Di belakangnya, Paman Baskoro dan Bibi Tirta hanya bisa menatap nanar. Paman Baskoro ingin maju untuk melawan, namun Bibi Tirta menahan lengannya dengan erat, tahu bahwa perlawanan fisik hanya akan membuat para preman itu semakin beringas.
Warga yang menyaksikan adegan itu tidak tahan lagi. Semangat gotong royong dan kepedulian sosial mereka mendidih. Beberapa pria desa maju dengan keberanian yang dipaksakan.
"Hei! Apa-apaan kalian ini?! Jangan seenaknya merusak rumah orang di desa kami!" seru salah seorang tetangga.
Pria asing itu meludah ke tanah dengan jijik. "Jangan ikut campur, kalian orang desa yang bodoh! Ini urusan bisnis! Kami hanya menagih ganti rugi atas properti dagang yang dirusak oleh pecundang ini!"
Jaya mengangkat wajahnya yang sembab. "Tolong, sudah cukup. Biar aku yang selesaikan," ucapnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabatnya. "Berapa... berapa total yang harus aku bayar?"
Pria satunya menyeringai sinis. "Bagus. Ingat, satu juta rupiah dalam dua minggu. Jika uang itu tidak ada di tangan kami, kami tidak akan ragu menyeretmu ke penjara atas tuduhan pengrusakan properti dagang. Pikirkan nasib keluargamu!"
Setelah menjatuhkan ancaman yang menohok itu, keduanya berbalik dan pergi, meninggalkan aroma ketakutan yang pekat di udara pagi.
Begitu para pria itu menghilang, tangis Bibi Tirta pecah. Ia menghambur ke arah Jaya, memeluk putranya dengan erat. Paman Baskoro menyusul, menepuk punggung Jaya dengan tangan yang gemetar hebat. Eko, anak bungsu mereka, yang sejak tadi bersembunyi di balik Arjun, ikut menangis melihat kehancuran keluarganya. Tangis anak itu seperti jarum yang menusuk hati setiap warga yang hadir.
Kepala Desa tiba tak lama kemudian, memecah kerumunan warga. Dengan langkah tenang namun penuh wibawa, ia segera menggiring keluarga Baskoro masuk ke dalam rumah. "Sudah, sudah. Jangan bicara di luar. Mari kita bicarakan semuanya di dalam dengan kepala dingin," ucapnya menenangkan.
Di luar, para tetangga mulai bergerak tanpa dikomando. Mereka membersihkan puing-puing, menegakkan kembali meja yang patah, dan mengumpulkan peralatan dapur yang tercecer. Inilah kekuatan desa; di tengah bencana, tangan-tangan tulus selalu terulur.
Di dalam ruang tamu yang kini terasa dingin, Ayah dan ibunya menunggu dengan gelisah. Setelah suasana sedikit mereda, Ayah memberanikan diri untuk bertanya. "Baskoro, Tirta, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka sampai bertindak sekejam itu? Dan apa maksudnya dengan properti dagang?"
Bibi Tirta menjawab dengan suara serak. "Jaya... Jaya difitnah, Arjun. Rekan kerjanya menjebak dia." Ia menarik napas dalam, mencoba menahan isak tangisnya. "Rekannya itu mengambinghitamkan Jaya atas kerusakan barang dagangan baru yang masuk ke toko. Barang itu... cokelat impor dari luar negeri. Barang yang sangat mahal."
Ibuku memegang lengan Bibi Tirta, mencoba memberikan kekuatan. "Lalu, kenapa mereka menuntut ganti rugi sebesar itu hanya untuk cokelat?"
Paman Baskoro mengusap wajahnya yang lelah. "Mereka datang karena pemilik toko menuntut ganti rugi penuh. Mereka percaya Jaya yang merusak karena laporan palsu itu. Barang itu... harganya..." Baskoro tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Jaya, yang sejak tadi menunduk, akhirnya mengangkat kepala. Matanya menyiratkan keputusasaan yang tak terperi. "Cokelat itu... harganya tujuh ribu rupiah per bungkus," bisiknya.
Ruangan itu seketika hening. Ayah, ibunya, bahkan Kepala Desa terperangah. Mata mereka membulat sempurna. Untuk ukuran orang desa di masa itu, harga tujuh ribu rupiah untuk sebungkus makanan adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
"Tujuh ribu... per bungkus?" ulang Ratri dengan nada tak percaya.
Jaya mengangguk pahit. "Iya, Bu. Itu cokelat impor langka. Yang rusak ada satu kardus karena dimakan binatang akibat salah penyimpanan saat kami berjaga malam. Ditambah, ada dua kardus lagi yang hilang saat aku ditinggal sendirian oleh rekanku. Dia menuduh aku lalai dan mencuri, padahal dia yang meninggalkanku."
Bibi Tirta menutup wajahnya. "Total kerugiannya sangat besar bagi kami. Mereka meminta satu juta rupiah sebagai jaminan awal agar Jaya tidak dilaporkan ke polisi. Tapi dari mana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam dua minggu?"
Semua orang terdiam. Angka satu juta rupiah terasa seperti gunung yang mustahil didaki oleh keluarga petani dan buruh seperti mereka. Ayah mengepalkan tangannya. Rasa amarah mulai membakar dadanya marah pada ketidakadilan dan rekan kerja Jaya yang pengecut.
Kepala Desa menghela napas panjang, lalu menatap semua yang hadir. "Jaya, tenangkan dirimu. Warga desa ini tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian. Kita akan cari tahu siapa rekan kerjamu itu. Kita akan coba bicara dengan pemilik toko. Kita harus membuktikan bahwa ini adalah jebakan. Desa ini akan berdiri di belakangmu."
Mendengar dukungan tulus itu, bahu Jaya yang tadinya tegang mulai mengendur. Ia menangis terharu di atas puing-puing kehidupannya yang baru saja hancur. Pagi yang damai memang telah berubah menjadi mimpi buruk, namun di balik itu semua, fajar solidaritas mulai menyingsing di gerbang hijau desa mereka.