Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Ivan dan Gio duduk di sebuah kedai makanan dekat kampus.
Saat siang hari, tempat itu selalu ramai. Makanan yang murah dan enak, serta suasana yang nyaman, membuat banyak mahasiswa mampir sebelum kembali ke kelas.
Ivan menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipis.
Beberapa hari ini terasa melelahkan. Ia dan Gio harus terus menemani Felix yang hampir setiap malam mabuk.
"Jika ini terus berlanjut, lama-lama aku bisa mati." Gerutu Ivan.
Kepalanya benar-benar terasa berat. Seolah efek alkohol dari semalam belum sepenuhnya hilang.
Gio terkekeh pelan. Ia membuka botol minumnya dan meneguknya.
"Kali ini mungkin Felix benar-benar sudah jatuh cinta." Kata Gio sambil menghelai nafas.
"Apa dia akan baik-baik saja? Dia membuatku sangat khawatir." Kata Ivan pelan.
"Berdo'a saja, semoga ini tidak berlangsung lama." Kata Gio tenang.
"Jika ini terus berlanjut, dokter akan menguras lambungmu karena keracunan alkohol." Gio terkekeh pelan.
Ketika Ivan ingin membalas kata-kata Gio, ia melihat seorang gadis yang tampak akrab.
Syerly... bukan...
Ivan sekali lagi menyipitkan matanya.
"Bukankah itu Shayna..." katanya.
Gio menoleh, menatap seseorang yang ditunjuk oleh Ivan.
Seorang gadis yang sangat mirip dengan Syerly, sedang makan dengan tenang, seolah tidak menyadari tatapan mereka.
Lalu Gio menoleh lagi, bertanya kepada Ivan.
"Bagaimana kau tahu?"
"Banyak postingan yang memberitahu, jika Syerly mempunyai kembaran."
"Kau sepertinya banyak sekali mendapatkan berita gosip." Sindir Gio.
Ivan terkekeh pelan.
"Bahkan aku tahu, dulu kembaran Syerly itu pernah tinggal diluar negri." Katanya bangga.
Gio mendengarnya hanya mendesah pelan.
Lalu pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
Gio dan Ivan sedang menyantap makanan mereka ketika Felix tiba.
Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya duduk diam dengan wajah kelelahan.
"Apa kau mau makan?" Tanya Ivan.
Felix menggeleng.
"Tidak."
"Minum?"
Felix menghelai nafas.
"Aku akan memesan sendiri."
Ketika Felix akan memanggil pemilik kedai, gerakannya terhenti.
Tatapannya membeku.
Didepan pintu, Syerly baru saja masuk.
Tatapannya dingin dan tajam, menyapu ruangan tanpa ragu. Dengan langkah cepat dan penuh amarah, ia langsung menghampiri seseorang.
Felix mengikuti setiap geraknya dengan jantung berdegup keras, sampai langkah Syerly berhenti tepat di depan Shayna.
Tanpa peringatan, Syerly meraih gelas di hadapan Shayna dan melemparkannya ke arah wajah kakaknya. Cairan itu memercik, membasahi pakaian dan rambut Shayna.
Belum sempat semua orang bereaksi, Syerly sudah melayangkan tamparan keras.
Plak!
Suara keras itu membuat kedai yang awalnya ramai, tiba-tiba hening.
"Shay, apakah ini yang kau inginkan?" Bentak Syerly. Suaranya sampai bergetar karena menahan amarahnya terlalu lama.
Shayna berdiri dengan wajah basah. Tatapannya menyala ketika mendorong Syerly, hingga gadis itu membentur meja disampingnya.
"Apa kau gila..." balas Shayna
Syerly berdiri dan mendorong balik Shayna lebih kuat.
"Aku memang gila... kenapa?" Katanya dingin.
Shayna terjatuh tapi langsung berdiri lagi. Nafasnya sudah memburu.
"Jadi, kau memilih seperti ini..." katanya tajam.
"Ya." Jawab Syerly singkat.
"Baiklah."
Pertengkaran itu pun pecah. Mereka saling memukul dan menendang tanpa kendali, membuat orang-orang di sekitar panik dan mundur menjauh.
Felix langsung berlari kearah Syerly dan mencoba menarik Syerly kebelakang.
Tapi ia berakhir dengan tamparan keras dari Shayna yang mendarat di wajahnya.
Syerly yang melihat Shayna memukul Felix menjadi sangat marah.
"Berani-berani kau memukul orang lain."
Sebelum Syerly maju, Felix menarik Syerly terlebih dahulu. Dan memeluk gadis itu, menahannya agar tidak membuat masalah semakin besar.
Disisi lain, Shayna juga ditarik oleh seseorang.
"Cukup, Shay..." kata laki-laki itu. Sambil menarik Shayna menjauh dan membawanya pergi .
Disisi lain. Ivan yang melihat keributan itu ingin mengikuti Felix, tapi ditahan oleh Gio dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan?" Kata Gio.
"Aku ingin membantu Felix." Jawab Ivan pelan.
"Tidak perlu." Kata Gio tenang sambil menyeruput minumannya.
Ivan mengerutkan dahinya. Jelas ia merasa tidak setuju.
"Kenapa? Apa kau tidak mengkhawatirkannya?"
Gio menghelai nafas pelan.
"Felix dan Syerly sedang bertengkar." Katanya pelan.
"Biarkan Felix memanfaatkan kesempatan ini, untuk berbaikan dengan Syerly."
Ivan terdiam.
Lalu tidak lama kemudian, mereka melihat Felix membawa Syerly pergi
---
Didalam mobil Syerly mendesis pelan ketika Felix sedang membalurkan desinfektan pada sikunya yang terluka.
"Pelan-pelan, Fel."
Felix tidak mengatakan apa-apa, ia menatap Syerly tanpa daya, lalu mencoba mengoleskan obatnya dengan lebih lembut lagi.
Kali ini, Syerly akhirnya tenang.
Felix menutupi luka itu dengan plester.
"Satunya...!" Kata Felix pelan.
Syerly memberikan tangan satunya, ada luka panjang pada lengannya. Tapi tidak terlalu parah.
Felix tanpa sadar menahan nafasnya, lalu menghembuskannya pelan. Dia sedikit menunduk dan mengoleskan obatnya dengan hati-hati.
"Apa yang sebenarnya kalian pertengkaran? Kalian bertengkar dengan sangat hebat." Katanya pelan.
Syerly mendengus kasar.
"Shayna, dia hanyalah wanita gila." Gumamnya.
"Seharusnya tadi kau tidak menghentikanku."
Felix meliriknya kembali.
"Bukankah salian saudara? Mengapa tidak membicarakan dengan baik-baik?"
Saat Felix mengambil plester dari kotak obat, ia mendengar tawa kecil Syerly.
"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Felix.
Ia ingin meraih tangan Syerly untuk membalut lukanya, tapi Syerly lebih dulu menahannya.
Syerly menatap wajah tampan Felix yang selalu dirindukannya itu.
"Beberapa waktu lalu, Shayna menelponku. Dia sendiri yang memintaku untuk memukulnya." Katanya sambil menahan senyum.
"Sebenarnya, Shayna sedang mendekati seseorang. Dia ingin menarik perhatian orang itu."
Lalu tatapan Syerly berubah kesal.
"Seharusnya kau tidak menarikku pergi, aku ingin melihat, siapa incaran Shayna."
Felix menghelai nafas pelan, menatap Syerly tanpa daya. Ada senyum kecil menghiasi wajahnya.
"Kalian saudara kembar, memang sama-sama mengerikan." Katanya terkekeh lembut.
"Apa kalian berasal dari neraka?"
Felix menarik tangannya pelan, tapi Syerly menahannya kembali.
"Apa kau masih ingin pergi ke neraka denganku?" Tanya Syerly pelan.
Felix tersenyum.
"Apa yang harus aku lakukan?" Katanya.
"Kau yang membawaku ke surga dulu. Jadi, jika kau membawaku ke neraka, aku akan mengikutimu."
Ada senyum lembut terukir diwajah Syerly.
Felik membuka plesternya dan mulai membalut luka pada lengan Syerly.
Saat Felix menarik tangannya, Syerly baru menyadari sesuatu.
Tatapan gadis itu berhenti pada leher Felix, ada bekas cakaran merah yang jelas terlihat di sana.
"Kau terluka?" Kata Syerly pelan. Tanpa sadar Syerly menyentuh luka itu dengan hati-hati.
Felix membiarkan Syerly melihatnya dengan senyum yang tidak dapat ia sembunyikan.
"Jika kau meniupnya, aku akan baik-baik saja." Katanya dengan santai.
Tapi Felix tidak menyangka, Syerly akan benar-benar melakukannya
Tiupan Syerly begitu lembut, menyentuh kulit leher Felix.
Felix tanpa sadar menelan ludahnya yang kering.
Felix berdeham, lalu menarik diri sedikit. Menjaga jarak agar jantungnya yang berdetak dengan cepat tidak melompat keluar.
Syerly menatap Felix tidak menyadari dengan gejolak hati Felix.
"Terimakasih." Katanya lirih.
"Sudah membantu membalut lukaku."
Felix tersenyum tipis. Menyembunyikan setan iblis hati yang hampir lolos.