NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketenangan Adam bersama Hawa

“Ini, Mas, buburnya,” ucap Hawa lembut sambil meletakkan satu mangkuk bubur yang masih mengepul hangat di hadapan Adam.

Aroma gurihnya segera menyebar di udara, berpadu dengan wangi kaldu yang menenangkan. Uap tipis itu melayang perlahan, Adam menelan ludah, perutnya terasa lapar, nafsu makannya telah kembali.

“Sudah empat hari aku tidak makan secara normal,” kata Adam pelan, suaranya sedikit serak. Ia mengangkat wajahnya, menatap Hawa dengan senyum tipis. "Bubur ini membuatku sangat berselera.”

“Syukurlah,” jawab Hawa sambil tersenyum kecil. Senyum itu sederhana, tanpa dibuat-buat, namun entah mengapa mampu membuat dada Adam terasa hangat.

“Makanlah, Mas. Hawa mau beberes dapur dulu ya,” lanjutnya sebelum beranjak pergi.

Adam hanya mengangguk pelan. Pandangannya mengikuti langkah Hawa menuju wastafel cucian piring. Ia kemudian mencoba meraih sendok bubur di hadapannya. Namun gerakannya terhenti.

Perban tebal yang membungkus tangannya membuat jemarinya kaku dan sulit digerakkan. Sendok itu bergetar ringan, nyaris terlepas dari genggamannya. Adam menghela napas pelan, rasa frustrasi menyelinap di dadanya. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri dengan perasaan tak berdaya.

"...aku selemah ini…" gumamnya menggerutu.

“Loh, kenapa tidak dimakan, Mas?” suara Hawa tiba-tiba terdengar.

Adam terkejut. Ia tidak menyadari Hawa sudah kembali. Perlahan, Adam menegakkan wajahnya. Sepasang matanya yang lelah menatap Hawa, ada raut ragu bercampur malu di sana. Seolah ingin meminta bantuan, namun egonya menahannya.

Hawa menangkap tatapan itu. Tanpa perlu kata-kata, ia langsung mengerti.

“Mas… kalau tidak keberatan,” ucapnya lembut sambil meraih sendok dari tangan Adam, “biar Hawa bantu, ya.”

Adam terdiam sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat saat Hawa duduk di sisinya, Ia akhirnya mengangguk kecil, pasrah.

Hawa menyendok bubur itu perlahan, meniupnya dengan hati-hati sebelum mendekatkannya ke bibir Adam. Setiap gerakannya begitu telaten dan penuh perhatian, seolah Adam adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat suapan pertama menyentuh bibirnya, Ada rasa nyaman yang perlahan mengalir ke dadanya.

Untuk sesaat, dunia terasa begitu sunyi. Hanya ada mereka berdua, detak jantung Adam mulai tak beraturan, tapi ia masih mengabaikannya.

Suapan demi suapan terus memasuki rongga mulut Adam hingga mangkuk itu akhirnya kosong.

“Alhamdulillah sudah habis, Mas” ucap Hawa sambil menyuapkan sendokan terakhir, lalu memberikan segelas air dengan sedotan.

“Terima kasih,” ujar Adam tulus.

Hawa hanya tersenyum manis, membuat Adam menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

“Oh iya,” Adam memecah keheningan, “apa kamu tahu soal wasiat perjodohan antara kedua kakek kita?”

Hawa terdiam sejenak sebelum menjawab, “Hawa tidak begitu mengerti, Mas. Kakek hanya berpesan kalau aku harus menikah dengan salah satu cucu Kakek Sulaiman.”

“Oh… begitu,” gumam Adam menangguk.

"Berarti dia belum tahu… kalau perjodohan itu sebenarnya tertuju untukku," batin Adam.

"Sebenarnya perjodohan itu tertuju kepadaku, tapi aku menolaknya, aku minta maaf, beberapa hari ini, kakek sering menghantuiku membuat aku ketakutan di dalam mimpi! Sekali lagi aku minta maaf Hawa!" ucap Adam pasrah.

"Tidak apa-apa Mas, mungkin jodoh Hawa adalah Mas Harun!" ucapnya wanita itu bisa menerima takdir yang telah terjadi.

Adam mengangguk pelan.

“Selama masa pemulihan ini,” ucap Adam kemudian, “aku akan membayar berapa pun yang kamu minta.”

Hawa menggeleng pelan. “Enggak apa-apa, Mas. Hawa sudah terbiasa merawat pasien sakit atau korban kecelakaan. Lagipula, Mas Harun sudah berpesan agar Hawa merawat Mas Adam sampai sembuh.”

Setelah itu, Hawa kembali memapah Adam menuju kamarnya. Ia memastikan Adam berbaring dengan nyaman sebelum akhirnya meninggalkannya sendiri.

Tak lama kemudian, lampu kamar tiba-tiba berkedip-kedip.

Adam tersentak. Spontan ia terduduk, napasnya memburu. Matanya liar menatap langit-langit kamar. Ketakutan lama kembali menyeruak, membuat dahinya basah oleh keringat dingin.

"Tidak… jangan lagi..., dimana Hawa!"

“Dreett!”

Ponsel Adam bergetar di atas bufet di samping kasur. Dengan tubuh yang masih terbalut perban, Adam berusaha meraihnya. Namun topangan tubuhnya tidak kuat. Tubuhnya oleng, hampir terjatuh.

“Mas Adam!” teriak Hawa panik sambil berlari masuk.

Hawa berhasil menahan tubuh Adam tepat waktu. Keduanya saling menatap dari jarak yang begitu dekat. Napas Adam masih terengah, namun tatapannya justru terpaku pada wajah Hawa. Sentuhan tangan Hawa di lengannya terasa hangat, menenangkan.

Jantung Adam berdesir lembut.

Tak ada siapa-siapa di sana. Suasana begitu hening.

Hawa buru-buru mendorong Adam agar kembali duduk di kasur, lalu mengambil ponselnya.

“Adam!” suara seorang wanita terdengar di seberang.

“Iya, Ma,” jawab Adam sambil mengusap dahinya yang masih berkeringat. Rasa takut Adam dan kehadiran Hawa, bercampur menjadi satu.

“Bagaimana kondisimu, Nak? Maaf Mama tidak bisa datang. Besok Mama harus berangkat umrah.”

“Adam sehat, Ma. Tidak ada masalah. Mama hati-hati di sana, jaga kesehatan.”

“Syukurlah,” ucap Rani lega. “Mama sudah minta tolong Hawa supaya merawat kamu sampai sembuh.”

“Iya, Ma. Doakan Adam,” jawabnya lirih.

“Kata Harun, kamu sering mengigau soal Kakek?”

Adam terdiam sesaat. “Oh… itu cuma mimpi, Ma. Mungkin karena rindu.”

“Baiklah, Nak. Mama akan terus mendoakanmu.”

Sambungan telepon terputus.

Adam menurunkan ponselnya perlahan. Pandangannya kembali tertuju pada Hawa yang masih berdiri di dekatnya, sosok yang entah bagaimana mulai memberi rasa aman di tengah ketakutannya hingga tidak ingin jauh dari Hawa.

Malam hari tiba…

Lampu-lampu kota berpendar samar dari balik jendela. Hawa berdiri di sana, menggenggam ponselnya. Angin malam menyelinap lewat celah jendela yang sedikit terbuka, membawa udara dingin yang membuat dadanya terasa kosong.

Di seberang sana, suara Harun terdengar lelah.

Dari balik jendela kamar terlihat Hawa menelpon Harun.

"Hawa, aku belum bisa pulang, bahkan besok aku harus berangkat ke Australia untuk mengantikan sesaat posisi Adam!" ucap Harun.

"Baiklah Mas!" jawab Harun, wajahnya sedikit murung.

"Kamu enggak marah kan?" tanya Harun.

"Enggak Mas, Hawa bisa memahaminya!"

 "Terima kasih, tolong rawat Mas Adam dengan baik ya!"

"Baiklah Mas, kamu jaga kesehatan!"

"Makasih sayang!"

"Trup!"

Hawa kembali melamun.

Ia berdiri di dekat jendela, menatap bintang-bintang yang berpendar di langit malam.

Cahaya rembulan jatuh lembut di wajahnya, memperjelas sorot mata yang tampak kosong.

Angin malam menyentuh kulitnya, namun dingin itu tak sebanding dengan sepi yang bersarang di dadanya.

Sejak menikah dengan Harun, belum sekalipun ia disentuh.

“Aaa!!!”

Suara jeritan kecil itu memecah keheningan malam.

Hawa sontak tersentak. Tanpa sempat berpikir panjang, ia berlari menuju kamar Adam.

Pintu kamar dibukanya dengan tergesa, napasnya masih terengah saat pandangannya menangkap sosok Adam yang menggeliat di atas ranjang.

“Mas Adam!” serunya panik.

Adam terlihat gelisah. Tubuhnya berkeringat dingin, napasnya tersengal, wajahnya pucat pasi. Tangannya bergerak tak beraturan, seolah berusaha meraih sesuatu yang tak terlihat.

“Jangan… jangan... aku…” gumam Adam terbata, matanya masih terpejam rapat.

Hawa mendekat, duduk di sisi ranjang, lalu memegang bahu Adam dengan lembut.

“Mas, bangun… ini cuma mimpi. Mas Adam aman.”

Namun Adam justru mencengkeram pergelangan tangan Hawa dengan kuat.

Genggaman itu membuat Hawa terkejut, tapi ia tak berusaha melepaskan diri.

“Hawa… jangan pergi…” suara Adam bergetar, nyaris terdengar seperti rintihan.

Nama itu membuat jantung Hawa berdegup keras.

“Iya… aku di sini,” jawab Hawa lirih, berusaha menenangkan. “Aku enggak ke mana-mana.”

Ia mengusap pelan kening Adam, menyeka keringat yang membasahi wajah lelaki itu.

Perlahan, napas Adam mulai teratur, cengkeramannya melemah, namun tangannya tetap menggenggam jemari Hawa.

Adam membuka mata perlahan.

Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang terlalu dekat. Ada kebingungan, ketakutan… dan sesuatu yang lebih dalam di mata Adam.

“Aku dikejar awan hitam…” bisik Adam dengan tubuh menggigil.

Hawa menelan ludah. “Mas, itu hanya mimpi buruk.”

Adam tak menjawab. Pandangannya justru menelusuri wajah Hawa, seolah memastikan perempuan di hadapannya benar-benar ada. Sesuatu bergetar di dadanya, hangat, menenangkan, dan membuatnya takut kehilangan.

“Kalau kamu enggak ada… aku enggak tahu harus bagaimana,” ucap Adam pelan.

Kalimat itu menusuk hati Hawa.

Hawa paham seharusnya ia menjaga jarak. Ia tahu posisinya. Namun malam itu, di kamar yang sunyi, Hawa memilih bertahan demi kesehatan Adam.

“Aku di sini sampai Mas tenang,” kata Hawa hingga Adam kembali tertidur.

1
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
Paradina
seru kak, lanjut 😍
Qothrun Nada
setelah nikah jangan harap ada jatah,stok rasa sabar mu seluas samudra Adam 😀
Qothrun Nada
hooh orang pintarnya pak penghulu 😀
Qothrun Nada
andai bapaknya Hawa bisa seperti pak Joko, pasti ibunya Adam bisa menyeret Adam untuk tetap menikahi Hawa dulu
Qothrun Nada
😅😅😅
Qothrun Nada
jangan nyalahin Hawa dong, kasihan dia
Qothrun Nada
marah seperti kakek Sulaiman
Qothrun Nada
kapok, makanya jadi bapak itu yg tegas, kalau dulu dia menolak tentu Hawa gk nikah sama Harun karena gk ada walinya
Qothrun Nada
heem jadi adam 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!