NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan yang Hancur

Setelah tiga jam perjalanan yang terasa seperti berabad-abad bagi Raka, mereka akhirnya sampai di Kampung Ciburial... sebuah kampung kecil di kaki gunung dekat Garut, dengan jalan tanah yang sedikit berbatu, rumah-rumah sederhana dengan dinding kayu dan atap seng, serta sawah-sawah hijau yang membentang luas di sekitarnya.

Nadira yang sepanjang perjalanan terus berbicara dengan semangat, bercerita tentang rumahnya, tentang ibunya yang suka memasak, tentang bapaknya yang suka menggendongnya... tiba-tiba terdiam saat mobil memasuki area kampung.

Ia menatap keluar jendela dengan tatapan bingung, matanya menyapu pemandangan di sekitarnya, mencari sesuatu yang familiar.

Tapi tidak ada.

Semuanya terlihat... berbeda.

"Om..." panggil Nadira pelan, suaranya berubah ragu. "Ini... ini kampung Nadira?"

Raka mengangguk sambil memperlambat laju mobilnya. "Iya. Ini Kampung Ciburial. Nadira bilang kan dulu tinggal di sini?"

Nadira tidak langsung menjawab. Ia terus menatap keluar jendela dengan tatapan yang semakin bingung... dan sedikit takut.

"Tapi... tapi ini nggak sama..." bisiknya pelan. "Rumah-rumahnya nggak kayak yang Nadira ingat. Jalannya juga... semuanya berbeda..."

Raka menarik napas pelan. Tentu saja berbeda. Ingatan Nadira terhenti di usianya yang lima tahun, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Banyak hal yang sudah berubah. Rumah-rumah direnovasi, jalan diperbaiki, warga lama meninggal atau pindah, warga baru datang.

Semuanya berubah.

Raka memarkir mobilnya di pinggir jalan, di depan sebuah warung kecil yang terlihat masih buka.

"Ayo turun, Dira. Kita tanya warga di sini," ucap Raka sambil membuka sabuk pengamannya.

Nadira turun dari mobil dengan langkah ragu, sangat berbeda dari kegirangannya tadi pagi. Matanya terus bergerak ke sana kemari, mencari sesuatu yang familiar, tapi tidak menemukan apapun.

Raka menggenggam tangan Nadira, menggenggamnya dengan lembut tapi erat. "Ayo."

Mereka berjalan menuju warung kecil itu. Seorang ibu paruh baya sedang duduk di belakang meja, menjaga warung yang menjual makanan ringan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari.

"Permisi, Bu," sapa Raka dengan sopan.

Ibu itu mengangkat kepalanya, tersenyum ramah. "Ya, Mas? Ada yang bisa dibantu?"

"Kami mencari keluarga Bapak Hasan dan Ibu Siti. Dulu mereka tinggal di kampung ini. Apa Ibu kenal?" tanya Raka dengan nada hati-hati.

Ibu itu mengerutkan dahi, seperti sedang berpikir keras. "Bapak Hasan dan Ibu Siti? Hmm..." Ia menggeleng pelan. "Maaf, Mas. Saya nggak kenal. Saya baru pindah ke sini sepuluh tahun lalu. Mungkin mereka tinggal di sini sebelum saya pindah?"

Raka mengangguk. "Mungkin. Terima kasih, Bu."

Mereka keluar dari warung. Nadira menatap Raka dengan tatapan yang mulai berubah sedih.

"Om... kenapa Ibu itu nggak kenal Bapak dan Ibu Nadira?" tanyanya dengan suara kecil.

Raka mengusap kepala Nadira dengan lembut. "Ibu itu baru tinggal di sini. Kita tanya yang lain ya."

Mereka berjalan menyusuri kampung, bertanya pada beberapa warga yang mereka temui. Tapi hasilnya sama. Tidak ada yang kenal Bapak Hasan dan Ibu Siti. Tidak ada yang tahu di mana rumah mereka dulu.

Beberapa orang tua yang sudah lama tinggal di kampung itu mencoba mengingat, tapi menggelengkan kepala.

"Maaf, Nak. Saya nggak ingat ada yang bernama seperti itu," ucap seorang kakek tua dengan wajah keriput.

Nadira berdiri di samping Raka dengan kepala tertundu, tangannya masih digenggam oleh Raka, tapi genggamannya terasa lemah.

"Om..." suaranya bergetar. "Kenapa nggak ada yang kenal Bapak dan Ibu Nadira? Kenapa rumah Nadira nggak ada? Kenapa semuanya... semuanya nggak sama?"

Raka menatap Nadira dengan tatapan penuh simpati. Ia menarik napas dalam, lalu berlutut di depan Nadira agar tinggi mereka sejajar.

"Dira, dengarkan Om," ucapnya dengan suara lembut. "Kampung ini sudah berubah. Sudah lama sekali sejak kamu terakhir kali di sini. Jadi wajar kalau semuanya terlihat berbeda."

"Tapi... tapi Bapak dan Ibu dimana?" tanya Nadira dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa mereka nggak ada? Kenapa mereka nggak di rumah?"

Raka merasakan dadanya sesak. Pertanyaan itu... pertanyaan yang sudah ia takutkan sejak tadi.

Ia tidak bisa lagi mengelak. Ia tidak bisa lagi membohongi Nadira.

Tapi bagaimana ia harus mengatakan ini?

Tiba-tiba air mata Nadira jatuh, jatuh perlahan di pipinya.

"Om bohong..." bisik Nadira dengan suara bergetar. "Om bilang mau anter Nadira pulang. Om bilang Nadira bisa ketemu Bapak dan Ibu. Tapi ternyata... ternyata rumah Nadira nggak ada. Bapak dan Ibu juga nggak ada..."

"Dira..."

"OM BOHONG!" teriak Nadira tiba-tiba, teriakan yang keras, penuh kekecewaan dan kesedihan. "OM JAHAT! OM NGGAK TAHU DIMANA BAPAK DAN IBU NADIRA!"

Beberapa warga yang kebetulan lewat menoleh, menatap mereka dengan tatapan bingung dan kasihan.

Raka merasakan matanya memanas. Hatinya hancur melihat Nadira seperti ini.

"Dira, maafkan Om..." bisik Raka dengan suara serak. "Om nggak bermaksud bohong. Om cuma..."

"NADIRA MAU PULANG! NADIRA MAU KETEMU IBU!" tangis Nadira semakin keras. Ia memukul dada Raka dengan tangannya, pukulan yang lemah tapi penuh emosi. "KENAPA IBU NGGAK ADA? KENAPA BAPAK NGGAK ADA?"

Raka membiarkan Nadira memukul dadanya, membiarkan semua kemarahan dan kesedihan itu keluar. Ia tidak marah. Ia hanya sedih... sangat sedih.

Lalu perlahan, Raka meraih kedua tangan Nadira, menggenggamnya dengan lembut tapi erat.

"Dira, dengarkan Om," ucap Raka dengan suara yang bergetar. "Om akan jujur sekarang. Om akan bilang yang sebenarnya."

Nadira menatap Raka dengan mata yang penuh air mata, menatap dengan tatapan yang campur aduk antara marah, sedih, dan takut.

"Bapak dan Ibu kamu..." Raka menarik napas dalam, mencoba menguatkan dirinya. "Mereka... mereka sudah tidak ada, Dira."

Nadira membeku. Matanya membelalak. Napasnya tertahan.

"Apa... apa maksud Om?" tanyanya dengan suara gemetar, suara yang hampir tidak terdengar.

Raka merasakan air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

"Bapak dan Ibu kamu sudah meninggal, Dira," ucapnya dengan suara yang putus-putus. "Mereka sudah pergi. Sudah lama. Dan mereka nggak akan pernah kembali lagi."

Keheningan.

Nadira menatap Raka dengan tatapan kosong, seperti otaknya tidak bisa memproses informasi yang baru saja ia dengar.

Lalu perlahan, sangat perlahan... ekspresinya berubah.

Matanya melebar. Bibirnya bergetar. Napasnya memburu.

"Tidak..." bisiknya pelan. "Tidak... Om bohong... Om pasti bohong..."

"Dira..."

"OM BOHONG!" teriak Nadira histeris. "BAPAK DAN IBU NGGAK MATI! MEREKA NGGAK MATI!"

Ia melepaskan genggaman Raka dengan kasar, lalu mundur beberapa langkah dengan wajah yang hancur total.

"KENAPA OM BILANG KAYAK GITU? KENAPA OM JAHAT?" teriaknya sambil menangis keras, tangisan yang memilukan, tangisan yang membuat siapa pun yang mendengar ikut sedih.

Raka melangkah maju, mencoba meraih Nadira lagi. "Dira, kumohon dengarkan..."

"JANGAN SENTUH NADIRA!" Nadira menepis tangan Raka dengan keras. "NADIRA BENCI OM! OM JAHAT! OM PEMBOHONG!"

Lalu ia jatuh berlutut di tanah, jatuh dengan tubuh yang bergetar hebat, menangis dengan tangisan yang sangat keras, sangat memilukan.

"Ibu... Bapak..." isaknya di antara tangisan. "Nadira mau ketemu Ibu... Nadira mau ketemu Bapak... Kumohon... kumohon kembalilah..."

Raka tidak tahan lagi. Ia melangkah maju, lalu berlutut di samping Nadira dan memeluknya dari belakang, memeluknya erat, sangat erat.

"LEPAS! LEPASKAN NADIRA!" Nadira memberontak, mencoba melepaskan pelukan Raka. "NADIRA BENCI OM!"

Tapi Raka tidak melepaskannya. Ia terus memeluk Nadira dengan erat, membiarkan wanita itu menangis, membiarkan semua kesedihan itu keluar.

"Maafkan Om, Dira," bisik Raka dengan suara serak, air matanya jatuh di bahu Nadira. "Maafkan Om karena harus bilang yang sebenarnya. Maafkan Om karena nggak bisa bawa kamu ketemu mereka."

Nadira terus menangis dengan tangisan yang memecah hati. Tubuhnya bergetar hebat di pelukan Raka.

"Kenapa... kenapa mereka pergi..." isaknya dengan suara yang putus-putus. "Kenapa mereka tinggalin Nadira... Nadira janji nggak akan nakal lagi... Nadira janji akan jadi anak baik... Kumohon... kumohon kembalilah..."

Raka menutup matanya erat, memeluk Nadira semakin erat.

"Om di sini, Dira," bisiknya pelan. "Om di sini. Om nggak akan ninggalin kamu. Om janji."

Tapi Nadira tidak mendengar. Ia terus menangis dengan tangisan yang sangat dalam, tangisan seorang anak kecil yang kehilangan orangtuanya.

Dan Raka hanya bisa memeluknya, memeluk dengan erat, sambil menangis bersama, sambil merasakan sakit yang sama.

Beberapa warga berdiri di kejauhan menatap mereka dengan tatapan penuh simpati, tapi tidak ada yang mendekat. Mereka membiarkan Raka dan Nadira dalam momen kesedihan itu.

Dan di tengah kampung yang sepi itu, di bawah langit yang mulai berawan, Raka dan Nadira berlutut di tanah.. saling berpelukan, menangis bersama, berbagi kesedihan yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!