NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Rakha Jatuh Sakit (2)

Motor Keenan bergerak meninggalkan sekolah.

Bukan melaju lebih seperti mengalir pelan, mengikuti jalan tanpa terburu.

Rakha duduk di belakang, tidak seperti biasanya. Tangannya mencengkeram ujung jaket Keenan, jaraknya terlalu dekat untuk ukuran kebiasaan mereka. Seolah tubuhnya butuh sesuatu untuk tetap tegak.

Angin sore menyusup di sela-sela helm. Hangatnya tipis, nyaris tak terasa. Keenan kembali menurunkan kecepatan, tanpa alasan yang perlu dijelaskan. Ia tidak menoleh. Ia hanya tahu.

"Lu aman?" Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh angin.

Rakha tidak langsung menjawab. Cengkeramannya justru sedikit menguat.

"Iya."

Jawaban itu terdengar seperti usaha.

.

.

Jalanan masih terasa ramai. Kendaraan saling menyalip, klakson bersahutan dari kejauhan. Hidup berjalan seperti biasa.

Namun motor itu melaju dengan jaraknya sendiri... tenang, terkendali, seolah tidak ingin ikut terburu-buru ke mana pun.

Setelah itu, tak ada percakapan lagi.

Hanya napas Rakha yang kadang terdengar lewat helm—berat, lalu tertahan sesaat.

Seperti seseorang yang menahan dirinya agar tidak runtuh di tengah jalan.

Beberapa menit kemudian, rumah Rakha muncul di ujung jalan.

Pagar besinya tinggi, dicat gelap, menutup halaman seperti batas yang disengaja.

Keenan memperlambat lajunya sampai motor benar-benar berhenti, lalu mematikan mesin.

Udara di sana terasa berbeda. Lebih sunyi.

Rumah itu berdiri rapi... terlalu rapi. Lebih menyerupai bangunan yang dijaga fungsinya, daripada tempat seseorang benar-benar pulang.

Keenan belum sempat mendorong pagar ketika pintu sudah terbuka lebih dulu. Seorang satpam berdiri di sana, gesturnya sopan, nyaris tanpa ekspresi.

"Silakan," katanya singkat.

Keenan mengikuti Rakha masuk, tetap satu langkah di belakang. Tangannya sigap menopang lengan Rakha—tidak mencolok, tapi cukup untuk memastikan tubuh itu tidak kehilangan keseimbangan.

Langkah Rakha pelan. Tidak goyah, tapi juga tidak sepenuhnya stabil.

Di ruang tamu, seorang perempuan sudah menunggu.

Rambutnya disanggul rapi. Bajunya tanpa kusut. Tatapannya datar ketika jatuh pada Rakha, seperti sedang mengecek sesuatu yang seharusnya sudah ada di tempatnya.

"Udah pulang?" tanyanya.

"Iya, Ma."

Perempuan itu melirik Keenan sebentar. Singkat. Sekilas saja.

Lalu kembali menatap Rakha, seolah kehadiran orang ketiga di ruangan itu tidak perlu dipertimbangkan lebih jauh.

"Kamu telat," katanya.

Rakha tidak langsung menjawab. Dengan sedikit bantuan, ia bergerak ke sofa lalu duduk bersandar. Bahunya turun perlahan, seolah tubuhnya baru sekarang mengakui betapa berat rasanya.

Keenan tidak menjauh. Ia berhenti satu langkah di belakang sofa.

"Kenapa mukanya pucat?"

Suara itu datang dari arah dapur. Lebih lembut. Seorang laki-laki mendekat sambil membawa segelas teh, langkahnya tenang—terlalu tenang untuk rumah yang jarang benar-benar diam.

Rakha melirik sebentar, lalu tersenyum kecil. "Pusing, Pa."

Ada jeda singkat.

"Jangan terlalu keras ke diri sendiri, Rakha," katanya. Nadanya rendah. Tidak menekan. Justru seperti sesuatu yang sudah lama ingin diucapkan.

Rakha belum sempat menjawab ketika suara perempuan itu menyusul, kali ini lebih tajam.

"Tuh, kan. Ngikutin jalan kamu sendiri terus." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Basket lagi. Basket lagi. Nggak ada kegiatan lain."

Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup tepat untuk mengenai sesuatu yang selama ini Rakha simpan rapat-rapat.

"Sudah," potong suara laki-laki itu. "Rakha lagi nggak enak badan."

Ia melirik sebentar ke arah Rakha. "Jangan disudutin sekarang."

Rakha menunduk.

Keenan tetap di tempatnya. Tidak ikut bicara. Tidak juga mundur. Tapi tangannya bergerak sedikit cukup untuk memastikan Rakha masih di sana.

Perempuan itu menghela napas pelan. Tidak membalas. Ia berdiri, lalu bergerak ke arah dapur. Langkahnya tetap rapi, nyaris tanpa suara, seperti sesuatu yang sudah terlalu sering dilakukan dengan cara yang sama.

Keenan masih di belakang sofa. Tidak masuk lebih jauh. Tidak juga pergi. Ia ragu apakah keberadaannya perlu atau justru berlebihan.

Akhirnya, ia memilih tetap diam.

Perempuan itu kembali dengan segelas air dan beberapa butir obat. Ia menyodorkannya ke Rakha tanpa banyak bicara.

Rakha menuruti. Menelan obat itu dengan wajah datar, tanpa ekspresi berlebih.

"Kamu temannya?" tanyanya akhirnya, mengarah pada Keenan.

"Iya, Tante."

"Terima kasih sudah ngantar ke sini." Nadanya sopan. Terlalu sopan. Seperti garis batas yang ditarik rapi dan tidak perlu dijelaskan.

"Iya, Tante." Keenan mengangguk.

Tidak ada tawaran duduk.

Tidak ada basa-basi.

Keenan menangkap isyarat itu.

Rakha masih duduk di sofa ketika ia mengangkat kepala. Tatapannya lelah, tapi tetap terjaga seperti seseorang yang memilih berhenti sebelum semuanya terbuka terlalu jauh.

"Makasih ya," katanya pelan.

Ia diam sebentar, lalu menambahkan, hampir seperti mengingat sesuatu yang perlu diselesaikan, "Sekarang lu boleh pulang."

Ada jeda singkat.

"Maaf ngerepotin."

Keenan mengangguk. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu kehadirannya di titik ini bukan lagi sesuatu yang dibutuhkan. Bahkan mungkin, sedikit terlalu dekat.

Ia melangkah keluar dari rumah itu dengan perasaan aneh yang menempel di dada. Bukan sedih. Bukan kesal. Hanya… sempit. Seperti udara yang tidak sempat ditarik sepenuhnya sebelum pintu tertutup.

.

.

Keenan menurunkan standar motor, menunggu mesin itu benar-benar tenang sebelum melaju. Gang sempit ia lewati tanpa menoleh, seperti kebiasaan yang dilakukan otomatis.

Begitu keluar, jalanan sore menyambutnya dengan warna jingga dan suara yang kembali hidup. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu. Klakson terdengar dari kejauhan.

Orang-orang bergerak cepat, masing-masing dengan tujuan yang tidak saling bertabrakan.

Namun ingatan tentang rumah itu tetap tertinggal di kepalanya.

Terlalu rapi.

Terlalu sunyi.

Napas Rakha yang pendek terlintas lagi.

Tatapan ibunya yang cepat menutup. Nada suara di dalam rumah itu... tidak tinggi, tidak juga hangat. Semua terasa dijaga agar tidak melebar ke mana-mana.

Keenan mengendurkan gas tanpa sadar. Motor melambat, mengikuti arus kendaraan di depannya hingga akhirnya berhenti di persimpangan.

Mesin masih menyala pelan.

Tangannya tetap di setang. Getaran halus terasa di telapak. Di kaca spion, wajahnya sendiri terlihat datar tidak banyak berubah, hanya mata yang lebih diam, seperti seseorang yang sedang menyimpan sesuatu tanpa berniat menyebutkannya.

Ketika lampu berganti hijau, ia melaju lagi.

...----------------...

Di rumah Rakha, suasana tidak langsung kembali tenang setelah Keenan pergi.

Beberapa detik berlalu tanpa siapa pun bicara.

Gelas akhirnya menyentuh meja—sedikit lebih keras dari yang perlu.

"Rakha selalu begitu," suara perempuan itu akhirnya terdengar. Tidak tinggi. Tidak marah. Tapi jelas.

Hening menyusul. Bukan karena tidak ada yang ingin menjawab, melainkan karena tidak ada yang ingin memulai.

"Kamu terlalu membiarkannya," lanjutnya. Nadanya tetap rapi. "Memanjakannya. Basket lagi. Basket lagi."

Kursi bergeser perlahan.

"Aku sudah bilang," suara laki-laki itu memotong, rendah dan ditekan. "Jangan dibahas sekarang."

Tidak ada jawaban.

Hanya langkah yang menjauh ke arah dapur. Pintu lemari dibuka. Lalu ditutup kembali, lebih pelan kali ini.

Rakha tetap duduk di sofa, pandangannya jatuh ke lantai. Bahunya masih turun, belum sepenuhnya pulih. Tangannya terlipat di pangkuan, diam terlalu lama.

Di rumah itu, tidak ada yang berteriak.

Tapi ada hal-hal yang tetap tidak selesai dan dibiarkan menggantung, seperti biasa.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!