Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam itu, kediaman keluarga He tak lagi diterangi lampu megah seperti biasanya.
Marcus He duduk terpaku di ruang kerja, jas mahalnya tergeletak sembarangan di sofa. Ponselnya tak berhenti bergetar, namun tak satu pun panggilan berani ia jawab.
Berita sudah tersebar.
Bukan hanya video penyiksaan yang menyeret nama putrinya, tapi juga dokumen lama yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Proyek fiktif, dana gelap, suap yang selama ini terkubur rapi—semuanya terhampar telanjang.
Televisi di sudut ruangan menayangkan siaran khusus.
“Komisi antikorupsi mengumumkan penyelidikan terhadap Marcus He, pejabat senior yang selama ini dikenal bersih…”
“Tidak mungkin…” gumam Marcus, wajahnya pucat.
“Semua itu sudah aku hapus…”
Pintu ruang kerja terbuka keras.
Jenny berdiri di sana, wajahnya masih memar, mata sembab dipenuhi kepanikan.
“Papa!” teriaknya histeris. “Mereka mengusirku dari kampus! Semua orang membenciku! Teman-temanku menjauh! Lakukan sesuatu!”
Marcus menoleh perlahan. Untuk pertama kalinya, putrinya melihat ketakutan murni di mata ayahnya.
“Kita… tidak bisa apa-apa lagi,” ucap Marcus lirih.
Jenny membeku.
“Apa maksud Papa?” suaranya bergetar.
“Papa kan punya kekuasaan! Papa bisa—”
“Sudah selesai,” potong Marcus tajam.
“Seseorang sedang memegang leher kita… dan dia tidak berniat melepaskannya.”
Jenny teringat tatapan pria itu.
Xiao Han.
Nada suaranya yang tenang.
Ancaman yang terdengar seperti kepastian.
Telepon Marcus akhirnya berdering—nomor tak dikenal.
Dengan tangan gemetar, ia menjawab.
“Marcus He,” suara di seberang terdengar datar, dingin.
“Ini peringatan terakhir.”
Marcus menutup mata.
“Kau kehilangan jabatanmu,” lanjut suara itu.
“Rekeningmu dibekukan. Orang-orangmu meninggalkanmu. Dan mulai besok…”
Nada itu berhenti sejenak.
“…kau akan belajar bagaimana rasanya tidak berdaya.”
Sambungan terputus.
Ponsel jatuh dari tangan Marcus.
Jenny mundur selangkah, napasnya tersengal.
“Papa… siapa itu?” bisiknya.
Marcus menatap putrinya, bukan lagi dengan amarah, tapi dengan penyesalan yang terlambat.
“Orang yang seharusnya tidak pernah kau sentuh,” jawabnya lirih.
“Adik Little Tiger.”
***
Di tempat lain, di dalam mobil yang melaju tenang di tengah kota, Xiao Han menutup ponselnya.
Monica duduk di kursi depan, menoleh sedikit.
“Semuanya sudah berjalan sesuai perintah,” lapornya.
“Keluarga He telah berakhir."
Xiao Han menatap ke luar jendela, lampu kota memantul dingin di matanya.
“Bagus,” ucapnya singkat."ini akibat karena telah menyentuh adikku!"
Keesokan harinya
Kampus belum benar-benar tenang.
Meski Jenny dan kawan-kawannya telah dikeluarkan, bisik-bisik justru semakin menjadi. Nama Colly Shen kini dikenal seluruh universitas, bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai pusat badai.
Sebagian mahasiswa memandangnya dengan takut. Sebagian lagi dengan kagum.
Dan sisanya… memilih menjaga jarak.
Colly berjalan menyusuri koridor fakultas dengan langkah tenang. Luka-luka di tubuhnya tertutup rapi oleh pakaian panjang, seolah malam kelam itu tak pernah terjadi. Wajahnya tetap dingin, datarnya sulit ditebak.
Namun setiap tatapan yang tertuju padanya terasa seperti pisau.
Saat itulah seseorang berdiri menghalangi jalannya.
Seorang pria tinggi dengan setelan kasual rapi, senyum tipis menghiasi bibirnya. Wajahnya tampan, matanya tajam—terlalu tajam untuk sekadar mahasiswa biasa.
“Colly Shen?” sapanya santai.
Colly berhenti. Menatapnya sekilas.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Pria itu tersenyum kecil, seolah tidak terganggu oleh sikap dingin Colly.
“Namaku Jacky Yin,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Fakultas bisnis. Kita belum pernah bertemu langsung.”
Colly tidak menyambut uluran tangan itu. Tatapannya justru semakin waspada.
“Aku tidak tertarik berkenalan,” jawabnya datar. “Minggir.”
Jacky tertawa kecil—bukan mengejek, melainkan tertarik.
“Tenang saja,” katanya sambil menurunkan tangannya.
“Aku bukan datang untuk mencari masalah denganmu. Aku hanya ingin memastikan… kau baik-baik saja.”
Colly menyipitkan mata.
“Kau terlalu peduli pada urusan orang lain,” ucapnya dingin.
“Karena ini bukan urusan biasa,” balas Jacky pelan.
“Jarang ada orang yang berani menjatuhkan keluarga He dalam semalam.”
Colly terdiam sesaat.
Ia menatap Jacky lebih lama dan mengamati. Dan ia sadar satu hal:
pria ini tahu terlalu banyak.
“Kalau kau datang untuk memanfaatkan situasi, sebaiknya berhenti sekarang,” kata Colly.
“Aku tidak suka diikuti.”
“Semua orang tahu siapa kakakmu,” ucap Jacky pelan.
“Little Tiger mampu menjatuhkan seorang pejabat yang selama ini diakui oleh seluruh masyarakat. Keluarganya hancur dalam satu malam.”
Ia menatap Colly lekat-lekat.
“Colly Shen… keluargamu benar-benar luar biasa.”
Colly tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap datar, seolah pujian itu tak berarti apa-apa baginya.
“Kami hanya menentang orang yang melakukan kesalahan,” katanya akhirnya, suaranya tenang.
“Dan tidak ada yang salah jika aku membela diri.”
Jacky mengangguk kecil, seolah menerima jawaban itu.
“Baiklah. Aku percaya,” ujarnya ringan.
Lalu, dengan nada santai namun penuh maksud, ia menambahkan,
“Kalau begitu, Nona Shen… apakah kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan bersama?”
Colly menatapnya sekilas, dingin dan singkat.
“Maaf,” katanya.
“Aku tidak berminat.”
Tanpa menunggu reaksi, Colly melangkah pergi begitu saja, langkahnya mantap, punggungnya tegak.
Jacky tetap berdiri di tempatnya, memandang punggung gadis itu menjauh. Senyum tipis terukir di bibirnya, tenang, nyaris hangat.
Namun di balik tatapan itu, tersimpan sesuatu yang tak dapat dibaca siapa pun.