Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jejak Lama dan Pengorbanan Sang Ibu
Pukul 15:00 Sore: Operasi Kilat di Cilacap
Setelah kepergian Ares yang mendadak, suasana di Ruang Anggrek berubah menjadi sunyi dan penuh kesedihan. Natalie duduk di samping ranjang ibunya, Rima, memegang tangan wanita yang ia benci sekaligus ia cintai. Laras, teman Rima, menceritakan sisa-sisa kisah itu.
"Rima tidak pernah melupakanmu, Natalie. Dia melihatmu dari jauh selama bertahun-tahun. Tapi dia takut. Dia dulu bekerja di properti milik seorang pria yang sangat kejam. Pria itu menyuruhnya menyimpan sesuatu, dan ketika Rima sadar itu berbahaya, dia sudah terlambat," jelas Laras, air mata membasahi wajahnya.
"Sesuatu itu... Buku Merah," bisik Natalie, mengulang tulisan tangan ibunya.
Laras mengangguk. "Rima tidak pernah memberitahuku apa itu, hanya mengatakan itu akan membunuhnya jika dia tidak pergi. Dia berpikir, jika dia menghilang, pria itu akan berpikir dia melarikan diri dengan 'barang itu' dan akan melupakanmu. Dia ingin kau tetap hidup, Natalie."
Natalie menyadari rasa sakit ibunya selama bertahun-tahun isolasi, rasa sakit yang jauh lebih besar daripada rasa sakit akibat ditinggalkan. Rima tidak pergi—dia berkorban.
Penyelidikan Cepat Ares
Sementara Natalie bergumul dengan kebenaran emosional, Ares sudah melancarkan serangan intelijen dari jarak jauh. Menggunakan jaringan canggihnya, ia mencari koneksi antara Rima, Cilacap, dan legenda "Buku Merah" yang ia yakini adalah mitos.
Dua jam kemudian, earpiece Rook berdering. Ares berbicara.
"Natalie, angkat telepon ini. Ini sudah dienkripsi," perintah Rook.
Natalie mengambil telepon itu. Suara Ares terdengar dingin dan tajam, menunjukkan bahwa ia berada dalam mode perang total.
"Dengarkan aku baik-baik, Natalie. Rima memang terlibat. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, ibumu bekerja sebagai pengurus rumah tangga di sebuah rumah peristirahatan di tepi pantai. Rumah itu dimiliki oleh Ayahku," kata Ares.
Informasi itu menghantam Natalie seperti ombak besar. Ayah Ares?
"Ayahmu?" ulang Natalie, terkejut.
"Ya. Ayahku adalah yang memulai kerajaan ini. Dia menggunakan properti itu sebagai pusat penyimpanan dokumen sensitif. Aku selalu curiga ada bagian dari masa lalu ayahku yang gelap yang tidak pernah kutemukan, yang disebut Buku Merah—daftar aset dan kesepakatan rahasia yang ia gunakan untuk mendirikan Eclipse," jelas Ares.
"Ibumu tidak melarikan diri darimu, Natalie. Dia melarikan diri dari Ayahku—atau dari orang-orang Ayahku. Aku menemukan beberapa catatan transaksi pembayaran yang tiba-tiba berhenti pada tanggal dia meninggalkanmu. Ayahku membayar semua orang yang tahu tentang properti itu untuk bungkam."
Ares berhenti sejenak, suaranya melembut sedikit. "Ibumu tidak mengkhianatimu, sayang. Dia mengkhianati Ayahku untuk melindungimu. Dia adalah wanita yang tahu cara menghadapi kekuasaan, sama sepertimu."
Natalie menggenggam telepon itu dengan erat. Realitasnya terbalik. Ayah Ares, pria yang mendirikan kerajaan tempat ia sekarang menjadi Ratu Bayangan, adalah alasan mengapa ia menjadi yatim piatu.
"Kenapa Ayahmu tidak membunuhnya?" tanya Natalie, suaranya bergetar.
"Ayahku adalah orang yang berhati-hati. Dia tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah di wilayahnya sendiri. Dia hanya memastikan mereka menghilang. Dia mungkin berpikir Rima mengambil Buku Merah, dan dia akan menunggu ibumu menjualnya atau menggunakannya, tapi Rima menghilang ke udara. Dia tidak pernah kembali ke dunia gelap," kata Ares.
Keputusan dan Pembalasan
"Natalie, kita harus segera pergi. Kita telah membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Aku telah mengirim helikopter ke bandara terdekat. Rook akan mengurus semua yang perlu diurus di sana," kata Ares.
"Dan ibuku?" bisik Natalie, menatap Rima.
"Ibumu tidak aman di sana. Jika musuh yang tersisa melihat koneksi ini, mereka akan menggunakannya untuk menekan kita. Aku akan segera memindahkannya ke fasilitas medis rahasia yang dikelola oleh kepercayaanku. Dia akan mendapatkan perawatan terbaik, Natalie. Dia tidak akan pernah takut lagi," janji Ares.
Natalie tahu Ares tidak membuat janji kosong. Dia akan melakukan apa pun untuk melindungi kelemahannya.
Natalie berdiri. Ia mencium kening ibunya, air matanya menetes di pipi Rima.
"Terima kasih, Bu," bisik Natalie. "Terima kasih telah melindungiku. Sekarang, giliranku untuk melindungimu. Dan aku akan mencari tahu di mana Ayah Ares menyembunyikan Buku Merah itu."
Ia meninggalkan Rima di bawah pengawasan ketat Rook dan tim medis rahasia yang segera tiba.
Saat Natalie dan Ares bertemu kembali, mereka tidak berbagi kata-kata manis. Mereka berbagi tekad yang dingin dan baru.
"Buku Merah itu ada di suatu tempat, Natalie," kata Ares, matanya menyala dengan perburuan. "Itu adalah sumber bahaya lama. Dan itu mungkin adalah kunci untuk memperkuat kerajaan kita selamanya, atau menghancurkannya."
"Kita akan menemukannya," jawab Natalie, tatapannya sekeras Ares. "Tapi pertama-tama, kita akan memastikan Ayahmu tidak akan pernah bisa menggunakan ibuku lagi."
Kisah Natalie tidak lagi tentang melarikan diri dari masa lalu; ini tentang menghadapi masa lalu yang tersembunyi yang ternyata terkait erat dengan cinta dan kekuasaan yang ia temukan. Ia akan menggunakan semua yang ia pelajari dari Ares untuk membalas dendam ibunya.