NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Rumah besar yang biasanya hening itu mendadak berubah seperti medan perang. Suara bantingan pintu, kaca pecah, dan teriakan Melisa terdengar sampai ke halaman depan.

Para asisten rumah tangga bahkan bersembunyi di dapur karena takut melihat majikan mereka mengamuk bak orang kehilangan akal.

“AURELIA!!!”

Melisa menjerit hingga suaranya parau.

Ia mengobrak-abrik kamar putrinya tanpa ampun. Laci dibanting, pakaian ditarik dan dilempar sembarangan. Tempat tidur diseret sampai membentur dinding. Semua itu hanya memperlihatkan satu kenyataan pahit yang membuat matanya memerah penuh murka—

Aurelia kabur.

Melisa menggigit bibirnya hingga berdarah. “Berani-beraninya dia! Anak tidak tahu diri!”

Gio, Bagas, dan Reno—tiga sekutu yang selama ini menjalankan rencananya—berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas. Mereka tahu Melisa berbahaya bila sedang marah, tapi kali ini… ia tampak berbeda. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap dalam tatapannya.

“Bu…” Gio memberanikan diri bicara pelan. “Apa benar Aurelia kabur?”

Melisa menoleh cepat seperti harimau yang hendak menerkam.

“Tasnya hilang. Pakaian penting tidak ada. Dia kabur. PENGKHIANAT kecil itu berani MENANTANG aku!”

Ia menghentakkan kakinya, lalu melempar bingkai foto hingga pecah.

Bagas mundur selangkah. “Bu, Aurelia kan anak ibu. Mungkin dia hanya—”

“DIAM!”

Melisa menunjuk Bagas dengan telunjuk bergetar oleh marah.

“Kalau kau bela dia lagi, aku habisi kau saat ini juga!”

Bagas langsung terdiam, menunduk dalam-dalam.

Melisa kembali menghancurkan isi kamar. Kemudian ia berhenti, tubuhnya gemetar, napasnya memburu.

“Dia pasti pergi ke rumah Wira…” gumamnya, penuh kebencian. “Dia pasti membocorkan semuanya!”

Reno yang dari tadi hanya mengamati akhirnya angkat bicara, meski suara bergetar.

“Bu… kalau Aurelia sampai cerita ke Pak Wira atau Nirmala… rencana kita bisa—”

“AKU TAHU!!!”

Melisa mengamuk lagi.

“Makanya dia harus dihabisi!”

Perkataan itu membuat ketiga sekutu terdiam. Membunuh Nirmala… itu satu hal. Mereka memang tahu Melisa ingin menyingkirkan Nirmala untuk perebutan harta. Tapi membunuh anak sendiri?

Itu sudah gila.

“Bu Melisa…” Reno bersuara hati-hati. “Ini… sudah keterlaluan. Kita hanya ingin mengambil harta. Bukan sampai menghabisi darah daging sendiri.”

Melisa mendadak berhenti mengamuk.

Ia menatap Reno perlahan. Tatapannya kosong, dingin, seperti mata orang yang tidak lagi punya batas moral.

“Kalau dia menghalangi jalanku… dia bukan darah dagingku.”

Senyumnya miring, menakutkan.

“Aurelia sudah memilih pihak. Berarti dia musuh.”

Gio memejamkan mata sejenak, mencoba tetap tenang. “Bu… Aurelia masih muda. Dia bisa ketakutan saja. Mungkin dia tidak benar-benar—”

“Dia pergi ke Wira.”

Melisa mendesis. “Dan siapa pun yang berdiri di pihak Wira adalah musuhku. Termasuk anakku.”

Suasana kamar mendadak mencekam. Tidak ada yang berani bergerak, apalagi bicara.

Bagas menelan ludah. “Bu… ini bukan hanya soal harta lagi ya?”

Melisa mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Bagas.

“Ini soal hidupku.”

Suaranya perlahan, serak, namun penuh intensitas mengerikan.

“Aku tidak akan membiarkan Mala mengambil apa pun dariku. Tidak harta, tidak Wira, tidak status. Tidak ada yang boleh berdiri di jalanku.”

Reno memandangnya tanpa percaya. “Tapi… membunuh suami sendiri? Membunuh anak sendiri?”

Melisa menaikkan dagunya, seolah tak peduli.

“Kalau itu harga yang harus kubayar… maka aku akan melakukannya.”

Tiga lelaki dewasa itu merinding.

Bukan karena ancaman… tapi karena mereka sadar Melisa benar-benar akan melakukannya.

“Bu…” Gio akhirnya bersuara dengan suara yang sangat pelan, “Saya… jujur mulai ragu. Ini sudah bukan permainan kecil.”

Melisa mendekat begitu cepat sampai Gio tersentak mundur.

“Kau mau mundur, Gio?”

Senyumnya dingin.

“Kau pikir mudah keluar dari lingkaran ini? Kau tahu semua rencanaku. Kau tahu identitasku. Kau tahu siapa saja yang terlibat.”

Ia mencengkeram kerah Gio.

“Kalau kau pergi… aku pastikan kau hilang dari muka bumi.”

Gio sadar saat itu juga: Melisa sudah kehilangan akal sehat.

Reno dan Bagas semakin pucat. Mereka tidak menyangka Melisa bisa sejauh ini.

Melisa melepaskan cengkeramannya lalu meraih ponsel. Jari-jarinya bergetar karena amarah.

“Aku akan panggil orang-orang lain. Kali ini…”

Ia menarik napas panjang, matanya dipenuhi kegilaan.

“Tidak ada yang kubiarkan hidup, kecuali aku.”

Semua sekutu membeku.

“Target bertambah,” ucap Melisa saat sambungan telepon terangkat. “Mala. Wira. Semua bodyguard. Dan Aurelia.”

Gio tersedak.

Bagas terjatuh ke kursi.

Reno memegang kepala, syok.

Melisa menutup telepon dan menoleh ke mereka bertiga.

“Jangan lihat aku seperti itu. Ini jalan satu-satunya.”

Reno menggeleng cepat. “Bu, ini gila! Ini bukan perebutan harta lagi, ini pembantaian!”

Melisa hanya tertawa.

Tawa yang bahkan membuat darah mereka membeku.

“Kalau kalian takut, itu masalah kalian.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Tapi dengar ini baik-baik…”

Ia mendekat perlahan.

“Aku tidak akan berhenti… sampai semua yang menghalangiku hilang dari dunia.”

Gio melirik dua rekannya, dan untuk pertama kalinya mereka terlihat benar-benar ingin kabur, tapi tidak berani.

Di luar, angin malam berhembus semakin kencang, seolah alam ikut merasakan kegilaan yang baru saja meledak.

Melisa menatap jendela, wajahnya tersenyum tipis penuh kejam.

“Bersiaplah, Mala…”

Suaranya lirih, namun menggetarkan.

“Pertarungan ini baru dimulai.”

Assalamualaikum selamat malam

Jangan lupa like komen nya ya...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!