Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Malam semakin larut, namun suasana di dalam kontrakan sempit itu terasa jauh lebih dingin daripada udara di luar. Leo duduk di lantai bersandar pada ranjang, membiarkan punggungnya menempel pada kayu yang mulai lapuk. Tatapannya kosong, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Di sela jarinya, sebatang rokok mengepulkan asap tipis, perlahan habis menjadi abu tanpa sempat ia hisap.
Sejak mengetahui kebenaran bahwa putrinya mengalami gagal ginjal, Leo merasa dunianya yang baru saja coba ia bangun kembali mendadak runtuh.
Tiba-tiba, tangannya mulai gemetar. Bukan karena dingin, melainkan karena gejolak di dalam kepalanya yang mulai berisik. Suara-suara kegagalan masa lalu kembali berbisik, menyalahkan dirinya atas penderitaan Lili. Ia mencengkeram rambutnya sendiri, mencoba mengusir rasa sesak yang menghimpit dada hingga ia sulit bernapas.
Sementara itu, di luar ruangan, Roni duduk bersandar pada dinding tepat di samping pintu kamar Leo yang sedikit terbuka. Perasaannya tidak keruan. Tangannya menggenggam erat botol kaca berisi obat penenang, seolah itu adalah satu-satunya benda yang bisa mencegah kekacauan malam ini.
Sesekali Roni mengintip dari celah pintu, memastikan bosnya tidak melakukan hal yang nekat. Lima tahun mendampingi Leo sudah cukup bagi Roni untuk memahami satu hal, di balik wajah dingin dan perintah tegas itu, Leo menyimpan luka mental yang sangat dalam. Depresi yang ia idap bukan sekadar kesedihan biasa, itu adalah badai yang bisa sewaktu-waktu meledak dan membahayakan nyawanya sendiri.
Sejak pulang dari kediaman Raya, Leo hanya diam. Ia tak ubahnya mayat hidup yang terjebak dalam raga yang bernapas.
Roni tidak pernah tahu pasti apa penyebab depresi itu. Ia sebenarnya sempat bersyukur karena beberapa waktu terakhir kondisi Leo terlihat membaik. Aura bosnya itu tampak lebih hidup, meski sifat datarnya tak pernah hilang. Namun, kejadian hari ini mengubah segalanya.
Tiba-tiba, kesunyian malam itu pecah oleh suara yang membuat bulu kuduk Roni berdiri. Dari balik celah pintu, terdengar tawa lirih, yang terdengar seolah jiwa Leo sedang terkoyak dari dalam. Tawa itu perlahan berubah menjadi erangan rendah, seperti suara binatang yang terluka dan terpojok.
Roni mengintip dengan jantung berdebar. Di dalam sana, Leo sudah kehilangan kendali. Pria itu memukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangan, berkali-kali, seolah ingin menghancurkan suara-suara berisik yang menyiksanya.
"Sial, kumat lagi!" umpat Roni tertahan.
Ia tidak bisa menunggu lagi. Dengan sekali hentakan, Roni menerjang masuk ke dalam kamar. "Pak! Tenang, Pak! Kendalikan diri Anda!"
Namun, Leo sudah kehilangan kesadarannya. Matanya memerah, tampak liar dan penuh kebencian pada dirinya sendiri. Sebelum Roni sempat mengunci tangannya, Leo dengan gerakan tak terduga menyambar asbak kaca tebal di lantai. Tanpa ragu, ia menghantamkan benda itu ke keningnya sendiri dengan tenaga yang tidak main-main.
Prang!
Asbak itu terjatuh, dan darah segar seketika mengucur deras dari kening Leo, membasahi wajah dan kemeja putihnya yang kini tampak mengerikan.
"Pak! Sadarlah!" Roni panik bukan main. Ia segera menerjang tubuh kekar itu, mengunci pergerakan tangan Leo agar tidak menyakiti dirinya lebih jauh.
Dalam pergulatan yang menegangkan itu, Roni berhasil memaksa Leo meminum obat penenang yang dibawanya. Leo sempat memberontak hebat, namun perlahan-lahan, otot-otot tubuhnya mulai melemas. Napasnya yang memburu berangsur teratur, hingga akhirnya ia terlelap dalam dekapan asistennya.
Roni mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Kemejanya sendiri sudah terkena bercak darah Leo. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengangkat tubuh bosnya itu ke atas ranjang dan mulai membersihkan luka di keningnya.
"Nasib... nasib..." gumam Roni sambil menempelkan plester pada luka Leo.
Sejujurnya, ada bagian dalam diri Roni yang ingin melempar surat pengunduran diri saat itu juga. Ia lelah harus selalu bersiaga menghadapi bom waktu di dalam kepala Leo. Namun, ia kembali teringat nominal gaji yang masuk ke rekeningnya setiap bulan.
Leo memberikan gaji yang sangat tinggi, jauh di atas rata-rata asisten pada umumnya. Tapi ya, risikonya pun bertarung dengan nyawa.
"Gaji elit, mental sulit," gumam Roni pasrah sambil menyeka keringat di dahinya. Kini, ia hanya bisa berharap saat terbangun nanti, sisa-sisa kewarasan Leo masih ada.