Zhu Xin Tian, putri dari bangsawan Zhu, wanita yang berdarah dingin haus akan darah.
Suatu hari setelah menjalankan misinya sebagai pembunuh bayaran, Xin Tian mati keracunan, namun bukannya mati Xin Tian malah berpindah dimensi kezaman modern.
Bagaimana kehidupan Zhin Tian di zaman modern? Berhasilkah ia membalaskan dendam pemilik tubuh? siapa laki-laki yang berhasil meluluhkan hati Zhin Tian dan bagaimana kisah asmaranya setelah dendamnya terbalaskan?.
Saksikan Kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu keluarga Jiang
Setelah semalam bermimpi keesokkannya Zhin Tian langsung terbang ke negara M untuk bertemu keluarga Jiang.
Sebelum berangkat Zhin Tian sudah melacak dimana keberadaan keluarga Jiang hingga tidak membuat dia tidak kesusahan mencarinya lagi.
Waktu terus berlalu seharian dalam penerbangan membuat badan Zhin Tian teramat kaku, karna ini adalah penerbangan pertamanya yang jauh.
"Hufff cepatlah sampai, badanku rasanya mau remuk" keluh Zhin Tian.
"Coba kamu renggangkan badanmu" kata sosok laki-laki di samping Zhin Tian yang beda kursi.
Namun Zhin Tian tidak menoleh kearah pria tersebut atau menjawab pertanyaannya, namun Zhin Tian melakukan apa yang dikatakan oleh pemuda tersebut.
"Gadis yang menarik, akan aku cari siapa gadis ini" batin pemuda tersebut.
Tiga Jam kemudian akhirnya pesawat tersebut sampai dibandara negara M.
"Aaahhh syukurlah akhirnya sampai juga" guman Zhin Tian. Zhin Tianpun akhirnya turun dan diikuti oleh pemuda tersebut.
"Kamu bukan orang asli disini?" Tanya pemuda tersebut saat Zhin Tian menanti mobil yang telah ia sewa.
"Humm" jawab Zhin Tian dingin.
"Gadis dingin, aku semakin tertarik" batin pemuda tersebut.
Saat mobil sewaan Zhin Tian datang, Zhin Tian langsung naik tanpa pamit atau mengucapkan sepatah katapun, bagi Zhin Tian pemuda tersebut hanyalah orang asing.
Dua jam berlalu, siang mulai menampakkan panasnya yang menyengat, sesekali Zhin Tian mengipas-ngipaskan tangannya kearah lehernya.
"Nona kita sudah sampai" kata sopir tersebut.
"Ah ya, ini bayaran anda, dan terimakasih" Jawab Zhin Tian dengan ramah.
Kini Zhin Tian tiba disebuah Mansion megah dengan corak keemasan, jantung Zhin Tian berdegub kencang bukan karna melihat rumah yang sangat megah tapi harus bertemu keluarga Jiang.
Zhin Tian dari kecil tidak pernah bertemu nenek dan kakek dari pihak ibunya, hingga perasaan debar membuat Xin Tian juga harus merasakannya.
Dengan perlahan Zhin Tian mendekati gerbang Mansion tersebut dan memencet bel yang ada disana.
"Ting Tong" bunyi bel membuat seorang satpan tak jauh dari sana mendekati Zhin Tian.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" kata satpan tersebut, saat satpam tersebut memandang Zhin Tian, ia kaget karna wajah Zhin Tian mirip dengan wajah nona mudanya yang kabur.
"Noo...naaa?" gugup laki-laki tersebut.
"Apakah nona?" tanya satpan tersebut, Zhin Tian yang tau maksud dari pertanyaan satpan tersebut hanya menganggukkan kepalanya.
Satpan yang sangat bahagiapun langsung berlari kearah Mansion tanpa membukakan gerbang untuk Zhin Tian masuk, Zhin Tian yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dalam mansion terlihat sepasang suami istri yang sudah berumur namum masih terlihat awet muda tengah termenung sendu saat menerima laporan dari anak buahnya bahwa anak semata wayangnya telah meninggal hampir sepuluh tahun, ya keluarga Jiang yang selama ini terlalu menutup diri dari publik dan fokus mencari anak semata wayangnya.
"Nyonya, Nyonya, Tua, Tuan" Teriak satpan tersebut membuyarkan lamunan sepasang suami tersebut.
"Astaga satpan satu ini selalu begini" keluh wanita tersebut.
"Palingan dia hanya akan memberi tahu cucu laki-laki kita pulang" jawab pria tersebut.
"Ya hari ini dia akan pulang".
Tak lama satpan tersebut sampai di lantai dua, dimana dua majikannya berada.
"Nyonya, tuan, anu tuan" kata satpan tersebut.
"Anu-anu apa? tanya nyonya tersebut dengan heran.
"Nyonya diluar ada seseorang nyonya, dia sangat mirip dengan nona muda Jiangna ketika kecil dulu"
"Duk duk duk" Jantung sepasang suami istri tersebut berdegub kencang, tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba, senyum merekah menghiasi wajah tersebut.
"Apakah dia anak Jiangna?".
"Untuk lebih pastinya nyonya dan tuan silahkan turun kebawah untuk melihatnya".
"Apa dia sekarang ada dibawah?"
"Astaga maafkan saya nyonya, saya lupa membukan gerbang" satpan tersebut langsung berlari kearah gerbang.
"Silahkan masuk nona" kata satpan tersebut setelah membukakan gerbang.
Setiap langkah jantung Zhin Tian tak henti-hentinya berdegub kencang, entah efek pemilik tubuh atau efek karna dia sendiri, kini Zhin Tian sudah sampai di pintu masuk mansion tersebut, dengan gemetar Zhin Tian membuka pintu tersebut.
"Ceklek" Saat pintu tersebut terbuka, tampaklah dua orang yang menantapnya dengan berkaca-kaca.
Zhin Tian yang melihat itu hanya mematung di depan pintu tersebut, Zhin Tian dapat melihat betapa kerinduan dua manusia tersebut kepada anaknya.
"Cucuku" wanita yang di panggil nenek oleh Zhin Tian itu langsung berhamburan memeluk Zhin Tian.
Awalnya Zhin tidak membalas pelukan tersebut, namun lama kelamaan Zhin Tian membalas pelukan tersebut.
Rasa haru menyelimuti ruangan tersebut, isak tangis dengan jelas terdengar meyayat hati, sang kakeh pun ikut menangis dan segera ikut memeluk dua wanita tersebut.
"Hikss Hikss kau sangat mirip dengan ibumu nak" ucap sang nenek tersebut bernama Berlina Divandra.
"Nenek" Zhin Tian kembali menangis dan memeluk sang nenek tersebut.
"Lebih baik kita duduk, kamu pasti letih" kata sang kakek bernama Leon Putra Jiang, dan akhirnya mereka duduk disebuah ruangan yang begitu megah, disana terlihat banyak sekalu foto Jiangna, dan seroang laki-laki yang beda umur dengan Jiangna.
Zhin Tian fokus kepada foto tersebut, sekilas foto tersebut sangat mirip dengan Jiangna dan setahu Zhin Tian, mamanya tersebut anak semata wayang, kakek Leon yang mengertipun langsung berkata..
"Dia pamanmu" lirih kakek Leon
"Bukannya mama anak semata wayang?" tanya Zhin Tian dan mengalihkan pandangannya kearah kakek leon.
Liulin*