"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
usaha Dirga
"Iya nek, sebelum Radini datang untuk melamar Dirga, Dirga selalu mimpi dia berada di atas ranjang Dirga dengan pakaian serba merah, memanggil nama Dirga untuk naik ke ranjangnya" jawab Dirga
"Itu artinya perempuan itu bukan Khanza tapi Husna" ungkap Dimas
••••••••••••••
Di sekolah.
Dirga terus menatap Husna yang sedang mengajar, dia tidak percaya kalau perempuan yang menerima pelet dari Radini itu adalah Husna, jadi dia harus memikirkan langkah yang tepat sebelum peci miliknya dia serahkan pada seseorang yang nantinya akan membuat Radini kapok berurusan dengannya, dan juga Husna bisa memiliki seseorang yang pantas untuk bersamanya karena Husna adalah murid Dirga di pesantren dulu.
"Apa yang harus aku lakukan, ini sudah tiga hari dari sejak sarung dan peci itu di temukan, sarungnya sudah di bakar dan sekarang tinggal peci ini, berikan pada siapa" gumam Dirga
"Rani, apa sejak kamu dan kak Roman memberikan ari ari kakak kamu pada kami kamu mendapatkan gangguan?" tanya Dirga berbisik.
"Tidak Om, tapi ayah selalu patuh pada nenek, sepeltinya papa kena pengaluh Iblis itu, dan pas hali peltama sekolah, Lani kehilangan boneka Lani Om, di bakal dan kutu teman Lani juga mati" jawab Rani murung
"Tidak nak, papa kamu hanya pura pura saja, itu kesepakatan kami jadi kamu tidak perlu takut ya, boneka baru untuk kamu akan datang besok saat Rani sampai di rumah Opa Bintang" bujuk Dirga
"Benalkah? Lani kemalin takut kalena ayah katanya akan menikah lagi, nenek dan bibi Ladini yang minta ayah menikah lagi, Lani takut punya ibu tili jahat" jawab Rani
"Menikah lagi? dengan siapa? Rani tahu tidak orangnya?" tanya Dirga
"Katanya namanya Puspita Dewi dali kampung sebelah" jawab Rani
"Puspita Dewi, apa janda juragan Ilhan yang meninggal dua bulan lalu" gumam Dirga khawatir karena meninggalnya Ilhan adalah karena teluh yang di kirim Radini untuknya setelah Ilhan secara terang terangan ingin menjadikan Radini istri keduanya.
"Aku harus memberi tahu kak Roman supaya tidak melamar perempuan itu karena aku yakin Puspita itu adalah pengikut Radini" gumamnya segera mengirim pesan pada Dimas supaya di sampaikan pada Roman.
Husna sempat melirik Dirga yang terus memasang wajah khawatir, dia begitu ingin tahu apa yang di pikirkan orang yang dia sukai itu tapi dia juga tidak berani bertanya pada gurunya semasa di pesantren itu, bahkan dulu dia memanggil Dirga dengan sebutan ustadz tapi di kampung halaman mereka, Dirga memintanya untuk memanggilnya kakak saja karena Dirga merasa kalau dia belum pantas menyandang sebutan itu.
"Om, Lani kemalin malam di pelototi bibi Ladini" adu Rani sambil menulis apa yang di ajarkan Dirga.
"Kenapa?" tanya Dirga
"Kalena bibi bilang tengkolak ini membawa enelgi jahat jadi halus di lepas, tapi Lani tidak mau jadi bibi malah" jawab Rani mengeluarkan kalung berhiaskan dua jari telunjuk Amartha yang sudah berupa tulang yang dia pakai.
"Jangan dengarkan, ini adalah penghalang energi jahat yang akan mendekati kamu dan kak Roman, jadi jangan di buka, ada energi kakak-kakak Rani juga di sini jadi jangan di buka ya, kasihan mereka nanti sedih" ucap Dirga
"Iya, tidak akan Lani buka" jawab Rani kembali memasukkan kalungnya.
"Kak Dirga, sudah jam pulang dan para orang tua sudah ada di depan" ucap Husna
"Astagfirullah, maaf ya, ayo anak anak baca doa selesai belajar dulu dan jangan lupa nanti pas sampai di rumah untuk mencium tangan kedua orang tua kalian ya" ucap Dirga
"Baik pak guru" jawab semuanya
Dirga membiarkan anak anak itu membereskan perlengkapan belajar mereka sendiri, menyimpan buku buku ke lemari milik mereka masing masing dan merapikan meja yang sudah di beri nama para murid ke tempat yang sudah di siapkan Dirga.
Anak anak itu juga langsung mencium tangan Dirga dan Husna setelah selesai dan Dirga mengantar anak anak itu ke depan bertemu dengan orang tua mereka kecuali Razka yang akan pulang bersama Dirga dan ke tempat Panji di bengkel Dimas.
"Ayah!" panggil Rani melambaikan tangannya.
"Kamu bersenang senang hari ini?" tanya Roman mengendong Rani.
"Iya ayah tapi Lani belum hafal sulat Al ikhlas dan kata Om Dilga halus belajal di lumah" jawab Rani
"Pasti sulit sekali itu" jawab Roman terkekeh karena bacaan basmalah saja sudah membuat rumah Radini seperti di guncang sesuatu dan Roman akan mengalami sakit kepala yang menyakitkan.
Roman melirik Dirga, dia ingin bicara dengan Dirga tapi Husna terus berada di samping Dirga dan itu membuat Roman merasa terganggu, berharap Husna segera pergi karena dia juga tidak bisa pulang terlambat ke rumah Radini.
"Husna kenapa belum pulang?" tanya Dirga yang tahu kalau Roman ingin bicara dengannya.
"Sebenarnya motor Husna di pakai kak Hasan kak, jadi Husna mau minta di antar kak Dirga" jawab Husna malu malu.
"Tapi saya akan pulang dengan Razka dan Khanza nanti, Khanza juga minta di jemput di tempat les menjahit katanya" jawab Dirga tidak ragu sama sekali karena dia tahu yang harus dia lakukan adalah menolak Husna.
"Tidak apa apa, kalau begitu Husna jalan kaki saja" ucap Husna terlihat kecewa
"Tunggu, biar aku carikan tumpangan untuk kamu dulu atau ojek" ucap Dirga mengangguk pada Roman supaya menunggunya sebentar di dalam kelas bersama Rani.
"Dirga... mobil Hatta" bisik Sahara dan Dirga segera berlari ke arah pinggir jalan untuk menghentikan mobil Hatta yang melaju.
Ckiiit.
"Ya ampun Dirga! apa yang kamu lakukan bagaimana kalau kamu tertabrak!" bentak Hatta menginjak rem mobilnya saat Dirga tiba tiba berdiri di tengah jalan untuk menghentikan mobilnya.
"Maaf juragan, saya mau minta tolong" jawab Dirga menghampiri Hatta.
"Tolong apa!" bentak Hatta
"Itu, Husna rumahnya kan satu arah dengan rumah nyai Radini, saya mau minta tolong juragan antar Husna karena kasihan rumahnya jauh, motornya di pakai Hasan katanya" jawab Dirga mengusap pundak Hatta karena guna guna Radini begitu kuat terlihat mengelilingi Hatta yang sekarang selalu bersikap ketus pada semua orang.
"Saya tidak bisa!" jawabnya
"Tolong juragan, saya harus menjemput Khanza karena di tunggu kak Kenanga" mohon Dirga kembali mengusap sebelah bahu Hatta dengan banyak bacaan ayat rukiyah yang dia baca secara diam diam.
"Hhkmm..., kenapa suaraku serak dan sulit hkkkk"
Sahara ayo neng bales it si rudin