NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Raka Wibisana mencoba tertawa.

Itu kesalahan pertama.

"Ini pasti salah paham," katanya, mengangkat dua tangan. "Aku bahkan baru masuk."

Karina menatapnya seperti melihat sesuatu yang kotor menempel di lantai. "Kenapa kamu masuk ke ruang istirahat saya?"

"Aku khawatir. Kamu tadi pusing."

"Saya tidak meminta kamu menyusul."

"Karina, jangan begitu. Kita saling kenal."

"Kita pernah bertemu di tiga acara. Di dua acara pertama kamu mabuk. Di acara ketiga kamu memegang tangan saya tanpa izin."

Satria Mahendra batuk kecil, mungkin menahan komentar.

Daren maju. "Kita jangan ribut di sini. Ini acara yayasan. Kalau ada kamera, mungkin milik hotel."

Petugas keamanan hotel langsung berkata, "Bukan, Pak. Kami tidak memasang kamera di ruang istirahat tamu."

Daren menatapnya tajam.

Petugas itu menunduk, tetapi tidak menarik kata-katanya.

Alya melihat Satria.

Satria hanya berdiri dengan tangan di belakang punggung. Tenang. Saksi yang baik.

Ratna akhirnya bicara. "Alya, kenapa kamu membawa semua orang ke sini? Kalau memang menemukan sesuatu, seharusnya bicara baik-baik. Ini bisa merusak nama Karina."

Karina menoleh pelan.

"Nama saya rusak karena kamera tersembunyi atau karena orang yang menemukannya memanggil saksi?"

Ratna tersenyum lembut. "Nak, Tante hanya khawatir. Media ada di bawah."

"Maka pastikan media tidak tahu. Tapi polisi harus tahu."

Raka langsung pucat. "Polisi? Karina, jangan berlebihan."

Alya berkata, "Percobaan perekaman tanpa izin di ruang privat bukan hal kecil."

Daren memandangnya. "Kamu bukan pengacara."

"Pengacara saya ada di lantai bawah."

Kali ini Daren benar-benar diam.

Ratna menatap Alya.

Di mata perempuan itu, ada kebencian yang tidak lagi ditutup sempurna.

Dira berdiri di sudut, wajahnya pucat. Ia tampak ingin bicara, tetapi takut pada semua orang sekaligus.

Karina melihatnya. "Dira, siapa yang menyiapkan ruang ini?"

Dira menarik napas gemetar. "Panitia yayasan. Saya... saya hanya menerima daftar ruang dari staf."

"Staf siapa?"

Dira menatap Daren.

Daren berkata dingin, "Dira."

Alya menyela, "Jawab saja. Kalau kamu diam, kamu ikut menanggung."

Dira memejamkan mata.

"Staf operasional Mas Daren yang mengurus akses dengan hotel."

Daren menegang. "Karena aku bagian dari panitia."

"Siapa nama stafnya?" tanya Karina.

Dira menyebut nama.

Yusuf langsung berkata, "Orangnya ada di ujung koridor tadi, Nyonya. Saya foto."

Alya mengambil ponsel Yusuf, melihat foto, lalu menunjukkannya kepada petugas hotel. "Cari orang ini. Jangan biarkan keluar."

Petugas itu melihat Daren.

Satria akhirnya bicara. "Lakukan. Saya akan bicara dengan manajer hotel kalau perlu."

Petugas itu langsung pergi.

Daren berkata, "Pak Satria, ini urusan keluarga."

Satria menatapnya. "Kamera tersembunyi di ruang VIP yang dipakai putri menteri bukan urusan keluarga."

Kalimat itu menghantam semua orang.

Ratna mencoba mengambil kendali. "Baik. Kita tenang. Raka, kamu mungkin masuk karena khawatir. Karina, Tante akan pastikan kamera ini diselidiki. Tidak perlu polisi malam ini. Kamu pusing, lebih baik pulang dulu."

Karina tertawa pendek.

"Tante Ratna, saya pusing karena minuman di acara Anda."

Ratna membeku.

"Saya tidak menuduh. Saya hanya menyebut fakta. Saya minum, saya pusing, lalu ada orang menyarankan saya ke ruang VIP yang ternyata punya kamera tersembunyi, dan Raka muncul di pintu tanpa diminta. Kalau saya pulang diam-diam, besok cerita apa yang akan keluar?"

Raka berkeringat.

Daren berkata, "Tidak akan ada cerita apa pun."

Alya menatapnya. "Karena rencananya gagal?"

"Alya."

"Mas Daren."

Nama itu diucapkan dengan nada yang sama.

Daren mendekat setengah langkah. "Kamu bermain terlalu jauh."

Karina, yang masih pucat, tiba-tiba tertawa kecil. Suaranya tidak riang. Lebih mirip pecahan kaca.

"Menarik," katanya. "Saya yang hampir direkam diam-diam, tapi perempuan yang membongkarnya dianggap bermain terlalu jauh."

Daren menatap Karina. "Bukan begitu maksud saya."

"Lalu maksud Anda apa? Bahwa kami seharusnya menunggu sampai video itu tersebar dulu agar tuduhan kami terlihat sopan?"

Tidak ada yang menjawab.

Arga tidak ada di sana.

Namun Alya tiba-tiba merasa kata-kata Arga semalam berdiri di belakangnya: kalau perlu pakai namaku, pakai.

Ia berkata, "Saya datang ke acara ini atas dukungan suami saya. Kalau ada yang merasa saya bermain terlalu jauh karena mencegah perempuan difitnah, silakan jelaskan kepada Arga, Pak Bima, dan pengacara Karina."

Daren berhenti.

Satria menatap Alya dengan minat baru.

Karina juga.

Dira menutup mata seperti baru menyadari Alya tidak hanya menyelamatkan Karina. Ia juga memaksa semua pria di sana berhenti berbicara seolah perempuan-perempuan itu barang yang bisa dipindahkan.

Petugas hotel kembali dengan dua orang keamanan. "Pak, staf yang difoto sudah tidak ada di pos. Tapi kami tahan satu pelayan yang membawa minuman ke Bu Karina. Dia mencoba keluar lewat area servis."

Karina berkata, "Bawa dia ke sini."

Ratna menolak cepat, "Tidak perlu membuat keramaian."

"Perlu," kata Karina.

Beberapa menit kemudian, pelayan itu dibawa. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.

Alya mengenal wajahnya. Pelayan yang membawa nampan kedua.

Karina bertanya, "Apa yang kamu berikan pada saya?"

Pelayan itu menunduk. "Minuman, Bu."

"Dari siapa?"

"Dari dapur."

Alya berkata, "Kalau kamu berbohong, hotel akan menyerahkanmu ke polisi sendirian. Orang yang menyuruhmu akan berkata kamu bekerja tanpa perintah."

Pelayan itu mulai menangis. "Saya cuma disuruh tukar gelas, Bu. Saya tidak tahu isinya."

"Disuruh siapa?" tanya Karina.

Pelayan itu melihat Daren, lalu cepat menunduk.

Daren berkata, "Jangan asal menuduh."

Alya maju setengah langkah. "Nama."

"Pak Yoga," bisik pelayan.

Dira menutup mulut.

Yoga.

Staf operasional Daren.

Satria berkata kepada petugas hotel, "Panggil manajer. Simpan rekaman CCTV area dapur, koridor, lift, dan ruang VIP. Jangan ada yang dihapus."

Daren menahan amarah. "Pak Satria, Anda tidak punya wewenang di hotel ini."

"Tapi aku punya telepon ke pemiliknya."

Daren diam.

Ratna akhirnya menatap Raka. "Raka, kamu pulang dulu."

"Tidak," kata Karina.

Raka panik. "Karina, aku tidak melakukan apa-apa!"

"Kalau begitu kamu tidak perlu takut menunggu polisi."

"Polisi?" Raka melihat Daren. "Mas Daren, tolong bilang sesuatu."

Daren tidak menatapnya.

Kesalahan kedua Raka: meminta bantuan terlalu jelas.

Alya melihat Karina menangkap itu.

Karina mengambil ponsel dan menelepon seseorang.

"Papa, aku butuh bantuan hukum sekarang. Bukan, aku aman. Tapi ada yang mencoba membuat skandal di acara Pradipta Foundation."

Ratna memejamkan mata.

Daren kehilangan warna wajahnya.

Alya mundur satu langkah.

Tugas utama selesai.

Sekarang bola ada di tangan Karina.

Ia tidak ingin mengambil semua panggung. Karina bukan perempuan lemah yang harus diselamatkan lalu dibungkam demi citra penyelamatnya. Yang dibutuhkan Karina hanyalah pintu keluar dari perangkap dan saksi yang cukup kuat.

Setelah itu, biarkan ia sendiri yang memukul balik.

Itu lebih adil, dan jauh lebih menyakitkan bagi pelaku.

Dira mendekat ke Alya, berbisik, "Ini akan meledak."

"Memang harus."

"Daren tidak akan memaafkanmu."

"Dia masuk antrean."

Dira menatapnya, antara takut dan kagum.

Karina selesai menelepon. Ia menatap Ratna.

"Tante, saya menghormati Anda. Tapi malam ini saya tidak akan menyelesaikan apa pun secara kekeluargaan."

Ratna berkata lembut, "Kamu sedang emosi."

"Benar. Karena hampir dijadikan korban."

Alya melihat tangan Karina masih gemetar.

Ia mendekat dan menyerahkan botol air mineral baru yang masih tersegel.

Karina menerimanya, menatap segelnya, lalu membuka sendiri.

"Terima kasih," katanya.

"Jangan minum apa pun yang tidak kamu buka sendiri malam ini."

"Aku belajar."

Di koridor lantai dua itu, hubungan baru terbentuk.

Bukan persahabatan.

Belum.

Tapi utang keselamatan adalah awal yang kuat.

Ponsel Alya bergetar.

Pesan dari Arga.

`Kamu baik-baik saja?`

Alya melihat kekacauan di depannya: Raka panik, Daren membeku, Ratna menghitung jalan keluar, Karina siap melawan, Satria menyimpan semua dalam ingatan.

Ia membalas:

`Lebih baik dari rencana mereka.`

Balasan Arga datang cepat.

`Bagus. Pulang setelah selesai. Jangan biarkan mereka menahanmu.`

Alya hampir tersenyum.

Di ujung koridor, lift terbuka. Pengacara Karina tiba bersama dua pria berjas.

Malam itu belum selesai.

Tapi perangkap sudah menjadi barang bukti.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!