NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pagi hari di kediaman mewah keluarga Oliver selalu diawali dengan ketertiban yang kaku dan sunyi. Ruang makan utama yang megah itu didominasi oleh meja kayu ek panjang berlapis marmer Carrara putih, dikelilingi oleh kursi-kursi berukir tinggi yang berlapis beludru abu-abu gelap.

Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui dinding kaca setinggi lima meter, memantulkan kilau kemilau pada lampu gantung kristal yang menggantung megah di tengah ruangan, serta pada jajaran sendok garpu perak yang tertata sangat presisi.

Di ujung meja, Arkan Oliver duduk dengan tenang.

Pria itu mengenakan kemeja katun rajut berwarna abu-abu terang yang melekat pas di tubuh atletisnya, dengan beberapa kancing atas sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan garis selangka yang tegas dan maskulin. Rambut hitamnya yang sedikit basah jatuh dengan santai di dahinya, memberikan kesan segar pasca-mandi yang sangat memikat.

Di depannya, sebuah tablet bisnis menampilkan grafik saham yang bergerak fluktuatif, berdampingan dengan secangkir espresso hitam pekat yang mengepulkan uap tipis.

Meskipun matanya tampak terfokus pada layar tablet, pendengaran Arkan sepenuhnya terarah pada derap langkah kaki yang sangat halus, yang kini terdengar mendekati ruang makan.

Hilmira Hazelya melangkah masuk dengan anggun namun ragu. Pagi ini, ia mengenakan gamis longgar berwarna biru pastel yang dipadukan dengan khimar panjang senada. Cadar sifon hitamnya terpasang rapi, menciptakan kontras yang mencolok namun sangat menawan.

Seperti biasa, ia berjalan dengan kepala sedikit menunduk, memeluk buku catatan kecilnya erat-erat seolah-olah ia masih mengantisipasi adanya ancaman di rumah yang luas ini.

Hilmira mengambil posisi duduk di kursi yang letaknya cukup jauh dari Arkan, berjarak sekitar empat kursi kosong di antara mereka. Sebuah jarak aman yang sengaja ia buat demi mematuhi batasan tak kasat mata di antara mereka.

"Pagi, Nyonya Muda," sapa Kepala Pelayan rumah, Bi Sumi, dengan senyum hangat sembari meletakkan piring kosong di hadapan Hilmira.

"Pagi, Bi..." jawab Hilmira dengan suara yang sangat lirih dari balik cadarnya.

Di ujung meja, Arkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet, namun rahangnya sedikit mengetat mendengar sapaan itu.

Melalui sudut matanya, ia memperhatikan bagaimana Bi Sumi mulai menyajikan menu sarapan standar keluarga Oliver pagi itu, croissant mentega hangat, scrambled eggs dengan taburan truffle, serta sepiring buah-buahan potong segar yang dingin.

Hilmira menatap hidangan di depannya dengan pandangan bimbang. Dari balik cadar hitamnya, ia perlahan menurunkan kain penutup wajahnya hingga sebatas dagu untuk mulai makan, memastikan posisi duduknya membelakangi Arkan agar suaminya itu tidak bisa melihat wajah polosnya secara langsung.

Namun, Arkan yang cerdas memanfaatkan pantulan bayangan dari dinding kaca besar di samping mereka. Melalui pantulan kaca tersebut, Arkan bisa melihat dengan jelas bagaimana Hilmira menyantap sarapannya.

Wanita itu hanya mengambil garpu, memotong sedikit bagian putih telur, lalu mengunyahnya dengan sangat lambat.

Ketika ia mencoba menggigit croissant yang renyah dan gurih, Hilmira tampak sedikit kesulitan karena teksturnya yang agak keras, hingga akhirnya ia meletakkan kembali roti itu ke atas piring. Ia hanya meminum air putih hangatnya, sementara sisa hidangan mewah di piringnya hampir tidak disentuh sama sekali.

"Dia hampir tidak makan apa-apa lagi," batin Arkan, sepasang mata elangnya menyipit tajam.

Rasa tidak nyaman kembali mencubit dada Arkan. Ini bukan pertama kalinya ia menyadari kebiasaan makan Hilmira yang sangat buruk semenjak tinggal di rumah ini.

Hilmira selalu menyisakan makanannya, bukan karena ia bersikap manja, melainkan karena lambung dan fisiknya yang masih sangat lemah pasca-trauma berat membuat tubuhnya menolak makanan-makanan barat yang terlalu berlemak atau bertekstur keras.

Arkan menggeser layar tabletnya dengan sentakan jari yang agak kasar, menunjukkan ketidaksenangannya yang tiba-tiba bergejolak di dalam dada.

"Bi Sumi," panggil Arkan, suara baritonnya yang berat dan dingin mendadak memecah kesunyian ruang makan.

Bi Sumi bergegas mendekat dengan sikap hormat. "Iya, Tuan Muda Arkan? Ada yang kurang dengan sarapan Anda?"

Arkan meletakkan cangkir espresso-nya ke atas lepek dengan bunyi denting porselen yang cukup keras, membuat Hilmira di ujung meja sempat tersentak kecil dan langsung membetulkan posisi cadarnya kembali dengan panik.

"Kopi ini terlalu manis. Aku tidak suka," dusta Arkan dengan wajah yang sangat datar dan tak acuh, padahal kopi yang ia minum adalah espresso murni tanpa gula. "Dan juga... dapur ini terlalu malas akhir-akhir ini. Kenapa menunya selalu sama setiap hari? Membosankan."

Bi Sumi tertegun, sedikit bingung dengan keluhan mendadak dari sang tuan muda yang biasanya tidak pernah memedulikan urusan dapur. "Ah, maafkan kami, Tuan Muda. Lalu, menu apa yang ingin Anda santap untuk besok pagi?"

Arkan bersandar pada kursinya, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya dengan gestur yang sangat maskulin dan berwibawa. Ia melirik sekilas ke arah pantulan kaca, memastikan Hilmira tidak sedang memperhatikannya.

"Buatkan sesuatu yang hangat dan mudah dicerna untuk besok pagi. Sesuatu yang tradisional," ujar Arkan, nada suaranya dibuat seolah-olah ia sedang menuntut kenyamanan pribadinya sendiri. "Bubur ayam Cianjur dengan kuah kuning yang gurih, tapi tanpa minyak berlebih. Dan pastikan rotinya diganti dengan roti gandum yang dikukus setengah matang agar teksturnya lembut. Jangan sajikan makanan dingin seperti buah es itu lagi di pagi hari. Mengerti?"

Bi Sumi, yang telah bekerja puluhan tahun di keluarga Oliver, seketika menangkap maksud terselubung di balik perintah detail sang tuan muda. Bubur tradisional dan roti kukus lembut jelas bukan menu favorit Arkan yang sangat menyukai hidangan barat bergaya modern.

Semua menu yang disebutkan Arkan adalah makanan yang sangat ramah untuk lambung yang sensitif, makanan yang sangat cocok untuk kondisi fisik Hilmira yang sedang dalam masa pemulihan batin.

Seulas senyum tipis yang penuh arti tersembunyi di wajah ramah Bi Sumi. "Baik, Tuan Muda. Saya mengerti sekali. Menu 'hangat dan lembut' tersebut akan siap disajikan besok pagi."

"Ya. Jangan sampai aku melihat piring sarapan besok masih tersisa banyak seperti hari ini. Itu sangat membuang-buang anggaran rumah," sahut Arkan dengan nada tsundere yang ketus, mencoba menutupi perhatian terselubungnya di balik alasan efisiensi keuangan keluarga yang sebenarnya tidak masuk akal bagi seorang miliarder sepertinya.

Mendengar percakapan itu, Hilmira yang duduk di ujung meja perlahan mengangkat kepalanya. Melalui celah cadar hitamnya, ia menatap punggung tegap Arkan dari kejauhan.

Meskipun Arkan berbicara dengan nada yang dingin dan ketus seolah sedang memarahi pelayan, Hilmira tidaklah bodoh. Ia tahu betul bahwa menu bubur kuah kuning hangat dan roti kukus lembut adalah makanan yang sempat ia sebutkan kepada Bi Sumi beberapa hari lalu saat menceritakan makanan masa kecilnya yang ia rindukan.

Jantung Hilmira mendadak berdesir aneh. Ada kehangatan yang perlahan mengalir di dalam dadanya, mengusir dinginnya udara AC di ruang makan itu. Di balik cadar hitamnya, seulas senyum manis yang tulus terukir di bibir merah muda Hilmira, sebuah senyuman yang sudah sangat lama tidak pernah muncul di wajah cantiknya.

Arkan bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan yang dinamis dan elegan. Ia menyambar kunci mobil Maserati-nya di atas meja, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju pintu keluar utama untuk bersiap berangkat kuliah.

Namun, tepat saat ia melewati kursi tempat Hilmira duduk, langkah kaki Arkan sempat melambat selama satu detik.

Matanya melirik ke arah piring Hilmira yang masih menyisakan makanan, lalu beralih menatap lurus ke dalam netra bulat Hilmira yang sedang menatapnya balik.

Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka pagi itu, sesuai dengan aturan kontrak yang mereka sepakati. Namun, intensitas tatapan mata elang Arkan yang begitu pekat dan hangat seolah mengirimkan pesan tersirat yang sangat jelas bagi Hilmira.

"Habiskan makananmu besok, atau aku akan memarahimu lagi."

Begitu Arkan melangkah pergi meninggalkan keharuman parfum maskulinnya yang maskulin di udara, Hilmira memeluk buku catatannya lebih erat di dada, merasakan debaran aneh di jantungnya yang kian sulit untuk ia kendalikan setiap kali berada di dekat sang suami kontrak yang berhati dingin namun penuh perhatian itu.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!