NovelToon NovelToon
Manuskrip Vyonich

Manuskrip Vyonich

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Cinta Terlarang / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Rifa'i

Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.

Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.

Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUNCAK MENARA ORBIS

Langkah kaki Arka, Kiara, dan Ezra menggema di tangga spiral menuju puncak menara.

Udara semakin tipis, dan tekanan energi dari inti Orbis terasa semakin kuat.

Dinding-dinding di sekitar mereka bersinar dengan pola biru yang bergerak, seolah hidup.

Arka merasakan jantungnya berdegup kencang. Mereka sudah dekat.

Tapi di saat itu.

BOOOOM!

Tiba-tiba, seluruh menara bergetar hebat.

Ezra hampir kehilangan keseimbangan. "Apa yang terjadi?!"

Kiara menatap ke atas. "Aku rasa Aldrich baru saja mulai mengaktifkan inti Orbis!"

Arka mengepalkan tinjunya. "Kita harus segera sampai ke atas sebelum terlambat!"

Mereka berlari lebih cepat.

Namun, tepat saat mereka hampir mencapai puncak.

Pintu besar di depan mereka terbuka.

Dan di baliknya, Aldrich sudah berdiri menunggu.

PERTEMUAN TERAKHIR

Aldrich berdiri di depan altar, dengan kristal biru raksasa melayang di atasnya.

Cahaya dari inti Orbis berputar-putar di sekitar tubuhnya.

"Kalian akhirnya sampai juga," katanya, suaranya penuh kepuasan.

Arka menatapnya tajam. "Hentikan ini, Aldrich. Kau tahu apa yang akan terjadi jika inti Orbis diaktifkan!"

Aldrich tertawa kecil. "Tentu saja aku tahu. Itulah tujuanku."

Ezra mengangkat pistolnya. "Kau sudah kehilangan akal, Aldrich."

Aldrich menggeleng. "Tidak. Aku akhirnya melihat kebenaran."

Dia mengangkat tangannya ke arah inti Orbis.

Kristal itu mulai berputar lebih cepat.

Dinding menara bersinar semakin terang.

Kiara merasakan kulitnya merinding. Energi di ruangan ini mulai mencapai tingkat yang berbahaya.

"Kau tidak mengerti, Arka," kata Aldrich, matanya berbinar dengan cahaya biru. "Kekuatan Orbis bisa mengubah dunia. Aku bisa menghapus kelemahan, ketidakadilan, dan membangun ulang semuanya… sesuai visiku."

Arka mengepalkan tinjunya. "Dengan menghancurkan dunia yang sudah ada?"

Aldrich tersenyum tipis. "Terkadang, kehancuran adalah awal dari kebangkitan."

Kiara melangkah maju. "Kami tidak akan membiarkanmu melakukannya."

Aldrich menatap mereka dan mengangkat tangannya.

Dalam sekejap, gelombang energi biru meledak dari tubuhnya.

BOOOOM!

Arka, Kiara, dan Ezra terhempas ke belakang.

Saat mereka berusaha bangkit, Aldrich mulai melayang di udara.

Cahaya dari inti Orbis mengalir ke dalam tubuhnya.

"Kalian tidak akan bisa menghentikanku sekarang."

Mata Aldrich bersinar sepenuhnya biru.

Pertarungan terakhir pun dimulai.

PERTARUNGAN MELAWAN ALDRICH

Ezra menembak tanpa ragu.

Tapi pelurunya berhenti di udara.

Cahaya biru di sekitar Aldrich menyerap semua serangan.

Kiara mencoba melompat dan menyerang dengan belatinya.

Tapi Aldrich hanya menggerakkan tangannya sedikit, dan Kiara terpental ke belakang, menghantam dinding dengan keras.

Arka berlari ke arah Aldrich, menggenggam pecahan logam Orbis.

Tapi sebelum ia bisa mendekat, Aldrich menghilang dan muncul tepat di belakangnya.

ZAAAP!

Arka merasakan cahaya biru menembus tubuhnya.

Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dia jatuh berlutut, terengah-engah.

Aldrich menggeleng. "Aku sudah melampaui manusia biasa. Kalian tidak punya harapan."

Ezra menatap Arka dengan cemas. "Apa yang kita lakukan sekarang?!"

Arka menatap inti Orbis.

Lalu, dia menyadari sesuatu.

Aldrich tidak bisa sepenuhnya menyerap inti itu.

Masih ada satu celah.

Dan jika mereka bisa menghancurkannya…

Mereka bisa menghentikan Aldrich untuk selamanya.

Arka menarik napas dalam-dalam.

"Ezra, Kiara… kita tidak bisa mengalahkan Aldrich secara langsung."

"Tapi kita bisa menghancurkan inti Orbis."

Kiara terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. "Kau yakin itu akan berhasil?"

Arka mengangguk. "Jika inti itu hancur, Aldrich akan kehilangan sumber kekuatannya."

Ezra menatap Kiara, lalu Arka.

Kemudian, dia mengisi ulang pistolnya.

"Kalau begitu, kita hanya punya satu kesempatan."

Mereka saling bertukar pandang.

Lalu, mereka bergerak.

SERANGAN TERAKHIR

Ezra menembak ke arah Aldrich—

Tapi kali ini, dia tidak membidik Aldrich langsung.

Dia membidik lantai di bawahnya.

Ledakan kecil menghancurkan sebagian lantai, membuat Aldrich kehilangan keseimbangan sesaat.

Kiara melompat ke udara, melempar belatinya langsung ke inti Orbis.

Aldrich menyadari rencana mereka.

"TIDAK!"

Dia melesat ke arah Kiara.

Tapi Arka bergerak lebih cepat.

Dia menggunakan pecahan logam Orbis yang tersisa, dan melemparkannya ke Aldrich.

ZZZZZT!

Cahaya biru di sekeliling Aldrich melemah seketika.

Dan dalam momen itu.

Belati Kiara menancap tepat di inti Orbis.

"SEKARANG, EZRA!"

Ezra menembak belati itu dengan peluru terakhirnya.

BOOOOOOM!

Inti Orbis meledak.

Cahaya biru memenuhi seluruh ruangan—

Aldrich menjerit kesakitan, tubuhnya bergetar hebat.

Energi yang dia serap mulai lepas kendali.

Dan dalam sekejap.

Ledakan besar terjadi.

SETELAH PERTARUNGAN

Saat Arka membuka matanya, dia melihat langit.

Dia terbaring di reruntuhan menara yang kini sudah runtuh.

Kiara dan Ezra tidak jauh darinya, sama-sama terluka, tapi masih hidup.

Aldrich…

Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

Inti Orbis telah hancur.

Dan dengan itu, kekuatan Ordo Lux Veritatis ikut lenyap.

Kiara menghela napas panjang. "Kita… berhasil?"

Ezra duduk, tertawa kecil meskipun kesakitan. "Sepertinya begitu."

Arka menatap langit yang mulai terang.

Perjalanan mereka telah berakhir.

Tapi dunia yang mereka kenal…

Akan berubah selamanya.

1
Diana Dwiari
berasa nonton film lara croft
Ahmad Rifa'i: terima kasih kak sudah mampir ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!