“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”
Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.
Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.
Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.
Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.
Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPMM19
Lorong rumah sakit yang sunyi, tiba-tiba saja di penuhi oleh suara langkah kaki. Tepatnya, asal muasal suara itu berasal dari Nadia yang tengah berlari kencang, tanpa menggunakan alas kaki.
Penampilannya sungguh unik. Wanita bertubuh gempal yang bertelanjang kaki itu mengenakan pakaian yang tak senada. Belum lagi, sebuah Beha dagangan nya melingkar di lehernya.
Nadia yang baru saja tiba, kaget mendapati pemandangan Aldrick yang berdiam diri di sudut kursi. Wajah pria itu tampak lelah, penuh dengan beban yang tak terlihat. Tanpa berpikir panjang, Nadia melangkah mendekat.
"Drick?!" panggilnya dengan napas tersengal.
Aldrick tidak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas, tapi, jelas ekspresi nya terkejut saat melihat kacamata raksasa (Beha) yang melingkar di leher Nadia. Pria itu kembali memandang keluar jendela, seolah-olah Nadia tidak ada di sana. Tapi, Nadia bukan tipe orang yang mudah menyerah.
"Gimana kondisi Melodi, Drick? —Gue boleh masuk?" Nadia menatap pintu ruangan inap Melodi yang hanya berjarak beberapa meter saja.
Aldrick menggeleng. "Gue nggak tau gimana sekarang kondisi Melodi, Nad. Dokter dan tim medis belum ada yang keluar dari ruangan itu," suaranya terdengar serak dan lemah.
Nadia menghela napas pelan, ia duduk tak jauh dari Aldrick. Namun, begitu bokong wanita itu menempel di kursi, Aldrick tersentak. Kursi yang diduduki mereka bergetar hebat, dan ternyata hal itu merupakan efek dari tubuh Nadia yang bergetar hebat.
Aldrick paham, sahabat istrinya itu tengah ketakutan. Sama seperti dirinya. Takut kehilangan Melodi.
Nadia melirik Aldrick, dengan nada sarkastik khasnya, dia berusaha menghibur. "Lo tau nggak, duduk di pojokan sambil kelihatan sengsara kayak gitu cuma bikin lo kelihatan kayak hantu yang gagal move on."
Aldrick tetap tidak merespon, tapi, genggamannya pada buku kecil milik Melodi semakin erat.
Nadia mengamati pria itu dengan saksama, lalu menghela napas panjang. "Tumpahin, Drick. Tumpahin semua yang ada di hati lo. Biar lo lega, lo nggak harus ngadepin ini sendirian."
Perlahan, Aldrick menunduk. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Gue nyesel, Nad."
Nadia mengerutkan kening. "Nyesel?"
Aldrick akhirnya menoleh ke arah Nadia. Matanya tidak lagi dingin seperti biasanya, melainkan penuh dengan rasa bersalah yang mendalam.
"Gue nyesel karena selama ini gue nggak pernah ngasih tahu Melodi apa yang sebenarnya gue rasain. Gue selalu diem, selalu nutupin semuanya. Dan sekarang, gue takut … gue takut gue bakal kehilangan dia tanpa pernah sempat bilang betapa gue sayang sama dia," suara Aldrick terdengar lirih dan sedih.
Nadia terdiam. Ia tahu Aldrick bukan orang yang mudah mengekspresikan perasaannya, tapi, mendengar ini langsung dari mulut pria itu membuatnya tersentuh. "Drick … lo masih punya waktu. Lo bisa bilang semua itu ke dia."
"Lo nggak ngerti, Nad," Aldrick memotong, suaranya gemetar. "Melodi … dia selalu bilang kalau dia pengen gue lebih terbuka, lebih ekspresif. Tapi, gue nggak pernah bisa. Gue selalu nyembunyiin semuanya di balik pekerjaan, di balik kesibukan gue. Gue pikir itu cara terbaik buat dia. Tapi sekarang … gue sadar gue salah. Dan gue nggak tau apakah gue masih punya kesempatan buat perbaikin semuanya."
Nadia mendekat, menepuk pundak Aldrick dengan lembut. "Drick, lo nggak bisa terus-terusan nyalahin diri lo sendiri. Melodi butuh lo. Dia nggak butuh lo yang sempurna atau yang selalu tau apa yang harus dilakukan. Dia cuma butuh lo yang ada buat dia, yang jujur sama perasaan lo."
Aldrick menggeleng pelan. "Gue takut, Nad. Gue takut kalau gue bilang semua itu sekarang, itu nggak bakal cukup."
"Rick," Nadia menatapnya dengan serius. "Kadang yang orang butuhin bukan 'cukup' atau 'nggak cukup'. Kadang yang mereka butuhin cuma kejujuran. Lo nggak bisa ngubah apa yang udah terjadi, tapi lo bisa mulai dari sekarang. Jadi, kalau lo benar-benar sayang sama Melodi, lo harus berhenti takut."
Kata-kata Nadia menusuk langsung ke hati Aldrick. "Apa, gue masih punya waktu, Nad? Kondisi Melodi ... kondisinya ...."
Aldrick tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menutup matanya, berusaha menahan air mata yang nyaris jatuh. Tapi, kali ini, dia gagal. Setitik air mata mengalir di pipinya, dan Nadia melihat itu. Untuk pertama kalinya, Aldrick menangis di depan orang lain.
Nadia tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Eh, lo nangis? Gila, gue harus catat ini di kalender. Aldrick, si robot tanpa emosi, akhirnya nangis."
Aldrick mendengus kecil. "Lo nggak berubah ya, Nad. Selalu nyebelin."
Keduanya tersenyum, kemudian serentak bersandar di kursi tunggu yang meninggalkan derit suara.
Sepuluh menit kemudian, satu persatu anggota medis keluar dari ruangan Melodi. Mereka menghampiri Aldrick dan Nadia.
Sekilas, Andra melirik beha yang melingkar di leher Nadia, lalu fokus menatap Aldrick yang menunggu penjelasan.
"Bu Melodi sempat melemah. Itu karena sampai detik ini, tidak ada tindakan yang kita lakukan untuknya. —Pak Aldrick, Bu Melodi besok harus segera melakukan operasi darurat. Minimal, kita harus segera mengangkat separuh dari tumornya. Pihak rumah sakit, membutuhkan persetujuan dari Anda, Pak Aldrick. Namun— ada satu hal yang perlu Anda ketahui, dengan kondisi seperti ini ... kemungkinan berhasilnya ... hanya 10℅," jelas Dokter Andra dengan suara bergetar.
Dunia Aldrick terasa runtuh seketika, telinganya bak di tusuk bambu runcing. Tubuhnya terhuyung, untung saja Nadia sigap menopangnya agar tak tumbang.
"Nad ... Melodi, Nad!" Aldrick membekap mulutnya sendiri.
Nadia berusaha menguatkan, meski sebenarnya ia juga sangat terpukul.
"Pikirkan baik-baik, Drick," kata Nadia pelan. Ia menundukkan wajahnya demi menyembunyikan air matanya yang menitik.
Aldrick menarik napas dalam-dalam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia menatap serius mata Andra.
"Saya menyetujuinya," ucap nya pelan. Ia meraih kedua tangan Andra. "Saya mohon dengan sangat, selamatkan Melodi. Selamatkan istri saya, Dok. Saya ... mohon ...."
*
*
*
bagus banget.
Aku setiap baca 😭🤣😭🤣😭🤣😭
Sukses terus kak othor/Determined/
,, penyesalan,, membuat sesak di
di dada, dalam penyesalan hanya
dua kata sering di ucapkan,
,, andaikan dan misalkan,, dua
kata ini tambah penyesalan.
thanks mbak 💪 💪